Ceu Eem mempunyai tangan "midas" kalau soal mengolah kopi tubruk dan mie
rebus. Apalagi perempuan muda ini, layaknya orang Priangan, selalu tersenyum
ramah melayani pelanggan.

Yang membuat saya tak habis pikir, bagaimana mungkin dari resep yang satu
pabrik tetapi menghasilkan masakan kebul-kebul yang di"slurup" rasanya gleg
nyem-nyem. Mulai dari membengkaknya batangan mie yang tidak terlalu empuk
namun tidak juga bantat, derajat kekenyalan telur rebus yang berenang
seperti ubur-ubur dipermukaan mangkok plastik beriklan bumbu masak. Rasa Mie
Instan rebus akan berbeda jika dibandingkan dengan racikan adalah bang Emon
sang suami.

Dua puluh tahun Eem bertahan dengan kedai Inter Milan (Indomie termasuk
camilan) yang kalau saya ambil foto kedainya sulit dibedakan tumpukan kotak
sabun dan perumahan kumuh ala kelompok anggota DPR (Di Pinggir Rel).

Di sebelah kedai Mie Rebus, malam hari muncul "Deni-Kumis" jagoan
"sreng-sreng" nasi goreng. Rambutnya sebahu dengan badan kurus meramaikan
suasana makan "asal wareg" di kawasan Muwardi Raya.

Belakangan Denni memotong rambutnya bukan karena sekarang ia sadar bahwa
restoran besar mengharuskan koki bertopi dan memelihara ramput pendek agar
ketombe
dan rambut tidak menjadi menu tambahan masakannya. Namun gara-gara saat ia
alih profesi "pacokan" alias supir bajaj tembak , para pelanggan terbirit
melihat pengemudi berwajah sangar.

Ada empat pelita, Eem dan Danni berjualan. Sayapun sudah lama tidak
merasakan masakannya. Bosan dengan menu yang sama sehingga belum dipesan
sudah terbayang
rasanya.

Ternyata pelanggan lainpun sepertinya berfikiran yang sama dengan saya.
Perlahan tapi pasti, kedai mereka sudah mulai renggang didatangi pembeli.

Emon kembali menambal(l) penghasilan dengan menjadi Tukang Cokot - alias
pembantu tukang batu. Sementara Denni, matak aji "katak melompat" - menjadi
pengojek,
pebajaj, dan kembali ke nasi goreng lima ribuan.

Namun, belakangan, selain dagangan sepi, periuk nasi mereka seperti terusik.
Pasalnya, Bang Kumis, seorang pedagang Soto Tangkar membuka kedai di kawasan
kami,
dan mendadak sontak namanya moncer. Dengan hidangan andalan Soto Tangkar,
Nasi Putih bertabur bawang goreng semangkin "goceng" maka pemain lain
seperti Eem
dan Danni mulai tersodok.

Seperti biasanya, walau terbiasa kalah namun kita selalu saja sulit menerima
kekalahan. Lalu maraklah isu "Aji-aji Gunung Kawi," atau aji pengasihan yang
diyakini sementara orang mampu mendorong pembeli kerap berbelanja di toko
kita. Saya pun ikutan menyemarakkan pergunjingan dengan teori pendekatan
"Feng Shui" asal.

Menurut saya bisa jadi Fengshui Bang Kumis cocok dengan tempat barunya.
Lagian ia menyajikan resep goyang lidah yang baru yaitu Soto Sapi.
Rasanyapun setelah saya cobai, cukup "nikeemat" - untuk semangkok soto
daging dan sepiring nasi senilai "gocengan."

Akhirnya melalui sidang pendapat yang seru, bang Kumis hanya boleh buka
kedai siang hari. Rupanya "rejeki dari Gusti Allah tidak bakal tertukar,"
masih wacana "buat orang lain" bukan untuk diri sendiri

salam
-- 
hendro
0812 841 8958
http://ryolix.multiply.com/
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke