Singkawang, menurut data terakhir, punya lima kecamatan, 26 kelurahan, 
43.157 Kepala Keluarga (KK), dan jumlah penduduk 191.589 orang, 51 persen 
di antaranya etnis Cina. Karena itu, kemeriahan di kota tersebut begitu 
kuatnya dengan suasana etnis Cina.  Perayaan Imlek berlanjut hingga 
pembagian angpau. Momen yang ditunggu, terutama oleh anak-anak. Angpau 
tidak hanya dibagikan kepada saudara dan kerabat, tapi juga tetangga 
sekitar.   
      
Singkawang terkenal sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalbar 
setelah Pontianak. Letaknya di pantai barat  sangat strategis, yakni 
berada di antara kabupaten Sambas dan Bengkayang. Wilayahnya cocok untuk  
pengembangan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, terdapat di 
Kecamatan Singkawang Selatan, Utara dan timur. Wilayah itu memiliki 
potensi yang cukup besar.
       
Komoditi Kota Singkawang berasal dari sektor perkebunan. Pada sektor ini, 
dihasilkan karet yang merupakan komoditi unggulan dengan lahan yang telah 
digunakan untuk pengembangan karet seluas 8.002 Ha. Seperti wilayah 
lainnya di Kabar, Singkawang memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata 
bulanan 26, 1? Celsius, suhu minimum 24,2? Celsius, suhu maksimum 28,8? 
Celsius. Iklim tropis di wilayah Kota Singkawang termasuk klasifikasi 
iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2.819 mm/tahun atau 235 
mm/bulan. Jumlah rata-rata hari hujan 157 hari/tahun atau rata-rat 13 hari 
hujan / bulan. Rata-rata kelembaban udara di kota Singkawang adalah 70 %.

Kota Singkawang memiliki wilayah datar dan sebagian besar merupakan 
dataran rendah antara 50 meter s/d 100 meter diatas permukaan laut. Kota 
Singkawang yang terletak pada 0? LU dan 109? BT, wilayahnya merupakan 
daerah hamparan dan berbukit serta sebelah Barat berada pada pesisir laut, 
dengan luas 504.000 atau 50.400 ha.
     
Sementara itu warganya menyambut pergantian tahun baru 2559 dan Cap Go Meh 
penuh dengan suka cita. Bagi orang yang pernah berkunjung ke Hongkong, 
suasana hampir serupa akan didapati di Singkawang. Pemandangan kelenteng 
sangat indah. Belum lagi gemerlapnya puluhan hotel dengan pernik Imlek, 
lampion pun menerangi dan menghias kota.
     
Lilin-lilin besar dan dupa memenuhi kelenteng. Dengan hio di tangan, warga 
kota menyembah dewa-dewa yang menguasai alam semesta. Leluhur juga tidak 
lupa dipuja. Pemandangan ini akan berakhir hingga Cap Go Meh, 21 Februari 
mendatang, dengan acara lebih meriah lagi.
     
Kehidupan warga di kota Singkawang tergolong damai. Dibanding sejumlah 
kota lainnya di Kalbar, ketika terjadi konflik antaretnis, beberapa tahun 
silam, wilayah ini relatif tenang. Pasalnya, sikap toleransi warga dari 
berbagai etnis dan agama cukup tinggi. Kelenteng memang banyak, tapi rumah 
ibadah lainnya, gereja dan masjid megah pun ada.

Kirim email ke