---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 22 Januari 2004 16:00 UTC



** PERINGANAN HUKUMAN TAHAN BELANDA DI THAILAND

** FLU BURUNG DI THAILAND

** P.M. ISRAEL TIDAK AKAN TURUN

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: PROYEK LAMPU ALADIN HAMID KARZAI
DI AFGHANISTAN

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: NARAPIDANA BELANDA DI THAILAND
DAPAT PENGAMPUNAN

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: DIREKSI MANNESMANN MENGHADAP
PENGADILAN

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: BISAKAH PEMINDAHAN NARAPIDANA GAM KE
JAWA MEMUTUSKAN IDEOLOGI ACEH MERDEKA ?

** GEMA WARTA TOPIK INDONSIEA : JANGAN PAKAI TNI DAN POLRI UNTUK
MENANGKAN PEMILU



* PERINGANAN HUKUMAN TAHAN BELANDA DI THAILAND

Raja Thailand Bhumibol memberi pengampunan pada tahanan-tahanan
Belanda yang meringkuk dipenjara Thailand karena melakukan
penyelundupan narkoba. Hal ini diumumkan oleh Mentri Luar Negeri
Belanda Bernard Bot setelah pembicaraan mengenai perjanjian
ekstradisi di Bangkok. Kedua tahanan itu pada tahun 90 an dijatuhi
hukuman penjara 40 dan 50 tahun. Dengan adanya pengampunan dari
kepala negara, maka mereka akan dibebaskan minggu depan. Mentri Bot
berada di Thailand sehubungan dengan kunjungan kenegaraan Ratu
Beatrix dan Putra Mahkota Willem Alexander.


* FLU BURUNG DI THAILAND

Soerang anak berusia 7 tahun ternyata menderita penyakit flu burung.
Ini adalah yang pertama di Thailand. Dua penderita lainnya diduga
juga terjangkit namun masih diperiksa. Virus penyakit itu sudah
kedapatan di beberapa negara di Asia, namun penyebaran penyakit ini
terutama terjadi di Vietnam.  Sekurang-kurangnya lima orang meninggal
akibat flu burung di Vietnam. Flu burung juga ditemukan di Korea
Selatan, Taiwan dan Jepang, namun belum menjangkiti manusia. Jepang
untuk sementara menghentikan impor daging ayam dari Thailand.
Organisasi Kesehatan Sedunia WHO sangat khawatir mengenai penyebaran
flu burung di Asia. Dikhawatirkan bila virus itu bermutasi dan
menjangkiti manusia akan menelan banyak korban.


* P.M. ISRAEL TIDAK AKAN TURUN

P.M. Ariel Sharon tidak akan meletakkan jabatannya. Ia mengatakan
bahwa berita-berita mengenai kemungkinan ia turun karena skandal
penyelewengan uang tidak benar. Menurut media massa di Israel,
Kementrian Kehakiman akan mengambil keputusan dalam beberapa minggu
mendatang apakah P.M. Sharon akan diadili karena tuduhan melakukan
korupsi. Rabu kemarin, seorang usahwan didakwa sehubungan dengan
kasus koruspi bersangkutan. Ia dituduh memberi ratusan ribu dollar
pada keluarga Sharon pada tahun 90-an untuk pembangunan proyek di
sebuah pulau di Yunani. Mentri Kehakiman Israel Yossef Lapid
mengatakan Sharon tidak boleh bekerja, bila ia benar-benar diajukan
ke pengadilan.


* DAILY NEWS TERBIT LAGI

Setelah dihentikan empat bulan, harian Zimbabwe Daily News terbit
lagi. Harian independen yang popular itu selama bulan-bulan
belakangan tidak bisa terbit karena kantor redaksi diduduki oleh
polisi. Pemerintah Zimbabwe menanggap Daily News membahayakan
keamanan negara. September tahun lalu penerbitan harian itu
dihentikan usai keputusan Pengadilan karena harian itu tidak terdafar
di komisi nasional untuk media. Setelah itu hakim-hakim membenarkan
Daily News, namun berita itu tidak pernah dapat diumumkan, karena
dicegah oleh pemeritah. Hari Rabu kemarin, polisi meninggalkan kantor
redaksi harian tersebut di ibukota Harare.


* KETUA SERIKAT BURUH CAMBOJA DIBUNUH

Chea Vichea, ketua serikat buruh di Camboja, mati terbunuh. Ia
ditembak di jalan, di ibukota Phnom Penh. Chea Vichea dikenal sebagai
tokoh yang gigih memperjuangkan hak buruh di industri pakaian. Ia
adalah pendukung partai oposisi Sam Rainsy dan ia sering memimpin
demonstrasi menuntut perbaikan kondisi kerja.


* PROYEK LAMPU ALADIN HAMID KARZAI DI AFGHANISTAN

Afganistan akan memulai proyek pembangunan besar-besaran. Menurut
Presiden Hamid Karzai setiap wilayah Afganistan akan mengambil
keuntungan dari proyek itu yang bernilai 160 juta dolar, untuk
membangun gedung-gedung umum, bank, kantor pos dan perpustakaan.
Sayangnya satu-satunya hambatan, dan sialnya sandungan yang paling
menentukan dalam proyek ini, adalah Karzai tidak punya dana atau
prasarana untuk melaksanakan proyek tersebut. Paul Bucherer dari
Lembaga Swiss Afganistan, menilai proyek itu harus dijalankan
sekalipun nyaris mustahil dijalankan.

Proyek ini memang sangat penting dan mutlak dilakukan. Tapi dalam
praktek, menimbulkan berbagai masalah. Permasalahan pertama datang
dari pemerintahan Karzai. Pengaruh politik pemerintah Kabul saat ini
sangat terbatas. Yang kedua, di sisi lain, tidak lain tidak bukan,
masalah terbesarnya adalah masalah keuangan. Saat ini sumber
pendanaan yang ada hanya dari 5,2 milyar dolar yang dijanjikan
masyarakat internasional bagi pembangunan kembali Afganistan dipakai
untuk membiayai pasukan perdamaian. Tapi asal tahu saja untuk
membiayai satu militer per hari dibutuhkan sekitar 4000 dolar. Dengan
demikian tidak banyak dana tersisa untuk pembangunan kembali negeri
itu. Masalah lain menyangkut lembaga-lembaga non pemerintah.
Masyarakat Afgan menyebut mereka sapi yang minum susunya sendiri. 70%
dana dari lembaga ini dipakai untuk kepentingan sendiri.

Proyek pembangunan Afganistan itu sendiri diperkirakan membutuhkan
160 juta dolar dan harus selesai dalam dua tahun. Sedangkan hingga
sekarang baik uang maupun prasarana sama sekali tidak ada yang bisa
menunjang. Afganistan memang berhasil membangun jalan raya, tapi
jalan-jalan tersebut tidaklah terbentang mulus, sementara jaringan
telefon juga hampir tidak ada. Maka tak heranlah proyek pembangunan
besar Presiden Hamid Karzai ini sejatinya mirip-mirip kisah dongeng
Lampu Alladin. Karena nampaknya tidak realistik namun tetap harus
dijalankan.

Menurut Paul Bucherer dari Lembaga Swiss Afganistan tidak penting
apakah proyek ini dapat terwujud atau tidak. Tapi paling tidak
pemerintah dengan proyek pembangunan ini dapat menunjukan kepada
publik ke arah mana kira-kira Afghanistan akan berjalan dan, yang tak
kalah pentingnya juga, memberikan harapan pada masyarakat. Jangan
lupa Afghanistan dan daerah pedesaaannya merupakan sebuah wilayah
masyarakat agrikultural. Sehingga perpustakaan, ataupun gedung-gedung
sekolah bukanlah target utama pembangunan kembali. Namun jelas
pembangunan di bidang perhubungan maupun industri-industri hulu muara
jelas sangat mendesak dibutuhkan di negara Islam ini.

Di pihak lain ada satu perkara yang sebenarnya juga harus dihitung
Hamid Karzai lewat program maha besar ini. Yaitu impian yang menjadi
harapan dapat sekejap berubah menjadi kekecewaan apabila ini gagal
dijalankan. Dan tentunya kekecewaan itu mudah saja berbalik
menggulung menjadi protes terhadap kepemimpinan Karzai, yang memang
sudah sangat terbatas saat ini. Tapi ini ditampik oleh Paul Bucherer.
"Warga Afghanistan dari awal memang sudah menaruh harapan sangat
rendah terhadap pemerintah pusat!" Sehingga kalau proyek ini gagal
tidaklah banyak memicu gejolak sosial warga.

Tapi kalau kita bijak sebenarnya proyek 160 juta dolar dalam lima
tahun itu hanya kacang saja bagi negara sebesar Perancis ataupun
Jerman. Tapi tidak bagi negara yang baru saja mulai dari nol seperti
Afghanistan. Walhasil Karzai memang butuh lampu ajaib, seperti dalam
dongeng Aladin. Dan negara-negara besar, selayaknya pula menjadi jin
lampu untuk mendanai proyek ini.


* NARAPIDANA BELANDA DI THAILAND DAPAT PENGAMPUNAN


Kesepakatan mengenai narapidana Belanda yang mendekam di penjara
Thailanm hampir tuntas. Menurut Menteri Luar Negeri Belanda, Ben Bot,
tinggal menunggu saat yang tepat untuk penandatanganan. Kesepakatan
bilateral ini memungkinan narapidana Belanda yang meringkuk di
rutan-rutan mengenaskan di Thailand, bisa melanjutkan sisa masa
tahanan di Belanda. Menjelang penyusunan kesepakatan itu, Raja
Thailand, Bhumibol Adulyadej sudah mengeluarkan grasi pada dua warga
Belanda yang dijatuhi hukuman se umur hidup. Lebih lanjut ulasan
redaktur Carin Tiggeloven.
Inilah sukses kecil yang diraih menteri baru Luar Negeri Belanda, Ben
Bot. Pada kunjungan resmi pertamanya mendampingi Ratu Beatrix, sudah
hampir merampungkan kesepakatan bilateral mengenai narapidana Belanda
di penjara Thailand. Kendati tidak langsung bisa ditandatangani
minggu ini, tetapi penandatanganannya tidak akan lama lagi, demikian
tegas menlu Belanda.
Berkat kerja cepat dan keras bulan-bulan belakangan, akhirnya hampir
tercapai kesepakatan pemindahan tahanan. Narapidana Belanda yang
meringkuk di rutan-rutan Thailand, bisa menghabiskan masa tahanan di
tanah air, Belanda. Desember silam mantan Menlu Belanda, Hans van den
Broek bertolak ke Thailand untuk membicarakan masalah ini. Menteri
Luar Negeri Ben Bot memanfaatkan kunjungan kenegaraan ke Thailand
untuk merampungkan perundingan. Ia berbicara dengan rekan sejawatnya
dari Thailand, dengan menteri kehakiman negara tuan rumah, perdana
menteri dan penasihat hukum kerajaan. Diduga, Ratu beatrix juga
berperan lewat pembicaraannya dengan Raja Bhumibol. Tetapi isi
pembicaraan antara Ratu Belanda dengan Raja Thailand itu tidak ada
yang tahu dan tetap tersimpan dalam hati mereka.
Kendati kesepakatan belum diperkukuh dengan tanda tangan, namun
secara konkrit sudah membuahkan hasil, demikian tandas Menteri Bot.
Dua warga Belanda yang masing-masing dijatuhi hukuman penjara 40 dan
50 tahun, menerima keringanan hukuman dari Raja. Mereka diperkirakan
bebas dalam sepekan ini. Hukum mati terhadap dua warga Belanda
keturunan Tionghoa, diperringan menjadi penjara seumur hidup.
Sementara itu permohonan naik banding, Machiel Kuijt, napi Belanda
paling disorot belakangan ini akan dipercepat.
Di penjara Thailand, mendekam 15 narapidana Belanda. Kebanyakan
dihukum karena perdagangan narkoba. Thailand memang sedang
melancarkan operasi keras terhadap obat bius. Para narapidana
dijebloskan bergerombol dalam sel yang penuh sesak, pengap dan tidak
ada privasi. Dengan perjanjian ini maka narapidana bisa pulang ke
Belanda kalau sudah menjalani masa tahanan delapan tahun di Thailand.
Sisanya dihabiskan di Belanda berdasarkan standar yang berlaku di
Belanda.
Kebanyakan bisa langsung bebas, sesampainya di Belanda. Meskipun
pemerintah Belanda tidak langsung memberik kebebasan di Bandara
Schiphol. Belanda belajar dari kesalahan beberapa tahun lalu. Ketika
itu tahanan yang baru pulang dari dari Maroko, langsung dilepas di
bandara Schiphol. Kebijakan itu memicu amarah pemerintah Maroko.
Sanak saudara dua terpidana Belanda, di Thailand menamai kesepakatan
itu sebuah "berita fantastish." Salah satu ibu kandung mereka
menyebut keputusan grasi itu "keajaiban yang selama ini dinantikan".
Anggota parlemen Belanda partai Liberal VVD, Geert Wilders juga
menyambut gembira kemajuan ini seraya bertukas,"Kunjungan kenegaraan
adalah sebuah sarana pendobrak."
Narapidana Belanda harus menanti cukup lama untuk kesepakatan ini.
Jerman, negara-negara Skandinavia, Inggris, Prancis sudah lama
memiliki kesepakatan dengan Thailand soal narapidana. Selama ini
Belanda selalu berpegang pada prinsipnya sendiri. Bagi Belanda,
Thailand menerapkan hukuman yang jauh lebih berat daripada Belanda,
antara lain hukum mati. Kalau Belanda sampai membuat perjanjian
dengan Thailand maka Belanda secara tidak langsung mengakui sistim
hukum Thailand itu.
Belanda tadinya ingin kesepakatan itu dilakukan dalam tingkat Uni
Eropa dengan Thailand. Tetapi didasari pertimbangan pragmatik,
akhirnya prinsip harus mengalah. Menteri Luar Negeri Bot yang mantan
diplomat itu punya andil dalam pemecahan pragmatik ini.


* DIREKSI MANNESMANN MENGHADAP PENGADILAN

Proses peradilan terhadap mantan anggota direksi perusahaan
telekomunikasi Mannesmann di Jerman dimulai hari ini. Kasus tersebut
mengenai upah tinggi bagi para manajer perusahaan tersebut. Sekalipun
terlihat sekedar peradilan perdata belaka, sebenarnya kasus ini bisa
menguak banyak hal. Laporan koresponden Hans Verbeek dari Berlin.

Ini adalah peristiwa hukum ekonomi yang paling menarik dalam sejarah
Jerman. Bukan hanya karena melibatkan dana yang besar, tapi juga
direksi dunia usaha Jerman. Peradilan yang dilangsungkan di
pengadilan Dusseldorf ini memeriksa proses hasil pembelian perusahaan
telekomunikasi Mannesmann oleh perusahaan Britania Vodafone tahun
2000. Mannesmann dibeli dengan harga yang luar biasa tinggi, yaitu
190 milyar euro. Dan serunya sekitar 60 juta euro masuk ke kantong
direksi. Klaus Esser, manajer Mannesmann ketika itu, misalnya
mengambil keuntungan 30 juta euro dari penjualan tadi.

Klaus Esser bukan satu-satunya orang yang harus memberi
pertanggungjawaban di pengadilan atas komisi yang luar biasa besar
ini. Juga para anggota apa yang disebut Dewan Pengawas, yang
menyetujui pembayaran besar ini diseret ke pengadilan. Di antara
mereka antara lain Josef Ackermann, yang kini menjadi ketua direksi
bank swasta terbesar Eropa, yaitu Deutsche Bank. Tokoh lain yang
harus menghadap pengadilan adalah Klaus Zwickel, tokoh penting
serikat buruh. Zwickel pun menyetujui upah tinggi bagi manajemen.

Peradilan Dusseldorf dibuka dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa
Penuntut Umum. Para terdakwa yaitu enam anggota dewan pemantau
didakwa melakukan perbuatan melawan hukum untuk menguntungkan diri
sendiri yang mengakibatkan kerugian bagi pihak lain.

Tapi para terdakwa membantah tuduhan ini. Penjualan Mannesmann dengan
harga sebesar 190 milyar euro adalah hasil kerja keras Esser serta
rekan-rekannya. Usaha mereka memang membuahkan banyak keuntungan,
tidak hanya untuk perusahaan tapi juga bagi para pemegang saham yang
kini dapat menjual sahamnya ke Vodafone dengan laba besar. Upaya
keras ini layak dihargai dengan upah besar. Demikian alasan yang
diberikan para terdakwa.

Josef Ackermann asal Swiss tidak bisa mengerti mengapa ia diseret ke
pengadilan. "Jerman adalah satu-satunya negara di mana orang sukses
harus menghadap pengadilan. Demikian tandas Ackermann pada awal
proses. Upah ataupun komisi tinggi dianggap biasa saja di
negara-negara seperti Britania Raya atau Amerika Serikat. Menurut
Ackermann, pengambilan tindakan keras terhadap para manajer sangat
tidak menguntungkan posisi saing internasional Jerman. Banyak pakar
ekonomi sependapat dengan Ackermann. Apabila jaksa penuntut bisa
membuktikan mereka bersalah, maka para terdakwa bisa dijatuhi hukuman
penjara maksimal sepuluh tahun. Dan ini tentu saja bisa merupakan
akhir karir bagi Ackermann dan kawan-kawan.

Tapi Ackermann tampaknya penuh rasa percaya diri. Ia tampil dengan
senyuman lebar pada hari pertama proses peradilan dan dengan senang
hati difoto dan difilm oleh media yang datang beramai-ramai. Karena
tampil begitu percaya diri, maka harian-harian Jerman menamakannya
sebagai Ackermann Show.

Sikap percaya diri ini sebenarnya layak saja. Menurut para pakar
hukum kemungkinan besar Ackermann serta rekan-rekannya akhirnya
dibebaskan dari tuduhan. Yang dipertanyakan dalam proses ini bukan
pertanyaan moral apakah upah-upah sebesar itu diperbolehkan, tapi
apakah perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang dapat dinyatakan
melawan hukum dan bisa dijatuhkan sangsi atasnya.

Tapi bahkan apabila para terdakwa dibebaskan dari dakwaan, proses
peradilan tidak sia-sia. Yang pasti di masa mendatang aspek-aspek
moral dunia usaha Jerman perlu dipertimbangkan juga, apabila
menyangkut pembayaran upah bagi top manajernya.


* BISAKAH PEMINDAHAN NARAPIDANA GAM KE JAWA MEMUTUSKAN IDEOLOGI ACEH
MERDEKA ?

"Untuk memutuskan ideologi!" Begitu pemikiran Jakarta ketika
memutuskan untuk memindahkan narapidana Gerakan Aceh Merdeka, GAM,
dari penjaranya di Aceh ke penjara di pulau Jawa. Mereka yang
dipindahkan adalah kelompok yang mendapat putusan hukuman penjara di
atas tiga tahun. Rata-rata anggota GAM tersebut diputus bersalah
melakukan makar terhadap republik Indonesia. Tetapi pemerintah
Jakarta mungkin juga lupa sebuah pepatah yang mengatakan: kita bisa
membunuh orang tapi tidak bisa membunuh ideologi. Jadi artinya
sekalipun mereka dibuang ke Jawa belum tentu bisa mengubur ideologi.
Muzakir, penggiat HAM di Aceh mengingatkan bahwa Daud Beureueh dulu
pun pernah diasingkan di Jakarta. Tapi itu tidak dapat memadamkan
ideologi Aceh merdeka, tambah Muzakir.

Muzakir [M]: Dua alasan pemindahan ke sana, satu penjara di Aceh
sudah penuh. Alasan kedua untuk memutuskan ideologi. Dan kalau di
pindah ke Jawa ada efek samping. Itu keluarga mereka akan jauh.
Mungkin bagi GAM itu semacam pembuangan bagi mereka. Menurut mereka,
itu bisa juga di Aceh.

Radio Nederland [RN]: Yang menariknya pemilihan Jawa. Jawa sepertinya
momok buat GAM?

M: Saya kutib pendapat juru bicara PDMD yang mengatakan ada alasan
ketiga, yaitu para pemimpin GAM sering mengatakan pada anak buah
bahwa di Jawa itu orangnya tidak baik. Orang jahat. Jadi dengan
dipindahkan ke Jawa diharapkan orang GAM itu akan mengerti orang Jawa
dan budaya Jawa. Budaya Jawa tidak seperti yang GAM bayangkan.

RN: Jadi motifnya tidak sekedar tidak ada tempat atau penjaranya
kurang bagus, tapi ada motif politik dan budaya?

M: Saya kira demikian, tapi dulu panglima GAM wilayah Peureulak, dia
ditahan tidak di Aceh, di Sumatra Utara. Kemudian dia bebas dia
kembali ke GAM lagi. Jadi GAM ditahan di luar Aceh itu bukan yang
pertama.

RN: Justru itu. Kenapa tidak ditahan di Sumatra saja? Isador ditahan
di luar Aceh tidak berhasil dipisah dari akarnya.

M: Ada ucapan; kita bisa membunuh orang tapi belum tentu bisa
membunuh ideologi. Ideologi sebagai sasaran itu susah bisa berubah.
Kemarin saya jumpa orang GAM. Katanya semakin GAM dikasari, dia tidak
kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Dia akan semakin dendam. Saya lihat
yang dibawa ke hercules itu berwajah tegang dan timbul kebencian
kayaknya. Tidak ada senyum sedikitpun.

RN: Seperti anda katakan: dipisahkan dari lingkungannya, dari
ideologinya di Aceh, dari keluarganya. Itu kan benar-benar berusaha
memutus. Dan belum lagi di Jawa mereka itu dipecah-pecah lagi.
Seberapa jauh ideologi itu bisa bertahan menurut anda?

M: Sulit menjawabnya, karena juga ada negosiator GAM, setelah divonis
20 tahun lalu mendapat amnesti, dia bebas. Setelah 20 tahun kembali
lagi ke GAM. Dia GAM tahun 76, kemudian tahun 80 an dia dihukum 15
atau 20 tahun, setelah masa tahanan dia kembali lagi ke GAM sebagai
anggota juru runding. Artinya penjara bukan jaminan dia tidak kembali
ke GAM.

RN: Dia ditahan di penjara di Jawa?

M: Tidak di Banda Aceh.

RN: Justru itu. Karena mungkin TNI belajar dari pengalaman
orang-orang GAM yang ditahan di Aceh atau Sumatra nampaknya tidak
bisa putus ideologinya. Oleh karena itu harus ditahan di Jawa.

M: Ini baru pertama kali GAM dari Aceh dibawa ke Jawa

RN: Dibawa ke Jawa diharapkan ratusan orang GAM bisa berubah
ideologinya. Atau paling tidak merasa asing atau diasingkan?

M: Mungkin ke arah sana. Mereka lupa dengan tanahnya. Mungkin
demikian. Namun juga Daud Beureuh tahun 70 juga dibawa ke Jakarta
tapi tidak dipenjara, diberi rumah. Dia dipisah dari teman-temannya.
Namun setiap orang ketemu dia harus diseleksi dulu. Lalu dia kembali
ke Aceh timbul pemberontakan di Aceh.


* JANGAN PAKAI TNI DAN POLRI UNTUK MENANGKAN PEMILU

Kemarin, bertepatan dengan Tahun Baru Cina 2555 atau juga dikenal
dengan Imlek, masyarakat Tionghoa di Jakarta maupun di kota-kota lain
di Indonesia, nampak mendatangi vihara-vihara Budha. Di Jakarta yang
juga ramai didatangi ialah Vihara Budha Bhakti. Sedangkan sebagian
besar masyarakat Tionghoa ini selain melakukan kunjungan keluarga,
juga memenuhi mall-mall serta pasar swalayan yang besar. Di sana
mereka disuguhi atraksi barongsai dan sebagainya. Tetapi bagaimana
perasaan masyarakat keturunan Tionghoa di Jakarta saat ini. Laporan
Jopie Lasut dari Jakarta.

Menurut Teddy Sulaksono seorang warga keturunan Tionghoa yang
bermukim di daerah pecinan Glodok Jakarta mengatakan situasi sekarang
sudah lebih baik ketimbang masa Soeharto. Namun masyarakat Tionghoa
di dearah Kota masih diperlakukan berbeda dibandingkan dengan
masyarakat Tionghoa yang tinggal di daerah pemukiman seperti di
Jakarta Selatan misalnya. "Kita di sini tetap saja merasa ditindas
meski Orde Baru telah berlalu".

Clips Teddy Sulaksono:
TEBAL MIRING

Demikian Teddy Sulaksono.

Dalam pada itu jika orang mengira bahwa pada hari raya Imlek tidak
akan ada kegiatan politik yang berarti maka orang pun akan kecewa.
Namun di Taman Mini Indonesia Indah, Ketua Aliansi Penyelamat
Indonesia Noegroho Djayoesman sibuk berorasi. Dia memprediksi Pemilu
2004 akan berbuah kegagalan dan kepemimpinan hasil Pemilu 2004
dinilai tidak akan kuat. Meski menegaskan tidak akan mengambil alih
kekuasaan bila pemilu kacau, namun ia berharap bisa berperan dalam
memberitahukan kepada rakyat jika terjadi ketidakjujuran,
ketidakadilan dan manipulasi angka.

Jenderal polisi yang sempat berkuasa semasa pemerintahan Habibie ini
dan dikabarkan ingin berkuasa kembali itu sengaja mengambil tempat
yang strategis untuk berpidato. Yaitu di Taman Mini Indonesia Indah.
Masyarakat umum tahu bahwa tempat ini dibangun keluarga Soeharto yang
pernah ditopang Noegroho Djayoesman dan kawan-kawannya. Noegroho
popular di kalangan perwira Polri karena semasa mengikuti pendidikan
di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian aktif dalam penyerangan ke kampus
ITB Bandung. Ketika itu tokoh mahasiswa ITB saat itu, Renee Coenraad,
tewas. Tetapi situasi kini sudah berubah. Bukan hanya pihak
kepolisian yang mengelu-elukan Noegroho, juga para mantan aktivis
mahasiswa yang dahulu menentang Orde Baru dan Soeharto.

Noegroho dalam orasinya menyatakan, masyarakat tidak bisa berharap
bahwa kepemimpinan nasional yang lahir dalam proses Pemilu 2004 akan
kuat. Karena, Pemilu kali ini penuh carut marut dan dipenuhi siasat
licik untuk mengukuhkan status quo. Ditambahkannya pula bahwa Pemilu
2004 tidak akan melahirkan program yang dapat menyelesaikan krisis
yang berkepanjangan ini. Bukan hanya Jenderal Polisi yang mengeluh.
Ada juga jenderal pensiunan angkatan darat yang pesimis melihat
Pemilu mendatang. Hanya tempatnya berbeda. Yaitu di Hotel Indonesia
yang dahulu dibangun oleh Bung Karno, ayahnya Megawati.

Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono ketika berbicara di depan
Pemuda Pancamarga, suatu organisasi mantan pendukung Orde Baru,
mengatakan ada 3 hal yang bisa menggagalkan Pemilu. Politik uang,
kekerasan dan penyalahgunaan wewenang. Harus ada kepantasan dalam
penggunaan uang yang tidak jelas asal usulnya, karena nurani rakyat
bisa dibeli oleh uang. Sedangkan yang menyangkut kekerasan, SBY
kuatir justru akan berasal dari kalangan parpol.

Dan hal yang ketiga yang bisa mengancam pemilu ialah penyalahgunaan
wewenang untuk partai. Dan ini berlaku bagi bupati, Gubernur,
Presiden, Panglima TNI dan Kapolri. Jelas terlihat dari nadanya bahwa
SBY takut pihak yang berwewenang akan menggunakan kekuasaannya untuk
memenangkan partainya. Orang awam pun mahfum bahwa yang dimasudkan
SBY antara lain ialah agar Megawati tidak menggunakan kekuasaannya
untuk memakai TNI dan Polri dalam memenangkan PDI-P.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke