Mengapa Derita Ini?

Paulinus Yan Olla

Negeri penuh bencana. Itulah keadaan yang mengusik kita di pengujung
tahun 2006 dan awal 2007.

Bencana beruntun menimpa negeri ini. Pertanyaan rakyat, mengapa derita
ini menimpa kami? Apa makna segala bencana ini? Mengapa harus terjadi?

Mengapa derita ini? Sebuah pertanyaan yang oleh Elisabeth Kübler-Ross
dalam On Death and Dying (1968) ditempatkan sebagai salah satu
pertanyaan pokok dalam "situasi batas", situasi tanpa jalan keluar.

Apa yang diamati Kübler-Ross dalam hidup personal dapat menjadi
gambaran negara yang sakit. Indonesia sedang sakit, sekarat secara
sosial, politis, ekonomis, maupun peradaban. Analisis politis dan
hukum menunjukkan, elite kian sejahtera, tetapi rakyat tetap merana.
Penegakan hukum lesu, penanganan korupsi tidak menyentuh koruptor
besar. Legislatif atau eksekutif tidak banyak memperbaiki kondisi
bangsa. Pelanggar HAM sulit diadili. Banyak kebijakan menyakitkan hati
rakyat. Singkatnya, situasi tanpa jalan keluar bagi rakyat yang
diimpit derita, tanpa solusi di negara yang sakit parah.

Mengapa derita ini? Menjadi ungkapan protes orang kecil, miskin dalam
situasi batas. Mereka tak berdaya karena terjadi salah urus negara
sehingga terpaksa masuk penderitaan yang tidak perlu. Protes atas
arogansi para pemimpin yang menimbun kekayaan, kebanyakan dari warga-
bangsa yang tidak mampu mencukupi kebutuhan paling dasar hidupnya
sebagai manusia.

Mengapa derita ini? Merupakan gugatan mohon pertanggungjawaban kepada
mereka yang menjaga kesejahteraan masyarakat. Banyak bencana tidak
datang dari dunia maya. Penderitaan tanpa penanganan serius itu
menunjukkan negara wajah tanpa tuan, tanpa pemerintah, dan rakyatnya
dalam tawanan derita tanpa pembebasan.

Maka, jeritan "mengapa derita ini?" menjadi peringatan mawas diri,
mengakui kegagalan. Di negeri ini tidak ada pejabat yang mau mengaku
salah, apalagi meminta maaf atas kebijakannya yang menyengsarakan rakyat.

Berbagai bencana di negeri ini bukan kutukan Tuhan, tetapi ciptaan
manusia didorong ketamakan akan kekuasaan, kerakusan akan harta, dan
kehausan untuk mencari kemuliaan sendiri.

Perubahan hati

Erich Fromm (1900-1980) menegaskan, keberlangsungan manusia, baik
secara fisik maupun sebagai spesies, tergantung dari perubahan radikal
hati manusia. Transformasi hati hanya ada jika terjadi mutasi secara
drastis di bidang ekonomi dan sosial yang memberi ruang harapan bagi
manusia untuk berubah (Fromm, Avere o Essere, 1977:24).

Perubahan itu jauh lebih radikal dari hanya sekadar solidaritas dengan
orang miskin. Menghadapi masyarakat yang sakit, menurut Fromm,
dituntut perubahan hati yang mensyaratkan dua hal. Pertama, agar
pemimpin bangsa menciptakan transformasi sosial-ekonomis yang
memungkinkan rakyat miskin dihargai martabatnya.

Kedua, tuntutan mengubah tingkah laku manusia di hadapan dunia-alam
semesta. Bencana alam dan malapetaka ekologis terjadi karena sikap
rakus manusia. Silau terhadap kemilau emas, minyak bumi, dan ekspor
kayu membuat bumi Nusantara babak belur oleh bencana, masyarakatnya
dipaksa sesak napas oleh asap, berlayar di atas lumpur, berendam dalam
banjir, atau kurang gizi tanpa perhatian.

Teriakan "mengapa derita ini?" menjadi panggilan dan tuntutan bagi
pemimpin bangsa untuk mewujudkan tanggung jawab sosialnya terhadap
rakyat dan alam. Para petinggi negara perlu belajar seni berelasi
dengan alam yang ditawarkan Dr Emoto dalam the Hidden Messages in
Water. Relasi didasarkan pada kejernihan hati yang tak tercemar.
"Berabad- abad manusia merampok bumi, ini sejarah yang dicatat oleh
air. Sekarang air mulai bicara kepada kita... ia mengatakan apa yang
perlu kita ketahui" (Masaru Emoto, 2006:84).

Keputusan dan kebijakan pemerintah kendati secara ekonomis mungkin
menguntungkan, perlu memberi perhatian utama pada dampak kemanusiaan
dan ancaman bahaya ekologisnya bagi manusia. Rakyat kecil biasanya
lebih menderita bila ada bencana. Mereka menjadi korban janji
kemakmuran ekonomis dan keputusan para pemimpinnya yang lepas dari
landasan hati nurani.

Mengapa derita ini? Suatu seruan hati rakyat mohon perhatian!

Paulinus Yan Olla Alumnus Universitas Pontificio Istituto di
Spiritualità Teresianum, Roma 

Kirim email ke