Gunung esnya Maria Eva ini tentu tidak mak nyusss..., seperti gunung es
campurnya "Pak San" di Cilacap. Tapi ini kisah tentang sebuah fenomena, yang
bisa jadi benar, bisa jadi salah. Bukan hanya penderita HIV/AIDS saja yang
bisa membentuk fenomena gunung es, tapi penderita (sebenarnya lebih tepat
disebut penyuka, karena memang tidak menderita) selingkuh juga bisa
membentuk fenomena gunung es.

Ini hanya sebuah unek-unek tentang semangat yang rada mengada-ada, mungkin
su'udzdzon (berprsangka buruk), tapi mungkin juga make sense.....!

***

Hari-hari ini sebagian besar penonon televisi di Indonesia sedang "terjebak'
untuk terpaksa mengambil bagian dalam menggunjing aib orang lain. Sebut saja
penggunjing pasif. Pasalnya tidak turut ngomong, melainkan ter-fait-acompli
untuk turut mengikuti perkembangan ceritanya. Kemanapun saluran TV
di-ceklek-kan, kisah aib orang lainlah yang muncul pathing pecothot.....,
berhamburan tak terkendali.
Puncak tangganya diduduki oleh beredarnya film adegan saru (lebih enak
didengar ketimbang mesum) perselingkuhan yang berujung perseteruan, antara
Maria Eva versus Yahya Zaini. Keduanya public figure (meskipun sebelumnya
saya juga tidak pernah tahu kiprah maupun seluk dan beluknya kedua orang
itu).
Karena itu, tentu saja tidak bebas dari kepentingan, baik kepentingan diri
sendiri maupun (apalagi) orang lain..

Anggap saja aib perselingkuhan itu sebagai sebuah "insiden" (tapi
direncanakan), yang kalau dijabarkan menjadi : sebuah insiden
perselingkuhan, yang konangan (ketahuan) istri dari pelaku laki-laki, sempat
direkam, hasil rekamannya sempat beredar, dan pilem itu jadi pembicaraan
orang (karena menyangkut tokoh atau selebriti).

Anggap saja "insiden" Maria Eva ini bak sebuah puncak gunung es, maka
lereng, tebing, lembah dan kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air
itu bisa jadi lebih nggegirisi (mengerikan). Ambil saja perbanyakannya
mengikuti deret ukur kelipatan sepuluh, maka rekonstruksi ceritanya bisa
menjadi demikian :

Ada sebuah "insiden" Maria Eva.
Ada sepuluh "insiden" yang filmnya tidak menjadi pembicaran orang.
Ada seratus "insiden" yang filmnya tidak sempat beredar.
Ada seribu "insiden" yang tidak sempat direkam.
Ada sepuluh ribu "insiden" yang tidak konangan istri atau keluarganya.

Lalu, bagaimana kalau ternyata kaki gunung es yang berada di bawah permukaan
air laut itu membentuk dataran yang mbleber kemana-mana seperti lumpur
Lapindo? Perbanyakannya bisa-bisa lebih dari deret ukur kelipatan sepuluh,
melainkan eksponensial?

Barangkali ada seratus ribu, sejuta atau lebih banyak lagi, "insiden" yang
tidak direncanakan,
"just-in-time", ujug-ujug terjadi begitu saja........., dimana-mana, tak
kenal papan lan panggonan (waktu dan tempat), dan pakaian seragam (toh akan
dilepas juga).

***

Waktu terus berlalu. Yang sudah terjadi akan tetap terjadi, tidak bisa
di-tip-ex atau di-delete. "Maria
Eva" lainnya yang kini masih thenguk-thenguk (diam tepekur) di dasar lautan
semakin hari semakin gerah.
Bukan soal salah siapa. Melainkan kalau ada sepasang pelaku "insiden",
kenapa satu pihak tetap tampak disubyo-subyo (disanjung-sanjung) dan malah
menikmati aneka keistimewaan. Sementara pihak lainnya menanggung derita
batin, tenggelam dalam nasi yang sudah kadung jadi bubur. Itu tentu karena
kepentingan telah berganti antara yang dulu dan sekarang.

Kepentingan (interest) memang tidak tak lekang oleh panas, tidak tak lapuk
oleh hujan, apalagi gempa atau banjir lumpur. Belum lagi karena karir,
prestise, kemapanan dan kenyamanan yang berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Mudah-mudahan kaki gunung esnya Maria Eva tidak mencair, yang lalu mbleber
ke wartawan infotainment.

Pertama, agar waktu dan energi bangsa ini tidak terbuang percuma. Kedua,
agar saya tidak perlu menjual TV di rumah yang gambarnya sudah agak rusak
akibat digulingkan oleh Gempa Yogya dan kini semakin rusak gambarnya oleh
tayangan aib orang lain, plus dengan lugu-nya (maksudnya : lu guoblok...)
dimunculkannya cuplikan adegan saru itu. Ya, hanya oknum televisi guoblok
saja yang menganggap cuplikan tayangan itu pantas muncul di tengah keluarga.


Jagad....jagad......., yang namanya aib memang tidak ada yang sopan. Sama
aib dan tidak sopannya adalah mereka yang suka mengutak-atik aib orang lain,
lalu mengumbarkannya kepada tetangganya sebangsa dan setanah air.

Seolah berkata : Mari kita melakukan aib rame-rame seperti potong padi di
sawah atau berjama'ah seperti jum'atan.....
salam,

--
Ryolix Kienka
BekaKak #004
AA 5377 LA
=================================

Kirim email ke