ini co-past apa karangan sendiri sih ? klo karangan sendiri gw kasih nilai 6.5 dah.
On 10/26/07, hendro cahyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ceu Eem mempunyai tangan "midas" kalau soal mengolah kopi tubruk dan mie > rebus. Apalagi perempuan muda ini, layaknya orang Priangan, selalu tersenyum > ramah melayani pelanggan. > > Yang membuat saya tak habis pikir, bagaimana mungkin dari resep yang satu > pabrik tetapi menghasilkan masakan kebul-kebul yang di"slurup" rasanya gleg > nyem-nyem. Mulai dari membengkaknya batangan mie yang tidak terlalu empuk > namun tidak juga bantat, derajat kekenyalan telur rebus yang berenang > seperti ubur-ubur dipermukaan mangkok plastik beriklan bumbu masak. Rasa Mie > Instan rebus akan berbeda jika dibandingkan dengan racikan adalah bang Emon > sang suami. > > Dua puluh tahun Eem bertahan dengan kedai Inter Milan (Indomie termasuk > camilan) yang kalau saya ambil foto kedainya sulit dibedakan tumpukan kotak > sabun dan perumahan kumuh ala kelompok anggota DPR (Di Pinggir Rel). > > Di sebelah kedai Mie Rebus, malam hari muncul "Deni-Kumis" jagoan > "sreng-sreng" nasi goreng. Rambutnya sebahu dengan badan kurus meramaikan > suasana makan "asal wareg" di kawasan Muwardi Raya. > > Belakangan Denni memotong rambutnya bukan karena sekarang ia sadar bahwa > restoran besar mengharuskan koki bertopi dan memelihara ramput pendek agar > ketombe > dan rambut tidak menjadi menu tambahan masakannya. Namun gara-gara saat ia > alih profesi "pacokan" alias supir bajaj tembak , para pelanggan terbirit > melihat pengemudi berwajah sangar. > > Ada empat pelita, Eem dan Danni berjualan. Sayapun sudah lama tidak > merasakan masakannya. Bosan dengan menu yang sama sehingga belum dipesan > sudah terbayang > rasanya. > > Ternyata pelanggan lainpun sepertinya berfikiran yang sama dengan saya. > Perlahan tapi pasti, kedai mereka sudah mulai renggang didatangi pembeli. > > Emon kembali menambal(l) penghasilan dengan menjadi Tukang Cokot - alias > pembantu tukang batu. Sementara Denni, matak aji "katak melompat" - menjadi > pengojek, > pebajaj, dan kembali ke nasi goreng lima ribuan. > > Namun, belakangan, selain dagangan sepi, periuk nasi mereka seperti > terusik. Pasalnya, Bang Kumis, seorang pedagang Soto Tangkar membuka kedai > di kawasan kami, > dan mendadak sontak namanya moncer. Dengan hidangan andalan Soto Tangkar, > Nasi Putih bertabur bawang goreng semangkin "goceng" maka pemain lain > seperti Eem > dan Danni mulai tersodok. > > Seperti biasanya, walau terbiasa kalah namun kita selalu saja sulit > menerima kekalahan. Lalu maraklah isu "Aji-aji Gunung Kawi," atau aji > pengasihan yang diyakini sementara orang mampu mendorong pembeli kerap > berbelanja di toko kita. Saya pun ikutan menyemarakkan pergunjingan dengan > teori pendekatan "Feng Shui" asal. > > Menurut saya bisa jadi Fengshui Bang Kumis cocok dengan tempat barunya. > Lagian ia menyajikan resep goyang lidah yang baru yaitu Soto Sapi. > Rasanyapun setelah saya cobai, cukup "nikeemat" - untuk semangkok soto > daging dan sepiring nasi senilai "gocengan." > > Akhirnya melalui sidang pendapat yang seru, bang Kumis hanya boleh buka > kedai siang hari. Rupanya "rejeki dari Gusti Allah tidak bakal tertukar," > masih wacana "buat orang lain" bukan untuk diri sendiri > > salam > -- > hendro > 0812 841 8958 > http://ryolix.multiply.com/ > [EMAIL PROTECTED] > > -- [agiel] satu-satunya pria dengan rasa apel segar
