Oleh DEDDY MULYANA
APA yang Anda bayangkan ketika mendengar sebutan Orang Belanda?
Penjajah, keju, atau kincir angin? Citra bahwa Belanda kejam terhadap
bangsa Indonesia yang pernah mereka jajah selama tiga setengah abad
begitu melekat dalam benak kita. Buku-buku sejarah mengajarkan hal itu.
Sebenarnya, sebagaimana dikatakan T.S. Eliot dalam The Cocktail Party,
apa yang kita ketahui tentang orang lain hanyalah memori kita mengenai
saat kita mengenalnya, padahal orang itu telah berubah sejak itu; "...
pada setiap pertemuan kita bertemu dengan orang asing." Menurut Werner
J. Severin dan James W. Tankard, Jr. (1992), dalam perjalanan waktu,
dunia lebih cepat berubah daripada kata-kata, namun kita tetap
menggunakan kata-kata yang agak usang dan tidak lagi menggambarkan
dunia tempat kita tinggal. Maka, tanpa harus melupakan sejarah bahwa
kita pernah dijajah Belanda, kita harus mengakui bahwa bangsa Belanda
zaman kiwari jauh berbeda dengan bangsa Belanda zaman dulu.
Dewasa ini Belanda adalah salah satu bangsa paling lembut di dunia.
Gert Hofstede (1984), seorang ahli komunikasi dan manajemen
antarbudaya asal Belanda menyebutnya budaya feminin, kontras dengan
budaya maskulin, meskipun kedua sifat itu ada dalam suatu rentang
(kontinum) alih-alih dikotomis. Dari 39 budaya yang ditelaahnya,
Hofstede menganggap Jepang paling maskulin, diikuti Austria,
Venezuela, dan Italia. Sedangkan empat negara paling feminin
berturut-turut adalah Swedia, Norwegia, Belanda, dan Denmark.
Indonesia tidak tercantum, tetapi saya kira termasuk bangsa yang sifat
maskulinnya kuat seperti juga Filipina, Korea, dan Meksiko. Salah satu
ukuran budaya maskulin adalah pentingnya pekerjaan. Konsisten dengan
pendapat Hofstede, England (1986) menemukan bahwa urutan pertama
budaya maskulin adalah Jepang berdasarkan jawaban atas pernyataan
"pekerjaan adalah sentral dalam hidup." Skor pegawai Jepang 7,78 dalam
rentang 8,0; Amerika 6,94, dan Jerman 6,67.
Dalam budaya maskulin peran wanita dianggap kurang penting atau
sekadar pelengkap. Nilai maskulin tradisional seperti pencapaian
(berdasarkan pengakuan dan kekayaan) dan kekuasaan menentukan prestasi
budaya. Orang senang menggunakan gelar, sebagai instrumen untuk
menjaga jarak kekuasaan (power distance). Di Korea misalnya, seorang
direktur juga dipanggil "Bapak Direktur" oleh tetangganya. Di
Indonesia, gelar mungkin lebih penting lagi daripada di Korea.
Seseorang menjadi profesor atau doktor di universitas, di tempat
ibadah, bahkan saat resepsi pernikahan. Dalam budaya maskulin, orang
senang mengidolakan orang lain. Tak mengherankan, di Indonesia puluhan
acara TV (infotainment) ditayangkan setiap minggunya untuk menyiarkan
celoteh dan tindak-tanduk orang-orang terkenal, terutama para artis,
yang dikagumi masyarakat luas.
Sebagai bangsa feminin, pria-pria Belanda, sebagaimana pria-pria
Skandinavia, diterima dalam peran-peran yang di negara lain dianggap
peran feminin, seperti guru SD, perawat, dan bapak rumah tangga,
sementara para wanitanya bekerja. Di Belanda prestasi diukur
berdasarkan lingkungan kehidupan dan hubungan manusia alih-alih
kekuasaan dan harta kekayaan. Anggota-anggota menekankan hubungan
dengan orang lain daripada kompetisi. Kehebatan seseorang diabaikan
dan orang luar (termasuk kaum migran) diperlakukan simpatik. Maka di
Belanda tidak ada pemujaan berlebihan terhadap kaum selebriti, seperti
di Indonesia. Di sini jarang sekali acara TV yang mengidolakan para
penyanyi atau bintang TV atau bintang film. Orang-orang kaya sekalipun
enggan memiliki rumah mewah untuk menunjukkan status dan kelebihan
mereka. Di Indonesia, sebaliknya, kita menemukan begitu banyak rumah
bak istana yang sebenarnya tidak diperlukan benar oleh penghuninya,
terutama di kompleks perumahan bergengsi, seperti Pondok Indah di
Jakarta atau Batu Nunggal di Bandung. Banyak rumah tersebut diisi oleh
penunggu atau pembantu rumah tangga.
Budaya feminin ditandai dengan penghargaan terhadap kemanusiaan.
Belanda khususnya melindungi kaum lemah, termasuk kaum migran. Maka
migran-migran yang keturunan Maluku Selatan pun aman-aman saja di
sini. Malah mereka yang tidak punya pekerjaan diberi santunan. Padahal
sebagian dari mereka adalah kriminal. Belanda bahkan berusaha membantu
meningkatkan harga diri dan kesejahteraan migran dari mana pun kaum
migran itu berasal dan apa pun agama mereka, seperti diakui Gustaaf H.
Stove, pekerja sosial yang sering berhubungan dengan kaum Muslim
Afganistan dan Maroko.
Untuk memahami budaya feminin ini, tengoklah juga negara-negara
Skandinavia. Sebuah surat kabar melukiskan "Kami tidak terlalu
mengagumi bintang-bintang besar atau pahlawan-pahlawan," kata Jacob
Vedel-Petersen, Direktur Institute for Social Science Research di
Copenhagen, "Orang biasa adalah pahlawan kami." Sebagaimana dilukiskan
Richard Mead (1994), Perdana Menteri Swedia Ingvar Carlsson menyandang
tasnya sendiri, tinggal di apartemen sewaan, dan berdasarkan
perlindungan hukum, membuka surat-suratnya bagi warga negara yang
berminat mampir dan membacanya."
Menurut Bradford 'J' Hall (2002), egalitarianisme juga ada di negara
kerajaan. Bahkan warga Denmark yang kerajaan lebih egaliter daripada
Amerika. Mereka menganut konsep Janteloven yang menyatakan bahwa
seseorang tidak boleh melebihi yang lain. Hall melukiskan, Raja
Denmark tidak dianggap lebih baik daripada orang biasa, dan banyak
cerita yang melukiskan hal ini. Salah satunya, konon wartawan
menelefon Royal Lodge untuk dihubungkan dengan seorang petugas yang
akan ia tanya tentang kunjungan keluarga kerajaan sebelum Hari Natal.
Wartawan mendapatkan nomor telepon (dalam direktori) dan orang yang
menjawab memberinya informasi yang diinginkan.
"Apakah Anda memperoleh cukup bahan?" orang itu akhirnya berkata,
"Saya harus membantu istri saya mengeluarkan barang-barang ."
Berharap memperoleh lebih banyak informasi lagi dari pria yang ia duga
petugas, wartawan itu bertanya, "Anda baru pulang dari bepergian?"
"Well, sebenarnya Anda tidak sedang berbicara dengan petugas,"
jawabnya. "Ini Raja. Selamat Hari Natal and selamat menulis artikel
yang baik."
Seperti Denmark, Belanda yang kerajaan juga menekankan kesederajatan.
Jarak kekuasaan yang tipis ini di Belanda ditandai dengan populernya
penggunaan sepeda. Bukan hanya dosen atau mahasiswa, bahkan para
manajer, direktur dan pejabat pun sering menggunakan sepeda biasa.
Setidaknya mereka menggunakan kendaraan itu pulang pergi dari rumah ke
stasiun kereta. Kalau Anda sempat pergi ke stasiun kereta api
Amsterdam, Leiden, atau Den Haag, Anda akan menyaksikan kendaraan yang
paling banyak diparkir di sana justru sepeda biasa, bukan mobil. Kalau
kita perhatikan, banyak sepeda ini sudah tua dan karatan, bukan sepeda
balap yang di Indonesia harganya jutaan rupiah. Gustaaf, sang teman,
adalah orang Belanda yang sejak dulu sering menggunakan sepeda ke
stasiun kereta terdekat, yakni Leiden Lammenschans, memarkirnya di
sana. Kemudian ia naik kereta ke tempat kerjanya. Pulangnya, ia ambil
kembali sepedanya dan mengayuhnya kembali ke rumahnya di Bakhuis
Roozenboom Straat di Leiden.
Memasyarakatnya sepeda di Belanda memang ada sejarahnya. Seperti
dituturkan Gustaaf, ketika perang Arab-Israel pecah, Belanda kesulitan
minyak karena harganya yang tinggi, sehingga ada kebijakan naik sepeda
pada hari Minggu selama beberapa bulan. Bahkan Ratu Juliana pun naik
sepeda yang di mata orang Arab saat itu---menurut media di
Belanda---menurunkan derajat, padahal bagi Ratu Belanda hal itu
biasa-biasa saja.
Akan halnya di Indonesia yang berbudaya maskulin, penggunaan sepeda
memang menurunkan status pemakainya. Jangankan direktur atau profesor,
mahasiswa pun merasa gengsinya akan turun kalau ia memakai sepeda ke
kampusnya. Padahal, di universitas-universitas di Jerman yang lebih
maskulin daripada Belanda, seperti yang saya lihat, tidak sedikit
dosen bergelar doktor, apalagi para mahasiswa, mengendarai sepeda ke
kampus mereka.***
Penulis, Guru Besar Fikom dan Program Pascasarjana Unpad Bandung, kini
Guru Besar Tamu di Universitas Leiden, Belanda.
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
SPONSORED LINKS
| Spanish language and culture | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Baraya_Sunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
