"Urang Sunda Kudu Mapag Zaman"
Tong keueung sanajan aya di leuweung
Tong gimir sanajan aya di pasir
Ki Sunda moal gugur samemeh tempur
Moal palsi samemeh jurit
moal perlaya samemeh perang
Ki Sunda mituin cai di mana dibendung
Kajeun caah leleberan tibatan pegat ngalampah
ITULAH tekad yang menjadi falsafah sekaligus benang merah Sawala Bale Bandung tentang "Simbol Adat sebagai Perekat Dalam Kebudayaan Sunda", yang diselenggarakan komunitas Sunda "Lampah", di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (6/5).
Dalam sawala (diskusi) yang dihadiri sejumlah inohong dan pini sepuh Sunda itu, dibahas eksistensi dan entitas Sunda di tengah era globalisasi yang "merangsek" segala lini kehidupan, politik, ekonomi, sosial budaya, dan seluruh tatanan kemasyarakatan.
Hadir antara lain, Tjetje Hidayat Padmadinata, Prof. Dr. Didi Turmudzi, M.Si, Ny. Popong Otje Djundjunan, Uu Rukmana, Ahmad Adib Zain, Tato Prajamanggala, Uwa Bandung, Hidayat Padmadilaga, Roza Rahmadjasa Mintaredja, dan segenap masyarakat Sunda.
Dalam pandangan politik Tjetje Hidayat Padmadinata, semangat kesundaan tidak pernah surut. Sejak dirinya muda dan menggerakkan organisasi kesundaan untuk tetap pada entitasnya, tetap berlangsung sampai sekarang, malah kini lebih terbuka. Hal itu menunjukkan rasa kesundaan masih ada. Urang Sunda tidak ingin tilem (lenyap). Orang Sunda tidak ingin tergeser oleh suku dan bangsa mana pun. Orang Sunda ingin maju.
Hanya saja, dari hampir semua pergerakan tersebut, lanjut Tjetje, orang Sunda belum mempunyai sebuah sistem dan aturan main dalam menjalankan gerakannya. Akibatnya, gerakan tidak mengalir dan hanya ngubek-ngubek (berputar-putar) pada tingkat wacana. Sedangkan di sisi lain, dalam tubuh orang Sunda, terutama dalam masalah kebudayaan, terdapat dua kubu yang berbeda pandangan, yaitu kubu tradisonalis dan kubu modernis. Oleh karena itu, dengan tekad dan semangat "Lampah" ini, urang Sunda ke depan harus mempunyai sebuah sistem dan aturan main yang menjadi progres pergerakan aktivitasnya, sehingga tidak berlangsung sebatas wacana.
Dalam ruang lingkup kehidupan politik sendiri, kata Tjetje, tidak rungsing (pusing) dengan masalah tradisional ataupun modern. Tetapi, bisa bergerak dari mana pun, dengan catatan ada aturan main dan sistemnya. "Inilah otokritik untuk kita semua, agar gempungan semacam ini tidak terbatas pada wacana," ujar dia.
Sedangkan dalam pandangan Uwa Bandung, dikataan, orang Sunda saat ini sudah kehilangan identitas dirinya. Orang Sunda sudah tidak punya lagi cara, wibawa, dan komara (karisma), karena orang Sunda sudah tidak mengenali lagi siapa jati dirinya. "Lembur geus direbut ku batur, imah geus dirajah ku semah. Urang Sunda geus teu boga cahara, wibawa, jeung komara," ujarnya.
Satu-satunya cara untuk mengembalikan jati diri orang Sunda, kata Uwa Bandung, adalah kembali kepada uga. Sedangkan untuk mengembalikan cahara, wibawa, dan komara urang Sunda, Uwa Bandung mengatakan, orang Sunda harus berpihak kepada alam dan harus berpihak kepada masyarakat kecil. Semua nilai-nilai tersebut sudah termaktub dalam "Amanat Galunggung".
**
DALAM pandangan generasi muda, Roza Rahmadjasa Mintaredja seperti tertuang dalam makalahnya yang berjudul "The Greater Sunda Island and the Lesser Sunda Islands", disebutkan, Sunda itu bukan Pemerintahan Provinsi Jawa Barat belaka. Hal itu sudah didengungkan masyarakat internasional, khususnya para ahli perpetaan (cartografers), Sunda the great and Sunda the less.
Itu artinya, kata Roza, Sunda tidak sekadar salah satu suku bangsa di tatar Jawa Barat, tetapi di Nusantara tercinta ini. "Namun, ada apa dengan Sunda, mengapa banyak tuduhan bahwa bicara Sunda itu berbau SARA dan provinsialistis? Padahal, orang Barat adalah pemuja argumentatif, pengguna rasionalis, dan selalu berbasis pada no document, no history," ujar dia.
Oleh karena itu, menurut Roza, orang Sunda boleh melakukan act locally tetapi berwawasanlah think globally. Orang Sunda dituntut kembali untuk memperluas cakrawala wawasan dari niat (tekad), bicara (ucap), dan berbuat (lampah) yang menyatu dalam satu kata-kata dan perbuatan.
Menurut Roza, era globalisasi kini menuntut manusia dunia untuk tatahar (mempersiapkan) kembali the new paradigm Indonesia baru bahwa Sunda tidak sekadar budaya Jawa Barat. Gerakan kesundaan saat ini yang berdenyut di segala penjuru Jawa Barat dan Banten, menunjukkan fenomena yang harus dikritisi secara lebih arif. Sosok seperti Prof. Djuanda Kartawidjaja, Prof. Muchtar Kusumatmadja, Ali Sastramidjaja (Bah Ali), ataupun Mak Eroh merupakan sosok-sosok yang membuat bangga orang Sunda.
”Prak itu macam-macam jurusannya. Ada yang menulis, berbicara, menggali, menghitung, menari, meditasi, kontemplasi, dsb. Saatnya kita mencermati platform-nya, apakah sudah sama, sudah diakuikah kebenarannya? Inilah yang harus kita jawab," ujar Roza. (Eriyanti/"PR")***
---------------------------------
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.
[Non-text portions of this message have been removed]
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
SPONSORED LINKS
| Spanish language and culture | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Baraya_Sunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
