---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 30 Desember 2003 16:20 UTC



** JUMLAH KORBAN GEMPA IRAN BISA SAMPAI 50 RIBU JIWA

** SARS MUNCUL LAGI DI CINA

** CINA DAN EROPA LANSIR SATELIT

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: KEAMANAN PESAWAT UDARA MENJADI ISU
HANGAT LAGI

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: 2003 TAHUN REVOLUSI MAWAR GEORGIA

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: "ERSA SIREGAR TIDAK PERLU JADI KORBAN
JIKA TNI DAN GAM MAU KOMPROMI SEDIKIT"

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KASUS ERSA SIREGAR DAPAT MENGUBAH
SIKAP PUBLIK TERHADAP PERANG ACEH



* JUMLAH KORBAN GEMPA IRAN BISA SAMPAI 50 RIBU JIWA

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di kota Bam Iran, Jum'at silam
dikhawatirkan mencapai 50 ribu jiwa. Demikian pemerintah Iran. Sejauh
ini hampir 30 ribu mayat berhasil ditemukan, dan diperkirakan tidak
ada lagi korban hidup yang bisa diselamatkan dari bawah puing-puing
reruntuhan.

Amerika Serikat, yang musuh bebuyutan Iran pun, mengirim bantunan
pangan, obat-obatan serta tim pakar dan medis. Negara jiran Irak juga
mengirimkan regu penolong. Gempa bumi Bam, berkekuatan enam koma tiga
pada skala Richter itu adalah paling dahsyat dalam sepuluh tahun
terakhir ini. Kota bersejarah itu luluh lantak dan sekitar seratus
ribu penduduk kehilangan tempat tinggal.


* SARS MUNCUL LAGI DI CINA

Penyakit pernapasan akut SARS muncul lagi di propinsi Guangdong Cina.
Sejak Sabtu silam sudah ada dugaan, dan tim dokter di Guangdong
sekarang menguatkan berita itu. Kendati demikian tim medis masih
menunggu pengumuman resmi dari kementrian kesehatan Cina dan
Organisasi Kesehatan PBB.

Untuk pertama kali dalam setengah tahun, di Cina muncul lagi kasus
SARS. Pasien pria 32 tahun dan sekitar 40 orang lain yang sempat
berhubungan, dikarantina dan diperiksa. Epidemi SARS yang menyebar
tahun ini, menewaskan 800 jiwa di seluruh dunia.


* CINA DAN EROPA LANSIR SATELIT


Untuk pertama kali dalam sejarah Cina dan Eropa bersama mengirim
sebuah satelit ruang angkasa mengitari bumi. Satelit ini dilansir
dari landasan peluncuran Xichang, Cina. Menurut kantor berita Cina,
Xinhua peluncuran berjalan mulus. Paroh tahun 2004, Cina dan Eropa
dijadwalkan akan melansir satelit berikutnya. Proyek antariksa
'Double Star' gabungan Cina-Eropa itu bertujuan meneliti medan magnit
bumi.


* 35 TEWAS AKIBAT LEDAKAN PABRIK PETASAN CINA


Dipastikan 35 orang tewas akibat ledakan dahsyat pabrik petasan di
Cina. 29 orang lain cedera. Pabrik petasan di kota Shuangmiaozi Cina
Timurlaut itu meledak dan dua buah gedung hancur rata dengan tanah.
Penyebab kecelakaan masih dalam penyidikan pihak penguasa.


* KEKERASAN KASHMIR INDIA MEMUNCAK LAGI


Di Kashmir India, empat orang terbunuh dalam kontak senjata antara
tentara India dengan pemberontak. Sementara itu dalam insiden lain 33
orang tentara India dan seorang sipil cedera oleh ledakan bom. Bom
yang dipasang di ruko kosong dekat kota Srinagar itu meledak ketika
konvoi tentara berlalu. Gerakan terbesar pemberontak Kashmir, Hizbul
Mujahedin menyatakan bertanggungjawab atas serangan itu.

Inilah salah satu serangan terbesar sejak India dan Pakistan
menyepakati gencatan senjata sepanjang perbatasan di Kashmir akhir
November lalu. Tetapi baik India maupun pemberontak menyatakan bahwa
gencatan senjata itu tidak berlaku untuk Kashmir bagian India.


* PENDIRI PARMALAT AKUI PENGGELAPAN UANG


Pendiri perusahaan raksasa Italia pengolah susu, Parmalat Calisto
Tanzi mengaku telah menggelapkan uang perusahaan sebesar 500 juta
euro. Tidak dijelaskan, kemana Tanzi meraibkan dana setengah milyar
euro itu. Selain itu mantan boss Parmalat itu juga mengaku memalsukan
pembukuan perusahaan. Tanzi ditangkap di Milano akhir pekan lalu,
setelah kehakiman Italia menggeledah rumahnya. Sejak Sabtu silam
pemerintah Italia mengambil kebijakan penyelamatan. Parmalat mendapat
penangguhan tuntutan hutang, supaya untuk sementara tetap bisa
berproduksi.


* BERITA BURSA SELASA 30 12 2004


Lantai-lantai bursa Eropa dibuka dengan nada positif. Penanam modal
terangsang, angka tinggi pada penutupan bursa Wallstreet New York. Di
Amsterdam, indeks AEX dibuka dengan 337 point, keuntungan 0,7 persen.
Juga dengan lonjakan 0,7 persen bursa Frankfurt menyambut Selasa
pagi. Paris positif 0,6 dan London pun naik, meskipun lebih ringan
0,3 persen.

Pada pembukaan di Amsterdam, mata uang euro seperti halnya Senin
kemarin lagi-lagi bercokol melewati batas 1,25 dolar.

Di Jepang, Selasa ini adalah hari dagang terakhir tahun 2003 dan
menutup tahun dengan lonjakan meyakinkan. Indeks Nikkei di Tokyo
meningkat 1,66 persen menjadi 10.676 koma 64 poin. Sehubungan dengan
liburan tahun baru, bursa Jepang baru buka lagi Senin 5 Januari.

Nada positif juga dirasakan dilantai-lantai Amerika Latin. Indeks
Bovespa Brasil untuk pertama kali mendobrak batas 2 000. Dan indeks
Merval di Argentina untuk pertama kali menyentuh angka 1078.


* PANITIA OLIMPIADE YUNANI 2004 KESULITAN DANA


Panitia penyelenggara pesta olah raga Olimpiade Yunani 2004, Athoc
mengalami kesulitan dana. Athoc tidak punya dana lagi untuk
melanjutkan pembangunan sarana olah raga. Sejumlah proyek pembangunan
terpaksa dihentikan, bahkan pembangunan lainnya seperti komplek
stadion pelatihan sepakbola, masih harus dimulai.
Perusahaan-perusahaan bangunan menunggu bayaran sekitar 100 juta euro
dari Athoc. Olimpiade Yunani dijadwalkan akan digelar pertengahan
2004.


* KEAMANAN PESAWAT UDARA MENJADI ISU HANGAT LAGI

Amerika Serikat meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemungkinan aksi
teroris dalam musim liburan ini. Washington memerintahkan perusahaan
penerbangan asing yang melayani penerbangan dari dan ke Amerika untuk
menyertakan pengawal bersenjata. Bagi penumpang warga Amerika
kehadiran pengawal bersenjata yang menyamar sebagai penumpag sudah
menjadi kenyataan sehari hari. Namun kehadiran seorang pengawal
bersenjata tidak menjamin sepenuhnya penerbangan bakal bebas dari
aksi teror. Lebih jauh rangkuman wawancara dengan pakar Hukum Udara
dan Angkasa Belanda dari Universitas Utrecht prof. Wibbo Heere.

Pertanyaan terpenting adalah apakah kehadiran pengawal bersenjata di
pesawat dapat menangkal setiap aksi teror. Aksi teror 11 September
memperlihatkan bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan jika empat
atau lima pembajak bersenjata melakukan aksi serentak. Kehadiran
pengawal bersenjata di pesawat sebenarnya tidak diperlukan andaikan
saja pemeriksaan penumpang di darat dilakukan dengan cermat. Namun
hal itu juga tidak dapat menjamin sepenuhnya sebuah penerbangan akan
bebas dari aksi teror. Senjata atau bahan peledak yang digunakan sang
pembajak dapat saja diselundupkan ke pesawat oleh para petugas
cleaning service. Ini sudah berulang kali terjadi dalam insiden
pembajakan di waktu lalu.

Para pilot Belanda telah menyatakan menentang kehadiran pengawal
bersenjata di pesawat. Sejumlah penerbang dari negara negara lain
juga bersikap sama. Namun pemerintah Amerika berhak untuk menolak
pesawat asing masuk ke wilayah udaranya jika tidak mematuhi peraturan
yang ditentukan. Uni Eropa juga keberatan dengan peraturan yang
ditentukan Amerika untuk meneruskan informasi mengenai jati diri para
penumpang penerbangan dari Eropa ke Amerika. Namun karena khawatir
pesawatnya tidak boleh masuk Amerika maka Uni Eropa-pun akhirnya
bertekuk lutut.

Dampak serangan 11 September membuat Amerika mengambil langkah ekstra
ketat. Pemerintah Amerika nampaknya bertekad penuh untuk mencegah
aksi teror sejenis terulang kembali. Pekan lalu Amerika melarang enam
penerbangan Air France dari Paris ke Los Angles karena ada petunjuk
salah satu penerbangan itu mungkin bisa menimbulkan bencana.


* 2003 TAHUN REVOLUSI MAWAR GEORGIA

Ketidak stabilan politik memang sudah menjadi bagian dari goresan
sejarah Georgia. Namun ada hal baru di Georgia dalam tahun 2003
yakni: revolusi tanpa pertumpahan darah. Hanya dalam kurun waktu
sebulan Revolusi Bunga Mawar merebak di negara kecil Kaukasus itu.
Edouard Shevardnadze, mantan menteri luar negeri Uni Soviet yang
memimpin Georgia selama 11 tahun tidak punya pilihan lain kecuali
mundur. Banyak pengamat menilai perkembangan yang terjadi di Georgia
sama dengan tumbangnya rejim Serbia pimpinan Slobodan Milosevic, tiga
tahun silam. Redaktur Eropa Timut Margreet Strijbosch menyusun kilas
balik berikut ini.

Mikheil Saakashvili: Pasukan elit yang setia kepada Shevardnadze dan
mendapat perintah untuk menyerbu pertemuan telah membangkang terhadap
presiden Georgia dan memilih bergabung dengan pemerintah baru. Ini
adalah perubahan haluan bersejarah. Riwayat Shevardnadze sudah tamat.

Pernyataan pemimpin oposisi Georgia, Mikheil Saakashvili yang
diucapkan setelah ia mendengar mendapat dukungan dari pasukan elit
Presiden Shevardnadze. Sehari kemudian pada tanggal 23 November,
presiden Georgia mengumumkan pengunduran dirinya. Ini adalah sebuah
anti klimaks mengejutkan setelah Georgia selama beberapa minggu
sebelumnya dilanda unjuk rasa massal. Demonstrasi tersebut semua
ditujukan untuk memprotes hasil pemilihan parlemen 2 November yang
diwarnai kecurangan.

Namun kecurangan dalam pemilihan itu berbuntut fatal bagi kekuasaan
Shevardnadze. Hal ini dikemukakan oleh Sandra Roelofs, isteri
Saaskashvili asal Belanda. Ia tinggal delapan tahun di Georgia.

Sandra Roelofs: Semula muncul krisis mata uang Rubel Rusia. Kemudian
konflik dengan Abkhazia di wilayah Gali berkobar kembali. Korupsi
semakin merajalela, yang mengakibatkan pendapatan dari pajak dan
pendapatan negara menyusut. Ini adalah sebuah lingkaran setan. Tanpa
pendapatan maka roda pemerintahan akan macet. Situasi-pun semakin
memburuk.

Shalva Pichkadze, yang semasa kekuasaan Shevardnadze menjabat ketua
komisi hubungan luar negeri yakin bahwa "Revolusi Bunga Mawar" tidak
bergulir spontan.

Shalva Pikhkadze: Kelompok oposisi yang cukup kuat dan mampu
menggalang dukungan massa yang merasa tidak puas dengan proses
pemilihan untuk menentang Shevardnadze sudah pasti mendapat suntikan
dana dari luar negeri. Direktur Yayasan Soros di Georgia terang
terangan mengakui memberikan bantuan keuangan kepada sejumlah
organisasi kepemudaan anti Presiden Shevardnadze. Kondisi
perekonomian Georgia memang sangat buruk. Sederet faktor itu
mengakibatkan Presiden Shevardnadze harus mundur.

Bukan suatu kebetulan jika revolusi Georgia mirip dengan revolusi
lain di Balkan tiga tahun silam. Revolusi Serbia menjadi contoh bagi
Georgia. Berbagai sumber menuturkan bahwa ribuan warga Georgia,
terutama mahasiswa dari gerakan Kmara dilatih dalam teknik teknik
untuk mengobarkan pemberontakan. Metode ini diterapkan di Beograd
tiga tahun sebelumnya dan berakhir dengan tumbangnya Slobodan
Milosevic. Mereka mendapat kucuran dana dari luar negeri, terutama
dari Amerika Serkat. Kantor berita nasional Rusia Pravda yang
mengutip mantan Kepala Dinas Intelijen Rusia memaparkan bahwa
pemimpin oposisi Georgia sempat berkunjung ke Serbia selama enam
bulan. Pada kesempatan itu ia beberapa kali berkunjung ke sejumlah
balai latihan bagi warga Eropa Timur.

Selain itu beberapa hari sebelum Shevardnadze tumbang, organisasi
penyiaran televisi independen Georgia, Rustavi 2 menayangkan dua kali
film dokumenter mengenai revolusi Serbia. Rakyat Georgia mau tidak
mau dipaksa mencontoh revolusi Serbia.

Namun persamaan dengan revolusi Serbia juga berakhir dengan
tumbangnya Shevardnadze. Pemilihan presiden Georgia akan digelar pada
tanggal 4 Januari 2004. Bila Mikheil Saakashvili terpilih sebagai
pemimpin baru Georgia, seperti yang banyak diramalkan berbagai
kalangan maka ia harus menggariskan kebijakan di antaar dua kekuatan,
yang saat ini sudah tidak sabar lagi untuk memperluas pengaruhnya di
Georgia. Yang pertama adalah negara adi daya lama Rusia dan Amerika
Serikat sebagai negara adi daya tunggal dunia dewasa ini.


* "ERSA SIREGAR TIDAK PERLU JADI KORBAN JIKA TNI DAN GAM MAU KOMPROMI
SEDIKIT"

Jenazah almarhum wartawan RCTI Ersa Siregar tadi siang telah
dimakamkan di Pemakaman Carang Pulang, Tangerang, dengan dihadiri
ribuan handai tolan dan rekan jurnalis. Para petinggi keamanan
mengelak tanggungjawab, para politisi diam, dan dunia pers Indonesia
terpukul. Ersa tak perlu jadi korban apabila pihak TNI maupun GAM mau
berkompromi sedikit demi keselamatan warga sipil, termasuk wartawan,
sesuai azas Konvensi Jenewa, demikian Heru Hendratmoko, dari
Radio-68-H di Jakarta. Pertama-tama kami tanyakan kepada Mohammad
Taufan, koresponden radio tsb di Banda Aceh: dapatkah kita pastikan
siapa yang bertanggungjawab atas tertembaknya Ersa Siregar?

Mohammad Taufan [MT]: Sampai saat ini komando operasi TNI di
Loksuemawe menyebutkan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan
dan belum ada pernyataan resmi dari aparat TNI tentang pelaku
penembakan terhadap Esra Siregar dalam saat ini, dalam insiden
senjata kemarin di rawa Simpang Ulim Aceh Timur.

Radio Nederland [RN]: Media massa sudah mengabarkan ada dua tembakan
antara lain di lehernya. Nah adakah luka-luka ini memberikan kesan
mengenai tembakan dari jarak berapa jauh?

MT: Diperkirakan baku tembak antara aparat keamanan dengan Gerakan
Aceh Merdeka pada saat itu sangat dekat. Jarak mereka sekitar 15
meter. Namun panglima komando operasi TNI di Aceh menyebutkan dalam
jarak 15 meter tersebut pasukan TNI maupun pihak GAM sangat terbatas
pandangan mereka, karena situasi medan yang sangat sulit di tengah
rawa-rawa yang ditutupi oleh kayu-kayu dan tumbuhan rawa yang menutup
rapat lokasi kontak senjata ini.

RN: Namun pihak AJI, Aliansi Jurnalis Indipenden dari Jakarta
mengirim stafnya di Aceh untuk menyelidiki seberapa jauh kebenaran
bahwa ada ilalang yang menghalangi pandangan dari pihak Marinir?

MT: Sejauh ini saya belum mendapatkan konfirmasi dari AJI yang akan
ke Lokseumawe untuk menyelidiki penembakan Ersa.

RN: Selain itu jenazah Ersa Siregar ini sudah berada di tempat itu
beberapa hari lamanya. Betul itu?

MT: Oh tidak. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12:30 dan baru
dikenali bahwa korban merupakan reporter RCTI, Ersa Siregar pada sore
harinya. Ketika aparat keamanan berupaya mencocokkan data-data yang
ditemukan di lokasi kejadian dengan identitas yang dimiliki Ersa
Siregar.

RN: Adakah pihak media centre di Lokseumawe memberi reaksi terhadap
tuntutan dari AJI agar Komnasham melakukan penyidikan?

MT: Sejauh ini belum ada respon komando operasi TNI di Aceh.

RN: Bagaimana reaksi publik. Jenazah kemarin diberangkatkan dari
Banda Aceh ke Medan?

MT: Sejumlah kalangan pers dan rekan-rekan Ersa sendiri yang berada
di Aceh mengekspresikan duka, belasungkawa mereka dengan memanjatkan
doa dan membacakan wirid Yassin di tempat-tempat tertentu di kota
Banda Aceh, Lokseumawe. Sebagai ekspresi kekecewaan dan kesedihan.
Jurnalis-jurnalis yang bertugas di Aceh masih tetap melakukan
aktivitas mereka sebagaimana biasanya. Dan hal ini juga telah
mempengaruhi moril dan semangat kerja daripada rekan-rekan jurnalis
di Aceh. Karena ini merupakan sebuah isyarat yang sangat serius
sebagai konsekwensi dari konflik bersenjata yang sekarang ini terjadi
di Aceh.

RN: Maksudnya membuat orang menjadi takut?

MT: Takut, mungkin juga kekhawatiran-kekhawatiran bahwa peristiwa
seperti ini juga akan dialami oleh jurnalis-jurnalis lainya.

Demikian Mohammad Taufan, sementara itu kita hubungi Heru Hendratmoko
dari Radio 68H Jakarta. Kami tanyakan bagaimana suasana di ibukota.

Heru Hendratmoko [HH]: Sejak kemarin suasana, terutama teman-teman
pers itu sangat terpukul. Karena kami tidak menyangka bahwa Ersa akan
mengalami nasib yang begitu tragis: tewas di antara dua kelompok yang
bertikai. Mangkanya tadi siang, teman-teman khususnya di Jakarta, itu
langsung menggalang aksi solidaritas dari berbagai media, dari
berbagai organisasi wartawan. Terutama diprakarsai oleh Aliansi
Jurnalis Indepanden mengadakan aksi bersama di Bunderan HI yang
diikuti banyak tokoh juga dan juga banyak teman-teman wartawan
sendiri.

Mereka mengungkapkan rasa keprihatinan sekaligus perasaan marah.
Karena sebetulnya tewasnya Ersa Siregar tidak perlu terjadi
seandainya TNI dan pemerintah Indonesia mau berkompromi dan
sebaliknya juga GAM menanggapi hal yang sama. Artinya ada proses
dialog untuk pembebasan. Tapi itu tidak terjadi. Makanya kemudian
teman-teman sekarang mengatakan :"Sudah cukup, enough is enough. Ersa
adalah yang terakhir. Masih ada beberapa yang lain yang di sana. Fery
Santoro dan dua sandera yang lainnya. Itu harus segera dibebaskan,
tanpa syarat."  Itu yang terungkap dari pernyataan teman-teman tadi.

Radio Nederland [RN]: Apakah sejauh ini pihak TNI sudah menanggapi
tuntutan AJI agar dilakukan penyelidikan oleh Komnasham terhadap
duduk peristiwa tertembaknya Ersa?

HH: Sampai hari ini saya belum mendengar satu tanggapan resmi tentang
itu. Tapi saya mendengar hari ini juga dari kepala Kepolisian
Indonesia menyatakan bahwa kematian Ersa ini merupakan kegagalan kita
bersama. Nah saya tidak tahu apa artinya dari "kegagalan kita
bersama". Apakah yang dimaksud kegagalan aparat keamanan sendiri.
Karena sebenarnya dari organisasi pers sendiri sudah berinisiatif
untuk terlibat dalam pembebasan itu, tetapi itu tidak ditanggapi.
Misalnya dengan melibatkan organisasi internasional IFJ,
International Federation of Journalists misalnya.

Sementara dari TNI sendiri justru saya tidak melihat ada upaya untuk
membuat clear masalah ini. Misalnya Kasad Riamizard Ryacudu
menyatakan bahwa: "ya tewasnya seorang wartawan seperti Ersa Siregar
di sana adalah sebuah resiko dari profesi wartawan yang diembannya."
Itu memang benar tapi sebenarnya kematian ini tidak perlu terjadi
kalau pihak TNI sendiri pada saat itu memiliki itikad baik untuk
sedikit berkompromi, demi pembebasan Ersa dan kawan-kawan. Sampai
hari ini tidak ada pernyataan apapun dari pemerintah Indonesia,
terutama yang melalui representasi presiden itu tidak ada pernyataan
apa pun.

Demikian wawancara Radio Nederland dengan Heru Hendratmoko dan
Mohammad Taufan.


* KASUS ERSA SIREGAR DAPAT MENGUBAH SIKAP PUBLIK TERHADAP PERANG ACEH

Mabes TNI di Cilangkap mengatakan akan menyelidiki tembakan yang
menewaskan wartawan RCTI Ersa Siregar. Sedangkan mengenai tembakan di
paha Ersa, jurubicara Koops di Aceh, Letkol Yani Basuki menuduh GAM
menembaknya dari jarak dekat. Sebaliknya, pihak GAM menuding TNI
mengeksekusi Ersa Siregar. Aliansi Jurnalis Independen, AJI, tetap
menuntut Komnas HAM mengusut kasus tsb.

Kematian wartawan yang bertugas di kancah perang, adalah kasus baru
bagi dunia pers Indonesia. Wartawan senior, mantan PemRed Mingguan
TEMPO, Gunawan Mohammad, berharap, pers dapat mengubah pandangan yang
selama ini agak simplistis, terhadap perang di Aceh.

Gunawan Mohammad [GM]: Peliputan bagus dan di televisi diputar film
dia, banyak orang terkesan. Memang bisa dua reaksi ya. Pertama,ya ini
kan resiko dari sebuah kerjaan berbahaya di waktu perang. Kemudian
ada yang mengatakan juga bahwa, seperti kalangan pro-hak hak asasi,
ini harus diusut dong. Supaya jangan mudah menggunakan peluru saja ke
arah orang, terutama di Aceh sekarang.

Ini dua belah pihak belum saling meningkatkan kampanye, tapi yang
jelas ini mengingatkan orang bahwa ada suatu yang salah di Aceh ini.
Selami ini kan Aceh seolah-olah pemberitaannya tenggelam dalam
masalah-masalah lain di Indonesia, misalnya persiapan pemilihan
presiden atau bencana di Iran bahkan. Tapi harian Tempo headline
terus, televisi menyiarkan itu dan orang berbicara dan SMS
bermunculan, menyatakan duka cita dan marah terhadap kematian Ersa.
Mereka ingat lagi bahwa, There are some things happening in Aceh,
yang tidak menyenangkan publik.

Radio Nederland [RN]: Ini membuka satu kesadaran baru, begitu?

GM: Saya belum melihat ya. Ini kembali kan masalah Aceh itu selain
nasionalisme yang salah arah dari para pemimpin media dan politisi di
sini, atau pun para pemimpin pemerintah, tapi juga karena berita itu
selalu berebut dengan berita lain. Dan sekarang ini kan kejadian itu
adalah kejadian yang disiarkan oleh media. Jadi kejadian itu sendiri
tidak akan menjadi kejadian tanpa disiarkan oleh media kan. Ini
sedihnya.

RN: Mas Gunawan begini, sebenarnya kalau peristiwa tragis semacam
dialami Ersa Siregar ini tidak terlampau sering dihadapi oleh pers
Indonesia. Bahkan ketika Timor Timur banyak wartawan tewas,
kebanyakan asing dan pers Indonesia ketika itu pun melupakannya. Nah
saya sempat mengenal Ersa Siregar almarhum tahun 1999 maupun kemarin
Juni bersama-sama meliput Aceh. Dia ini seorang wartawan yang tidak
menggebu-gebu nasionalis seperti beberapa media tertentu di Jakarta.
Apakah ada dampak pukulan balik, backlash dari tewasnya Esra bagi
semangat pers, meliput daerah konflik seperti Aceh?

GM: Saya hanya berharap, karena saya belum melihat. Mudah-mudahan
orang akan mengoreksi pandangan yang simplistis tentang peristiwa
Aceh, hanya dari segi nasionalisme dan dilihat dari belakang meja.
Dengan film-film yang ditayangkan dari karya Ersa dan dari kenyataan
bahwa seorang wartawan berbulan-bulan ditahan kemudian tertembak
mati.

RN: Mungkin boleh kita harapkan munculnya diskusi mengenai wartawan
yang bertugas di daerah perang, sebagai bagian dari warga sipil
non-combatant yang menurut konvensi Jenewa, harus dihormati
keselamatannya. Nah seberapa jauh kasus tewasnya Ersa ini bisa
menimbulkan kesadaran masyarakat yang lebih besar dan dapat menggugah
kesadaran aparat bersenjata di kancah perang?

GM: Mudah-mudahan PWI maupun AJI maupun organisasi wartawan lain dan
juga organisasi persatuan wartawan televisi meminta penjelasan dari
militer apa yang terjadi dan memberitahu mereka mengenai konvensi
Jenewa itu.

RN: Ini kedua pihak tentu punya andil dan tanggungjawab ya, baik TNI
maupun GAM. Tapi apakah menurut anda perlu Komnas HAM melakukan
penyelidikan lapangan?

GM: Saya kira perlu. Dari kalangan media harus aktif, saya kira. Ini
bukan karena wartawan adalah warga negara istimewa, tapi karena dia
bekerja di sana, sebagaimana pun juga guru kan juga penting bagi
kedua belah pihak untuk memiliki seorang wartawan dalam kancah perang
seperti itu, untuk mengkomunikasikan pendirian mereka.

RN: Sejauh ini yang ramai adalah tanggapan kalangan pers. Namun para
politisi masih diam. Apa ini tandannya, ataukah memang peran
jurnalistik ini tidak penting, bagi mereka? Atau semua dilanda demam
pemilu?

GM: Mungkin masalah pemilu itu menyedot banyak perhatian antara
politisi dan itu sebabnya mereka belum sempat untuk ditanya kan. Saya
ramalkan besok-besok akan ada suara.

Demikian wawancara Radio Nederland dengan Gunawan Mohammad, wartawan
senior, mantan PemRed Mingguan TEMPO.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke