ralat pada comment sebelumnya : bukan pake honda supra tapi suzuki smash.
dibawah ini adalah detailnya (hasil pencarian data)
salam,


============ ========= ========= ========= ======

http://www.jawapos. co.id/index. php?act=detail_ radar&id= 195671&c= 85

RADAR JOGJA Kamis, 14 Feb 2008

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Kamis, 14 Feb 2008

Dari Soft Launching Bahan Bakar Air Hidrofuel Banyugeni di UMY

Wah...Menakjubkan, seperti Bahan Bakar Minyak

Terus melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) membuat berbagai kalangan
mulai mengembangkan energi alternatif. Salah satunya dilakukan para ilmuwan
dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kemarin, UMY menggelar soft
launching BBM yang berbahan dasar air. Produk hidrofuel ini diberi nama
Banyugeni.

SYUKRON M, Bantul

Tepuk tangan bergemuruh di halaman Gedung Ahmad Dahlan, komplek Kampus
Terpadu UMY saat sepeda motor Suzuki Smash AB 5520 GI menyala. Sejurus
kemudian, tangan Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori langsung menggeber gas
kendaaran roda ini. Lambat laun, suara mesin semakin keras dan stabil.
Bupati Bantul Idham Samawi pun didaulat menaiki kendaraan itu. Bersama
Khoiruddin, Idham pun naik motor ini mengitari halaman kampus.

Begitulah suasana soft launching Banyugeni. Bukan hanya sepeda motor, produk
hidrofuel ini juga diujicobakan di berbagai media. Seperti lampu minyak,
kompor, traktor dan aeromodeling. "Wah, menakjubkan. Seperti bahan bakar
minyak," ujar Idham di sela-sela soft launching.

Ya, hidrofuel Banyugeni adalah temuan dari lima peneliti UMY. Yakni Drs
Purwanto, Ir Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir Tony K. Haryadi MT, Ir Lilik
Utari MS dan Dra Nike Triwahyuningsih MP. Ada empat macam produk berbahan
dasar air yang dihasilkan kelima peneliti.

Hidrofuel hasil penelitian UMY yang telah dipatenkan ini terdiri atas
beberapa varian produk. Yakni hidrokerosene atau setara dengan minyak tanah,
hidrodiesel (solar), hidropremium (bensin), dan hidroavtur (bahan bakar
jet). Sama seperti yang dilakukan pada sepeda motor, percobaan pada tiga
varian lainnya juga berhasil dengan sempurna. "Bau dan warna bisa
disesuaikan dengan keinginan kita," kata Khoiruddin.

Purwanto mewakili tim peneliti menjelaskan, penelitian produk hidrofuel ini
dilakukan sejak 2003. Latar belakang penelitian karena semakin tingginya
harga minyak mentah di pasaran dunia.

"Subsidi pemerintah untuk BBM tahun 2007 sudah mencapai Rp 50,64 triliun.
Sungguh beban amat berat bagi pemerintah yang sekarang ini terus mengalami
defisit anggaran. Bahan bakar dari minyak bumi dan batu bara semakin sulit
diperoleh, padahal konsumsinya terus meningkat," ujar Purwanto.

Ia mengungkapkan, untuk menjadikan air menjadi bahan bakar diperlukan empat
perlakukan yang disebut teknologi mekanotermal- elektrokemis. Proses ini
melalui empat tahapan. Yakni, mekanik (gerak), thermal (panas), listrik dan
kimiawi. "Pengertian kimia dalam proses ini adalah memberikan bahan lain
yang bisa menjadikan air bisa menyala. Nah hal ini yang saya tidak bisa
matur," tuturnya.

Ia menjelaskan, untuk bisa terbakar ada beberapa proses kimia yang harus
dilalui. Secara kajian ilmiah, air terdiri atas beberapa molekul yang bisa
terbakar. Yaitu molekul atom H2O. Unsur ini bisa dipisahkan secara kimiawi,
sehinga menjadi molekul 2H2 + O2. "Nah unsur hidrogen inilah yang bisa
menyala. Bahkan bisa meledak. Selain itu, unsur oksigen (O2) juga merupakan
molekul yang sangat berpengaruh dalam pembakaran. Jadi pada hakekatnya air
adalah api," urainya.

Hanya Purwanto tidak bersedia menjelaskan secara detail berapa anggaran yang
dibutuhkan untuk mengubah air menjadi bahan bakar. Menurutnya, jika
diproduksi secara masal, anggaran yang dikeluarkan bisa ditekan sedemikian
kecil. "Karena pada prinsipnya yang digunakan adalah air yang jumlahnya
tidak terbatas. Bukan seperti fosil," jelasnya.

Khoiruddin menuturkan, selain sebagai bahan baku alternatif, keunggulan
hidrofuel ini juga ramah lingkungan. Pada percobaan yang dilakukan di PT
CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen, produk
ini telah memenuhi standar Dirjen Migas. Antara lain, tidak korosif atau
tidak menyebabkan karat, tidak meninggalkan residu dan kandungan sulfur dan
timbal yang dihasilkan lebih rendah dari yang diperbolehkan.

Sedang Idham Samawi mengaku bangga dengan hasil penelitian ini. Ia
menegaskan, Pemkab Bantul siap mengalokasikan anggaran untuk pengembangan
penelitian ini. "Bahkan seharusnya bukan hanya APBD, tapi APBN juga layak
untuk membiayai penelitian," tandasnya. ***

Kirim email ke