sekedar meng co-pas tulisan teman....
cukup menarik terkait dengan jelajah kuliner

monggo siap2 ngecessss

*Sambal Bawangnya Bu Santi Di Babarsari Jogja
*---------------------------------------------

Usai membereskan SPT pajak yang lumayan menyita waktu dan pikiran. Ya
maklum, meskipun sebenarnya mudah (apalagi selama ini tidak pernah mengurus
pelaporan pajak sendiri), tapi pengalaman pertama selalu berarti petualangan
baru. Sialnya, pengalaman pertama ini selalu terjadi (karena tidak ada
manusia lahir kok ujug-ujug sudah berpengalaman).

Lalu muncul ide untuk mencari makan siang yang memberi
sensasi beda. Pilihan jatuh ke rumah makan Bu Santi di
dekat pertigaan Jl. Babarsari – Seturan, Jogja. Di
sana ada menu ikan sederhana dengan sambal bawangnya
yang khas dan pedas.

Warungnya kecil dan tidak terlihat jelas dari luar.
Lokasinya strategis, nyaris tepat di pojok pertigaan
jalan yang selalu padat. Saking strategisnya sehingga
terkadang jadi sulit memperoleh tempat parkir untuk
mobil. Hanya selembar spanduk bertuliskan "Rumah Makan
Sambal Bawang Yang Asli Bu Santi" yang dipasang tepat
di depan warung selebar empat meteran, menandai adanya
warung ini. Rasanya, setiap orang di kawasan ini pasti
tahu dimana lokasi warung makannya Bu Santi.

Membaca tulisan spanduknya saya menyimpulkan bahwa
berarti selama ini banyak rumah makan sejenis yang
tidak asli, tentu maksudnya adalah menyontek
kesuksesan menu sambal bawang bu Santi. Dalam bisnis,
sah-sah saja.

Meski dari luar tampak kecil, tapi rupanya di bagian
dalamnya meluas. Ruangan berukuran sekitar 15 m x 12 m
itu terbagi menjadi ruangan bermeja-kursi, sebagian
ruang untuk lesehan dan dapur terbuka dengan lebih 15
kompornya yang non-stop siap melayani para pencari
makan. Warung ini menyediakan menu ikan dan ayam
sebagai menu utamanya, dilengkapi dengan sayur asam
dan tentu saja lalapan plus sambal bawangnya yang
terkenal di kalangan mahasiswa yang kampusnya berada
di seputar Seturan, Babarsari, Condong Catur, Jogja.

Masuk warung langsung pesan ikan bawal dan udang
goreng garing, sayur asam dan ceker ayam bumbu
rica-rica. Sepertinya sudah tidak sabar untuk segera
melahapnya.

***

Dua macam nasi putih tersedia, tinggal pilih mau nasi
putih biasa atau nasi uduk. Boleh mengambil sesukanya
dan sekenyangnya karena sudah menjadi satu dengan
harga yang dibayar untuk setiap porsi makan. Agaknya
ada juga pengunjung yang memanfaatkan "peluang bisnis"
dari kebebasan mengambil nasi ini. Indikasinya, saya
melihat tulisan besar yang terpasang di dinding yang
berbunyi : "1 porsi lauk untuk 1 orang". Barangkali
ada juga pengunjung yang datang untuk
romantis-romantisan dengan sepiring berdua. Ngirit
maksudnya. Pesan satu porsi lauk lalu mengambil nasi
uduk sesukanya bersama temannya.

Pertama yang saya sukai di warung ini adalah konsep
cepat saji, maksudnya pelayanan penyajiannya cepat.
Pelanggan tidak dibiarkan berlama-lama menelan ludah
karena menunggu pesanan. Sementara bau ikan dan ayam
goreng plus sambal bawangnya menyebar dari dapur
terbukanya.

Begitu pesanan tersaji, secepat kilat bawal goreng
garing yang masih panas segera saya cuwil, saya
sobek-sobek....., lalu saya cocolkan ke sambal
bawangnya dan .... nyem...nyem...nyem.... Aroma dan
rasa bawangnya benar-benar nendang. Menu utama warung
ini memang hanya cocok bagi mereka yang menyukai aroma
bawang putih. Sebab di warung ini hanya tersedia satu
macam sambal saja, yaitu cabe rawit hijau yang
ditumbuk halus dengan aroma kuat bawang putih. Satu
hal lagi, hanya ada satu ukuran tingkat kepedasannya.
Maka bagi orang seperti saya yang tidak tahan pedas,
mesti diakali dengan mencocol sambalnya jangan terlalu
banyak dan itupun lalu dicampur kecap manis.

Sebagai penggemar rempah bawang putih, menu bu Santi
ini benar-benar pas di selera saya. Udang goreng
garingnya juga kemriuk kriuk... kriuk... ketika
dimakan habis sekulit-kulitnya, sekepala-kepalnya,
sekaki-kakinya. Tentu saja rada megap-megap kepedasan.
Namun, citarasa sedap sambal bawangnya seakan
mengalahkan rasa pedasnya. Sampai-sampai keringat
mulai membuat gatal di kepala....

Untuk menetralisir pedasnya sambal, segera saya sruput
kuah sayur asam. Cilakak dua belas, ternyata sayur
asamnya juga pedas. Sayur asam yang berasa
nano-nano...., asam, manis, asin, dengan komposisinya
kacang panjang, jipang (labu siam), terong, jagung dan
irisan cabe rawit. Berhubung rasanya pas dan hoenak
tenan..., apa boleh buat, terpaksa dihabiskan juga.
Cuma mesti agak hati-hati jangan sampai keceplus
mengunyah irisan cabenya. Cara memasak kacang
panjangnya yang setengah matang rupanya memberi
sensasi kemrenyes ketika digigit. Ini ilmu baru ang
saya peroleh tentang memasak sayur asam.

Berhubung tersedia dua macam nasi putih, maka keduanya
perlu dicoba. Sepiring pertama habis dengan nasi uduk,
maka yang kedua nambah dengan nasi putih biasa. Lha
wong mengambil nasinya bebas....

Pada bagian akhir, potongan kecil-kecil telapak kaki
ceker ayam bumbu rica-rica lumayan menghibur sebagai
makanan penutup. Yang saya maksudkan menghibur adalah
karena tidak terlalu pedas, melainkan hanya agak repot
nithili.... , menggigit dan mengelupas kulit tipis
yang menyelimuti ruas-ruas jari kaki ayam.

Warung bu Santi kelihatannya memang didesain untuk
memenuhi kebutuhan para mahasiswa yang banyak tinggal
di lingkungan Babarsari – Seturan. Harganya relatif
murah untuk rasa masakan yang lumayan enak terutama
paduan sambal bawangnya.

Meskipun demikian, untuk tujuan berekreasi makan-makan
bersama keluarga, lokasi dan suasana warung ini kurang
representatif. Tetapi untuk tujuan berpetualang
makan-makan, warung ini sekali waktu perlu dicoba.
Warung milik bu Santi yang asal Muntilan dan
sehari-harinya diawasi oleh putrinya ini, 16 orang
awaknya siap melayani para petualang kuliner dari jam
10 pagi hingga dini hari jam 1 atau jam 2. Dua baskom
sambal bawang pedas pun menunggu untuk dihabiskan.

Maka, jika tujuannya adalah mencari kenikmatan dari
berpetualang makan-makan, maka perlu diperhatikan
jam-jam padat di rumah makan bu Santi ini, yaitu
biasanya pada saat waktu makan malam. Saat para
mahasiswa mengisi perut menjelang belajar di kost-nya
(tentu saja yang belajar, yang tidak belajar lebih
banyak lagi.... ).

Ygyakarta, 29 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Kirim email ke