jauh2 cuma makan sambel duank ? C spasi D On Mon, Mar 31, 2008 at 3:46 PM, hendro cahyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> sekedar meng co-pas tulisan teman.... > cukup menarik terkait dengan jelajah kuliner > > monggo siap2 ngecessss > > *Sambal Bawangnya Bu Santi Di Babarsari Jogja > *--------------------------------------------- > > Usai membereskan SPT pajak yang lumayan menyita waktu dan pikiran. Ya > maklum, meskipun sebenarnya mudah (apalagi selama ini tidak pernah mengurus > pelaporan pajak sendiri), tapi pengalaman pertama selalu berarti petualangan > baru. Sialnya, pengalaman pertama ini selalu terjadi (karena tidak ada > manusia lahir kok ujug-ujug sudah berpengalaman). > > Lalu muncul ide untuk mencari makan siang yang memberi > sensasi beda. Pilihan jatuh ke rumah makan Bu Santi di > dekat pertigaan Jl. Babarsari – Seturan, Jogja. Di > sana ada menu ikan sederhana dengan sambal bawangnya > yang khas dan pedas. > > Warungnya kecil dan tidak terlihat jelas dari luar. > Lokasinya strategis, nyaris tepat di pojok pertigaan > jalan yang selalu padat. Saking strategisnya sehingga > terkadang jadi sulit memperoleh tempat parkir untuk > mobil. Hanya selembar spanduk bertuliskan "Rumah Makan > Sambal Bawang Yang Asli Bu Santi" yang dipasang tepat > di depan warung selebar empat meteran, menandai adanya > warung ini. Rasanya, setiap orang di kawasan ini pasti > tahu dimana lokasi warung makannya Bu Santi. > > Membaca tulisan spanduknya saya menyimpulkan bahwa > berarti selama ini banyak rumah makan sejenis yang > tidak asli, tentu maksudnya adalah menyontek > kesuksesan menu sambal bawang bu Santi. Dalam bisnis, > sah-sah saja. > > Meski dari luar tampak kecil, tapi rupanya di bagian > dalamnya meluas. Ruangan berukuran sekitar 15 m x 12 m > itu terbagi menjadi ruangan bermeja-kursi, sebagian > ruang untuk lesehan dan dapur terbuka dengan lebih 15 > kompornya yang non-stop siap melayani para pencari > makan. Warung ini menyediakan menu ikan dan ayam > sebagai menu utamanya, dilengkapi dengan sayur asam > dan tentu saja lalapan plus sambal bawangnya yang > terkenal di kalangan mahasiswa yang kampusnya berada > di seputar Seturan, Babarsari, Condong Catur, Jogja. > > Masuk warung langsung pesan ikan bawal dan udang > goreng garing, sayur asam dan ceker ayam bumbu > rica-rica. Sepertinya sudah tidak sabar untuk segera > melahapnya. > > *** > > Dua macam nasi putih tersedia, tinggal pilih mau nasi > putih biasa atau nasi uduk. Boleh mengambil sesukanya > dan sekenyangnya karena sudah menjadi satu dengan > harga yang dibayar untuk setiap porsi makan. Agaknya > ada juga pengunjung yang memanfaatkan "peluang bisnis" > dari kebebasan mengambil nasi ini. Indikasinya, saya > melihat tulisan besar yang terpasang di dinding yang > berbunyi : "1 porsi lauk untuk 1 orang". Barangkali > ada juga pengunjung yang datang untuk > romantis-romantisan dengan sepiring berdua. Ngirit > maksudnya. Pesan satu porsi lauk lalu mengambil nasi > uduk sesukanya bersama temannya. > > Pertama yang saya sukai di warung ini adalah konsep > cepat saji, maksudnya pelayanan penyajiannya cepat. > Pelanggan tidak dibiarkan berlama-lama menelan ludah > karena menunggu pesanan. Sementara bau ikan dan ayam > goreng plus sambal bawangnya menyebar dari dapur > terbukanya. > > Begitu pesanan tersaji, secepat kilat bawal goreng > garing yang masih panas segera saya cuwil, saya > sobek-sobek....., lalu saya cocolkan ke sambal > bawangnya dan .... nyem...nyem...nyem.... Aroma dan > rasa bawangnya benar-benar nendang. Menu utama warung > ini memang hanya cocok bagi mereka yang menyukai aroma > bawang putih. Sebab di warung ini hanya tersedia satu > macam sambal saja, yaitu cabe rawit hijau yang > ditumbuk halus dengan aroma kuat bawang putih. Satu > hal lagi, hanya ada satu ukuran tingkat kepedasannya. > Maka bagi orang seperti saya yang tidak tahan pedas, > mesti diakali dengan mencocol sambalnya jangan terlalu > banyak dan itupun lalu dicampur kecap manis. > > Sebagai penggemar rempah bawang putih, menu bu Santi > ini benar-benar pas di selera saya. Udang goreng > garingnya juga kemriuk kriuk... kriuk... ketika > dimakan habis sekulit-kulitnya, sekepala-kepalnya, > sekaki-kakinya. Tentu saja rada megap-megap kepedasan. > Namun, citarasa sedap sambal bawangnya seakan > mengalahkan rasa pedasnya. Sampai-sampai keringat > mulai membuat gatal di kepala.... > > Untuk menetralisir pedasnya sambal, segera saya sruput > kuah sayur asam. Cilakak dua belas, ternyata sayur > asamnya juga pedas. Sayur asam yang berasa > nano-nano...., asam, manis, asin, dengan komposisinya > kacang panjang, jipang (labu siam), terong, jagung dan > irisan cabe rawit. Berhubung rasanya pas dan hoenak > tenan..., apa boleh buat, terpaksa dihabiskan juga. > Cuma mesti agak hati-hati jangan sampai keceplus > mengunyah irisan cabenya. Cara memasak kacang > panjangnya yang setengah matang rupanya memberi > sensasi kemrenyes ketika digigit. Ini ilmu baru ang > saya peroleh tentang memasak sayur asam. > > Berhubung tersedia dua macam nasi putih, maka keduanya > perlu dicoba. Sepiring pertama habis dengan nasi uduk, > maka yang kedua nambah dengan nasi putih biasa. Lha > wong mengambil nasinya bebas.... > > Pada bagian akhir, potongan kecil-kecil telapak kaki > ceker ayam bumbu rica-rica lumayan menghibur sebagai > makanan penutup. Yang saya maksudkan menghibur adalah > karena tidak terlalu pedas, melainkan hanya agak repot > nithili.... , menggigit dan mengelupas kulit tipis > yang menyelimuti ruas-ruas jari kaki ayam. > > Warung bu Santi kelihatannya memang didesain untuk > memenuhi kebutuhan para mahasiswa yang banyak tinggal > di lingkungan Babarsari – Seturan. Harganya relatif > murah untuk rasa masakan yang lumayan enak terutama > paduan sambal bawangnya. > > Meskipun demikian, untuk tujuan berekreasi makan-makan > bersama keluarga, lokasi dan suasana warung ini kurang > representatif. Tetapi untuk tujuan berpetualang > makan-makan, warung ini sekali waktu perlu dicoba. > Warung milik bu Santi yang asal Muntilan dan > sehari-harinya diawasi oleh putrinya ini, 16 orang > awaknya siap melayani para petualang kuliner dari jam > 10 pagi hingga dini hari jam 1 atau jam 2. Dua baskom > sambal bawang pedas pun menunggu untuk dihabiskan. > > Maka, jika tujuannya adalah mencari kenikmatan dari > berpetualang makan-makan, maka perlu diperhatikan > jam-jam padat di rumah makan bu Santi ini, yaitu > biasanya pada saat waktu makan malam. Saat para > mahasiswa mengisi perut menjelang belajar di kost-nya > (tentu saja yang belajar, yang tidak belajar lebih > banyak lagi.... ). > > Ygyakarta, 29 Maret 2008 > Yusuf Iskandar > > > -- [agiel] B 6115 KKU -ordinary black scorpio-
