Ternyata si maryadi itu.... maryadi becks bukan ya ?

Selasa, 12 Mei 2009 03:43 WIB
Asmara Penyalur Tenaga Kuda
AMAT tragis kisah perjalanan hidup Maryadi, 44, dari Sidoarjo (Jatim) ini. 
Sebagai pegawai kantor pengerahan tenaga kerja, malah tewas saat menyalurkan 
tenaga kuda. Makin tragis lagi, “kencing enak” membawa maut tersebut 
berlangsung justru bersama selingkuhan. Padahal pamitnya dari rumah mau 
silaturahmi.

Tingkah laku orang tak bisa diukur lewat penampilan. Yang nampaknya alim, malah 
suka berbuat dzolim. Yang kelihatannya anteng, diam-diam nggembol kreneng 
(baca: sangat membahayakan). Maka dalam bahasa “Jerman”-nya sering disebut: 
giri lusi janma tan kena ingina. Jika merunut kepada khazanah lama, kita 
mengenal ungkapan atau peribahasa: dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati 
siapa tahu.

Itu pula rupanya perjalanan nasib yang tengah dilakoni Maryadi dari Desa 
Kepusari, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo. Dalam lingkungan keluarga 
dan tetangga, dia hadir sebagai lelaki yang kalem, tidak banyak omong. Dalam 
pertemuan bersama warga misalnya, Maryadi lebih banyak jadi pendengar saja, tak 
banyak komentar. Jika dimintai pendapat, cukup ngegongi (mendukung) saja. Dan 
yang paling disenangi Pak RT, bila ada tarikan iuran ini itu, dia tak pernah 
protes. Langsung bayar!

Konyolnya, alim di rumah ternyata Maryadi jadi sangat dzolim di luar rumah. 
Bagaimana tidak? Diam-diam dia memiliki Simpedes non BRI alias selingkuhan. 
Cewek yang tengah menjadi idola jiwanya adalah Maryati, 25, janda dari Desa 
Bendo Tretek Kecamatan Prambon. Asal pulang kerja, dia tak selalu segera ingin 
kembali ke rumah, melainkan nyengklengke (menyempatkan diri) dulu bersama 
gendakannya. Profesinya sebagai pegawai penyalur tenaga kerja, sangat mendukung 
hobi baru Maryadi.

Andaikan boleh dibandingkan, antara Maryati dengan istri Maryadi di rumah, 
memang tidak berbanding lurus. Betapapun sesungguhnya sama-sama cantik, tapi si 
janda jauh lebih muda dan berbodi sekel nan cemekel lagi. Sedangkan di rumah, 
dalam usia 40 tahun kini, jelas sudah mulai peyot. Ibarat mobil, sudah banyak 
kena dempul Isamu di sana sini. Kelihatannya mulus, tapi jika kena panas, warna 
cat berubah dan bekas dempulan nimbul kembali.

Hati kecil Minul istrinya, selalu percaya akan sepak terjang suami. Padahal 
aslinya, sebagai penyalur tenaga kerja di luar Maryadi suka menyalurkan “tenaga 
kuda”-nya pada Maryati. Meski dalam keseharian nampak sebagai lelaki yang 
kurang bisa bergaul, ternyata di luar pengetahuan istrinya dia sangat mahir 
menggauli kaum hawa. Jadi Maryadi bisa dikategorikan sebagai lelaki yang 
tenang-tenang, tapi menghanyutkan dan sekaligus ……memalukan!

Soalnya, ibarat main sinetron, tibalah Maryadi pada episode terakhir. Ini 
terjadi beberapa hari lalu. Pada istrinya di rumah dia pamit mau bersilaturahmi 
ke rumah famili di Mojokerto. Ternyata justru bersama gendakannya dia ngendon 
seharian di kamar hotel Jalan Wijaya. Di sini Maryati dibolak-balik bak bikin 
dadar telur, hingga termehek-mehek dibuatnya. Sungguh luar biasa, sebagai 
penderita kencing manis Maryadi masih hobi “kencing enak”.

Apes rupanya kali ini. Entah pada ronde ke berapa, tahu-tahu Maryadi 
kejang-kejang dalam kondisi masih bugil. Maryati berteriak dan satpam hotel 
memberikan pertolongan. Tapi nyawa penyalur tenaga kerja tersebut sudah tak 
bisa ditolong. Ketika jenasah dibawa pulang ke rumah, istrinya hanya bisa 
meratap malu. “Oalas Mas, pamitnya mau silaturahmi, ternyata kok selingkuh,” 
kata Ny. Minul.

Ya karena tak jadi silaturahmi, usia Maryadi jadi pendek. (JP/Gunarso TS)



-- 

Kirim email ke