ini salah loe penk. nyok ah salahin pepenk rame2 On Dec 5, 2007 11:18 AM, adi_becks23 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Yang salah tuh Sampeyan mas Hendro, Ngapain Nulis nulis artikel kayak > beginian, Mana panjang banget.. Gw aje males Moco ne.. heheheh > > --- In [email protected] <bekakak%40yahoogroups.com>, "hendro > cahyono" <[EMAIL PROTECTED]> > > wrote: > > > > Salah Siapa? > > > > Santi tadi pagi berangkat seperti biasa. Pukul 06.15. Seperti biasa > > dia berjalan kaki sebentar ke ujung jalan untuk naik ojek ke > > pangkalan bis umum terdekat. Seperti biasa pula, Santi naik bis yang > > biasa ditumpanginya. Sebentar saja bis sudah penuh, dan bis mulai > > berjalan. > > > > Baru berjalan sekitar 30 menit, tiba-tiba bis menepi dan berhenti. > > Santi terbangun dari tidurnya dan menanyakan apa yang terjadi. > > Ternyata sopir bis sedang turun dan menemui seorang polisi lalu > > lintas. Rupanya sopir tersebut melanggar peraturan lalu lintas. > Entah > > apa. Yang jelas, dia sedang ditilang. > > > > Aduuh....Santi merasa kesal. Ada-ada saja. Kenapa sih sopir itu > tidak > > bisa mematuhi peraturan lalu lintas? Gara-gara dia, bisa terlambat > > deh masuk ke kantor. Apalagi hari ini ada meeting pagi. > > > > Santi sangat kesal kepada sopir bis tersebut. Salah siapa kalau dia > > jadi terlambat? Salah sopir bisnya dong. Kan, sudah jelas dia yang > > melanggar duluan sehingga ditilang polisi. Coba kalau dia tidak > > melanggar, pasti tidak ditilang. Semua penumpang bis tersebut saling > > mengomel pelan-pelan. Semua juga tidak ingin terlambat, tetapi apa > > boleh buat. > > > > Akhirnya setelah menunggu 25 menit, bis berangkat lagi meneruskan > > perjalanannya. Santi masih kesal. Pasti terlambat deh! Huh! Gara- > gara > > sopir yang sembrono! Rusaklah seluruh acara hari itu. > > > > Betul juga. Setibanya di kantor dia sudah sangat terlambat. Atasan > > dan beberapa kepala divisi dan supervisor sudah berada di ruang > > rapat. Bahkan rapat sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Tuh, > kan? > > Kalau tadi sopirnya tidak sembarangan, dia tidak mungkin terlambat. > > Sekarang mau ngomong apa? Santi hanya bisa pasrah. > > > > Terpaksa dia masuk ruangan sambil menahan rasa kesalnya. Rasanya > > semua orang memandangnya. Bahkan, dia merasa seakan-akan semua orang > > di ruangan rapat sedang menyalahkan dia. Perasaan Santi semakin > tidak > > keruan. Betul-betul hari sial. Tahu begini, lebih baik sekalian > tidak > > masuk kerja saja! > > > > Sambil rapat, perasaan Santi masih kurang nyaman. Soalnya, dia > > kemarin sudah meyakinkan atasannya bahwa dia tidak akan terlambat > > datang. Kalau sudah begini, kan jadi tidak enak kepada atasan? > > Bagaimana kalau beliau marah? Untunglah selama rapat beliau tidak > > menegurnya. > > > > Menghadap atasan > > > > Setelah selesai rapat, Santi menghadap atasannya. Daripada > dipanggil, > > lebih baik menghadap. Dengan hati berdebar-debar dan sedikit rasa > > takut, dia masuk ke ruang kerja atasannya. Santi mencoba bersikap > > sopan dan hati-hati. Tapi rupanya atasannya sedang gembira. Beliau > > biasa saja. Tidak cemberut sama sekali. > > > > Santi berkata:"Pak, maaf tadi saya terlambat". > > > > "Ya. Mengapa bisa terlambat?", tanya beliau. > > > > "Soalnya bis yang saya tumpangi ditilang polisi. Lama lagi. Sampai > 25 > > menit pak. Sopirnya sembarangan sih", jawab Santi. > > > > "Oh, yang salah sopirnya?", tanya beliau dengan sedikit senyum. > > > > "Ya pak! Betul! Saya tidak tahu dia melanggar apa. Yang jelas dia > > yang bersalah." Santi menjawab dengan berapi-api. > > > > Atasannya hanya tersenyum. Dengan sabar dia bertanya "Sebenarnya > > kalau mau jujur pada diri sendiri, apakah tadi kamu memang benar- > > benar merasa harus datang lebih pagi dan tidak ingin terlambat?". > > > > "O ya. Pasti pak. Saya tidak ingin terlambat". > > > > "Apakah kamu memang sepenuh hati berpikir bahwa kamu tidak boleh > > terlambat sama sekali?" > > > > Santi terdiam dan mulai berpikir. > > > > "Kalau kamu memang berniat sungguh-sungguh untuk datang tepat waktu, > > sungguh-sungguh tidak ingin terlambat, pasti seharusnya kamu ganti > > bis. Betul tidak?" > > > > "Iya sih......", kata Santi. > > > > "Coba ingat-ingat tadi pagi. Saya tahu kamu tidak ingin terlambat. > > Tapi dalam hatimu sebenarnya kamu merasa tidak apa-apa juga sih > kalau > > terlambat. Kan ini bukan salah kamu? Betul tidak? Maka itu kamu > tidak > > berusaha maksimal. Kamu tidak ganti bis." > > > > Sambil tersenyum malu, Santi berkata:"Ya sih. Betul juga." > > > > "Jadi yang salah siapa? Sopirnya atau diri kamu sendiri?", tanya > > atasannya sambil tersenyum. > > > > Santi merasa malu sendiri. Ya, dia sekarang menyadari bahwa dia > tidak > > sungguh-sungguh berniat tidak terlambat ke kantor. Niatnya kurang > > kuat. Kalau niatnya untuk datang pagi sangat kuat, tentu dia pindah > > bis. Mengapa dia tadi tidak berpikir demikian? > > > > arena dia menerima hal itu dan tidak berbuat apa-apa. Ketika bis > > berhenti lama, dia hanya duduk menunggu. Tidak berbuat apa-apa. > Malah > > kalau mau terus terang, dia agak gembira karena bisa tidur lebih > lama > > di dalam bis. > > > > Yang membuat Santi malu pada dirinya sendiri, sepanjang hari dia > > menyalahkan sopir bis itu. Sepanjang hari dia merasa kesal pada > sopir > > bis yang melanggar tadi. Sepanjang hari dia uring-uringan. Padahal > > kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia sendiri yang salah, bukan sopir > > itu. > > > > Mulai sekarang dia akan berusaha lebih objektif. Tidak terlalu mudah > > menyalahkan orang lain. Siapa tahu, ternyata dia sendiri yang salah. > > Think first! Do not always blame others! > > > > Sumber: Salah Siapa? oleh Lisa Nuryanti > > > > -- > > hendro > > 0812 841 8958 > > http://ryolix.multiply.com/ > > [EMAIL PROTECTED] <HKCI-subscribe%40yahoogroups.com> > > > > > -- [agiel] B 6115 KKU -ordinary black scorpio-
