Nia Dinata:
Pendidikan Kritis Sangat Penting Bagi Perempuan
01/05/2006

Ada anggapan bahwa dekadensi moral bangsa terkait dengan urusan
perempuan. Karena itu, demi menjaga moral bangsa yang disempitkan
maknanya dalam persoalan susila, diperlukan pengaturan lebih ketat,
terutama untuk perempuan. Bagaimana Nia Dinata, sineas muda Indonesia
yang baru meluncurkan film Berbagi Suami mengulas anggapan itu?
Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL),
Kamis, (20/4) lalu.

NOVRIANTONI (JIL): Mbak Nia, bagaimana agama diperkenalkan pada Anda
sejak kecil?

Nia DinataNIA DINATA: Saat berusia sekitar 2 tahun, saya ingat banget
ibu saya mengajarkan surat al-Fatihah. Seterusnya ayat-ayat lain yang
sampai sekarang masih saya hafal. Tapi saya tidak dibesarkan dalam
lingkungan keluarga yang sangat fanatik. Tapi ibu selalu mengatakan,
surah al-Fatihah sangat penting. Kalau mau ngapa-ngapain, kayaknya
harus baca al-Fatihah dulu, dengan artinya.

Waktu 6 tahun, saya tinggal di Arab Saudi bersama keluarga, mengikuti
tugas orangtua. Di situ kita umrah tiap Jum'at. Dari Jedah, kita naik
mobil ke Mekkah. Setiap tahun, ada saja keluarga yang datang untuk
haji, mumpung ada rumah. Itu semua bagian dari kehidupan saya.

Tapi dalam soal agama, saya tak pernah dicecar bahwa ajaran ini
penting, berdosa kalau tak dilakukan atau nggak boleh ditinggalkan.
Semuanya diintrodusir saja. Jadi proses sosialisasi keagamaannya
berlangsung natural, sembari memberi pilihan-pilihan.

JIL: Masih ingat nilai-nilai keagamaan yang selalu ditekankan keluarga?

Waktu kecil, saya nggak banyak tahu bahwa yang diajarkan nilai-nilai
agama. Tapi ketika beranjak remaja dan banyak membaca, saya baru sadar
itu ada dalam Islam. Waktu umur 6 tahun dan pertama kali ke padang
Arafah, saya sangat kritis atas banyak hal. Saya kadang bertanya,
"Idih, kok orang itu kecil sekali, dan yang itu besar?!" Saya suka
diketawain tante-tante. Tapi pulangnya, saya diajak ngomong, sembari
diterangkan bahwa banyak sekali ragam manusia dengan bentuk-bentuk
yang beda-beda, dan kita tak boleh membeda-bedakannya.

Ketika masih kecil, saya memang takut melihat orang-orang Afrika yang
segede gaban, atau perempuan-perempuan yang mengenakan kerudung
tinggi-tinggi bersembahyang di sampingku dengan cara yang agak beda.
Sebab, pas tahiyyat, telunjuknya goyang-goyang. Untuk anak kecil,
otomatis dia nanya, kenapa mereka berbeda? Jadi di situ saya tahu
bahwa manusia itu terdiri dari berbagai macam bentuk dan warna, tapi
saya tak boleh membeda-bedakannya. Banyak ragam saling menghargai.
Etikanya harus begitu.

JIL: Apakah saat itu Anda sudah bisa merasakan perbedaan iklim
keberagaman di Arab Saudi dengan di Indonesia?

Ada sekali. Sebagai anak umur 6 tahun, kalau sore-sore saya biasa
bersepeda pakai celana pendek di kompleks rumah Jakarta dengan
anak-anak tetangga. Di sana, saya sempat mau melakukan itu, terutama
minggu-minggu pertama. Tapi saya diomongin orangtua bahwa kalau mau
naik sepeda, sebaiknya pakai celana panjang, kaos kaki dan sepatu, dan
baju kaos tangan panjang serta selendang yang dikrudungin demi menutup
aurat. Terus saya langsung nanya, kenapa?

Sebetulnya, sejak menginjakkan kaki di airport Jakarta, saya sudah
dikasih tahu bahwa di Arab Saudi auratnya tertutup semua, apalagi
perempuan. Mereka pakai abaya hitam yang kelihatan hanya mata saja.
Saya tahu itu, tapi saya kan bukan orang Arab?! Saya bilang, kenapa
saya juga harus begitu?

Saat itu saya masih keukeuh dan keras kepala, hingga suatu hari ada
kejadian menimpa seorang Filipina. Dia belanja di pasar dengan
mengenakan baju panjang tunik setengah betis dengan sandal terbuka
tanpa kaos kaki, dan tidak juga pakai celana panjang dalaman. Karena
baru datang dan belum beradaptasi, tiba-tiba ada polisi yang langsung
memecut kakinya. Itu menjadi isu cukup heboh di kompleks kita. Dari
situ kita dikasih tahu bahwa keadaannya memang seperti itu. Jadi kalau
mau keluar rumah dan kejadian serupa tak ingin terjadi pada, kita
harus coba menghormati kultur mereka.

Tapi saya ingat, orangtua saya pernah mengatakan, yang diajarkan itu
bukan Islam, tapi kultur Arab Saudi. Saya tidak tahu apakah itu salah,
tapi mereka memang sudah sangat liberal. Beliau memberitahu saya begitu.

JIL: Anda jadi sadar ada banyak varian dalam praktik Islam di banyak
tempat; mulai yang natural sampai yang sangat formalistis, ya?

Ya. Tapi saya juga tidak dijelaskan begitu. Saya banyak berdiskusi
dengan teman-teman sesama anak kecil ketika orang tua kita ngumpul
weekend. Akhirnya suka dibahas juga, bahwa semua itu tidak terjadi
begitu. Ada unsur tradisi dan kebudayaan yang dirasa harus diamankan
lewat semacam revolusi yang pada akhirnya menyuruh perempuan memakai
pakaian lebih tertutup.

Dari nguping-nguping, saya bersyukur hidup di Indonesia yang
kebudayaannya sangat beragam. Kita terdiri dari berbagai suku dan
kebudayaan yang sangat kaya dan sophisticated. Artinya, kalau orang
Jawa atau Sunda memakai kebaya ketat atau dodot, itu tak perlu diangap
men-trigger berahi. Itu dilihat saja dari segi budaya; bahwa itu
memang cocok dipakai di Indonesia.

JIL: Apakah kini Anda merasakan perubahan-perubahan corak keberagamaan
di masyarakat kita ke arah yang lebih ekstrim?

Kalau pribadi, keluarga, lingkungan teman-teman, baik di dunia film
maupun bukan, itu sangat tidak ada. Saya merasa semua orang di
lingkungan saya masih menggunakan akal sehat dan nuraninya. Meski
tidak formalistis amat dalam beragama, mereka tidak juga sangat liar.
Jauh dari itu. Bahkan saya merasa orang-orang lingkungan saya adalah
mereka yang seharusnya menjadi inspirasi bagi orang lain.

Tapi kenyataan tidak begitu ketika saya melihat dan membaca apa yang
ada di media massa seperti di televisi atau radio. Dari situ saya
bertanya, orang-orang ini hidup di mana, sih? Kayaknya, saya nggak
nyambung banget dengan apa yang mereka diskusikan, terutama isu-isu
yang menganggap perempuan harus dibatasi ruang gerak, rasa kepemilikan
tubuh, cara berpakaian, dan segala macam tentang dirinya, demi menjaga
moral bangsa. Dari situ saya bertanya: sebenarnya orang-orang ini
hidup di mana, ya?

Saya sejak kecil di Indonesia dan hanya 4 tahun meninggalkan negeri
ini saat di Arab Saudi dan kuliah di Amerika. Tapi saat kembali, saya
tahu bahwa orang Indonesia dan lingkungan saya kok tidak berpikir
begitu. Tapi kok ada orang yang berpikiran seperti itu? Jadi bagi
saya, soal itu cukup absurdlah.

JIL: Kalau pola pikir keagamaan yang formalistis itu hendak diterapkan
lewat aturan-aturan negara yang sampai membatasi kebebasan individu,
akan seperti apa Indonesia menurut Anda?

Saya rasa, Indonesia akan jadi bangsa yang munafik. Dari 220 juta
penduduk Indonesia, tidak sepenuhnya setuju dan merasa aturan-aturan
seperti itu benar. Tapi kalau akhirnya dipaksakan juga, orang-orang
Indonesia akan munafik. Hanya karena takut dan malas mencari masalah,
akan terbentuklah pribadi-pribadi yang munafik. Itu nomor satu.

Nomor dua, akan ada kebingungan bagaimana mendidik anak-anak kita
untuk menghargai orang secara utuh, mulai niatnya, kebaikan hatinya,
budi pekertinya, karyanya, dan isi kepalanya? Jadi yang dinilai bukan
hanya tubuhnya, tapi utuh. Faktor fisik itu nomor terakhir. Kalau buat
saya, itu sebenarnya nggak masuk hitungan.

JIL: Apa tanggapan Anda terhadap pelbagai aturan yang membatasi
perempuan dengan dalih antisipasi dekadensi moral bangsa, misalnya?

Saya rasa itu anggapan yang agak berlebihan. Kalau ngomong soal moral
dan segala macamnya, sebaiknya diawali dari ruang lingkup terkecil
yaitu keluarga, karena itu masalah yang sangat individual. Keluarga
yang benar-benar harus memberi pengertian dan pendidikan moral serta
integritas. Itu semua satu kesatuan yang tidak bisa dipisah.

Tapi, kenapa yang diributkan hanya soal moral yang dikaitkan dengan
sesuatu yang berbau-bau susila? Buat saya, yang sangat bobrok di
negeri ini sebenarnya soal integritas. Ketika seseorang yang berwenang
menghukum orang, misalnya dalam kasus tilang, sudah ada tawaran
negosiasi dengan salam tempel kalau ingin lepas dari tilang. Kalau
sebuah otoriti bisa melakukan itu, mendengarnya saja kita sudah malu.
Birokrasi kita sengaja dibuat korup. Jadi saya rasa, hal-hal seperti
itu, kalau disaksikan anak-anak kita, dia akan jadi bingung.

JIL: Anda melihat soal moralitas kini disempitkan maknanya pada urusan
susila saja?

Ya. Kepinginnya, saya, keluarga dan anak-anak, tidak membiarkan itu
terjadi. Bagi saya, moral yang terpenting adalah integritas kita.
Kalau masalah susila, saya rasa itu sudah natural sekali. Dari kecil,
kalau kita memakaikan anak kita baju, tetap saja sudah ada standar
kesopanan dan ketidaksopanan di kepala. Jadi itu sudah natural. Orang
tua mana sih yang membiarkan anaknya nggak pakai baju sama sekali?!

Karena itu, rasa atas sesuatu yang berbau-bau susila yang
diperjual-belikan atau media-media yang ada kaitan dengan terbukanya
aurat yang vulgar, bisa dinilai masing-masing individu. Ketika kita
menginjak usia tujuh belas, harusnya kita sudah mampu menilai mana
kebutuhan dan mana yang tidak. Yang harusnya diregulasi adalah cara
memperjual-belikankannya. Regulasi tetap perlu, tapi khusus bagi yang
memperjualbelikan atau yang berbisnis susila lah. Tapi kalau mengatur
sesuatu yang privat dan individual, kita harusnya tetap menghargai
capability masing-masing orang.

JIL: Mbak Nia, Anda termasuk pengagum Kartini sebagai simbol perempuan
pejuang. Apa yang menarik dari perjuangan perempuan Indonesia?

Kalau melihat sejarahnya, sebenarnya tidak hanya Kartini yang
berjuang. Ada Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dan Marta Tiahahu. Selain
mereka, masih banyak perempuan-perempuan Indonesia yang kuat dan maju
di zamannya. Tapi Kartini punya kelebihan karena punya bakat menulis.
Perempuan-perempuan pejuang lain belum tentu buta huruf, tapi Kartini
pandai mengekspresikan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Dan itu
sifatnya immortal atau abadi.

Dan terbukti, sekarang tulisan-tulisannya jadi buku dan selalu diingat
tiap tahun. Semua anak-anak sekolah membaca tulisannya. Jadi dia
sangat inspiring. Saya rasa, yang menunjang kelemahan orang Indonesia
in general adalah sistem pendidikan yang tak memberi peluang tiap
individu untuk mengekspresikan pendapatnya. Di sekolah, kita hanya
mencatat saja.

JIL: Ada yang bilang di Indonesia itu too much religion. Agama seakan
tumpah-ruah dan campur tangan di segala tempat. Soal bagaimana
mengatur peredaran VCD porno, tiba-tiba jadi pertentangan antara yang
Islam dan bukan Islam. Anda melihat gejala itu?

Secara pribadi saya anggap too much religion-nya itu tidak di
Indonesia. Di sini dari dulu memang sudah hidup beragam kepercayaan
dan agama. Tapi too much religion-nya ada di media. Saya dulu kuliah
S1 soal jurnalistik. Dari situ saya merasa ada perbedaan antara media
Indonesia dan negara lain. Di sini, tiap ada isu, seakan-akan harus
ada ahli agama yang ngomong, kan? Kenapa pemerintah yang memang punya
otoritas nggak bisa ngatur sesuatu yang jadi wewenangnya secara
percaya diri? Mereka harusnya ngomong tanpa perlu diback-up ahli-ahli
agama. Sebab saya rasa, secara individual, semua orang adalah
spiritual being.

Jadi, jangan seakan-akan ahli agama itu ahli dalam segala hal. Itu
yang over banget dari media-media Indonesia. Kalau kita baca suatu
isu, nanti ada saja komentar dari siapa gitu yang ada embel-embel
agamanya. Kenapa harus selalu dikomentari mereka? Soal bercerai saja
mengadu ke tokoh agama. Itu salah satunya.

Kayaknya, media-media harus berubah. Pemred-pemrednya harus memutuskan
nggak usah terlalu ngambil komentar kalangan yang tak terlalu terkait
dengan persoalan. Percaya saja pada individu-individu dan orang-orang
yang memang kompeten dalam bidang tertentu. Kalau yang dibahas masalah
sosial, antropologi atau budaya, jangan dikaitkan dengan soal agama.
Politis sekali sih, ya... Itu semua, kita tahu, politis sekali.

JIL: Anda selalu ingin corak keberagamaan yang kontekstual dengan
tingkat keragaman masyarakat Indonesia?

Tentu saja. Dari kecil saya sudah Islam dan percaya Islam walau bukan
orang yang 100% religius. Saya memang nggak religius, tapi saya merasa
itu adalah hubungan saya yang sangat pribadi dengan Tuhan. Di situ tak
boleh ada intervensi orang lain. Saya yakin adanya Allah dan nggak
ingin diintervensi orang lain dalam hubungan langsung yang pribadi
itu. Saya juga nggak pernah konsultasi dengan agamawan. Konsultasinya
langsung aja ke Dia, hehe.

Itu tidak hanya saat shalat, di mobil juga bisa. Misalnya saat waktu
tersita di mobil kala macet. Saya sering diam dan berusaha untuk
kontemplasi dan berdialog dengan-Nya. Tapi itu hal-hal yang sifatnya
sangat pribadi. Karena itu, kalau kita menjadikan agama hanya simbol
untuk sosialisasi, akhirnya dalam diri kita bisa kosong. Padahal
spiritualitas dalam itu yang justru harus kita pelihara. Gitu, kan?

JIL: Selalu terjadi konversi-internal dalam cara kita beragama.
Misalnya dari toleran jadi tidak toleran atau sebaliknya. Anda
mengalami itu?

Banyak yang saya lihat seperti itu. Tapi pada saya pribadi, itu tak
terjadi. Mungkin karena saya beruntung banyak diajarkan bertoleransi.
Jadinya, semakin ke sini makin toleran. Apa lagi yang kita cari sih
dalam hidup ini kalau bukan hidup berdampingan secara damai dan sejauh
mungkin menjauhi kekerasan?

JIL: Mengapa memilih topik poligami dalam film terbaru Anda, Berbagi
Suami?

Sebenarnya yang membuat saya agak gregetan dan punya kekuatan untuk
menuangkannya dalam skenario untuk diproduksi, sangat simpel dan
sederhana. Saya melihat fenomena itu banyak terjadi di lingkungan
saya, sejak supir sampai orang-orang kelas sosial elite. Dalam diskusi
dan omong kosong sehari-hari, terlau banyak pendapat yang mengatakan
begini: enak banget jadi orang Islam, karena poligami ibadah. Nah,
dari situ saya terusik dan langsung riset; benarkah Islam mengatakan
seperti itu?

Saya memang harus riset mendalam, karena sebelumnya tidak ada
background yang kuat. Benarkah Islam begitu? Secara tak langsung, saya
tak terima kalau ada banyak omongan seperti itu walau dalam bentuk
canda. Kalau lagi ngopi-ngopi, kita selalu mendengar kalau perempuan
yang mau dipoligami atau istri yang sudah dipoligami akan dibukakan
baginya pintu surga. Padahal menurut saya, masih banyak jalan lain
menuju surga; kenapa memilihnya itu? Jadi, saya awalnya gregetan.

JIL: Anda ingin mengajukan sudut pandang apa lewat film itu?

Ini bukan film propaganda. Karena itu, saya tetap memilih teknik
bertutur lewat bentuk satire-drama. Jadi ini drama yang ada unsur
satirenya. Saya ingin mengatakan hidup ini pilihan, karena itu
poligami juga pilihan. Kalau laki-laki memilih poligami dan isterinya
tidak keberatan, terjadilah tiga pola kehidupan seperti film itu. Ada
kehidupan Salma, Siti, dan Ming.

Ketika perempuannya sudah merasa tidak enaknya dipoligami, mereka bisa
memilih untuk keluar, seperti Salma. Dia pelan-pelan memilih untuk
tidak langsung keluar, padahal dia perempuan mapan. Ini menunjukkan,
sebetulnya kemapanan bukanlah tolok-ukur orang menerima atau menolak
poligami.

Saya percaya, semapan-mapannya perempuan, selama masih dibesarkan
dalam keluarga-keluarga yang sangat kuat unsur patriarkhinya, dia
tetap akan terjebak dalam tradisi itu. Tapi kalau dia mulai bisa
menentang suami dalam bentuk berbeda pendapat—karakter perempuan itu
tidak mau konflik—suaminya akan shock, lalu mati.

Terus, kalau suatu ketika seorang perempuan yang dipoligami mulai
merasa nggak nyaman, seperti di cerita kedua, dia memilih minggat.
Sementara satunya lagi, karena masih muda, memilih untuk memulai hidup
baru.

Jadi saya rasa, ini semua pilihan. Tapi inti yang sebenarnya hendak
saya katakan, nggak cuma orang Islam yang melakukan poligami, karena
itu bagian dari tradisi. Dulu dalam sejarah kita, negeri ini terdiri
dari raja-raja kecil yang punya banyak istri atau selir. Jadi itu
bukan tradisi mereka yang beragama Islam atau berasal dari suku
tertentu saja. Tapi itu fakta dan pilihannya ada di kedua belah pihak.

JIL: Ada perkembangan mengembirakan dan mengkhawatirkan di tanah air
kita bagi kaum perempuan. Tahun lalu disahkan Undang-undang Anti
Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT). Tapi kini perempuan juga
diviktimitasi dan dijadikan kambing hitam kebobrokan moral. Apa usul
Anda bagi kaum perempuan Indonesia?

Saya rasa, perempuan tak bisa mengubah nasibnya bagai membalik tangan.
Tapi pendidikan sangat penting. Pendidikan yang penting adalah
pendidikan kritis seperti banyak membaca buku, berani menuliskan
pendapat, dan banyak-banyak komunikasi dengan lingkungan terdekat
untuk menuju yang lebih luas.

Sekarang, sudah banyak jalur-jalur pendidikan seperti itu. Medianya
banyak tersedia, dan itu harus lebih banyak diisi pendapat-pendapat
perempuan. Kalau pendapat perempuan terekspresikan, pasti akan ada
yang mendengar. Orang akhirnya juga berpikir dan punya kesimpulan yang
berbeda dengan kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Jadi saya rasa,
pendidikan non-formal yang kritis itu yang justru sangat penting buat
perempuan Indonesia. []







http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke