Rendah, Perhatian terhadap Sastra Daerah
Pengajaran di Sekolah juga Menemukan Banyak Kendala

BANDUNG, (PR).-
Masalah yang dihadapi dalam pengembangan bahasa daerah, khususnya
kesusasteraan, di setiap daerah relatif sama. Di satu sisi, perhatian
pemerintah pusat dan daerah sangat kurang, di sisi lain pengajaran di
sekolah juga menemukan banyak kendala.

Demikian diungkapkan H. Ajip Rosidi di sela-sela acara pemberian
hadiah Sastra Rancage 2006, Sabtu (29/4) di Auditorium FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jln. Dr. Setiabudi, Bandung.

"Pemerintah kita saat ini sedang budeg. Mereka terlalu sibuk dengan
seabrek program dan hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting
dibandingkan masalah pelestarian dan pengembangan aset bangsa," ujar Ajip.

Hadir pada acara itu, antara lain, Direktur Utama PT Pikiran Rakyat
Bandung H. Syafik Umar, Dewan Komisaris PT Pikiran Rakyat Bandung, H.
Soeharmono Tjitrosoewarno, Wakil Ketua Yayasan Rancage, Erry Riyana
Hardjapamekas, Ketua DPD Golkar Jabar, H. Uu Rukmana, novelis Tatang
Sumarsono, H.R. Deddi Anggadiredja, Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata
M.Pd., dan Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, dan sejumlah budayawan
dari Jawa dan Bali.

Padahal, menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage ini,
dalam undang-undang sudah jelas dicantumkan, pemerintah wajib
mengembangkan kebudayaan dan bahasa daerah sebagai bagian dari
kebudayaan. "Jadi, selama ini pemerintah tidak pernah melaksanakan UU.
Itu yang saya katakan dari dulu dan tidak didengar juga sampai
sekarang, hingga akhirnya sebagai masyarakat kita harus peduli
terhadap bahasa sendiri tanpa harus menunggu projek dari pemerintah,"
katanya.

Hal senada dikatakan Erry Riyana Hardjapamekas. Menurut dia, masalah
pelestarian dan pengembangan bahasa harus menjadi tanggungjawab
bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga warga negara. "Kalau
menunggu aksi dari pemerintah, kapan akan ada upaya," tuturnya.

Terhadap kondisi bahasa daerah terutama bahasa Sunda, ia mendukung
berbagai upaya pelestarian maupun pengembangan yang dilakukan. Salah
satu bentuk dukungan tersebut disalurkan melalui Yayasan Kebudayaan
Rancage.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pikiran Rakyat Bandung, H. Syafik
Umar, mengatakan, media cetak termasuk surat kabar dapat memberikan
dukungan dalam penyebarluasan karya sastra. "Sebagai media cetak, kita
memiliki tanggung jawab untuk mengomunikasikan informasi sastra ke
khalayak sastra lewat pemberitaan," ujar Syafik.

Ia berharap, dalam pelestarian dan pengembangan bahasa melalui karya
sastra, kalangan birokrat perlu bekerja sama dengan semua pihak.
Selama ini, hal-hal seperti itu menjadi kelemahan.

Dunia sastra, kata Syafik Umar, jangan hanya dilihat sebagai sebuah
buku, tapi juga harus dilihat dari dampaknya, produksi, peredaran, dan
lainnya. "Ini membutuhkan sumber daya manusia, yang secara tidak
langsung memberikan peluang dalam menyediakan lapangan kerja baru,"
ujarnya. (A-87)***





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke