Waduk Jatiluhur Belum Optimal
Petani di Pantura Mengandalkan Pasokan Air Hujan 
BANDUNG, (PR).-
Pengelola Waduk Jatiluhur Purwakarta, belum bisa memastikan pasokan air untuk 
menyuplai lahan di jalur Pantura Jabar sebagai sentra produksi. Dirut Perum 
Jasa Tirta II selaku pengelola Waduk Jatiluhur, Djendam Gurusinga, Jumat (16/2) 
menyebutkan, sampai sejauh ini ketinggian air di waduk tersebut masih 88 
meter/di atas permukaan laut (dpl) dari batas minimal kelayakan 107 meter/dpl. 

Kendati saat ini hujan terus turun, namun bertambahnya ketinggian air di waduk 
bersangkutan belum secepat harapan. "Saat ini, petani di Pantura Jabar masih 
mengandalkan pasokan air dari hujan yang terus mengguyur. Namun, selepas Maret 
mendatang, kemungkinan akan berkurang sehingga perlu suplai yang kontinu dari 
Waduk Jatiluhur," katanya. 

Pasokan air dari Waduk Jatiluhur menjadi andalan bagi usaha penanaman padi di 
jalur Pantura Jabar, terutama wilayah Subang, Karawang, Purwakarta, serta 
sebagian Indramayu. Minimnya pasokan air waduk saat kemarau panjang lalu, 
efeknya sangat dirasakan petani daerah setempat, sehingga perum Jasa Tirta II 
melakukan penggolongan kembali suplai air berdasarkan kelas lahan padi. 

Adanya kepastian kontinuitas pasokan air asal Waduk Jatiluhur, sangat ditunggu 
para petani, seperti di wilayah Kabupaten Subang. Walaupun di sana banyak 
sumber cadangan air dari waduk lokal, namun belum terlalu dapat diandalkan 
karena air cepat habis saat hujan berhenti.

Kepala Dinas Pertanian Subang, Agus Taruna, mengakui, situasi daerah setempat 
pun masih menunggu kepastiannya sampai Maret mendatang. Selama ini, pasokan air 
dari Waduk Jatiluhur mampu mengairi sawah di Subang seluas 56.000 hektare 
sedangkan dari waduk lokal menyuplai untuk 36.000 hektare. 

Disebutkan, jika Maret mendatang sesuai ramalan cuaca hujan memang berhenti 
atau sudah minim, besar harapan agar pemerintah melaksanakan hujan buatan. Ini 
diharapkan dapat menghindari lahan padi yang sudah ditanam kemudian mengalami 
kekeringan kembali. 

Anggaran berlipat

Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso, menyebutkan, 
target pencapaian produksi memang ditetapkan Maret s.d. September, dengan total 
2 juta ton GKG, di mana Jabar masuk sebagai salah satu andalan utama. "Tapi, 
kami melihat adanya tantangan lebih besar untuk musim tanam kali ini, karena 
adanya anomali iklim yang dapat menjadi sandungan".

"Di lain pihak, Departemen Pertanian kini menganggarkan dana pendukung sampai 
hampir lima kali lipat," katanya, saat membuka Rakor Wilayah Regional II 
Peningkatan Produksi Beras yang diikuti para kepala dinas pertanian se-pulau 
Jawa, di Bandung, Kamis (15/2) malam. 

Kepala Dinas Tanaman Pangan Jabar, Asep S Abdie, mengatakan, kendati secara 
umum Jabar siap memenuhi target tambahan 500.000 ton GKG tersebut, namun tetap 
berharap segala sesuatunya lancar selepas Maret mendatang, terutama pasokan 
air. Jika kemudian terganggu lagi, pengubahan strategi akan dilakukan sesuai 
kondisi. 

Sementara itu, harga beras di pasar Bandung berangsur menurun kembali sejak 
Jumat kemarin dengan selisih Rp 200,00/kg, karena mulai bertambahnya panen dan 
efek operasi pasar. Sejumlah pebisnis beras di Bandung dan Pantura Jabar, 
secara umum menyebutkan, harga beras IR64 (medium) kualitas 1 di penggilingan 
kini hanya Rp 5.500,00-5.600,00/kg dengan harga secara partai di pebisnis 
maksimal Rp 6.000,00/kg, harga GKG menurun ke Rp 3.500,00-3.600,00. (A-81)***



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke