nuklir IAEA: Dalam 4-6 Tahun Iran Bisa Bikin Bom berlin, rabu - Badan Energi Atom Internasional atau IAEA memperkirakan, dalam empat sampai enam tahun ke depan Iran sudah mampu membuat sebuah bom nuklir sehingga upaya diplomatik harus makin didorong untuk mencegah hal itu.
Demikian disampaikan juru bicara IAEA, Melissa Fleming, pada wawancara dengan radio Jerman, Deutschlandfunk, Rabu (11/4), seperti dilaporkan kantor berita DPA. Dijelaskan, Iran telah mempunyai akses atas berbagai bahan yang diperlukannya secara ilegal pada masa lalu, dan menyembunyikan eksperimen-eksperimen nuklir mereka. Sangat disayangkan, Iran juga tidak membuka program pengayaan uraniumnya untuk diperiksa. Fleming menambahkan, Iran mempunyai hak untuk menjalankan fasilitas-fasilitas nuklir sepanjang itu dilakukan secara transparan dan legal. Sejumlah negara besar masih meragukan kemajuan pesat Iran itu, termasuk Rusia yang mempunyai hubungan cukup baik dengan Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Jerman Gernot Erler kemarin juga menyatakan ragu. "Ada banyak sekali keraguan apakah benar di sana sudah ada 3.000 mesin pemutar. Kita mungkin akan mendapatkan informasi lebih banyak dalam beberapa hari ke depan karena pengawas IAEA seharusnya sudah berada di Natanz," kata Erler. Akan tetapi, keraguan sejumlah negara Barat atas kemajuan pesat program nuklir Iran kemarin dijawab pejabat senior Iran. "Mungkin mereka mengira kami membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencapai skala industri, tetapi berkat upaya-upaya para ahli, kami sudah mencapai tahap itu," papar Wakil Ketua Badan Energi Atom Iran Mohammad Saeedi tanpa merinci lebih detail. Dia menambahkan, pada tahun lalu pun ada banyak keraguan bahwa Iran telah berhasil memasang 164 mesin pemutar. Akan tetapi, begitu IAEA membenarkannya setelah melakukan pemeriksaan dan mengambil contoh-contoh, keraguan itu hilang. "Kami tidak ingin mengganggu kesenangan orang lain. Mereka telah menyampaikan keraguannya pada masa lalu," demikian ditegaskan pula oleh Ketua Perunding Nuklir Iran Ali Larijani. Larijani juga menggugat, jika Barat meragukan keberhasilan yang telah dicapai Iran, mengapa mereka berusaha untuk lebih menekan Iran. Meski demikian, Iran memang tetap tidak mau memberikan angka-angka untuk mendukung pengumuman mengenai keberhasilan mereka, yang disampaikan Senin (9/4) lalu. Larijani menambahkan, dirinya dan Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana telah mendiskusikan kemungkinan untuk melakukan pertemuan guna membicarakan program nuklir Iran. "Tuan Solana menawarkan pembicaraan antara 10 dan 13 April, tetapi karena kesibukan saya, kami memutuskan untuk memundurkan waktu pertemuan," ungkapnya. Malapetaka besar Dari ibu kota Armenia, Yerevan, sebagaimana dilaporkan RIA Novosti, mantan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Ivanov menegaskan bahwa perang terhadap Iran akan mengarah pada malapetaka besar. "Masalah Iran perlu diselesaikan dengan cara politik dan diplomatik karena ancaman perang tidak akan mengarah ke mana-mana, malah menuju malapetaka," jelasnya. Di sisi lain, Rusia kemarin menegur Iran karena melakukan latihan perang antipesawat di lokasi yang berdekatan dengan stasiun pembangkit listrik tenaga nuklir yang tengah dibangun para ahli Rusia. "Kedutaan Rusia telah menyampaikan pernyataan mempertanyakan hal itu, dan meminta mulai saat ini para ahli teknik Rusia di Bushehr diberitahu lebih awal mengenai akan adanya aktivitas seperti itu," kata jubir Deplu Rusia, Mikhail Kamynin. Juru bicara Badan Tenaga Atom Rusia (Rosatom) Sergei Novikov menjelaskan, sebanyak 2.000 ahli teknik Rusia yang bekerja di Bushehr tidak diberitahu mengenai akan adanya latihan penembakan roket pertahanan udara pada 6 April lalu, sekitar pukul 05.00. Akibatnya, mereka sempat diliputi ketegangan yang mengganggu pekerjaan mereka. Iran telah melakukan serangkaian latihan militer yang dikatakannya sebagai manuver pertahanan militer di wilayahnya. Panglima Angkatan Darat Iran Mayjen Ataollah Salehi, Selasa, menegaskan, para musuh tidak mampu menyerang atau menghadapi Iran. (AP/AFP/Reuters/OKI)
