Source: http://otomotif.kompas.com

 Buat Pemudik Motor, Pahami Petunjuk Ini

Senin, 22/9/2008 | 06:29 WIB

Diprediksi, pemudik yang menggunakan sepedamotor di atas satu juta unit.
Bisa kebayang, ruas jalan sepanjang Pulau Jawa bakal padat. Tentu tak semua
pengendara roda dua itu ada yang berpengalaman, terutama teknik berkendara
dan juga melewati jam perjalanan.

Bagi pemilik sepedamotor Honda, PT Astra Honda Motor (AHM) berbagai
pengalaman melalui instruktur Safety Riding Honda, Anggona Iriawan.
Perjalanan Andas lebih bermakna.

*Karakter Motor*
Sebelum berangkat mudik, kenali dulu kendaraan dengan baik. Paling mudah,
karakternya motor sport atau skubek. "Setiap varian punya karakter berbeda.
Misal sport punya handling nyaman buat perjalanan jauh," ujar Anggono.
Begitunya, titik lelah yang dialami ketika memakai varian bebek atau skubek
bakal jauh berbeda.

Beredar asumsi, kalau skubek itu lebih nyaman. Tapi, nanti dulu. Lihat
kondisi dan tempat penggunaan. Untuk perjalanan jauh mungkin cepat lelah.
Namun kalau melibas jalan macet seperti yang ditemui di kota, tentu skubek
lebih mantap. Itu karena banyak kemudahan yang diberikan. Misal, tak perlu
naik-turun persneling.

*Melintas Jalan Rusak*
Berkendara keluar kota, tidak semua jalan punya kondisi mulus. Harus
waspada, jangan sampai "terperosok" yang bisa menyebabkan  gagal mudik.
"Setiap jalan rusak, prinsipnya sebisa mungkin harus dihindari. Terutama,
pemakai skubek. Karena diameter roda yang dipakai lebih kecil," wanti
Anggono.

Efek akibat benturan bisa langsung terasa. Apalagi, ketika menghajar lubang
yang punya diameter kecil tapi dalam. Bisa jatuh. Ketika melintas jalan
rusak, perhatikan handling. Buat penyemplak skubek, pastikan kondisi tubuh
tidak lelah. Sebab karena roda lebih kecil, maka setiap perubahan kontur
jalan bakal mempengaruhi manuver.

*Perjalanan Malam*
Banyak pemudik melakukan perjalanan di malam hari. Menurut Anggono,
sebaiknya dihindari. Mengingat, kondisi tubuh yang tidak seprima ketika
berkendara siang. "Berkendara malam, bisa berpengaruh ke refleks atau
spontanitas pengendara," sebut Anggono yang sering dikirim Jepang untuk
keperluan safety riding Honda.

Karena, berkendara malam itu mempunyai suhu yang lebih dingin. Kondisi ini
bisa mempengaruhi daya respon ke otak jika terjadi sesuatu dan refleks
menjadi lama. Trus, kekuatan mata merespon cahaya juga mempengaruhi.

Parahnya lagi, jika lampu kendaraan lawan sangat menyilaukan. Karena respon
lama, bisa juga mengedip lebih lama dari seharusnya. Begitunya, jalan di
depan pun tak tahu arah dan situasinya.

*Awas Titik Rawan*
Setiap daerah yang dilintasi, pasti punya titik rawan kecelakaan. Baik itu
jalan lurus atau jembatan, bisa jadi penyebab kecelakaan jika kontur
jalannya mempunyai karakter blindspot! "Baiknya ketika melintasi titik rawan
kecelakaan, batasi kecepatan kendaraan," saran Anggono. Selain itu,
antisipasi juga setiap respon dari kendaraan lawan. Misal, hempasan angin
dari truk. Takutnya, hempasan itu malah membuat handling menjadi tidak
karuan. Akibatnya, terjadilah kecelakaan.

*Pantau Emosi Meluap*
Menurut Anggono, masih ada satu hal lagi yang harus diperhatikan ketika
mudik. Yaitu emosi. Terutama, ketika mendekati daerah atau tempat tujuan.
Karena senang atawa gembira berlebih, berkendara jadi tidak terkontrol.
"Biasanya hal ini terjadi 50–100 km menjelang tempat tujuan," sebut pria
yang juga hobi nonton balap ini. Nah, emosi berlebih ini jangan sampai
terjadi. Tetap konsentrasi buat sampai di kampung halaman.

*Waktu berkendara*
Banyak orang yang membanggakan dirinya bisa memacu motornya berjam-jam. Tapi
lihat dulu! Konstan atau tidak! Sebab kondisi berkendara konstan atau tidak,
sangat berbeda. "Ketika berkendara konstan tanpa henti, biasanya memerlukan
kondisi fisik yang lebih," ungkap Anggono.

Agar berkendara tetap konstan, baiknya lakukan selama satu-dua jam. Lalu,
istirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Karena, pada perjalanan
lanjutan, tentu refleks atau respon tubuh bakal berkurang lantaran mengalami
daya turun. (*Eka)*



*SBT*

Kirim email ke