pemerhati nah ini dia juga rupanya ?

yg namanya maryadi emang kelakuannya minus.
jiakakakaka

piss penk. :P

2009/5/26 Andi Betedz Ochep <[email protected]>

>
>
>  Ternyata si maryadi itu.... maryadi becks bukan ya ?
>
> Selasa, 12 Mei 2009 03:43 WIB
> Asmara Penyalur Tenaga Kuda
>
> AMAT tragis kisah perjalanan hidup Maryadi, 44, dari Sidoarjo (Jatim) ini.
> Sebagai pegawai kantor pengerahan tenaga kerja, malah tewas saat menyalurkan
> tenaga kuda. Makin tragis lagi, “kencing enak” membawa maut tersebut
> berlangsung justru bersama selingkuhan. Padahal pamitnya dari rumah mau
> silaturahmi.
>
> Tingkah laku orang tak bisa diukur lewat penampilan. Yang nampaknya alim,
> malah suka berbuat dzolim. Yang kelihatannya anteng, diam-diam nggembol
> kreneng (baca: sangat membahayakan). Maka dalam bahasa “Jerman”-nya sering
> disebut: giri lusi janma tan kena ingina. Jika merunut kepada khazanah lama,
> kita mengenal ungkapan atau peribahasa: dalamnya laut bisa diduga, dalamnya
> hati siapa tahu.
>
> Itu pula rupanya perjalanan nasib yang tengah dilakoni Maryadi dari Desa
> Kepusari, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo. Dalam lingkungan
> keluarga dan tetangga, dia hadir sebagai lelaki yang kalem, tidak banyak
> omong. Dalam pertemuan bersama warga misalnya, Maryadi lebih banyak jadi
> pendengar saja, tak banyak komentar. Jika dimintai pendapat, cukup ngegongi
> (mendukung) saja. Dan yang paling disenangi Pak RT, bila ada tarikan iuran
> ini itu, dia tak pernah protes. Langsung bayar!
>
> Konyolnya, alim di rumah ternyata Maryadi jadi sangat dzolim di luar rumah.
> Bagaimana tidak? Diam-diam dia memiliki Simpedes non BRI alias selingkuhan.
> Cewek yang tengah menjadi idola jiwanya adalah Maryati, 25, janda dari Desa
> Bendo Tretek Kecamatan Prambon. Asal pulang kerja, dia tak selalu segera
> ingin kembali ke rumah, melainkan nyengklengke (menyempatkan diri) dulu
> bersama gendakannya. Profesinya sebagai pegawai penyalur tenaga kerja,
> sangat mendukung hobi baru Maryadi.
>
> Andaikan boleh dibandingkan, antara Maryati dengan istri Maryadi di rumah,
> memang tidak berbanding lurus. Betapapun sesungguhnya sama-sama cantik, tapi
> si janda jauh lebih muda dan berbodi sekel nan cemekel lagi. Sedangkan di
> rumah, dalam usia 40 tahun kini, jelas sudah mulai peyot. Ibarat mobil,
> sudah banyak kena dempul Isamu di sana sini. Kelihatannya mulus, tapi jika
> kena panas, warna cat berubah dan bekas dempulan nimbul kembali.
>
> Hati kecil Minul istrinya, selalu percaya akan sepak terjang suami. Padahal
> aslinya, sebagai penyalur tenaga kerja di luar Maryadi suka menyalurkan
> “tenaga kuda”-nya pada Maryati. Meski dalam keseharian nampak sebagai lelaki
> yang kurang bisa bergaul, ternyata di luar pengetahuan istrinya dia sangat
> mahir menggauli kaum hawa. Jadi Maryadi bisa dikategorikan sebagai lelaki
> yang tenang-tenang, tapi menghanyutkan dan sekaligus ……memalukan!
>
> Soalnya, ibarat main sinetron, tibalah Maryadi pada episode terakhir. Ini
> terjadi beberapa hari lalu. Pada istrinya di rumah dia pamit mau
> bersilaturahmi ke rumah famili di Mojokerto. Ternyata justru bersama
> gendakannya dia ngendon seharian di kamar hotel Jalan Wijaya. Di sini
> Maryati dibolak-balik bak bikin dadar telur, hingga termehek-mehek
> dibuatnya. Sungguh luar biasa, sebagai penderita kencing manis Maryadi masih
> hobi “kencing enak”.
>
> Apes rupanya kali ini. Entah pada ronde ke berapa, tahu-tahu Maryadi
> kejang-kejang dalam kondisi masih bugil. Maryati berteriak dan satpam hotel
> memberikan pertolongan. Tapi nyawa penyalur tenaga kerja tersebut sudah tak
> bisa ditolong. Ketika jenasah dibawa pulang ke rumah, istrinya hanya bisa
> meratap malu. “Oalas Mas, pamitnya mau silaturahmi, ternyata kok selingkuh,”
> kata Ny. Minul.
>
> Ya karena tak jadi silaturahmi, usia Maryadi jadi pendek. *(JP/Gunarso TS)
> *
>
>
> --
> 
>



-- 
[agiel]
B 6115 KKU
-ordinary black scorpio-

Kirim email ke