OB lg photo ama bossnya...
Sapu ente ga ikutan nampang di foto lex?

 RyoBerry®


-----Original Message-----
From: "Andi Betedz Ochep" <[email protected]>

Date: Thu, 2 Jul 2009 10:53:22 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [BekaKak] Fw: GURITA BISNIS KALLA BROTHERS


ya.. die photo2..
bukannya lo ditugasin buat ngeringin tuh landasan Lex...
ayo sana.. pel lagi sampe kering...
  ----- Original Message ----- 
  From: Alex Setia 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, July 02, 2009 10:40 AM
  Subject: RE: [BekaKak] Fw: GURITA BISNIS KALLA BROTHERS





  Nih salah satu fotonya 

   

  Alex Setia

  Policy Owner Services (POS)


------------------------------------------------------------------------------

  From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
tanu wijaya
  Sent: 02 Juli 2009 10:37
  To: [email protected]
  Subject: Bls: [BekaKak] Fw: GURITA BISNIS KALLA BROTHERS

   






  Iya padahal Bandara nya sangat luas di banding yg lain misalnya 
Pekanbaru,Medan,Pangkal Pinang,Balikpapan,Manado,Semarang dll

   


------------------------------------------------------------------------------

  Dari: Kang Prie <[email protected]>
  Kepada: [email protected]
  Terkirim: Kamis, 2 Juli, 2009 10:22:36
  Judul: Re: [BekaKak] Fw: GURITA BISNIS KALLA BROTHERS

  gak asyik neh..
  pembangunan bandara yg JK banggakan di makassar gak disebut..
  gak asyik..gak asyik..gak asyik..gak asyik..gak asyik..gak asyik..

  LANJUTKAN. OPSS.. LAUTKAN AJA DEH.. XIXIXIXII

  2009/7/1 ryolix <hendro.bekakak007@ gmail.com>:
  >
  >
  >  RyoBerry®
  >
  >________________________________
  > From: "Koesyanto, Ladi"
  > Date: Wed, 1 Jul 2009 11:17:39 +0200
  > Subject: GURITA BISNIS KALLA BROTHERS
  >
  > Gurita Bisnis Kalla Bersaudara
  >
  >
  >
  > Resume:
  >
  >
  >
  > Kepentingan JK tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekspansi bisnis
  >
  > keluarga besarnya, karena Indonesia tidak punya peraturan yang melarang
  >
  > konflik kepentingan jabatan publik dengan kepentingan bisnis pribadi dan
  >
  > keluarga serta sahabatnya.
  >
  >
  >
  > Profil Usaha
  >
  > Ada empat kelompok perusahaan yang dikuasai oleh JK (kelompok Bukaka &
  >
  > Hadji Kalla), iparnya, Aksa Mahmud yang Wakil Ketua MPR-RI (kelompok
  >
  > Bosowa), dan adiknya, Halim Kalla (kelompok Intim).
  >
  >
  >
  > Beberapa perusahaannya yang dikenal publik antara lain: Bhakti Centra Baru
  >
  > (Bukaka Agro; Bukaka Asia Investment Ptd; Bukaka Barelang Energy (BBE);
  >
  > Bukaka Building Construction; Bukaka Investindo; Bukaka Marga Utama
  >
  > (membangun dan mengelola Ciawi - Sukabumi toll road, Pasuruan -
  >
  > Probolinggo tol road); Bukaka Meat; Bukaka Teknik Utama (yang antara lain
  >
  > meliputi Bukaka Singtel (sudah dilego karena gagal memenuhi komitmen
  >
  > pemasangan telepon terhadap Telkom), Bumi Karsa,  Duta Agro Sulawesi,
  >
  > Haji Kalla Trading Company, NV, Kalla Inti Karsa; Mal Ratu Indah,
  >
  > Makassar;  Kalla Lines.
  >
  >
  >
  >
  >
  > Track Record:
  >
  >
  >
  > Pada krisis 1997/1998, Grup Bukaka Termasuk 20 debitur kakap yang
  >
  > mengemplang ke Bank-Bank BUMN yang mengakibatkan bank-bank plat merah
  >
  > kolaps. Sebagaimana debitor lainnya, Bukaka juga `memaksa' mendapatkan
  >
  > hair-cut dalam jumlah yang sangat fantastis.
  >
  >
  >
  >
  >
  > Sejak 2005, Bukaka dan Bosowa menjadi `beban' bagi Bank BUMN seperti
  >
  > Mandiri. Kredit macet mereka terbilang tinggi yang memaksa bank-bank plat
  >
  > merah baru ini menyisihkan pencadangan, dan termasuk merestrukturisasi
  >
  > utang-utang tersebut.
  >
  >
  >
  > Bukaka Teknik Utama tercatat menjadi pemegang saham mayoritas (35%) PT
  >
  > Trans-Jawa Paspro Jalan Tol. Yang memegang konsesi jalan  tol
  >
  > Pasuruan-Probolingg o.  Lantaran tak mampu memenuhi kewajiban berupa
  >
  > jaminan pelaksanaan, dana tanah, dan financial closed yang deadlinenya 30
  >
  > Juni 2008. Karena wan prestasi, akhirnya konsesi itu dilego ke kelompok
  >
  > usaha bakrie.
  >
  >
  >
  > Bukaka tercatat di Bursa Efek Jakarta. Tapi, lantaran laporan keuangannya
  >
  > selalu disclaimer selama bertahun-tahun, akhir Bursa Efek Indonesia
  >
  > mendelistingnya dari pasar saham. (Pada saat kampanye pilpres 2009, Kalla
  >
  > dengan sinisnya bilang, "Pasar modal adalah sarang neolib.").
  >
  >
  >
  >
  >
  > Profil Proyek: Intervensi dan Benturan Kepentingan
  >
  >
  >
  > Sejak menjadi wapres, Kalla bersaudara semakin kebanjiran order. Salah
  >
  > satunya adalah pembangunan PLTA.
  >
  >
  >
  > Di Sulawesi Selatan: Bukaka mendapat order pembangunan PLTA di Ussu  di
  >
  > Kabupaten Luwu' Timur, berkapasitas 620 MW; sebuah PLTA senilai Rp 1,44
  >
  > trilyun di Pinrang; sebuah PLTA kecil berkapasitas 1 MW di Desa Mappung,
  >
  > Tompobutu, di perbatasan Kabupaten Gowa dan Sinjai, sebuah PLTA berskala
  >
  > menengah berkapasitas 8 MW di Bantaeng, serta sebuah PLTA kecil di Salu
  >
  > Anoa di Mungkutana, Kabupaten Luwu' Utara. Saat ini, Bukaka sedang
  >
  > membangun PLTA dengan tiga turbin di Sungai Poso, Sulawesi Tengah, yang
  >
  > akan berkapasitas total 780 MW. Di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Bukaka
  >
  > mendapat order pembangunan PLTA berkapasitas 25 MW.  Selain ditengarai
  >
  > memainkan pengaruh kekuasaan untuk mendapatkan bisnis ini, pelaksanaannya
  >
  > pun kerap melanggar aturan.  PLTA Poso, misalnya, mulai dibangun sebelum
  >
  > ada AMDAL yang memenuhi syarat. (Juga jaringan SUTET-nya ke Sulawesi
  >
  > Selatan & Tenggara dibangun tanpa AMDAL).
  >
  >
  >
  > di Sumatera Utara, kelompok yang dipimpin Achmad Kalla, adik kandung Wakil
  >
  > Presiden mendapat order pembangunan PLTA di Pintu Pohan, atau PLTA Asahan
  >
  > III berkapasitas 200 MW serta PLTA Sibaho di Kabupaten Humbang Hasundutan.
  >
  > Untuk itu, Bukaka sudah melakukan pembebasan lahan, tapi proyeknya
  >
  > kemudian diambil alih oleh PLN.
  >
  >
  >
  > Selain itu,  Bukaka juga terlibat dalam pembangunan pipa gas alam oleh PT
  >
  > Bukaka Barelang Energy senilai US$ 750 juta – setara dengan Rp 7,5 trilyun
  >
  > – yang akan terentang dari Pagar Dea, Sumatera Selatan, ke Batam;
  >
  > pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) senilai US$ 92 juta –
  >
  > atau Rp 920 milyar – di Pulau Sembilang, dekat Batam; pembangunan
  >
  > pembangkit listrik tenaga gas di Sarulla, Tarutung, Sumatera Utara, yang
  >
  > akan mengjasilkan 300 MW
  >
  >
  >
  > Yang paling baru adalah rencana pembangunan 19 PLTA berkekuatan 10.000 MW.
  >
  > Rencana ini dinilai berbahaya secara ekonomi karena Kalla mendorong
  >
  > BPD-BPD se Indonesia  yang membiayainya dengan mengandalkan dana murah di
  >
  > bank-bank milik pemda tersebut. Masalahnya, dana murah itu adalah dana
  >
  > jangka pendek, sedangkan pembangunan PLTA adalah proyek berjangka waktu
  >
  > panjang. Rata-rata baru setelah 7 tahun, ada duit yang masuk.  Jika
  >
  > terjadi sedikit saja goncangan, BPD-BPD bakal semaput karena dana jangka
  >
  > pendek mereka dipakai untuk membiayai proyek jangka panjang.  Kengototoan
  >
  > Kalla bisa dimaklumi karena kelompok-kelompok Bukaka, Bosowa , dan Intim
  >
  > (Halim Kalla) termasuk paket kontraktor pembangunan 19 PLTU itu. Kelompok
  >
  > Bosowa mendapat order pembangunan PLTU Jeneponto di Sulsel, tanpa tender
  >
  > (Rakyat Merdeka, 7 Juni 2006), sedangkan kelompok Intim milik Halim Kalla
  >
  > yang juga salah seorang Komisaris Lion Air akan membangun PLTU
  >
  > berkapasitas 3 x 300 MW di Cilacap, Jateng, dengan bahan baku batubara
  >
  > yang dipasok dari konsesi pertambangan batubara seluas 5.000 ha milik
  >
  > kelompok Intim di Kaltim (GlobeAsia, Sept. 2008, hal. 38).
  >
  >
  >
  > Intervensi yang juga paling sering dikemukakan adalah menyangkut proyek
  >
  > Monorel. Rencana proyek ini hampir kandas setelah konsorsium pemenang
  >
  > ternyata tak punya cukup duit. Belakangan Bukaka masuk dan memimpin
  >
  > konsorsium. Mereka mendesak bank-bank BUMN untuk mengucurkan kredit.
  >
  > Karena mendapat sorotan, akhirnya diupayakan dengan cara tipuan:
  >
  > Pura-puranya ada dana dari Dubai. Belakangan ketahuan investor Dubai itu
  >
  > hanyalah arranger keuangan saja, sebab yang menyetor duit itu rencananya
  >
  > adalah Bank-Bank plat merah (Mandiri, dll). Yang paling disoroti dari
  >
  > proyek ini adalah permintaan jaminan pemerintah. Dalam hal ini Bukaka
  >
  > mengklaim potensi penumpang yang sangat besar. Jika jumlah penumpang itu
  >
  > tak tercapai maka sisanya adalah kerugian yang harus ditanggung
  >
  > pemerintah!
  >
  >
  >
  > Selain itu, grup Kalla juga diketahui menjadi bagian dari konsorsium yang
  >
  > mendapat konsesi dalam pembangunan apartemen murah 1000 tower. Tak
  >
  > mengherankan jikalau Kalla-lah yang paling ngotot dan sebagai akibatnya
  >
  > Pemda Jakarta dipaksa mengabaikan berbagai pelanggaran yang dilakukan
  >
  > pengembang yang membangun apartemen murah ini. Jika tak dihentikan, daerah
  >
  > seputar apartemen murah bakal jadi daerah super crowded karena pengembang
  >
  > membangun unit yang jauh melebihi daya dukung lingkungannya.
  >
  >
  >
  > Meski selalu menyebut `ogah asing', pada dasarnya Kalla sudah lama
  >
  > menjalin relasi dengan perusahaan asing. Terakhir, Adik bungsu Jusuf
  >
  > Kalla, Suhaelly Kalla, terjun ke bisnis mobil produksi Cina. Suhaelly
  >
  > dengan perusahaan PT IGC International menjadi distributor mobil merek
  >
  > Geely di Indonesia. Menurut Suhaelly, keterlibatan dalam bisnis mobil Cina
  >
  > karena peluangnya cukup menarik. Geely mampu menghasilkan produk yang
  >
  > kompetitif dengan harga lebih murah. "Harga sedan dibawah Rp 100 juta tiap
  >
  > unit," kata Suhaelly, dalam acara peluncuran mobil Geely CK CKD
  >
  > (completely knock down), Jakarta (16/5).
  >
  >
  >
  > Dalam soal Blok D Alpha Natuna, Kalla terlihat agresif dan seperti
  >
  > menentang dominasi perusahaan-perusaha an migas asal Amerika Serikat. Yang
  >
  > tak diketahui, Kalla merangkul perusahaan migas Eropa. Salah satu yang
  >
  > dijagokannya adalah perusahaan migas asal Norwegia. Yang menarik, di
  >
  > tingkat domestik, menantunya yang kerap dipanggil dengan Tono Kalla sudah
  >
  > menjalin kerjasama dengan BUMD Kab Natuna untuk menampung jatah saham yang
  >
  > harus dialokasikan kepada pemda. Duit yang dibutuhkan untuk membeli saham
  >
  > itu mencapai Rp 20 triliun. Hingga kini, Tono Kalla masih mencari kreditor
  >
  > yang mau mengucurkan kredit padanya. Kehadiran Tono ini jadi tak `asyik'
  >
  > karena maksud awal Pemda Natuna menggandeng Tono adalah dengan asumsi Tono
  >
  > cukup punya duit untuk menjadi patnernya pemda setempat.
  >
  >
  >
  >  ============ ========= =====
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >__________________________________________________________
  > This email has been scanned for Viruses and Spam. For more information
  > please contact your local Business Unit Information Security representative.
  >__________________________________________________________
  >
  > 

   


------------------------------------------------------------------------------

  Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih.. Rasakan bedanya sekarang!




  

Kirim email ke