--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Senin 28 Februari 2005 14:50 UTC ** PASUKAN JEPANG HENTIKAN OPERASI BANTUAN DI ACEH ** MALAYSIA BERTINDAK TEGAS TERHADAP IMIGRAN GELAP ** LAGI-LAGI SERANGAN DI BAGHDAD ** TOPIK TINJAUAN PERS: GENCATAN SENJATA ISRAEL-PALESTINA GOYAH DAN SBY DIKRITIK NAMUN JUGA DIPUJI ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: WARGA LIBANON TURUN KE JALAN UNTUK MENGUSIR SURIAH ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: MENANTI REVOLUSI DI KIRGIZIA DAN TAJIKISTAN ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KONGRES AS MASIH BISA TOLAK PROGRAM LATIHAN MILITER UNTUK INDONESIA ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: LOBBY TIMOR TIMUR DI AMERIKA TETAP AKTIF MEMPROTES PEMULIHAN PROGRAM IMET * PASUKAN JEPANG HENTIKAN OPERASI BANTUAN DI ACEH Pasukan Jepang menghentikan operasi bantuan di Aceh. Sekitar 1000 militer Jepang ditarik mundur dalam dua pekan mendatang. Rumah sakit lapangan di ibukota propinsi Banda Aceh telah ditutup. Setelah gelombang pasang tsunami akhir Desember lalu, militer Jepang terutama dikerahkan untuk memvaksinasi anak-anak. Dalam hal ini mereka bekerja sama dengan organisasi anak-anak PBB, Unicef. * MALAYSIA BERTINDAK TEGAS TERHADAP IMIGRAN GELAP Pemerintah Malaysia mengambil tindakan tegas terhadap imigran gelap. Untuk itu Malaysia mengerahkan 300 ribu sukarelawan dalam melacak, menangkap dan memulangkan para imigran yang tidak memanfaatkan amnesti untuk meninggalkan negeri itu. Imigran gelap di Malaysia bisa dikenai denda dan ditahan sebelum dipulangkan. 300 ribu sukarelawan akan membantu tim pejabat imigrasi yang terdiri dari 600 orang. Malaysia mengalami kekurangan tenaga kerja di bidang bangunan, pabrik, perkebunan dan restoran, dan sangat bergantung pada pekerja murah dari Indonesia. Para majikan cemas situasi ini makin buruk akibat kampanye anti imigran gelap. * LAGI-LAGI SERANGAN DI BAGHDAD Sedikitnya 100 orang tewas dan 130 orang lainnya terluka dalam serangan bunuh diri di Baghdad Selatan. Sumber-sumber rumah sakit melaporkan banyak korban luka berada dalam keadaan kritis. Pelaku menabrak dan meledakkan mobilnya di sekelompok pegawai negeri di belakang balai kota Hilla. Pegawai Irak ini sedang menunggu di sebuah pos medis di belakang balai kota untuk pemeriksaan kesehatan. * DEMONSTRASI MASSAL DI BEIRUT Sepuluhribuan orang berdemonstrasi di pusat ibukota Libanon, Beirut, memprotes pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafik Hariri dua pekan lalu dan campur tangan negara tetangga Suriah dalam urusan Libanon. Para demonstran melanggar larangan berdemonstrasi yang diumumkan pemerintah. Oposisi Libanon juga mengimbau warganya agar ikut aksi mogok satu hari, sementara parlemen berdebat soal pembunuhan Hariri. Oposisi menilai pembunuhan Hariri cukup untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah. Banyak orang menilai Suriah bertanggung jawab atas serangan itu. * AS LUNCURKAN STASIUN TELEVISI BAGI MUSLIM DI EROPA Tahun ini pemerintah Amerika ingin menayangkan acara-acara televisi berbahasa Arab bagi warga Muslim di Eropa, melalui satelit. Dengan pemancar televisi sendiri yang dinamakan al-Hurra, Amerika Serikat ingin menyebarkan nilai-nilai Amerika seperti kebebasan berpendapat serta debat terbuka antara warga Muslim di Eropa. Pemancar televisi ini merupakan senjata dalam pemberantasan terorisme Muslim. Amerika Serikat menilai Eropa sebagai sarang terorisme, karena banyak pelaku serangan 11 September berasal dari benua ini. Pemancar televisi baru juga dimaksud sebagai saingan pemancar televisi internasional berbahasa Arab al-Jazeera yang menurut Washington anti Amerika. Setelah persetujuan Kongres maka Al-Hurra sudah bisa mengudara akhir tahun ini. * OSCAR BAGI MILLION DOLLAR BABY Pada upacara Oscar di Kodak Theatre Hollywood, film Million Dollar Baby berhasil merebut hadiah terpenting industri film Amerika itu. Million Dollar Baby merupakan film terbaik. Clint Eastwood, yang menyutradarai film tersebut untuk kedua kalinya dianugerahi hadiah Oscar sebagai sutradara terbaik. Aktris Hillary Swank,aktor Morgan Freeman serta bekas juara kickboxing asal Belanda, Lucia Rijker pun dianugerahi piala Oscar. Sementara Jamie Foxx merebut Oscar untuk film Ray mengenai penyanyi buta terkenal Amerika Ray Charles. Cate Blanchett asal Australia dianugerahi Oscar untuk peranannya dalam film The Aviator. Pada film ini Blanchett berperan sebagai diva Hollywood Katharine Hepburn. Film asing terbaik adalah Mar adentro yang disutradarai Alejandro Amenabar asal Spanyol. * MANTAN DIKTATOR IKUT PEMILU REPUBLIK AFRIKA TENGAH Ribuan orang menyambut kembalinya mantan diktator Andre Kolingba ke Republik Afrika Tengah. Dalam dua pekan mendatang Kolingba ikut pemilihan presiden negeri itu. Kolingba berkuasa tahun 1981 setelah kudeta. Setelah menyepakati penerapan kembali demokrasi, Kolingba kalah pemilu dari Ange-Felix Patasse. Kolingba kemudian bertolak ke Prancis. Patasse memimpin negeri itu sampai tahun 2003 ketika ia dilengserkan presiden yang sekarang, Francois Bozize. Bozize menjanjikan pemilu baru yang setelah dua kali mengalami penundaan, akhirnya digelar 13 Maret mendatang. Bozize adalah salah satu dari sebelas calon. * SEPEREMPAT PENELITI UNIVERSITAS BELANDA DARI LUAR NEGERI Hampir seperempat peneliti pada pelbagai universitas Belanda berasal dari luar negeri. Jumlah warga asing paling besar dalam kelompok peneliti muda jurusan teknik. Universitas Teknik Eindhoven memperkirakan tigaperempat penelitinya berasal dari luar negeri. Dua pertiga berasal dari negara-negara Eropa. Menurut sebuah biro penyelidik di Leiden, setelah meraih gelar, mayoritas peneliti akan pulang ke negeri asal dalam lima tahun. * BERITA BURSA Bursa-bursa saham Eropa dibuka positif hari ini. Sejam setelah dibuka, Indeks AEX di Amsterdam naik 0,55% mencatat 376,60 poin. Satu euro bernilai 1,3265 dolar sen. Juga bursa saham di Asia ditutup positif. Indeks Nikkei di Tokyo naik 0,7% ditutup pada titik 11.740,60 poin. Bursa Seoul naik 1,45%, dan Hongkong naik 0,3%. * GENCATAN SENJATA ISRAEL-PALESTINA GOYAH DAN SBY DIKRITIK NAMUN JUGA DIPUJI Israel menunda penyerahan kota-kota Palestina dan perundingan pembebasan tahanan Palestina. Ini menyusul serangan teror Jum'at pekan lalu yang menewaskan empat orang dan mencederai 60 orang. Menurut Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, proses damai tidak akan berhasil apabila pemerintah Palestina tidak bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok militan. Tapi menurut Palestina, pemerintah Palestina baru saja dilantik, dan para menteri membutuhkan waktu menerapkan pelbagai perubahan. Menurut de Volkskrant dinas intelijen Palestina bisa butuh waktu sampai setahun sebelum bisa berfungsi sepenuhnya. Penasehat Perdana Menteri Sharon, Raanan Gissin menuduh Palestina sangat lalai. Pemerintah Palestina tidak berbuat apa pun. 'Mereka hanya menangkap beberapa orang saja dan kemudian membebaskannya lagi. Apabila mereka tidak berbuat apa-apa, maka kami harus melindungi sendiri warga kami.' Demikian Gissin. Tapi hal ini bisa membahayakan gencatan senjata. Untuk sementara dua belah pihak tampaknya tidak ingin mengambil resiko. Demikian tulis harian pagi De Volkskrant. Dari Timur Tengah kita beralih ke Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah empat kali berkunjung ke Aceh, setelah gempa dan gelombang pasang tsunami menghantam kawasan tersebut. Langkah ini banyak dipuji masyarakat Indonesia. Demikian tulis harian Amerika The Washington Post. Tapi menurut analis politik dan komentator ini tidaklah cukup. Mereka menilai SBY terlalu kaku dan berpakaian terlalu resmi. SBY berpakaian untuk sebuah acara resmi ketimbang operasi bantuan. Dalam kunjungannya SBY mengenakan kemeja formal berlengan panjang, sesuatu yang kurang layak melihat keadaan di Aceh. Demikian The Washington Post. Menurut para pengkritik SBY tidak memanfaatkan kesempatan emas untuk menunjukkan pemerintah barunya mampu menangani situasi ini. Mereka menilai SBY gagal menetapkan kebijakan yang jelas dalam pembangunan kembali Aceh. Sedikitnya 120 ribu orang Aceh tewas akibat tsunami dan lebih banyak lagi kehilangan rumah. SBY misalnya menimbulkan kebingungan soal siapa yang akan harus memimpin operasi bantuan di Aceh. Dua bulan setelah bencana, masih banyak ketidakjelasan dalam koordinasi antar pelbagai departemen, lembaga amal swasta dan pelbagai organisasi internasional. Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang memimpin operasi bantuan. Masyarakat butuh presiden yang bisa mengambil keputusan. Demikian tulis harian Amerika The Washington Post. Menurut para analis, SBY seharusnya mengikuti contoh mantan Walikota New York, Rudolph Giuliani yang memimpin operasi penyelamatan kota tersebut menyusul serangan 11 September 2001. Atau Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra yang berbeda dari SBY, memanfaatkan kesempatan emas dalam bencana tsunami. Tapi Giulinani dan Thaksin tidak terkenal di Indonesia, yang pada umumnya mendukung SBY. Jajak pendapat Januari lalu menunjukkan, 80% warga Indonesia puas dengan cara SBY menangani krisis Aceh. Jajak pendapat bulan ini menunjukkan hasil yang sama. Hasil positif ini berarti, masyarakat menilai penting beberapa kali kehadiran SBY di propinsi. Kunjungan SBY di Aceh banyak disorot media. Demikian The Washington Post. Tapi SBY tidak hanya dapat dukungan saja. Para diplomat asing juga menilai positif langkah-langkah Presiden RI. Dalam hari-hari setelah bencana, SBY mengundang pasukan militer asing untuk membantu dalam operasi bantuan di Aceh, yang selama itu ditutup bagi pihak asing. Demikian tulis The Washington Post. Dan demikian pula Ulasan Pers kali ini. * WARGA LIBANON TURUN KE JALAN UNTUK MENGUSIR SURIAH Hari ini, ribuan orang berdemonstrasi di Beirut, ibukota Libanon, meneriakkan yel-yel Suriah Pergi. Demontrasi massal ini terjadi dua minggu setelah pembunuhan mantan perdana menteri Libanon Rafik Hariri. Pembunuhannya membangkitkan seruan supaya Suriah mengendorkan ketatnya kendalinya terhadap pemerintahan Libanon. Sekarang kalangan oposisi dalam parlemen Libanon menggalang kekuatan untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah Libanon yang dinilai terlalu pro-Suriah. Tapi apakah meningkatnya perlawanan ini bisa mencapai sesuatu. Berikut penjelasan Nayala Moawad, politikus dan anggota parlemen Libanon yang menentang pemerintah negeri itu. Menurut Nayala Moawad saat ini rakyat Libanon sedang dilanda apa yang dinamakan pemberontakan untuk kemerdekaan. Siang malam dilangsungkan aksi-aksi protes di Alun-Alun Syuhada, tempat di mana mantan Perdana Menteri Rafik Hariri dibunuh 14 Februari lalu. Ia juga dimakamkan di lapangan tersebut, sehingga makamnya dan seluruh lapangan menjadi simbol untuk kebebasan. Dalam waktu dekat, mungkin parlemen Libanon juga akan mengadakan pemungutan suara bagi mosi tidak percaya untuk menjatuhkan pemerintah Libanon sekarang. Para anggota oposisi telah berbulan-bulan menuntut sidang pleno parlemen, karena pemerintah Libanon bersikap seakan-akan tidak mau tahu. Dalam sidang pleno pemerintah Libanon dapat diminta pertanggung jawabannya dan juga meminta hasil penyelidikan pembunuhan Hariri. Lewat sidang pleno, parlemen ingin menekankan bahwa pemerintah Libanon bertanggung jawab secara politik atas pembunuhan Hariri. Sebelum pembunuhan pemerintah melancarkan kampanye menjelek-jelekkan pihak oposisi, yang dilakukan sejumlah tokoh penting pemerintah termasuk, menteri dalam negeri. Pihak oposisi dituduh pengkhianat negara dan merupakan sekutu Israel. Kampanye negatif terhadap pihak oposisi, pembunuhan Rafik Hariri dan bagaimana pemerintah Libanon menanggapi pembunuhan tersebut akhirnya mencetuskan proses massal ini. Pembunuhan Hariri dapat dikatakan sebagai katalisator untuk warga Libanon yang muak akan pemerintah sekarang, karena lebih merupakan kaki tangan pemerintah Suriah dan membawa negara itu ke situasi sekarang. Saat ini utang pemerintah Beirut menggunung, rakyat semakin miskin, jumlah warga kelas menengah semakin berkurang, generasi muda kebanyakan lari ke luar negeri, dan yang tidak kalah pentingnya harga diri serta kedaulatan terus dilanggar oleh dinas rahasia Suriah di Libanon yang bekerjasama erat dengan dinas rahasia Libanon. Walau pun Suriah berjanji menarik mundur pasukannya, sampai sekarang warga Libanon belum melihat perubahan apa-apa. Selain itu janji-janji penarikan mundur itu bukan hal baru, sebelumnya Suriah sudah enam kali berjanji akan menarik pasukannya dari Libanon, tetapi tidak terjadi apa-apa. Pasukan Suriah memang dipindahkan dari satu tempat di Libanon ke tempat lain di negeri itu, tetapi jumlah pasukannya tidak pernah berkurang. Pemerintah menyatakan demonstrasi warga Libanon hari ini ilegal. Tetapi Nayala Moawad menyatakan keputusan pemerintah mempertahankan pasukan Suriah itulah yang ilegal. Warga Libanon sendiri bebas menyatakan kehendaknya dan bebas untuk berkumpul. Warga Libanon jelas tidak takut terhadap seruan pemerintah bahwa demonstrasi mereka ilegal. Kalau takut, demikian Nayala Moawad, pasti mereka tidak akan datang dalam jumlah ribuan. Mereka juga tidak menghiraukan blokade yang dipasang kalangan militer. * MENANTI REVOLUSI DI KIRGIZIA DAN TAJIKISTAN Apakah revolusi oranye di Ukraina bisa membuahkan revolusi kuning di Kirgizia, bekas negara bagian Uni Sovyet yang lain? Pelbagai partai oposisi di negara di Asia Tengah yang berpenduduk 5 juta jiwa ini yakin, mereka akan mengikuti jejak Ukraina. Apabila tidak sekarang, mungkin tahun depan, ketika warga Kirgizia kembali memberikan suara untuk memilih presiden baru. Laporan koresonden Geert Groot Koerkamp dari Moskow: Pemilu parlemen Ahad lalu di Kirgizia berlangsung tanpa insiden berarti. Walau begitu gerakan oposisi "Ibu Pertiwi" pimpinan Roza Otunbayeva melaporkan kecurangan dalam jumlah besar. Calon-calon partai pemerintah seperti putri Presiden Askar Akayev yang bernama Bermet Akayeva, menekankan pemilu ini terbuka dan jujur. Menurut Akayeva tidak mungkin dilakukan penggelapan suara. Tetapi para pengamat internasional meragukan kadar demokrasi pemilu Kirgizia. Misalnya hasil pemilu sebagian besar sudah ditentukan oleh skandal korupsi dalam jumlah besar. Sewaktu kampanye pemilu terbukti ada banyak calon membeli suara. Di negara yang separoh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan ini, orang dengan mudah menentukan pilihan. Bersamaan dengan itu berbagai pemimpin oposisi terkemuka dilarang mencalonkan diri, alasannya ada saja. Ini menyebabkan rangkaian protes massal di berbagai kota. Bagi pihak yang berkuasa, hantu revolusi di Ukraina perlahan sudah berubah menjadi kenyataan. Tidak adanya kebebasan pers menutup kemungkinan pemilu yang jujur. Media oposisi yang independen hanya sedikit. Selain itu mereka ditindas oleh pemerintah. Siaran Radio Free Europe dalam bahasa Kirgizia ditutup pemerintah untuk waktu yang tidak ditentukan. Pers tidak bisa mencetak koran mereka di percetakan-percetakan yang ada, sehingga terpaksa pindah ke percetakan baru yang tidak dipengaruhi pemerintah dan didanai Amerika Serikat. Seminggu menjelang pemilu, pada saat puncak kampanye, aliran listrik ke percetakan tersebut dimatikan, sehingga proses percetakan terpaksa dihentikan. Atas pertolongan generator, akhirnya koran-koran tersebut masih bisa diterbitkan. Harian MSN yang berpengaruh juga ditindas secara pribadi oleh Presiden Akayev. Lewat televisi, Akayev menyatakan akan menyeret MSN yang merupakan lambang kebebasan pers di Kirgizia ke depan pengadilan dengan tuduhan memfitnah. Kepada warga Kirgizia Presiden Akayev berseru supaya mereka megikuti jejaknya. Ucapan sang presiden malah menyebabkan dukungan massal khalayak kepada MSN di ibukota Bishkek. Para demonstran secara demonstratif menutup mulut dengan pita perekat. Menurut pihak oposisi Kirgizia, pemilu parlemen ini adalah gladi resik untuk pemilu presiden, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan klan Presiden Akayev. Dalam beberapa bulan mendatang, pihak oposisi akan sekuat tenaga menentang legitimasi pemilu parlemen Ahad lalu. Situasi yang sama bisa dijumpai di negara tetangga Tajikistan. Presiden Emomali Rakhmonov sudah berkuasa selama lebih dari 10 tahun dan tidak berencana melepaskan kekuasaan begitu saja. Pihak oposisi Tajikistan juga ditindas pemerintah. Para pemimpin mereka ditahan atau tidak boleh ikut pemilu parlemen Ahad lalu. Calon-calon yang mampu menyaingi Presiden Rakhmonov sendiri sudah buru-buru disingkirkan. Klan Rakhmonov memerintah dengan tangan besi dan terus menindas oposisi, sehingga mereka tidak mampu lagi melakukan perubahan. Kecil kemungkinan akan pecah revolusi oranye atau kuning di Tajikistan. * KONGRES AS MASIH BISA TOLAK PROGRAM LATIHAN MILITER UNTUK INDONESIA Departemen Luar Negeri Amerika menyatakan akan membuka kembali program IMET, yaitu pelatihan para perwira TNI di Amerika. Rencana ini masih harus disetujui Kongres di Washington. Pada tahun 1992 Kongres Amerika membekukan program IMET, setelah ABRI menembaki para demonstran di makam Santa Cruz, Dili, Timor Timur, November 1991. Menurut Alfian Muthalib, dosen Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia, masih ada kemungkinan rencana Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice ini ditolak, apalagi karena Jakarta tidak punya tim pelobby di Kongres. Selain itu program pelatihan militer ini tidak banyak membantu, misalnya untuk pemberantasan terorisme. Menurutnya ini hanyalah metoda pendekatan baru Washington terhadap negara-negara yang tadinya terisolasi dari Amerika. Lebih lanjut berikut Alfian Muthalib kepada Radio Nederland. Alfian Muthalib (AM): Saya melihat begini, karena Amerika itu segala sesuatunya ditentukan oleh Kongres. Kalau pun Departemen Luar Negeri memberikan kelonggaran itu, tapi kemungkinan kecil bisa ditolak di Kongres. Masalahnya adalah pemerintah Indonesia tidak mempunyai kelompok-kelompok lobby untuk melobby di Kongres. Jadi kalau pendekatan hanya sepihak saja, kelihatannya sulit begitu yah untuk mendapatkan persetujuan Kongres. Radio Nederland (RN): Kendalanya ini selain kita tidak punya pelobby di Kongres, itu apalagi pak? AM: Saya kira itu yang paling penting. Karena kalau kita lihat negara-negara lain seperti Thailand, mereka mempunyai lobby-lobby tertentu yang bisa memperjuangkan itu. Apa pun yang dilakukan oleh Indonesia di dalam negeri ini, reformasi atau perlindungan hak-hak azasi manusia, tidak banyak menyentuh orang-orang di Kongres. Bukan soal tidak pernah diberitahu, saya kira cara penyampaiannya itu yang harus kita perbaiki. Jadi bagaimana public opini itu yang ada di Indonesia ini menjadi political opinion di Amerika sana. Itu harus melalui lawyer-lawyer yang ada di Kongres. Tapi biaya untuk memelihara lobby-lobby di Kongres kelihatannya sangat mahal begitu. RN: Tetapi pak, dorongan menteri Rice saja melihat kebijakan luar negeri Bush yang sekarang, apakah itu tidak menentukan juga? AM: Ini adalah suatu indikasi yang menunjukkan diktumnya menteri pertahanan (Donald) Rumsfeld: "we take friends, where we meets" (kita berteman, kalau kita bertemu, Red.) Jadi Amerika sudah mulai memperhatikan Indonesia. Kalau misalnya Amerika ingin membersihkan kawasan-kawasan ini dari sarang-sarang teroris internasional. Karena Indonesia ini termasuk daerah abu-abu. Artinya sikap terhadap terorisme masih mendua, masih ambigu. Nah kalau anda masih berada di daerah abu-abu, semua sanksi ekonomi, sanksi keamanan akan berlaku di daerah ini. Kalau misalnya Amerika tetap mempertahankan itu dan tidak memberikan bantuan apa-apa, bagaimana negara ini bisa mampu emmerangi terorisme internasional di daerahnya sendiri. Ini dilema security, quote unquote bagi pemerintah Amerika. RN: Berapa pentingnya sekarang pemberantasan terorisme di Indonesia di mata Amerika? AM: Oh saya kira masih mempunyai prioritas utama. Terorisme tidak dilihat dalam konteks mereka menyerang secara konvensional. Tapi kalau anda melihat bahwa ada negara-negara nuklir seperti Pakistan yang melontarkan pembuatan bom secara primitif, dan ada negara-negara lemah yang berusaha memiliki bom-bom tersebut. Dalam mana negara-negara lemah merupakan patron dari terorisme internasional, saya kira masalahnya makin bertambah ruwet sekarang. RN: Apakah training militer ini akan membantu? AM: Saya kira tidak sama sekali. Training tidak membantu military preparednes orang Indonesia. Jadi harus menyeluruh. Anggaran belanja pertahanan harus ditingkatkan, tingkat intelektual para serdadunya, latihan perang-perangan dan lain-lain. Jadi kalau hanya sedikit seperti ini saja, saya kira lebih baik ditolak saja. RN: Kerugiannya lebih banyak untuk Indonesia? AM: Saya kira tidak. Sebab mengembangkan medan perang itu bisa dilakukan secara lokal saja. RN: Tetapi mengapa menteri Rice mendesakkan hal ini? AM: Its a diplomacy! Rice sekarang mencoba untuk semua negara dirangkul, untuk masuk ke dalam scope-nya Amerika. Sehingga kordon saniter yang dibuatnya itu semuanya meluas dari Timur Tengah sampai ke Asia ini. Bahkan mungkin sampai ke Eropa, kalau kunjungan Bush kemarin ke Eropa saya kira. Ini adalah suatu pendekatan baru terhadap negara-negara yang tadinya mengalami isolasi, separasi dari Amerika. Sementara itu terorisme sudah merupakan suatu diktum umum. Apabila anda tidak membasminya, anda akan kena sanksi internasional. Demikian Alfian Muthalib, dosen Kajian Wilayah Amerika, Universitas Indonesia di Jakarta. * LOBBY TIMOR TIMUR DI AMERIKA TETAP AKTIF MEMPROTES PEMULIHAN PROGRAM IMET Intro: The State Department yaitu deplunya Amerika Serikat telah mengeluarkan rekomendasi untuk menghidupkan kembali program latihan militer perwira Indonesia di Amerika Serikat yang disebut sebagai IMET. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice menilai Indonesia terus bekerjasama dengan biro intelijen FBI dalam penyelidikan pembunuhan dua orang warga Amerika di Timika, Papua. Pada tahun 1992 Amerika menghentikan program IMET ini menyusul pembantaian para demonstran di makam Santa Cruz, Dili, Timor Timur, yang dilakukan ABRI pada bulan November 1991. Bagaimana komentar kalangan di Timor Timur sendiri terhadap keputusan pemerintah Amerika ini? Kami menghubungi Jose Luis de Oliviera dari Perhimpunan HAK di Dili, Timor Leste: Jose Luis de Oliviera [JLO]:Saya pikir ini sebuah tanda buruk bagi gerakan penegakan hak-hak azasi manusia dan juga gerakan untuk memutus rantai impunitas. Karena dengan dipulihkan lagi program IMET, saya pikir semacam memberi angin segar kepada militer Indonesia yang sebenarnya sampai dengan saat ini belum benar-benar akuntabel, belum benar-benar reformasilah. Sehingga bagi saya, saya pikir ini sebuah tanda buruk. Dan juga seperti sekarang di Timor Leste bahwa proses untuk meminta pertanggungjawaban pelaku kejahatan 1999 itu aja, sekarang bisa dibilang menemui tantangan berat karena kelihatannya angin politik masih tetap berpihak pada pelaku atau masih tetap meniup ke arah untuk melestarikan impunity. Dan ini sebuah tanda buruk, tidak saja bagi Timor Leste, tapi juga bagi demokrasi di Indonesia. Dan juga di dunia internasional, bahwa ini kelihatannya lingkaran impunitynya masih berputar begitu kuat. Radio Nederland [RN]: Bung Jose Luis, keputusan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice ini masih harus disetujui oleh Kongres Amerika, karena Kongres waktu itu mengeluarkan apa yang disebut sebagai amandemen Leahy yang melarang IMET itu. Menurut Anda, bagaimana, apakah ada kesempatannya Kongres bisa setuju? JLO: Ya, mungkin agak berat. Karena saya pikir persoalan IMET ini tidak semata-mata, juga menyangkut kasus Tim Tim. Tapi juga punya kaitan dengan beberapa kasus di Indonesia, terutama soal kejadian di Papua di mana kemudian beberapa anggota Kongres juga menyikapi sangat keras soal kasus ini. Sehingga saya pikir soal kans, saya kira tidak saja berada di pihak pemerintah, tapi juga ini yang menentukan itu juga kalangan anggota Kongres atau anggota parlemen bahwa ini masih ada beberapa peristiwa yang sebenarnya juga membuat kans pihak militer Indonesia, atau pihak pemerintah Amerika Serikat untuk memulihkan itu, menjadi berat. Karena ini menyangkut juga kasus di Papua. RN: Tapi bagaimana dengan lobi kalangan Timor Timur di Amerika? Apakah menurut Anda, mereka akan menerima usulan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice ini? JLO: Saya pikir memang kalau bicara soal lobi dari kalangan Timor Leste, saya kira ini memang kenyataannya sekarang kita sedang dalam posisi agak sedikit lemah, karena tidak banyak orang Timor yang sedang bekerja untuk isu-isu seperti ini. Orang-orang yang dulu pelobi orang Timor, itu sekarang sudah menjadi pejabat semua, di mana kemudian mereka juga sedang berpihak pada politik elit-elit. Sedangkan untuk kepentingan ini di Amerika, itu kan masih tetap diperjuangkan oleh teman-teman solidaritas di Amerika sendiri, itu ETAN yang dikoordinir oleh John Miller. Dan itu yang selama ini masih punya hubungan baik dengan kami di sini, terutama untuk gerakan untuk memutuskan rantai impunitas. Itu sebuah gerakan, tidak saja antara Amerika dan Timor Leste, tapi juga ini lintas negara, karena kelihatannya musuh-musuh hak-hak azasi manusia itu tidak saja di Indonesia, tetapi rezim-rezim yang dulu didukung oleh pemerintah Amerika. Sehingga saya kira ini Amerika sendiri gerakannya masih kuat walaupun masalah finansial sudah sangat lemah. Tapi komitmennya masih kuat. RN: Anda menyebut ETAN, lalu Anda menyebut masalah Papua yang juga memberatkan bagi Indonesia. Jadi tampaknya lobi kalangan yang memberatkan ini masih cukup lumayan dibandingkan dengan lobi pemerintah sendiri. Konon kabarnya pemerintah Indonesia tidak punya lobi sama sekali di Washington. JLO: Saya tidak tahu persis apa yang dilakukan oleh Kedutaan Indonesia di Washington, tapi saya pernah punya pengalaman bersama teman-teman ETAN, menemui beberapa staf Kongres untuk membahas isu ini. Jadi saya kira teman-teman di ETAN di Amerika masih tetap gigih melakukan pekerjaan lobi ini ke parlemen. Tapi saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Kedutaan Indonesia di Washington. Demikian Jose Luis de Oliviera dari Perhimpunan HAK di Dili, Timor Leste. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
