Enam Sastrawan Raih "Sastra Rancage"

BANDUNG, (PR).
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, H. Ajip Rosidi, heran
karena buku-buku karya sastra yang mendapat hadiah Sastra Rancage,
tidak dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai bahan bacaan yang baik
untuk perpustakaan sekolah. Keheranan itu dikemukakan Ajip,pada acara
pemberian hadiah Sastra Rancage 2006, Sabtu (29/4) di Auditorium
FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jln. Dr. Setiabudi No.
299, Bandung.

"Buku yang tidak bermutu seperti Ranggeuyan Kadeudeuh malah dicetak
besar-besaran dengan anggaran yang besar . Bagaimana semua itu bisa
terjadi? Bukankah tugas utama pemerintah adalah mencerdaskan anak
bangsa negeri ini dengan menyediakan buku-buku bermutu, selain sistem
pendidikan yang bermutu?" ujar Ajip.

Sementara itu, Drs. Ida Bagus Gde Agastia, penerima hadiah Sastra
Rancage 2006 untuk bidang pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra
Bali, mengemukakan, diakui atau tidak, perkembangan dan pertumbuhan
bahasa dan sastra daerah dewasa ini dalam ancaman kepunahan. Berkaitan
dengan itu, diberikannya hadiah Sastra Rancage oleh Yayasan Kebudayaan
Rancage kepada sejumlah sastrawan daerah yang menulis karya sastra
dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali, adalah sebuah tindakan nyata dari
sebuah lembaga swasta yang patut didukung oleh banyak pihak.

Hadir dalam acara tersebut antara lain, Direktur Utama PT Pikiran
Rakyat Bandung, H. Syafik Umar, Dewan Komisaris PT Pikiran Rakyat
Bandung, H. Soeharmono Tjitrosoewarno, Wakil Ketua Yayasan Rancage,
Erry Riyana Hardjapamekas, Uu Rukmana, penyair Godi Suwarna, novelis
Tatang Sumarsono, H.R. Deddi Anggadiredja, Prof. Dr. Sunaryo
Kartadinata M.Pd., dan Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo.

Selain Ida Bagus Gde Agastia, para pemenang hadiah Sastra Rancage
lainnya untuk bidang pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra
daerah dalam bahasa Jawa dan Sunda adalah Suwignyo Adi (Tiwiek S.A.)
dan Abdullah Mustappa. Sedangkan untuk penulisan karya sastra, hadiah
Sastra Rancage 2006 masing-masing diberikan kepada Yous Hamdan, untuk
kumpulan cerita pendek Geus Surup Bulan Purnama, Suwardi Endraswara,
untuk kumpulan cerita pendek Senthir, dan Ida Bagus Wayan Widiasa
Kentinen untuk kumpulan cerita pendek Buduh Nglawang.

Sementara, hadiah Sastra Samsudi untuk bidang penulisan bacaan barudak
dalam bahasa Sunda, diberikan kepada sastrawan Sunda, Darpan
Ariawinangun, Yuhdiatna, dan Suhenda Yudamulya, untuk buku yang
ditulisnya berjudul Dongeng-dongeng ti Karawang. (A-48/A-87)***





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke