Presiden Indonesia Bermimpi

Daoed Joesoef

Presiden Republik Indonesia bermimpi. Pada 100 tahun ke depan impian
berupa cita-cita dan tujuan dalam Pembukaan UUD '45 bisa terwujud.
Optimisme ini lahir dari kajiannya terhadap visi pembangunan yang
disampaikan Yayasan Indonesia Forum.

Setelah mempelajari visi itu, saya malah pesimistis. Ia mengesankan
hanya disusun berdasarkan pemikiran teknokratis, persis dengan yang
melahirkan konsep pembangunan di zaman Orba, tercermin dalam syarat
utama yang harus dipenuhi dalam pencapaiannya. Hasil pembangunan Orba
telah diketahui. Ekonomi nasional, yang semula amat dibanggakan
pertumbuhannya, rontok bagai istana kertas. Sebab utama kejatuhan
Rezim Orba bukan demo mahasiswa, tetapi kerapuhan penalaran
pembangunan teknokratis itu. Demo hanya merupakan suatu coup de grace.

Potensi unggulan

Di antara sinergi tiga kelompok yang disebut dalam Visi Indonesia 2030
sebagai syarat keberhasilan, penerapannya tidak termasuk penduduk dan
daerah, hanya wirausaha, birokrasi, dan pekerja. Ini sama dengan yang
dilakukan Orba secara teknokratis. Karena ukuran kemajuan pembangunan
hanya kenaikan GNP, tidak peduli ia hanya menjadi spectator
development: sebagian besar penduduk, termasuk yang terpelajar dan
terutama menetap di daerah, dan daerah sendiri sebagai entitas hidup,
telah direduksi menjadi "penonton", bukan "peserta" proses
pembangunan. Hal inilah yang lama-lama membina ketidakpuasan politik,
pemukul final terhadap Orba yang sudah sekarat.

Dengan optimisme itu, Presiden tidak hanya mengajak kita melihat 100
tahun ke depan, tetapi juga 100 tahun ke belakang. Apakah Presiden
betul telah merenungi apa yang terjadi di masa lampau dan menangkap
pesan fundamental kesejarahan yang dikandungnya?

Indonesia lahir dari sejarah. Begitu lahir mendefinisikan suatu
Rakyat, suatu Bangsa, dan suatu Tanah Air. Dan sejarah ini adalah
sejarah pemikiran par excellence karena sekaligus mengilhami dan
memandu perjuangan kemerdekaan secara teringegrasi. Hingga akhir abad
XIX, usaha penduduk gugus terbesar kepulauan di garis khatulistiwa
dalam mengusir penjajah berupa perjuangan lokal yang terpisah-pisah.
Sejak awal abad XX, mulai terpikir memadukan semua itu dalam satu
kesatuan visi politiko-sosio-kultural yang tersimpul dalam istilah,
Indonesia. Ini berhasil dinyatakan eksplisit dan terbuka berupa sumpah
di kalangan pemuda terpelajar pada 28 Oktober 1928.

Namun, sejak itu kita lalai mengonsep potensi unggulan khas Tanah Air
yang menentukan bobot maknanya bagi kondisi kehidupan dan kehidupan
dunia. Jadi, ada missing link dalam perkembangan rangkaian pemikiran
kolektif. Dan ini berakibat fatal saat kita memikirkan konsep dan
jalan pembangunan nasional yang relevan. Pemikiran pembangunan yang
diambil dari buku-buku teks memang cukup ilmiah, tetapi rata-rata
mengabstrakkan entitas ruang (space) begitu saja dalam penalaran
keilmuannya, ruang dalam arti geografi fisik dan sosial. Maka, konsep
pembangunan teknokratis dari Orba dan Yayasan Indonesia Forum tidak
membumi. Padahal soal geografi kian menyibukkan diskusi meski tak
selalu disebut eksplisit begitu.

Sebelum terlambat, dalam memikirkan pembangunan, lebih dulu kita
mengkaji keterkaitan antara bumi (tanah air) kita dengan ekonomi
(geoekonomi), dengan sistem nilai (geokultur), dengan pendidikan
(geoeducation), dengan politik (geopolitik), dan meramunya menjadi
suatu sistem ideologis. Ia dijadikan pegangan pokok geostrategis tiap
pemerintah pilihan rakyat dalam kebijakan dalam negeri—terutama
kebijakan pembangunan nasional—dan dalam percaturan internasional.

Jika demikian visi pembangunan in term of social space kiranya pantas
dipikirkan sebagai pengganti visi pembangunan in terms of income (GNP,
GDP, average income) yang berasal dari pemikiran teknokratis. Ruang
sosial ini bukan substansi abstrak dan metafisis sebagaimana
diketengahkan dalam wacana sosiologis Durkheimian. Ia adalah ruang
hidup manusia yang nyata, diciptakan dalam konteks (pembangunan)
komunitas tertentu.

Dalam dimensi obyektif, material, kultural, dan spiritual, ruang
sosial ini adalah produk transformasi alam melalui proses pikiran dan
kerja manusia. Ruang sosial ini merupakan sebuah pentas aneka hubungan
sosial dan direkayasa penduduk dalam berbagai derajat
intervensi/perubahan. Secara filosofis pembangunan dalam arti ruang
sosial, diformulasikan sebagai "gerakan komunitas"—lokal atau
nasional—yang tak berkesudahan, selama proses mana komunitas
bersangkutan menjadi lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih akseptabel
bagi warganya.

Dengan menghidupkan "gerakan komunitas" ke dalam penalaran, berarti
pembangunan dalam arti ruang sosial berusaha menghidupkan semangat dan
praktik demokrasi di kalangan rakyat, jadi terus melibatkan "politik"
dalam proses pertumbuhan "ekonomi" dan pembangunan "nasional". Yang
dikembangkan tidak hanya participatory (economic) development, tetapi
sekaligus participatory democracy. Jadi, secara bersamaan, karena
saling mengisi, berpotensi mengembangkan demokrasi politik, ekonomi,
dan sosial di komunitas bersangkutan.

Semua itu bisa terjadi dengan wajar karena development in terms of
social space membuat bumi tempat berpijak tidak diabstraksi, tidak tak
diberi makna/nilai, bagi penduduknya. Dengan begitu, penduduk dengan
buminya dibuat manunggal, dijadikan satu, senasib dengan ruang sosial
di mana mereka berada dalam dan selama proses pembangunan.

Pantas dipertimbangkan

Bila demikian, visi pembangunan pantas dipertimbangkan menjadi the
economics of economic development, bahkan the politics of the whole
national development. Ia mampu memberi tidak hanya isi pada
kemerdekaan, tetapi juga makna bagi kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara dalam konteks kemerdekaan.

Penyusunan visi pembangunan perlu melibatkan disiplin ilmiah yang
bersifat universal dan memakai peralatan teknologi canggih—komputer
dan lainnya—yang dibuat ilmu pengetahuan. Biarkan peralatan/mesin
berbuat apa yang dapat dibuatnya, tetapi manusia melakukan apa yang
tidak bisa dilakukan oleh alat masinal itu, yaitu berfilosofi. Bila
ilmu pengetahuan membantu kita merumuskan solusi dari masalah,
filosofi—baik yang berdimensi lokal maupun mondial—menuntun kita
menemukan masalah yang tersembunyi di balik tiap solusi. Filosof
Aldous Huxley mengingatkan, ancaman nyata bukan di saat komputer mampu
berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti
komputer.

Visi pembangunan dalam arti ruang sosial bukan impian, tetapi imaji
tertentu tentang perkembangan Indonesia.

Daoed Joesoef Docteur d'Etat es Sciences Economiques Universite
Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne de Paris I 

Kirim email ke