Yang salah tuh Sampeyan mas Hendro, Ngapain Nulis nulis artikel kayak beginian, Mana panjang banget.. Gw aje males Moco ne.. heheheh
--- In [email protected], "hendro cahyono" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salah Siapa? > > Santi tadi pagi berangkat seperti biasa. Pukul 06.15. Seperti biasa > dia berjalan kaki sebentar ke ujung jalan untuk naik ojek ke > pangkalan bis umum terdekat. Seperti biasa pula, Santi naik bis yang > biasa ditumpanginya. Sebentar saja bis sudah penuh, dan bis mulai > berjalan. > > Baru berjalan sekitar 30 menit, tiba-tiba bis menepi dan berhenti. > Santi terbangun dari tidurnya dan menanyakan apa yang terjadi. > Ternyata sopir bis sedang turun dan menemui seorang polisi lalu > lintas. Rupanya sopir tersebut melanggar peraturan lalu lintas. Entah > apa. Yang jelas, dia sedang ditilang. > > Aduuh....Santi merasa kesal. Ada-ada saja. Kenapa sih sopir itu tidak > bisa mematuhi peraturan lalu lintas? Gara-gara dia, bisa terlambat > deh masuk ke kantor. Apalagi hari ini ada meeting pagi. > > Santi sangat kesal kepada sopir bis tersebut. Salah siapa kalau dia > jadi terlambat? Salah sopir bisnya dong. Kan, sudah jelas dia yang > melanggar duluan sehingga ditilang polisi. Coba kalau dia tidak > melanggar, pasti tidak ditilang. Semua penumpang bis tersebut saling > mengomel pelan-pelan. Semua juga tidak ingin terlambat, tetapi apa > boleh buat. > > Akhirnya setelah menunggu 25 menit, bis berangkat lagi meneruskan > perjalanannya. Santi masih kesal. Pasti terlambat deh! Huh! Gara- gara > sopir yang sembrono! Rusaklah seluruh acara hari itu. > > Betul juga. Setibanya di kantor dia sudah sangat terlambat. Atasan > dan beberapa kepala divisi dan supervisor sudah berada di ruang > rapat. Bahkan rapat sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Tuh, kan? > Kalau tadi sopirnya tidak sembarangan, dia tidak mungkin terlambat. > Sekarang mau ngomong apa? Santi hanya bisa pasrah. > > Terpaksa dia masuk ruangan sambil menahan rasa kesalnya. Rasanya > semua orang memandangnya. Bahkan, dia merasa seakan-akan semua orang > di ruangan rapat sedang menyalahkan dia. Perasaan Santi semakin tidak > keruan. Betul-betul hari sial. Tahu begini, lebih baik sekalian tidak > masuk kerja saja! > > Sambil rapat, perasaan Santi masih kurang nyaman. Soalnya, dia > kemarin sudah meyakinkan atasannya bahwa dia tidak akan terlambat > datang. Kalau sudah begini, kan jadi tidak enak kepada atasan? > Bagaimana kalau beliau marah? Untunglah selama rapat beliau tidak > menegurnya. > > Menghadap atasan > > Setelah selesai rapat, Santi menghadap atasannya. Daripada dipanggil, > lebih baik menghadap. Dengan hati berdebar-debar dan sedikit rasa > takut, dia masuk ke ruang kerja atasannya. Santi mencoba bersikap > sopan dan hati-hati. Tapi rupanya atasannya sedang gembira. Beliau > biasa saja. Tidak cemberut sama sekali. > > Santi berkata:"Pak, maaf tadi saya terlambat". > > "Ya. Mengapa bisa terlambat?", tanya beliau. > > "Soalnya bis yang saya tumpangi ditilang polisi. Lama lagi. Sampai 25 > menit pak. Sopirnya sembarangan sih", jawab Santi. > > "Oh, yang salah sopirnya?", tanya beliau dengan sedikit senyum. > > "Ya pak! Betul! Saya tidak tahu dia melanggar apa. Yang jelas dia > yang bersalah." Santi menjawab dengan berapi-api. > > Atasannya hanya tersenyum. Dengan sabar dia bertanya "Sebenarnya > kalau mau jujur pada diri sendiri, apakah tadi kamu memang benar- > benar merasa harus datang lebih pagi dan tidak ingin terlambat?". > > "O ya. Pasti pak. Saya tidak ingin terlambat". > > "Apakah kamu memang sepenuh hati berpikir bahwa kamu tidak boleh > terlambat sama sekali?" > > Santi terdiam dan mulai berpikir. > > "Kalau kamu memang berniat sungguh-sungguh untuk datang tepat waktu, > sungguh-sungguh tidak ingin terlambat, pasti seharusnya kamu ganti > bis. Betul tidak?" > > "Iya sih......", kata Santi. > > "Coba ingat-ingat tadi pagi. Saya tahu kamu tidak ingin terlambat. > Tapi dalam hatimu sebenarnya kamu merasa tidak apa-apa juga sih kalau > terlambat. Kan ini bukan salah kamu? Betul tidak? Maka itu kamu tidak > berusaha maksimal. Kamu tidak ganti bis." > > Sambil tersenyum malu, Santi berkata:"Ya sih. Betul juga." > > "Jadi yang salah siapa? Sopirnya atau diri kamu sendiri?", tanya > atasannya sambil tersenyum. > > Santi merasa malu sendiri. Ya, dia sekarang menyadari bahwa dia tidak > sungguh-sungguh berniat tidak terlambat ke kantor. Niatnya kurang > kuat. Kalau niatnya untuk datang pagi sangat kuat, tentu dia pindah > bis. Mengapa dia tadi tidak berpikir demikian? > > arena dia menerima hal itu dan tidak berbuat apa-apa. Ketika bis > berhenti lama, dia hanya duduk menunggu. Tidak berbuat apa-apa. Malah > kalau mau terus terang, dia agak gembira karena bisa tidur lebih lama > di dalam bis. > > Yang membuat Santi malu pada dirinya sendiri, sepanjang hari dia > menyalahkan sopir bis itu. Sepanjang hari dia merasa kesal pada sopir > bis yang melanggar tadi. Sepanjang hari dia uring-uringan. Padahal > kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia sendiri yang salah, bukan sopir > itu. > > Mulai sekarang dia akan berusaha lebih objektif. Tidak terlalu mudah > menyalahkan orang lain. Siapa tahu, ternyata dia sendiri yang salah. > Think first! Do not always blame others! > > Sumber: Salah Siapa? oleh Lisa Nuryanti > > -- > hendro > 0812 841 8958 > http://ryolix.multiply.com/ > [EMAIL PROTECTED] >
