Menggagas Sistem Informasi Sunda
Oleh DADAN SUTISNA  

ETNIS Sunda mengalami kemunduran dalam segala aspek kehidupan. Itulah
salah satu kesimpulan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I
pada Agustus 2001.

Dalam aspek budaya, mungkin kita lebih cenderung berwacana daripada
berkreasi untuk masa mendatang. Bahkan kadang-kadang masalah yang
menurut saya tidak prinsipiil-misalnya dalam upaya mendefinisikan kata
"sunda"-masih diperdebatkan.

Di sektor ekonomi, etnis Sunda kalah oleh para pendatang (migran).
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menyatakan bahwa penduduk
migran menguasai 34,38% sektor jasa, sementara penduduk nonmigran
hanya 18,00%.

Kelemahan yang paling dominan terjadi pada sistem informasi tentang
Sunda. Akses untuk mengetahui kekayaan kultural Sunda sangat terbatas,
sehingga sebagian urang Sunda-terutama generasi muda-seperti
kehilangan tatapakan (pijakan).

Jika para remaja dianggap tak nyunda lagi-baik bahasa maupun tingkah
lakunya-kesalahan belum tentu bertumpu pada mereka. Tentu, kurang
bijak jika para orang tua bersikap apriori dengan menuduh mereka tak
mau lagi melestarikan budaya leluhur, tanpa menelusuri kelemahan
sistem dalam pengembangan budaya itu sendiri.

Para leluhur berpesan bahwa Sunda mesti ngindung ka waktu ngabapa ka
jaman. Terputusnya sistem informasi tentang Sunda dapat menciptakan
generasi yang pareumeun obor. Gejala seperti ini dapat kita amati
dengan sulitnya mencari sumber informasi mengenai Sunda. Selama ini
kita hanya menjadikan budaya Sunda sebagai santapan orang-orang yang
berkecimpung dalam kebudayaan: para pengarang, seniman dsb.

Di kalangan Sunda, sudah semestinya ada ikatan antargenerasi yang
menyambungkan penganut paham konservatif-tradisional dengan penganut
paham modern. Bagi kalangan modern, teknologi sudah menjadi bagian
gaya hidup.

Namun penganut paham konservatif kadang-kadang berpendapat bahwa
kemajuan teknologi dapat memudarkan nilai-nilai budaya daerah. Padahal
membawa Sunda ke era tanpa batas, bukan berarti meninggalkan
ajin-inajin para leluhur. Sebaliknya, upaya itu dapat membawa Sunda ke
ruang yang lebih luas. Dalam antropologi modern, cakupan suatu budaya
daerah tidak lagi diukur dengan pembatasan wilayah. Sunda dapat
berkembang di mana saja, dikembangkan oleh siapa saja.

Sistem manajemen

pengetahuan budaya

Sebagian besar informasi tentang kekayaan kultural Sunda terdapat
dalam buku-buku, makalah, hasil penelitian dan dokumen lainnya yang
disimpan di tempat "tersembunyi". Saya katakan "tersembunyi", karena
tidak setiap orang mendapatkan informasi keberadaan dokumen tersebut.

Sebagai modal pengetahuan budaya, masyarakat Sunda mempunyai ratusan
naskah kuno yang hingga kini tergeletak di perpustakaan dan museum.
Sejak zaman kolonial pun telah beredar buku-buku berbahasa Sunda dan
buku lainnya mengenai Sunda.

Kekayaan kultural tersebut tak akan diketahui oleh masyarakat luas
jika tak diciptakan informasi yang efektif, cepat dan sistematis. Di
Jawa Barat terdapat beberapa perpustakaan. Sebagian orang Sunda
memiliki dokumentasi kasundaan yang lengkap. Sumber pengetahuan
tersebut kurang diketahui karena minimnya informasi.

Tentang pengembangan pengetahuan budaya, ternyata kita jauh tertinggal
oleh negara lain. Padahal konsep knowledge society tengah dikembangkan
di banyak negara sebagai fondasi untuk memberikan akses seluas-luasnya
terhadap informasi budaya. Salah satu instrumen dari knowledge society
adalah digital library (perpustakaan digital).

Untuk tahap awal, konsep ini dapat dicoba dengan membentuk jaringan
antarperpustakaan, baik perpustakaan pribadi maupun perpustakaan umum.
Katalog buku, prosiding, makalah/artikel, foto serta dokumen lainnya
dikumpulkan di suatu tempat dan dialihkan ke bentuk digital.

Jika sudah terbentuk semacam data center, informasi tersebut bisa
dimasukkan ke dalam suatu organisasi yang terhubung ke internet.
Mungkin saat ini hanya sebagian kecil orang Sunda yang melek internet,
tapi upaya tersebut akan menjadi investasi berharga pada masa mendatang.

Kegiatan seperti ini adalah rangkaian dari inovasi Knowledge
Management System (KMS) yang sedang dicoba di berbagai negara. KMS
merupakan proses sistematis yang meliputi finding, selecting,
organizing, distilling, dan presenting informasi, untuk meningkatkan
pengetahuan serta pemahaman secara komprehensif pada area spesifik.

Di wilayah Sunda, KMS dapat dikembangkan untuk mengolah berbagai data
kasundaan yang masih "tersembunyi". Untuk memajukan Sunda, selain
memerlukan informasi yang menjembatani setiap generasi, juga
memerlukan "keberanian" untuk menjadikan teknologi sebagai rekan.

Memburu "tacit knowledge"

SISTEM pengetahuan saat ini bukan hanya mengacu pada informasi yang
eksplisit, melainkan juga telah mencoba untuk mendapatkan tacit
knowledge dari individu. Ketika Prof. Edi S. Ekadjati wafat, misalnya,
kita telah kehilangan tacit knowledge seorang sejarawan Sunda-dan tak
ada yang sempat menangkap pengetahuan personal darinya.

Untungnya, sekarang masih banyak peneliti, pemikir dan pemerhati
budaya Sunda, baik dari kalangan Sunda sendiri maupun dari luar
negeri. Mumpung mereka masih ada, sudah saatnya kita memburu tacit
knowledge mereka sebagai modal pengembangan Sunda pada masa mendatang.

Untuk menerapkan sistem manajemen Sunda berbasis KMS, tentu kita
memerlukan persiapan dan infrastruktur yang memadai. Konsep ini dapat
terealisasi dengan adanya kerja sama antara peneliti, pemilik
perpustakaan, pemilik dokumentasi kasundaan serta pihak-pihak yang
menguasai perangkat lunak. Sunda telah memiliki SDM tersebut.

Saya kira, pengembangan manajemen pengetahuan budaya Sunda akan
menjadi kado istimewa bagi generasi yang akan datang. Kelak mereka
dapat disuguhi sekumpulan informasi tentang Sunda yang bisa diakses
secara cepat dan tanpa batas wilayah. Semoga Sunda dapat makalangan
marengan majuna jaman. ***

Penulis, pengarang, dan redaktur majalah Sunda CUPUMANIK.




http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke