Utang dan "Gerbang ke Surga"

Benny Susetyo

Tanpa terasa, utang luar negeri bangsa ini menjadi momok menakutkan.
Bangsa ini seolah tak berdaya menghadapi utang, warisan rezim masa
lalu maupun masa kini.

Utang luar negeri telah menyandera bangsa, membuat kita mendekati
ajal, membuat kita beranggapan bahwa membayar utang sebagai rutinitas,
tanpa pertanyaan mengapa hal itu harus dilakukan. Apa yang diperoleh
negara dari keringat rakyat seolah hanya untuk membayar dan menambah
utang. Untuk membangun dan menyejahterakan bangsa, hanya diperoleh
dari sisa-sisa pembayaran utang.

Hingga Mei 2005, utang luar negeri Indonesia—swasta dan
pemerintah—mencapai 137,518 miliar dollar AS, terdiri 78,841 miliar
dollar AS utang fasilitas kredit ekspor, bank, dan nonbank.

Melihat realitas ini, siapa pun yang jadi pemimpin akan kesulitan
membangun bangsa mandiri, apalagi di tengah kubangan utang.
Ketergantungan akan utang membuat bangsa ini tak lagi memiliki visi
memerdekakan diri. Utang membuat bangsa ini tidak mampu menata
kehidupan lebih baik. Orientasi kebijakan ekonomi ujungnya untuk
membayar utang. Akibatnya, subsidi untuk kaum miskin dipangkas.

Demi membayar utang, dibuat undang-undang yang mengarah pada
privatisasi berbagai badan publik yang menguasai hajat hidup orang
banyak. Kita hidup di tengah jeratan global, di tengah perintah orang
lain.

Spiritualitas agama

Kini saatnya agama berikut spritualitasnya bergerak dan terlibat
perjuangan menyadarkan umatnya, termasuk solusi bagaimana kita bangkit.

Dalam pandangan Ianua Coeli, "gerbang ke surga", agama dituntut mampu
merumuskan dan mencari jalan keluar aneka persoalan manusia. Utang
hanya akan membuat manusia terasing dari kekayaannya sendiri. Gerbang
ke surga adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan pada suatu
titik di mana dunia "sini" dan "sana" bersentuhan secara praktis.
Agama harus mampu merumuskan persoalan yang ada di dunia untuk membuat
umat sadar bahwa agama tidak melepaskan diri masalah manusia.

Belajar dari pengalaman negara-negara penerima pemotongan utang,
seharusnya hal ini tidak membuat elite kita besar kepala merasa bisa
mengatasi. Sudah seharusnya elite berani memulai gerakan penghapusan
utang.

Dana untuk membayar utang bisa digunakan untuk memperbaiki
infrastruktur, proyek padat karya, membangun teknologi tepat guna
untuk mendorong peningkatan taraf hidup rakyat. Dana itu lebih dari
cukup untuk memulai gerakan menanggulangi kemiskinan dan pengangguran.
Di sinilah komunitas agama memikirkan hal lebih penting dalam kasus utang.

Gerakan internasional

Upaya menghapus utang sudah menjadi gerakan internasional, mendesak
kreditor internasional menghapus utang, seperti Filipina, Argentina,
Afrika Selatan, Bolivia, dan Porta Allegre. Indonesia baru dipelopori
sedikit orang.

Pada awal 1970-an Presiden Soekarno mewariskan utang kepada Soeharto
sebesar dua miliar dollar AS. Di awal pemerintahannya, Soeharto pernah
menikmati kebijakan pemotongan utang luar negeri dari para kreditor
berkat kata-kata Josef Abs asal Jerman, "Kewajiban membayar utang
suatu negara yang masih lemah perekonomiannya harus dalam perbandingan
yang sehat dengan neraca perdagangan luar negerinya."

Meksiko, saat mengalami krisis ekonomi, memperoleh penjadwalan utang
dan pengurangan utang hingga tiga miliar dollar AS. Pada tahun
1990-an, Meksiko kembali menjadwal ulang utang 37 miliar dollar AS dan
penghapusan utang delapan miliar dollar AS atau delapan persen dari
total utang jangka panjang. Sampai 1996, Meksiko masih mendapat
pengurangan utang sebesar tiga miliar dollar ASA.

Kini kita menunggu langkah nyata pemerintah.

Saatnya konsep gerbang ke surga, seperti yang ada di langit harus
didaratkan ke bumi. Membumikan gerbang ke surga adalah panggilan umat
beragama untuk mendesakkan elite politik agar berani menghentikan
utang dengan mengambil pilihan pahit penghapusan utang serta
penjadwalan kembali.

Kepada elite harus disadarkan, kita sudah tidak memiliki apa pun yang
akan dibayarkan kepada kreditor, tinggal harga diri dan kedaulatan
yang bisa digunakan untuk membayar.

BENNY SUSETYO
Rohaniwan





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke