SDM Bangsa dan Gizi Buruk

Ali Khomsan

Salah satu masalah sosial yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya
status gizi masyarakat. Hal ini mudah dilihat, misalnya dari berbagai
masalah gizi, seperti kurang gizi, anemia gizi besi, gangguan akibat
kekurangan yodium, dan kurang vitamin A.

Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya
manusia. Oleh karena, status gizi memengaruhi kecerdasan, daya tahan
tubuh terhadap penyakit, kematian bayi, kematian ibu, dan
produktivitas kerja.

Program gizi yang kini telah diimplementasikan oleh pemerintah
mempunyai beberapa sasaran. Pertama, menurunkan prevalensi gizi kurang
pada anak balita menjadi 20 persen. Kedua, menurunkan prevalensi
gangguan akibat kurang yodium (GAKY) pada anak menjadi kurang dari 5
persen. Ketiga, menurunkan anemia gizi besi pada ibu hamil menjadi 40
persen. Keempat, tidak ditemukannya kekurangan vitamin A (KVA) klinis
pada anak balita dan ibu hamil. Kelima, meningkatkan jumlah rumah
tangga yang mengonsumsi garam beryodium menjadi 90 persen. Keenam,
tercapainya konsumsi gizi seimbang dengan rata-rata konsumsi energi
sebesar 2.200 kkal per kapita per hari dan protein 50 gram per kapita
per hari.

Belum tercapai

Dari diskusi terbatas pada Oktober 2005 di Bappenas, terungkap bahwa
pada tahun 2003 prevalensi gizi kurang dan buruk adalah 27,5 persen,
mengindikasikan belum tercapainya sasaran (20 persen).

Yang menarik, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) ini agak
jauh berbeda dengan data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
2001-2004. Dengan menggunakan acuan BB/U (berat badan menurut umur),
SKRT 2001 menemukan prevalensi gizi kurang sebesar 22,5 persen dan
gizi buruk 8,5 persen. Adapun data Susenas menunjukkan prevalensi gizi
kurang 19,8 persen dan gizi buruk 6,3 persen. Karena itu, diperlukan
harmonisasi data dengan memerhatikan keunggulan dan kelemahan
pelaksanaan masing-masing survei.

Hasil survei nasional tahun 1980, 1990, 1996/1998, dan 2003
menunjukkan penurunan prevalensi GAKY yang cukup berarti. Pada tahun
1980, prevalensi GAKY pada anak usia sekolah adalah 30 persen, lalu
turun menjadi 27,9 (1990), selanjutnya menjadi 9,8 persen (1996/1998).
Survei tahun 2003 menunjukkan, prevalensi ini sedikit meningkat
menjadi 11,1 persen.

Usaha-usaha menurunkan prevalensi GAKY mungkin dapat dikatakan sudah
on the right track. Pencapaian target GAKY biasanya terkait cakupan
konsumsi garam beryodium di rumah tangga. Rumah tangga yang
mengonsumsi garam beryodium secara cukup, hingga tahun 2003 adalah
73.2 persen. Jika dibandingkan dengan target tahun 2004 sebesar 90
persen, maka pencapaian sasaran adalah 81,3 persen.

Prevalensi anemia gizi besi (AGB) pada ibu hamil turun dari 50,9
persen (1995) menjadi 40,1 persen (2001). Dengan sasaran yang ingin
dicapai 40 persen, maka pencapaian target adalah sebesar 99,75 persen.
Intervensi yang dilakukan saat ini masih berkisar pada suplementasi
atau pemberian tablet besi. Strategi lain masih belum dioptimalkan
seperti fortifikasi besi pada makanan serta penyuluhan.

Banyak wanita hamil yang menderita anemia karena kebutuhan zat gizi
umumnya meningkat, tetapi konsumsi makanannya tidak memenuhi syarat
gizi. Selain konsumsi makanan yang tidak cukup, kondisi anemia juga
diperburuk oleh kehamilan berulang dalam waktu singkat. Cadangan gizi
yang belum pulih akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang
dikandung berikutnya. Itulah sebabnya, pengaturan jarak kehamilan
menjadi penting untuk diperhatikan sehingga ibu siap hamil kembali
tanpa harus menguras cadangan gizi.

Nasib anak-anak

Meski dinyatakan bebas xerophthalmia (kurang vitamin A) pada tahun
1992, di Indonesia masih dijumpai 50 persen dari anak balita mempunyai
serum retinol kurang dari 20 mcg/100 ml. Tingginya proporsi anak
balita dengan serum retinol kurang dari 20 mcg/100 ml disertai pola
makanan anak balita yang belum seimbang menyebabkan anak balita di
Indonesia berisiko dan menjadi amat tergantung kapsul vitamin A dosis
tinggi, terutama pada daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi.

Masalah kekurangan vitamin A adalah bentuk kelaparan tak kentara yang
sering lepas dari perhatian para pengambil kebijakan. WHO
memperkirakan, pada tahun 1995 lebih kurang 250 juta anak balita di
seluruh dunia menderita kurang vitamin A, 3 juta di antaranya dengan
gejala kerusakan mata yang menuju kebutaan. Kira-kira 10 persen kasus
orang buta di negara berkembang disebabkan kekurangan vitamin A.

Mereka yang buta karena kurang vitamin A sekitar 70 persennya
meninggal dalam waktu satu tahun. Hasil penelitian Tarwotjo, Muhilal,
dan Sommer di Sumatera tahun 1980-an yang dipublikasikan di berbagai
jurnal internasional mengungkap kaitan kekurangan vitamin A dengan
mortalitas dan morbiditas.

Angka kematian bayi terkait erat status gizi anak. Anak-anak penderita
gizi kurang umumnya memiliki kekebalan tubuh yang rendah dan hal ini
menjadikan dirinya rawan terhadap infeksi yang dapat menyebabkan
kematian. Penyakit infeksi yang senantiasa mengintai bayi adalah diare
dan infeksi saluran pernapasan.

Dalam hal angka kematian bayi, Indonesia (31/1.000 kelahiran) hanya
lebih baik dibandingkan dengan Kamboja (97/1.000) dan Laos (82/1.000).
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kita masih tertinggal.
Singapura dan Malaysia memiliki angka kematian bayi amat rendah,
masing-masing 3 dan 7 per 1.000 kelahiran. Ini menunjukkan besarnya
perhatian negara itu terhadap masalah gizi dan kesehatan yang dihadapi
anak-anak.

Berdasar Susenas 2002, konsumsi kalori rata-rata penduduk 1.985 kkal
dan 54,4 gram protein. Angka ini mendekati sasaran yang ditetapkan
pemerintah. Namun, ketidakseimbangan di wilayah masih terjadi karena
banyak penduduk mengonsumsi kurang dari 70 persen dari kecukupan gizi
yang dianjurkan. Ini mengindikasikan, isu ketahanan pangan masih perlu
diwaspadai.

Pada tahun 1997, WHO Expert Consultation on Obesity memperingatkan
tentang meningkatnya masalah kegemukan dan obesitas di berbagai
belahan dunia. Jika tidak ada tindakan untuk mengatasi masalah
pandemik ini, jutaan manusia di negara maju maupun berkembang akan
menghadapi risiko noncommunicable diseases (NCDs) seperti penyakit
jantung koroner, hipertensi, dan stroke.

Disadari, banyak negara tidak memiliki data akurat mengenai masalah
kegemukan dan obesitas di kalangan penduduknya. Hal ini disebabkan
kurangnya prioritas untuk memahami masalah kesehatan yang amat serius
ini. Apalagi negara-negara berkembang lebih memfokuskan diri pada
dimensi masalah gizi kurang.

Berbagai indikator gizi itu menunjukkan, masih ada PR bagi pemerintah
untuk memperbaiki kualitas SDM kita. Persoalan kualitas SDM masih
ditambah masalah-masalah moral, kejujuran, kedisiplinan yang
menjadikan bangsa Indonesia sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Ali Khomsan Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke