--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Selasa 30 Desember 2003 16:20 UTC ** JUMLAH KORBAN GEMPA IRAN BISA SAMPAI 50 RIBU JIWA ** SARS MUNCUL LAGI DI CINA ** CINA DAN EROPA LANSIR SATELIT ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: KEAMANAN PESAWAT UDARA MENJADI ISU HANGAT LAGI ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: 2003 TAHUN REVOLUSI MAWAR GEORGIA ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: "ERSA SIREGAR TIDAK PERLU JADI KORBAN JIKA TNI DAN GAM MAU KOMPROMI SEDIKIT" ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KASUS ERSA SIREGAR DAPAT MENGUBAH SIKAP PUBLIK TERHADAP PERANG ACEH * JUMLAH KORBAN GEMPA IRAN BISA SAMPAI 50 RIBU JIWA Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di kota Bam Iran, Jum'at silam dikhawatirkan mencapai 50 ribu jiwa. Demikian pemerintah Iran. Sejauh ini hampir 30 ribu mayat berhasil ditemukan, dan diperkirakan tidak ada lagi korban hidup yang bisa diselamatkan dari bawah puing-puing reruntuhan. Amerika Serikat, yang musuh bebuyutan Iran pun, mengirim bantunan pangan, obat-obatan serta tim pakar dan medis. Negara jiran Irak juga mengirimkan regu penolong. Gempa bumi Bam, berkekuatan enam koma tiga pada skala Richter itu adalah paling dahsyat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Kota bersejarah itu luluh lantak dan sekitar seratus ribu penduduk kehilangan tempat tinggal. * SARS MUNCUL LAGI DI CINA Penyakit pernapasan akut SARS muncul lagi di propinsi Guangdong Cina. Sejak Sabtu silam sudah ada dugaan, dan tim dokter di Guangdong sekarang menguatkan berita itu. Kendati demikian tim medis masih menunggu pengumuman resmi dari kementrian kesehatan Cina dan Organisasi Kesehatan PBB. Untuk pertama kali dalam setengah tahun, di Cina muncul lagi kasus SARS. Pasien pria 32 tahun dan sekitar 40 orang lain yang sempat berhubungan, dikarantina dan diperiksa. Epidemi SARS yang menyebar tahun ini, menewaskan 800 jiwa di seluruh dunia. * CINA DAN EROPA LANSIR SATELIT Untuk pertama kali dalam sejarah Cina dan Eropa bersama mengirim sebuah satelit ruang angkasa mengitari bumi. Satelit ini dilansir dari landasan peluncuran Xichang, Cina. Menurut kantor berita Cina, Xinhua peluncuran berjalan mulus. Paroh tahun 2004, Cina dan Eropa dijadwalkan akan melansir satelit berikutnya. Proyek antariksa 'Double Star' gabungan Cina-Eropa itu bertujuan meneliti medan magnit bumi. * 35 TEWAS AKIBAT LEDAKAN PABRIK PETASAN CINA Dipastikan 35 orang tewas akibat ledakan dahsyat pabrik petasan di Cina. 29 orang lain cedera. Pabrik petasan di kota Shuangmiaozi Cina Timurlaut itu meledak dan dua buah gedung hancur rata dengan tanah. Penyebab kecelakaan masih dalam penyidikan pihak penguasa. * KEKERASAN KASHMIR INDIA MEMUNCAK LAGI Di Kashmir India, empat orang terbunuh dalam kontak senjata antara tentara India dengan pemberontak. Sementara itu dalam insiden lain 33 orang tentara India dan seorang sipil cedera oleh ledakan bom. Bom yang dipasang di ruko kosong dekat kota Srinagar itu meledak ketika konvoi tentara berlalu. Gerakan terbesar pemberontak Kashmir, Hizbul Mujahedin menyatakan bertanggungjawab atas serangan itu. Inilah salah satu serangan terbesar sejak India dan Pakistan menyepakati gencatan senjata sepanjang perbatasan di Kashmir akhir November lalu. Tetapi baik India maupun pemberontak menyatakan bahwa gencatan senjata itu tidak berlaku untuk Kashmir bagian India. * PENDIRI PARMALAT AKUI PENGGELAPAN UANG Pendiri perusahaan raksasa Italia pengolah susu, Parmalat Calisto Tanzi mengaku telah menggelapkan uang perusahaan sebesar 500 juta euro. Tidak dijelaskan, kemana Tanzi meraibkan dana setengah milyar euro itu. Selain itu mantan boss Parmalat itu juga mengaku memalsukan pembukuan perusahaan. Tanzi ditangkap di Milano akhir pekan lalu, setelah kehakiman Italia menggeledah rumahnya. Sejak Sabtu silam pemerintah Italia mengambil kebijakan penyelamatan. Parmalat mendapat penangguhan tuntutan hutang, supaya untuk sementara tetap bisa berproduksi. * BERITA BURSA SELASA 30 12 2004 Lantai-lantai bursa Eropa dibuka dengan nada positif. Penanam modal terangsang, angka tinggi pada penutupan bursa Wallstreet New York. Di Amsterdam, indeks AEX dibuka dengan 337 point, keuntungan 0,7 persen. Juga dengan lonjakan 0,7 persen bursa Frankfurt menyambut Selasa pagi. Paris positif 0,6 dan London pun naik, meskipun lebih ringan 0,3 persen. Pada pembukaan di Amsterdam, mata uang euro seperti halnya Senin kemarin lagi-lagi bercokol melewati batas 1,25 dolar. Di Jepang, Selasa ini adalah hari dagang terakhir tahun 2003 dan menutup tahun dengan lonjakan meyakinkan. Indeks Nikkei di Tokyo meningkat 1,66 persen menjadi 10.676 koma 64 poin. Sehubungan dengan liburan tahun baru, bursa Jepang baru buka lagi Senin 5 Januari. Nada positif juga dirasakan dilantai-lantai Amerika Latin. Indeks Bovespa Brasil untuk pertama kali mendobrak batas 2 000. Dan indeks Merval di Argentina untuk pertama kali menyentuh angka 1078. * PANITIA OLIMPIADE YUNANI 2004 KESULITAN DANA Panitia penyelenggara pesta olah raga Olimpiade Yunani 2004, Athoc mengalami kesulitan dana. Athoc tidak punya dana lagi untuk melanjutkan pembangunan sarana olah raga. Sejumlah proyek pembangunan terpaksa dihentikan, bahkan pembangunan lainnya seperti komplek stadion pelatihan sepakbola, masih harus dimulai. Perusahaan-perusahaan bangunan menunggu bayaran sekitar 100 juta euro dari Athoc. Olimpiade Yunani dijadwalkan akan digelar pertengahan 2004. * KEAMANAN PESAWAT UDARA MENJADI ISU HANGAT LAGI Amerika Serikat meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemungkinan aksi teroris dalam musim liburan ini. Washington memerintahkan perusahaan penerbangan asing yang melayani penerbangan dari dan ke Amerika untuk menyertakan pengawal bersenjata. Bagi penumpang warga Amerika kehadiran pengawal bersenjata yang menyamar sebagai penumpag sudah menjadi kenyataan sehari hari. Namun kehadiran seorang pengawal bersenjata tidak menjamin sepenuhnya penerbangan bakal bebas dari aksi teror. Lebih jauh rangkuman wawancara dengan pakar Hukum Udara dan Angkasa Belanda dari Universitas Utrecht prof. Wibbo Heere. Pertanyaan terpenting adalah apakah kehadiran pengawal bersenjata di pesawat dapat menangkal setiap aksi teror. Aksi teror 11 September memperlihatkan bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan jika empat atau lima pembajak bersenjata melakukan aksi serentak. Kehadiran pengawal bersenjata di pesawat sebenarnya tidak diperlukan andaikan saja pemeriksaan penumpang di darat dilakukan dengan cermat. Namun hal itu juga tidak dapat menjamin sepenuhnya sebuah penerbangan akan bebas dari aksi teror. Senjata atau bahan peledak yang digunakan sang pembajak dapat saja diselundupkan ke pesawat oleh para petugas cleaning service. Ini sudah berulang kali terjadi dalam insiden pembajakan di waktu lalu. Para pilot Belanda telah menyatakan menentang kehadiran pengawal bersenjata di pesawat. Sejumlah penerbang dari negara negara lain juga bersikap sama. Namun pemerintah Amerika berhak untuk menolak pesawat asing masuk ke wilayah udaranya jika tidak mematuhi peraturan yang ditentukan. Uni Eropa juga keberatan dengan peraturan yang ditentukan Amerika untuk meneruskan informasi mengenai jati diri para penumpang penerbangan dari Eropa ke Amerika. Namun karena khawatir pesawatnya tidak boleh masuk Amerika maka Uni Eropa-pun akhirnya bertekuk lutut. Dampak serangan 11 September membuat Amerika mengambil langkah ekstra ketat. Pemerintah Amerika nampaknya bertekad penuh untuk mencegah aksi teror sejenis terulang kembali. Pekan lalu Amerika melarang enam penerbangan Air France dari Paris ke Los Angles karena ada petunjuk salah satu penerbangan itu mungkin bisa menimbulkan bencana. * 2003 TAHUN REVOLUSI MAWAR GEORGIA Ketidak stabilan politik memang sudah menjadi bagian dari goresan sejarah Georgia. Namun ada hal baru di Georgia dalam tahun 2003 yakni: revolusi tanpa pertumpahan darah. Hanya dalam kurun waktu sebulan Revolusi Bunga Mawar merebak di negara kecil Kaukasus itu. Edouard Shevardnadze, mantan menteri luar negeri Uni Soviet yang memimpin Georgia selama 11 tahun tidak punya pilihan lain kecuali mundur. Banyak pengamat menilai perkembangan yang terjadi di Georgia sama dengan tumbangnya rejim Serbia pimpinan Slobodan Milosevic, tiga tahun silam. Redaktur Eropa Timut Margreet Strijbosch menyusun kilas balik berikut ini. Mikheil Saakashvili: Pasukan elit yang setia kepada Shevardnadze dan mendapat perintah untuk menyerbu pertemuan telah membangkang terhadap presiden Georgia dan memilih bergabung dengan pemerintah baru. Ini adalah perubahan haluan bersejarah. Riwayat Shevardnadze sudah tamat. Pernyataan pemimpin oposisi Georgia, Mikheil Saakashvili yang diucapkan setelah ia mendengar mendapat dukungan dari pasukan elit Presiden Shevardnadze. Sehari kemudian pada tanggal 23 November, presiden Georgia mengumumkan pengunduran dirinya. Ini adalah sebuah anti klimaks mengejutkan setelah Georgia selama beberapa minggu sebelumnya dilanda unjuk rasa massal. Demonstrasi tersebut semua ditujukan untuk memprotes hasil pemilihan parlemen 2 November yang diwarnai kecurangan. Namun kecurangan dalam pemilihan itu berbuntut fatal bagi kekuasaan Shevardnadze. Hal ini dikemukakan oleh Sandra Roelofs, isteri Saaskashvili asal Belanda. Ia tinggal delapan tahun di Georgia. Sandra Roelofs: Semula muncul krisis mata uang Rubel Rusia. Kemudian konflik dengan Abkhazia di wilayah Gali berkobar kembali. Korupsi semakin merajalela, yang mengakibatkan pendapatan dari pajak dan pendapatan negara menyusut. Ini adalah sebuah lingkaran setan. Tanpa pendapatan maka roda pemerintahan akan macet. Situasi-pun semakin memburuk. Shalva Pichkadze, yang semasa kekuasaan Shevardnadze menjabat ketua komisi hubungan luar negeri yakin bahwa "Revolusi Bunga Mawar" tidak bergulir spontan. Shalva Pikhkadze: Kelompok oposisi yang cukup kuat dan mampu menggalang dukungan massa yang merasa tidak puas dengan proses pemilihan untuk menentang Shevardnadze sudah pasti mendapat suntikan dana dari luar negeri. Direktur Yayasan Soros di Georgia terang terangan mengakui memberikan bantuan keuangan kepada sejumlah organisasi kepemudaan anti Presiden Shevardnadze. Kondisi perekonomian Georgia memang sangat buruk. Sederet faktor itu mengakibatkan Presiden Shevardnadze harus mundur. Bukan suatu kebetulan jika revolusi Georgia mirip dengan revolusi lain di Balkan tiga tahun silam. Revolusi Serbia menjadi contoh bagi Georgia. Berbagai sumber menuturkan bahwa ribuan warga Georgia, terutama mahasiswa dari gerakan Kmara dilatih dalam teknik teknik untuk mengobarkan pemberontakan. Metode ini diterapkan di Beograd tiga tahun sebelumnya dan berakhir dengan tumbangnya Slobodan Milosevic. Mereka mendapat kucuran dana dari luar negeri, terutama dari Amerika Serkat. Kantor berita nasional Rusia Pravda yang mengutip mantan Kepala Dinas Intelijen Rusia memaparkan bahwa pemimpin oposisi Georgia sempat berkunjung ke Serbia selama enam bulan. Pada kesempatan itu ia beberapa kali berkunjung ke sejumlah balai latihan bagi warga Eropa Timur. Selain itu beberapa hari sebelum Shevardnadze tumbang, organisasi penyiaran televisi independen Georgia, Rustavi 2 menayangkan dua kali film dokumenter mengenai revolusi Serbia. Rakyat Georgia mau tidak mau dipaksa mencontoh revolusi Serbia. Namun persamaan dengan revolusi Serbia juga berakhir dengan tumbangnya Shevardnadze. Pemilihan presiden Georgia akan digelar pada tanggal 4 Januari 2004. Bila Mikheil Saakashvili terpilih sebagai pemimpin baru Georgia, seperti yang banyak diramalkan berbagai kalangan maka ia harus menggariskan kebijakan di antaar dua kekuatan, yang saat ini sudah tidak sabar lagi untuk memperluas pengaruhnya di Georgia. Yang pertama adalah negara adi daya lama Rusia dan Amerika Serikat sebagai negara adi daya tunggal dunia dewasa ini. * "ERSA SIREGAR TIDAK PERLU JADI KORBAN JIKA TNI DAN GAM MAU KOMPROMI SEDIKIT" Jenazah almarhum wartawan RCTI Ersa Siregar tadi siang telah dimakamkan di Pemakaman Carang Pulang, Tangerang, dengan dihadiri ribuan handai tolan dan rekan jurnalis. Para petinggi keamanan mengelak tanggungjawab, para politisi diam, dan dunia pers Indonesia terpukul. Ersa tak perlu jadi korban apabila pihak TNI maupun GAM mau berkompromi sedikit demi keselamatan warga sipil, termasuk wartawan, sesuai azas Konvensi Jenewa, demikian Heru Hendratmoko, dari Radio-68-H di Jakarta. Pertama-tama kami tanyakan kepada Mohammad Taufan, koresponden radio tsb di Banda Aceh: dapatkah kita pastikan siapa yang bertanggungjawab atas tertembaknya Ersa Siregar? Mohammad Taufan [MT]: Sampai saat ini komando operasi TNI di Loksuemawe menyebutkan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan dan belum ada pernyataan resmi dari aparat TNI tentang pelaku penembakan terhadap Esra Siregar dalam saat ini, dalam insiden senjata kemarin di rawa Simpang Ulim Aceh Timur. Radio Nederland [RN]: Media massa sudah mengabarkan ada dua tembakan antara lain di lehernya. Nah adakah luka-luka ini memberikan kesan mengenai tembakan dari jarak berapa jauh? MT: Diperkirakan baku tembak antara aparat keamanan dengan Gerakan Aceh Merdeka pada saat itu sangat dekat. Jarak mereka sekitar 15 meter. Namun panglima komando operasi TNI di Aceh menyebutkan dalam jarak 15 meter tersebut pasukan TNI maupun pihak GAM sangat terbatas pandangan mereka, karena situasi medan yang sangat sulit di tengah rawa-rawa yang ditutupi oleh kayu-kayu dan tumbuhan rawa yang menutup rapat lokasi kontak senjata ini. RN: Namun pihak AJI, Aliansi Jurnalis Indipenden dari Jakarta mengirim stafnya di Aceh untuk menyelidiki seberapa jauh kebenaran bahwa ada ilalang yang menghalangi pandangan dari pihak Marinir? MT: Sejauh ini saya belum mendapatkan konfirmasi dari AJI yang akan ke Lokseumawe untuk menyelidiki penembakan Ersa. RN: Selain itu jenazah Ersa Siregar ini sudah berada di tempat itu beberapa hari lamanya. Betul itu? MT: Oh tidak. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12:30 dan baru dikenali bahwa korban merupakan reporter RCTI, Ersa Siregar pada sore harinya. Ketika aparat keamanan berupaya mencocokkan data-data yang ditemukan di lokasi kejadian dengan identitas yang dimiliki Ersa Siregar. RN: Adakah pihak media centre di Lokseumawe memberi reaksi terhadap tuntutan dari AJI agar Komnasham melakukan penyidikan? MT: Sejauh ini belum ada respon komando operasi TNI di Aceh. RN: Bagaimana reaksi publik. Jenazah kemarin diberangkatkan dari Banda Aceh ke Medan? MT: Sejumlah kalangan pers dan rekan-rekan Ersa sendiri yang berada di Aceh mengekspresikan duka, belasungkawa mereka dengan memanjatkan doa dan membacakan wirid Yassin di tempat-tempat tertentu di kota Banda Aceh, Lokseumawe. Sebagai ekspresi kekecewaan dan kesedihan. Jurnalis-jurnalis yang bertugas di Aceh masih tetap melakukan aktivitas mereka sebagaimana biasanya. Dan hal ini juga telah mempengaruhi moril dan semangat kerja daripada rekan-rekan jurnalis di Aceh. Karena ini merupakan sebuah isyarat yang sangat serius sebagai konsekwensi dari konflik bersenjata yang sekarang ini terjadi di Aceh. RN: Maksudnya membuat orang menjadi takut? MT: Takut, mungkin juga kekhawatiran-kekhawatiran bahwa peristiwa seperti ini juga akan dialami oleh jurnalis-jurnalis lainya. Demikian Mohammad Taufan, sementara itu kita hubungi Heru Hendratmoko dari Radio 68H Jakarta. Kami tanyakan bagaimana suasana di ibukota. Heru Hendratmoko [HH]: Sejak kemarin suasana, terutama teman-teman pers itu sangat terpukul. Karena kami tidak menyangka bahwa Ersa akan mengalami nasib yang begitu tragis: tewas di antara dua kelompok yang bertikai. Mangkanya tadi siang, teman-teman khususnya di Jakarta, itu langsung menggalang aksi solidaritas dari berbagai media, dari berbagai organisasi wartawan. Terutama diprakarsai oleh Aliansi Jurnalis Indepanden mengadakan aksi bersama di Bunderan HI yang diikuti banyak tokoh juga dan juga banyak teman-teman wartawan sendiri. Mereka mengungkapkan rasa keprihatinan sekaligus perasaan marah. Karena sebetulnya tewasnya Ersa Siregar tidak perlu terjadi seandainya TNI dan pemerintah Indonesia mau berkompromi dan sebaliknya juga GAM menanggapi hal yang sama. Artinya ada proses dialog untuk pembebasan. Tapi itu tidak terjadi. Makanya kemudian teman-teman sekarang mengatakan :"Sudah cukup, enough is enough. Ersa adalah yang terakhir. Masih ada beberapa yang lain yang di sana. Fery Santoro dan dua sandera yang lainnya. Itu harus segera dibebaskan, tanpa syarat." Itu yang terungkap dari pernyataan teman-teman tadi. Radio Nederland [RN]: Apakah sejauh ini pihak TNI sudah menanggapi tuntutan AJI agar dilakukan penyelidikan oleh Komnasham terhadap duduk peristiwa tertembaknya Ersa? HH: Sampai hari ini saya belum mendengar satu tanggapan resmi tentang itu. Tapi saya mendengar hari ini juga dari kepala Kepolisian Indonesia menyatakan bahwa kematian Ersa ini merupakan kegagalan kita bersama. Nah saya tidak tahu apa artinya dari "kegagalan kita bersama". Apakah yang dimaksud kegagalan aparat keamanan sendiri. Karena sebenarnya dari organisasi pers sendiri sudah berinisiatif untuk terlibat dalam pembebasan itu, tetapi itu tidak ditanggapi. Misalnya dengan melibatkan organisasi internasional IFJ, International Federation of Journalists misalnya. Sementara dari TNI sendiri justru saya tidak melihat ada upaya untuk membuat clear masalah ini. Misalnya Kasad Riamizard Ryacudu menyatakan bahwa: "ya tewasnya seorang wartawan seperti Ersa Siregar di sana adalah sebuah resiko dari profesi wartawan yang diembannya." Itu memang benar tapi sebenarnya kematian ini tidak perlu terjadi kalau pihak TNI sendiri pada saat itu memiliki itikad baik untuk sedikit berkompromi, demi pembebasan Ersa dan kawan-kawan. Sampai hari ini tidak ada pernyataan apapun dari pemerintah Indonesia, terutama yang melalui representasi presiden itu tidak ada pernyataan apa pun. Demikian wawancara Radio Nederland dengan Heru Hendratmoko dan Mohammad Taufan. * KASUS ERSA SIREGAR DAPAT MENGUBAH SIKAP PUBLIK TERHADAP PERANG ACEH Mabes TNI di Cilangkap mengatakan akan menyelidiki tembakan yang menewaskan wartawan RCTI Ersa Siregar. Sedangkan mengenai tembakan di paha Ersa, jurubicara Koops di Aceh, Letkol Yani Basuki menuduh GAM menembaknya dari jarak dekat. Sebaliknya, pihak GAM menuding TNI mengeksekusi Ersa Siregar. Aliansi Jurnalis Independen, AJI, tetap menuntut Komnas HAM mengusut kasus tsb. Kematian wartawan yang bertugas di kancah perang, adalah kasus baru bagi dunia pers Indonesia. Wartawan senior, mantan PemRed Mingguan TEMPO, Gunawan Mohammad, berharap, pers dapat mengubah pandangan yang selama ini agak simplistis, terhadap perang di Aceh. Gunawan Mohammad [GM]: Peliputan bagus dan di televisi diputar film dia, banyak orang terkesan. Memang bisa dua reaksi ya. Pertama,ya ini kan resiko dari sebuah kerjaan berbahaya di waktu perang. Kemudian ada yang mengatakan juga bahwa, seperti kalangan pro-hak hak asasi, ini harus diusut dong. Supaya jangan mudah menggunakan peluru saja ke arah orang, terutama di Aceh sekarang. Ini dua belah pihak belum saling meningkatkan kampanye, tapi yang jelas ini mengingatkan orang bahwa ada suatu yang salah di Aceh ini. Selami ini kan Aceh seolah-olah pemberitaannya tenggelam dalam masalah-masalah lain di Indonesia, misalnya persiapan pemilihan presiden atau bencana di Iran bahkan. Tapi harian Tempo headline terus, televisi menyiarkan itu dan orang berbicara dan SMS bermunculan, menyatakan duka cita dan marah terhadap kematian Ersa. Mereka ingat lagi bahwa, There are some things happening in Aceh, yang tidak menyenangkan publik. Radio Nederland [RN]: Ini membuka satu kesadaran baru, begitu? GM: Saya belum melihat ya. Ini kembali kan masalah Aceh itu selain nasionalisme yang salah arah dari para pemimpin media dan politisi di sini, atau pun para pemimpin pemerintah, tapi juga karena berita itu selalu berebut dengan berita lain. Dan sekarang ini kan kejadian itu adalah kejadian yang disiarkan oleh media. Jadi kejadian itu sendiri tidak akan menjadi kejadian tanpa disiarkan oleh media kan. Ini sedihnya. RN: Mas Gunawan begini, sebenarnya kalau peristiwa tragis semacam dialami Ersa Siregar ini tidak terlampau sering dihadapi oleh pers Indonesia. Bahkan ketika Timor Timur banyak wartawan tewas, kebanyakan asing dan pers Indonesia ketika itu pun melupakannya. Nah saya sempat mengenal Ersa Siregar almarhum tahun 1999 maupun kemarin Juni bersama-sama meliput Aceh. Dia ini seorang wartawan yang tidak menggebu-gebu nasionalis seperti beberapa media tertentu di Jakarta. Apakah ada dampak pukulan balik, backlash dari tewasnya Esra bagi semangat pers, meliput daerah konflik seperti Aceh? GM: Saya hanya berharap, karena saya belum melihat. Mudah-mudahan orang akan mengoreksi pandangan yang simplistis tentang peristiwa Aceh, hanya dari segi nasionalisme dan dilihat dari belakang meja. Dengan film-film yang ditayangkan dari karya Ersa dan dari kenyataan bahwa seorang wartawan berbulan-bulan ditahan kemudian tertembak mati. RN: Mungkin boleh kita harapkan munculnya diskusi mengenai wartawan yang bertugas di daerah perang, sebagai bagian dari warga sipil non-combatant yang menurut konvensi Jenewa, harus dihormati keselamatannya. Nah seberapa jauh kasus tewasnya Ersa ini bisa menimbulkan kesadaran masyarakat yang lebih besar dan dapat menggugah kesadaran aparat bersenjata di kancah perang? GM: Mudah-mudahan PWI maupun AJI maupun organisasi wartawan lain dan juga organisasi persatuan wartawan televisi meminta penjelasan dari militer apa yang terjadi dan memberitahu mereka mengenai konvensi Jenewa itu. RN: Ini kedua pihak tentu punya andil dan tanggungjawab ya, baik TNI maupun GAM. Tapi apakah menurut anda perlu Komnas HAM melakukan penyelidikan lapangan? GM: Saya kira perlu. Dari kalangan media harus aktif, saya kira. Ini bukan karena wartawan adalah warga negara istimewa, tapi karena dia bekerja di sana, sebagaimana pun juga guru kan juga penting bagi kedua belah pihak untuk memiliki seorang wartawan dalam kancah perang seperti itu, untuk mengkomunikasikan pendirian mereka. RN: Sejauh ini yang ramai adalah tanggapan kalangan pers. Namun para politisi masih diam. Apa ini tandannya, ataukah memang peran jurnalistik ini tidak penting, bagi mereka? Atau semua dilanda demam pemilu? GM: Mungkin masalah pemilu itu menyedot banyak perhatian antara politisi dan itu sebabnya mereka belum sempat untuk ditanya kan. Saya ramalkan besok-besok akan ada suara. Demikian wawancara Radio Nederland dengan Gunawan Mohammad, wartawan senior, mantan PemRed Mingguan TEMPO. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
