Kekuasaan dan Perburuan Rente

DEWI INDRIASTUTI

Saat ini rakyat sakit, sementara pemerintah tidak punya uang. Rakyat
menanggung sendiri, pemerintah hanya memfasilitasi. Hal ini terkait
dengan kebijakan sosial yang membuat pemerintah tidak bisa bertanggung
jawab terhadap sesuatu yang dulu menjadi tanggung jawabnya.

Urusan bagaimana menjadi sehat, menjadi pintar, sehingga memperoleh
penghasilan dan menjadi makmur, menjadi urusan publik. Di sisi lain,
pembangunan yang dilakukan pemerintah menggunakan agenda kapital atau
ekonomi besar. Pendapat yang menggugat itu dilontarkan Mohammad Mohtar
Mas’oed, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis
(9/2).

Pemerintah yang plutokratik akan membuat masyarakat makin jauh dari
keinginan menjadi sehat, menjadi pintar, dan menjadi makmur, katanya.

Perbincangan di ruang kerjanya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik (Fisipol) UGM tidak sekadar diisi ruapan teori ke udara. Dekan
Fisipol ini selalu menyisipkan sentuhan realitas, khususnya tentang
kondisi sosial. Mulai dari pertumbuhan mal di Kota Yogyakarta yang
identik dengan pembangunan yang menganut agenda orang kaya, dana
posyandu yang sangat kecil dan tidak memadai, hingga serangan fajar
pada hari pelaksanaan pemilihan umum yang sulit dibuktikan.

Menurut Mohtar, dalam pemilihan kepala daerah jelas terlihat, untuk
menjadi kepala daerah, uang atau segala sesuatu yang sifatnya materiil
sangat menguntungkan. Misalnya dalam membiayai pemilihan umum, sangat
mudah diketahui bahwa orang-orang kaya sangat besar peranannya.
Apalagi, di Indonesia, tidak ada organisasi yang hidup dari iuran
anggotanya. Banyak yang mengandalkan sumbangan orang-orang kaya.

Walaupun tidak didukung data lengkap, sistematik, tapi orang tahu
banyak uang untuk membiayai kegiatan pemilu DPR, DPRD, maupun
Presiden, yang berasal dari orang kaya. Beberapa di antaranya
asal-usulnya tidak jelas, kata Mohtar.

Maka, menurut Mohtar, sebenarnya hubungan antara kekayaan dan
kehidupan yang demokratik harus dilihat kembali, karena kecenderungan
politik di Indonesia menjadi plutokratik.

Jika demokrasi adalah tatanan politik ideal, maka plutokrasi
(plutocracy) adalah penyimpangan demokrasi. Dalam tatanan politik
plutokrasi, orang-orang kaya yang memiliki uang banyak dapat
menentukan dan mendominasi politik. Plutokrasi dapat muncul dari
kondisi yang demokratis. Demokrasi yang formal prosedural mengandalkan
suara yang diperoleh seseorang untuk menjadi pemimpin. Ketika
memperoleh suara itu bisa efektif dengan uang, maka orang kaya punya
peluang besar menentukan perpolitikan.

Berikut petikan perbincangan dengan Mohtar Masoed di sela
kesibukannya, tentang demokrasi di Indonesia, yang diwarnai peran
sejumlah pengusaha yang terjun ke politik, baik sebagai ketua partai
politik atau menjadi kepala daerah. Kondisi ini pada November 2005
pernah disikapi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan lontaran
istilah dwifungsi politisi, yakni pejabat negara yang berbisnis.

Bagaimana hubungan pengusaha dengan dunia politik di Indonesia?

Kekhawatiran banyak orang adalah pengusaha itu sebetulnya tidak ingin
menjadi, misalnya bupati, tapi ingin mempermudah kegiatan bisnisnya.
Jadi, sebetulnya itu bagian dari kegiatan memburu rente, ini rente
seeking. Orang mencari jabatan untuk menciptakan peluang memperbesar
kegiatan bisnisnya. Jadi, kalau dia mau menjabat, dia harus bukan
hanya melepaskan diri sebagai pengusaha, tapi juga membatalkan
kegiatan mencari untungnya. Dia harus membedakan mana privat urusan
bisnis dan mana yang publik, urusan pemerintah. Pertanyaannya, apakah
sanggup? Konsep mengenai public service, menjadi pelayan publik, tidak
mudah diterapkan.

Apa pengaruh orang-orang kaya dalam politik di Indonesia?

Pada prinsipnya, kalau mereka memerintah dengan mengutamakan
kepentingan publik, untuk kemanfaatan umum, saya kira kaya dan tidak
kaya enggak soal. Yang penting, dia diikat dengan agenda jelas, dengan
aturan main yang jelas. Persoalannya, di Indonesia tidak ada jaminan
bahwa pemimpin bisa dicek melalui agenda kerja yang jelas. Sebetulnya,
bukan orang kaya itu yang berdampak negatif terhadap demokrasi, tapi
orang kaya yang menjadi pemimpin dengan agenda orang kaya.

Di masa mendatang, apakah makin banyak orang kaya yang duduk di kursi
politik?

Tergantung kita. Kalau kita membuat aturan jelas mengenai urusan
privat yang harus dipisahkan dari urusan publik. Kalau ukuran terhadap
praktik-praktik dan sistem-sistem yang korup itu adaâ€"dan kita patut
terus mendukung ituâ€"maka mungkin kita akan mendapati orang yang
kaya, memerintah kita, tapi dengan perhatian ke urusan publik.

Aturan seperti apa?

Saya kira undang-undang yang adaâ€"meski belum lengkapâ€"sudah
diarahkan ke sana. Aturan main yang dimulai saat pemilihan. Harus ada
pembenahan, pemerintah harus menyediakan aturan main sehingga tidak
hanya orang kaya yang bisa masuk proses perekrutan pemilihan kepala
daerah dan pemilihan umum. Lalu, nanti saat jadi pemimpin ada
kejelasan, mana urusan publik, mana yang privat.

Ada kesan, orang-orang kaya berlomba-lomba masuk politik....

Banyak orang menjadi anggota parlemen, sebetulnya dibanding kekayaan
dia, gajinya biasa-biasa saja. Tapi mungkin jaringannya lebih luas,
misalnya kalau saya pengusaha menjadi anggota DPD, saya punya kenalan
lebih banyak dan punya peluang bisnis juga. Mungkin tidak perlu dengan
korupsi yang vulgar. Ndak perlu korupsi, tapi kedudukan sebagai
penguasa wilayah bisa mendatangkan peluang bisnis. Mungkin dia punya
cita-cita politik, mungkin saja ingin kaya lebih dulu, ingin berbuat
baik pada orang lain dengan menjadi pejabat. Tapi kesulitannya adalah
bagaimana mengontrolnya, karena banyak orang yang bisa memakai
jabatannya itu sebagai sumber rente.

Apakah kita sudah sampai pada tatanan plutokratik?

Bahaya ke arah situ ada. Tapi tergantung kita lah. Saya ingin
mengatakan, terpulang pada kita semua. Apakah akan dibiarkan
menjerumuskan kita ke plutokrasi, yang melompat sebentar saja sudah
menjadi otoriter. Gampang menjadi otoriter karena plutokrasi kan
dasarnya materiil kekuasaan, uang.

Banyak orang percaya Orde Baru ambruk karena perilaku rente seeking.
Saat itu, banyak orang yang memakai jabatannya sebagai sumber rente.
Orang mencampuradukkan urusan publik dengan privat sehingga memperoleh
keuntungan privat dari kedudukan publik.

Orang kaya yang jadi penguasa saat ini, apakah sudah memiliki agenda
sensitif?

Orang kaya di Indonesia tidak bisa menjalankan kebijakan sensitif
terhadap keperluan rakyat, karena antara lain mereka harus didukung
sistem kapitalis global. Misalnya, yang mengutamakan ekonomi
finansial. Misalnya saat Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden, dia
menegaskan partainya sebagai pembela wong cilik. Tapi, banyak hambatan
dilematik. Pasalnya, secara struktural pemerintah harus menyelesaikan
banyak hal, terutama utang luar negeri. Akibatnya, program untuk wong
cilik dihadapkan pada keharusan menangani utang.

Bagaimana dengan pemerintahan saat ini?

Sama. Kalau dihitung-hitung dengan perhitungan ekonomi, utang harus
dibayar, BBM harus naik. Ini kan pertimbangan dari hitung-hitungan
ideologi yang menekankan pada keleluasaan kapital. Mempertimbangkan
semua berdasar struktur. Akibatnya, kebijakan publik disembunyikan
dalam istilah yang canggih. Kenyataannya, pemerintah hanya bisa
memfasilitasi, Anda cari sendiri.






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke