Dihandap artikel abdi di Sindo, manawi aya komen?

salam
zahidayat


Revolusi bagi Kaum Miskin
Kredit mikro kian populer setelah Muhammad Yunus dan Bank Grameen dianugerahi 
Nobel Perdamaian tahun lalu.Jauh sebelum itu,tokoh dunia seperti Hillary 
Clinton yang kini calon Presiden AS hingga aktris Natalie Portman juga terlibat 
kampanye kredit mikro.Pada 2005 dijadikan sebagai ’’International Year of 
Microcredit”oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berencana mengundang Muhammad 
Yunus untuk ’’belajar”kredit mikro kepadanya. Kenapa kredit mikro semakin 
memesona banyak pihak sebagai jalan mengurangi kemiskinan? Menurut McCruden 
(2006), ini bertepatan dengan adanya pergeseran ideologis dalam kebijakan dan 
program pembangunan. 
Ideologi ’’pasar bebas’’ berkeyakinan bahwa pendekatan pasar lebih superior 
dibanding inisiatif negara.Berangkat dari keyakinan ini maka ketergantungan 
rakyat pada negara harus diganti dengan meningkatkan kemampuan menolong diri 
sendiri (self help). 
Selain itu,banyak pemimpin dunia percaya terdapat hubungan erat antara 
kemiskinan dan terorisme.Dalam sidangnya pada 2005,negara-negara maju yang 
tergabung dalam G8 berkomitmen membantu negara-negara berkembang mengatasi 
masalah kemiskinan sebagai upaya mencegah terorisme. 
Kritik 
Masalah kemiskinan tak bisa direduksi sebatas ketiadaan akses kredit.Di banyak 
negara berkembang masalah klasik kaum miskin tani,yaitu kepemilikan lahan yang 
sempit.Di benua Afrika, sekitar 500 juta penduduk berada di neraka kemiskinan 
akibat wabah malaria dan kekeringan. 
Sementara di negara kita,bencana alam bertubi-tubi sejak tsunami hingga banjir 
membuat banyak warga jatuh miskin. Karena kemiskinan tak homogen, kredit mikro 
perlu disadari limitasinya. Asumsi bahwa semua kaum miskin ingin bekerja 
sendiri (self-employed) tak bisa dipertahankan.
Kenyataannya,sebagian kaum miskin lebih senang memiliki pendapatan tetap 
biarpun kecil. Karena itu,fokus kredit mikro yang hanya diarahkan pada kelompok 
di dasar kemiskinan (the poorest of the poor) tak boleh menghambat pemberdayaan 
kelompok yang sedikit di atas garis kemiskinan.
Selain rentan jatuh miskin,wirausaha kelompok ini justru berpotensi menciptakan 
lapangan kerja bagi yang lebih miskin. Kemiskinan mustahil teratasi tanpa 
bantuan langsung kepada mereka yang tak berdaya.Kepala UN Millennium Project 
Jeffry D Sach,dalam artikelnya A Practical Plan to End Poverty menegaskan 
perlunya penduduk negara kaya menyisihkan USD2–USD3 untuk membantu Afrika 
keluar dari perangkap kemiskinan (The Washington Post,17/1/2005).
Di sisi lain,petani di negara berkembang akan tetap di jurang kemiskinan jika 
negara maju tak menghentikan proteksi dan subsidi pertaniannya. Selain 
ketidakadilan global,banyak kebijakan pemerintah yang tak ramah kaum 
miskin.Contohnya,impor beras untuk melindungi penduduk kota namun di sisi lain 
tak menguntungkan bagi petani.
Dalam praktiknya,akibat tekanan berbagai kebijakan tersebut, kredit mikro kerap 
kali gagal.Sebab, alih-alih untuk investasi produktif,dia justru dipakai untuk 
memenuhi desakan konsumsi. Berbagai kritik memastikan bahwa kredit mikro,begitu 
pula program antikemiskinan lainnya,tak ada yang sempurna dan perlu terus 
diperbaiki. 
Selain mendapat penghargaan dan direplikasi di mana-mana,banyak kritik 
diarahkan kepada Bank Grameen di Banglades.Sebagian menganggap suku bunganya 
terlalu tinggi; lalu dinilai merekayasa tingkat repayment dengan menjadwal 
ulang kredit yang jatuh tempo; dan dari beberapa penelitian diketahui ada 
sekitar 15%–30% kredit tak jatuh ke tangan yang betul-betul membutuhkan.
Hal ini mengingatkan kita agar penganugerahan Nobel Perdamaian jangan sampai 
menimbulkan ekspektasi berlebihan terhadap kapasitas kredit mikro dalam 
mengatasi kemiskinan. 
Implikasi 
Kredit mikro bukanlah panacea. Karena itu,keberadaannya harus bersifat 
komplementer terhadap jenis bantuan lainnya seperti transfer dan 
subsidi.Paradigma ’’memberikan kail daripada ikannya’’ perlu melihat secara 
cermat bahwa tak semua kaum miskin memiliki kemauan dan kemampuan menjadi 
microentrepreuneur. 
Di sisi lain,amat keterlaluan orang miskin didorong kerja keras sementara 
golongan kaya uncang-uncangkaki ’’disubsidiî bunga SBI puluhan triliun rupiah 
tanpa perlu berkeringat.Inilah bentuk parasitisme yang harus segera direvolusi 
jika sungguh-sungguh memperhatikan kaum miskin. 
Kredit mikro juga perlu direvolusi menjadi bentuk keuangan mikro 
(microfinance).Jelas kaum miskin tak hanya perlu kredit,tetapi mereka perlu 
arus kas yang lebih lancar untuk menutupi berbagai keperluan mendesak. 
Karena itu,selain tabungan (microsave) diperlukan semacam asuransi 
(microinsurance) yang bisa melindungi kaum miskin dari berbagai 
guncangan.Contoh primitifnya,yaitu lumbung padi yang masih dipertahankan di 
beberapa masyarakat adat sebagai pelindung dari ancaman paceklik.
Dengan demikian,nasib jutaan kaum miskin tak lagi hanya bergantung pada peran 
lembaga seperti Bulog yang sering gagal menjalankan fungsinya. Terakhir,meniru 
sukses di tempat lain tetap harus dibarengi penyesuaian dan inovasi yang cocok 
dengan situasi lokal.Selain itu,gerakan antikemiskinan akan bekerja baik jika 
pelaksanaannya tak bercampur dengan tujuan selain menyelamatkan kaum miskin itu 
sendiri.(*) 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini-sore/revolusi-bagi-kaum-miskin-3.html
 
 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke