---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 28 Februari 2005 14:50 UTC



** PASUKAN JEPANG HENTIKAN OPERASI BANTUAN DI ACEH

** MALAYSIA BERTINDAK TEGAS TERHADAP IMIGRAN GELAP

** LAGI-LAGI SERANGAN DI BAGHDAD

** TOPIK TINJAUAN PERS: GENCATAN SENJATA ISRAEL-PALESTINA GOYAH DAN SBY 
DIKRITIK NAMUN JUGA DIPUJI

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: WARGA LIBANON TURUN KE JALAN UNTUK MENGUSIR 
SURIAH

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: MENANTI REVOLUSI DI KIRGIZIA DAN TAJIKISTAN

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KONGRES AS MASIH BISA TOLAK PROGRAM LATIHAN 
MILITER UNTUK INDONESIA

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: LOBBY TIMOR TIMUR DI AMERIKA TETAP AKTIF 
MEMPROTES PEMULIHAN PROGRAM IMET



* PASUKAN JEPANG HENTIKAN OPERASI BANTUAN DI ACEH

Pasukan Jepang  menghentikan operasi bantuan di Aceh. Sekitar 1000 militer 
Jepang ditarik mundur dalam dua pekan mendatang. Rumah sakit lapangan di 
ibukota propinsi Banda Aceh telah ditutup. Setelah gelombang pasang tsunami 
akhir Desember lalu, militer Jepang terutama dikerahkan untuk memvaksinasi 
anak-anak. Dalam hal ini mereka bekerja sama dengan organisasi anak-anak PBB, 
Unicef.


* MALAYSIA BERTINDAK TEGAS TERHADAP IMIGRAN GELAP

Pemerintah Malaysia mengambil tindakan tegas terhadap imigran gelap. Untuk itu 
Malaysia mengerahkan 300 ribu sukarelawan dalam melacak, menangkap dan 
memulangkan para imigran yang tidak memanfaatkan amnesti untuk meninggalkan 
negeri itu. Imigran gelap di Malaysia bisa dikenai denda dan ditahan sebelum 
dipulangkan. 300 ribu sukarelawan akan membantu tim pejabat imigrasi yang 
terdiri dari 600 orang. Malaysia mengalami kekurangan tenaga kerja di bidang 
bangunan, pabrik, perkebunan dan restoran, dan sangat bergantung pada pekerja 
murah dari Indonesia. Para majikan cemas situasi ini makin buruk akibat 
kampanye anti imigran gelap.


* LAGI-LAGI SERANGAN DI BAGHDAD

Sedikitnya 100 orang tewas dan 130 orang lainnya terluka dalam serangan bunuh 
diri di Baghdad Selatan. Sumber-sumber rumah sakit melaporkan banyak korban 
luka berada dalam keadaan kritis. Pelaku menabrak dan meledakkan mobilnya di 
sekelompok pegawai negeri di belakang balai kota Hilla. Pegawai Irak ini sedang 
menunggu di sebuah pos medis di belakang balai kota untuk pemeriksaan kesehatan.


* DEMONSTRASI MASSAL DI BEIRUT

Sepuluhribuan orang berdemonstrasi di pusat ibukota Libanon, Beirut, memprotes 
pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafik Hariri dua pekan lalu dan campur tangan 
negara tetangga Suriah dalam urusan Libanon. Para demonstran melanggar larangan 
berdemonstrasi yang diumumkan pemerintah. Oposisi Libanon juga mengimbau 
warganya agar ikut aksi mogok satu hari, sementara parlemen berdebat soal 
pembunuhan Hariri. Oposisi menilai pembunuhan Hariri cukup untuk mengajukan 
mosi tidak percaya terhadap pemerintah. Banyak orang menilai Suriah bertanggung 
jawab atas serangan itu.


* AS LUNCURKAN STASIUN TELEVISI BAGI MUSLIM DI EROPA

Tahun ini pemerintah Amerika ingin menayangkan acara-acara televisi berbahasa 
Arab bagi warga Muslim di Eropa, melalui satelit. Dengan pemancar televisi 
sendiri yang dinamakan al-Hurra, Amerika Serikat ingin menyebarkan nilai-nilai 
Amerika seperti kebebasan berpendapat serta debat terbuka antara warga Muslim 
di Eropa. Pemancar televisi ini merupakan senjata dalam pemberantasan terorisme 
Muslim. Amerika Serikat menilai Eropa sebagai sarang terorisme, karena banyak 
pelaku serangan 11 September berasal dari benua ini. Pemancar televisi baru 
juga dimaksud sebagai saingan pemancar televisi internasional berbahasa Arab 
al-Jazeera yang menurut Washington anti Amerika. Setelah persetujuan Kongres 
maka Al-Hurra sudah bisa mengudara akhir tahun ini.


* OSCAR BAGI MILLION DOLLAR BABY

Pada upacara Oscar di Kodak Theatre Hollywood, film Million Dollar Baby 
berhasil merebut hadiah terpenting industri film Amerika itu. Million Dollar 
Baby merupakan film terbaik. Clint Eastwood, yang menyutradarai film tersebut 
untuk kedua kalinya dianugerahi hadiah Oscar sebagai sutradara terbaik. Aktris 
Hillary Swank,aktor Morgan Freeman serta bekas juara kickboxing asal Belanda, 
Lucia Rijker pun dianugerahi piala Oscar. Sementara Jamie Foxx merebut Oscar 
untuk film Ray mengenai penyanyi buta terkenal Amerika Ray Charles. Cate 
Blanchett asal Australia dianugerahi Oscar untuk peranannya dalam film The 
Aviator. Pada film ini Blanchett berperan sebagai diva Hollywood Katharine 
Hepburn. Film asing terbaik adalah Mar adentro yang disutradarai Alejandro 
Amenabar asal Spanyol.


* MANTAN DIKTATOR IKUT PEMILU REPUBLIK AFRIKA TENGAH

Ribuan orang menyambut kembalinya mantan diktator Andre Kolingba ke Republik 
Afrika Tengah. Dalam dua pekan mendatang Kolingba ikut pemilihan presiden 
negeri itu. Kolingba berkuasa tahun 1981 setelah kudeta. Setelah menyepakati 
penerapan kembali demokrasi, Kolingba kalah pemilu dari Ange-Felix Patasse. 
Kolingba kemudian bertolak ke Prancis. Patasse memimpin negeri itu sampai tahun 
2003 ketika ia dilengserkan presiden yang sekarang, Francois Bozize. Bozize 
menjanjikan pemilu baru yang setelah dua kali mengalami penundaan, akhirnya 
digelar 13 Maret mendatang. Bozize adalah salah satu dari sebelas calon.


* SEPEREMPAT PENELITI UNIVERSITAS BELANDA DARI LUAR NEGERI

Hampir seperempat peneliti pada pelbagai universitas Belanda berasal dari luar 
negeri. Jumlah warga asing paling besar dalam kelompok peneliti muda jurusan 
teknik. Universitas Teknik Eindhoven memperkirakan tigaperempat penelitinya 
berasal dari luar negeri. Dua pertiga berasal dari negara-negara Eropa. Menurut 
sebuah biro penyelidik di Leiden, setelah meraih gelar, mayoritas peneliti akan 
pulang ke negeri asal dalam lima tahun.


* BERITA BURSA

Bursa-bursa saham Eropa dibuka positif hari ini. Sejam setelah dibuka, Indeks 
AEX di Amsterdam naik 0,55% mencatat 376,60 poin. Satu euro bernilai 1,3265 
dolar sen. 

Juga bursa saham di Asia ditutup positif. Indeks Nikkei di Tokyo naik 0,7% 
ditutup pada titik 11.740,60 poin. Bursa Seoul naik 1,45%, dan Hongkong naik 
0,3%.


* GENCATAN SENJATA ISRAEL-PALESTINA GOYAH DAN SBY DIKRITIK NAMUN JUGA DIPUJI

Israel menunda penyerahan kota-kota Palestina dan perundingan pembebasan 
tahanan Palestina. Ini menyusul serangan teror Jum'at pekan lalu yang 
menewaskan empat orang dan mencederai 60 orang. Menurut Perdana Menteri Israel 
Ariel Sharon, proses damai tidak akan berhasil apabila pemerintah Palestina 
tidak bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok militan. Tapi menurut 
Palestina, pemerintah Palestina baru saja dilantik, dan para menteri 
membutuhkan waktu menerapkan pelbagai perubahan. Menurut de Volkskrant dinas 
intelijen Palestina bisa butuh waktu sampai setahun sebelum bisa berfungsi 
sepenuhnya. 

Penasehat Perdana Menteri Sharon, Raanan Gissin menuduh Palestina sangat lalai. 
Pemerintah Palestina tidak berbuat apa pun. 'Mereka hanya menangkap beberapa 
orang saja dan kemudian membebaskannya lagi. Apabila mereka tidak berbuat 
apa-apa, maka kami harus melindungi sendiri warga kami.' Demikian Gissin. Tapi 
hal ini bisa membahayakan gencatan senjata. Untuk sementara dua belah pihak 
tampaknya tidak ingin mengambil resiko. Demikian tulis harian pagi De 
Volkskrant. 

Dari Timur Tengah kita beralih ke Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
sudah empat kali berkunjung ke Aceh, setelah gempa dan gelombang pasang tsunami 
menghantam kawasan tersebut. Langkah ini banyak dipuji masyarakat Indonesia. 
Demikian tulis harian Amerika The Washington Post. 

Tapi menurut analis politik dan komentator ini tidaklah cukup. Mereka menilai 
SBY terlalu kaku dan berpakaian terlalu resmi. SBY berpakaian untuk sebuah 
acara resmi ketimbang operasi bantuan. Dalam kunjungannya SBY mengenakan kemeja 
formal berlengan panjang, sesuatu yang kurang layak melihat keadaan di Aceh. 
Demikian The Washington Post. Menurut para pengkritik SBY tidak memanfaatkan 
kesempatan emas untuk menunjukkan pemerintah barunya mampu menangani situasi 
ini. Mereka menilai SBY gagal menetapkan kebijakan yang jelas dalam pembangunan 
kembali Aceh. Sedikitnya 120 ribu orang Aceh tewas akibat tsunami dan lebih 
banyak lagi kehilangan rumah. 

SBY misalnya menimbulkan kebingungan soal siapa yang akan harus memimpin 
operasi bantuan di Aceh. Dua bulan setelah bencana, masih banyak ketidakjelasan 
dalam koordinasi antar pelbagai departemen, lembaga amal swasta dan pelbagai 
organisasi internasional. Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab dan siapa 
yang memimpin operasi bantuan. Masyarakat butuh presiden yang bisa mengambil 
keputusan. Demikian tulis harian Amerika  The Washington Post.

Menurut para analis, SBY seharusnya mengikuti contoh mantan Walikota New York, 
Rudolph Giuliani yang memimpin operasi penyelamatan kota tersebut menyusul 
serangan 11 September 2001. Atau Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra 
yang berbeda dari SBY, memanfaatkan kesempatan emas dalam bencana tsunami. Tapi 
Giulinani dan Thaksin tidak terkenal di Indonesia, yang pada umumnya mendukung 
SBY. Jajak pendapat Januari lalu menunjukkan, 80% warga Indonesia puas dengan 
cara SBY menangani krisis Aceh. Jajak pendapat bulan ini menunjukkan hasil yang 
sama. Hasil positif ini berarti, masyarakat menilai penting beberapa kali 
kehadiran SBY di propinsi. Kunjungan SBY di Aceh banyak disorot media. Demikian 
The Washington Post.

Tapi SBY tidak hanya dapat dukungan saja. Para diplomat asing juga menilai 
positif langkah-langkah Presiden RI. Dalam hari-hari setelah bencana, SBY 
mengundang pasukan militer asing untuk membantu dalam operasi bantuan di Aceh, 
yang selama itu ditutup bagi pihak asing. Demikian tulis The Washington Post. 

Dan demikian pula Ulasan Pers kali ini.


* WARGA LIBANON TURUN KE JALAN UNTUK MENGUSIR SURIAH

Hari ini, ribuan orang berdemonstrasi di Beirut, ibukota Libanon, meneriakkan 
yel-yel Suriah Pergi. Demontrasi massal ini terjadi dua minggu setelah 
pembunuhan mantan perdana menteri Libanon Rafik Hariri. Pembunuhannya 
membangkitkan seruan supaya Suriah mengendorkan ketatnya kendalinya terhadap 
pemerintahan Libanon. Sekarang kalangan oposisi dalam parlemen Libanon 
menggalang kekuatan untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah 
Libanon yang dinilai terlalu pro-Suriah. Tapi apakah meningkatnya perlawanan 
ini bisa mencapai sesuatu. Berikut penjelasan Nayala Moawad, politikus dan 
anggota parlemen Libanon yang menentang pemerintah negeri itu.

Menurut Nayala Moawad saat ini rakyat Libanon sedang dilanda apa yang dinamakan 
pemberontakan untuk kemerdekaan. Siang malam dilangsungkan aksi-aksi protes di 
Alun-Alun Syuhada, tempat di mana mantan Perdana Menteri Rafik Hariri dibunuh 
14 Februari lalu. Ia juga dimakamkan di lapangan tersebut, sehingga makamnya 
dan seluruh lapangan menjadi simbol untuk kebebasan. 

Dalam waktu dekat, mungkin parlemen Libanon juga akan mengadakan pemungutan 
suara bagi mosi tidak percaya untuk menjatuhkan pemerintah Libanon sekarang. 
Para anggota oposisi telah berbulan-bulan menuntut sidang pleno parlemen, 
karena pemerintah Libanon bersikap seakan-akan tidak mau tahu. Dalam sidang 
pleno pemerintah Libanon dapat diminta pertanggung jawabannya dan juga meminta 
hasil penyelidikan pembunuhan Hariri. Lewat sidang pleno, parlemen ingin 
menekankan bahwa pemerintah Libanon bertanggung jawab secara politik atas 
pembunuhan Hariri. Sebelum pembunuhan pemerintah melancarkan kampanye 
menjelek-jelekkan pihak oposisi, yang dilakukan sejumlah tokoh penting 
pemerintah termasuk, menteri dalam negeri. Pihak oposisi dituduh pengkhianat 
negara dan merupakan sekutu Israel. 

Kampanye negatif terhadap pihak oposisi, pembunuhan Rafik Hariri dan bagaimana 
pemerintah Libanon menanggapi pembunuhan tersebut akhirnya mencetuskan proses 
massal ini. Pembunuhan Hariri dapat dikatakan sebagai katalisator untuk warga 
Libanon yang muak akan pemerintah sekarang, karena lebih merupakan kaki tangan 
pemerintah Suriah dan membawa negara itu ke situasi sekarang. Saat ini utang 
pemerintah Beirut menggunung, rakyat semakin miskin, jumlah warga kelas 
menengah semakin berkurang, generasi muda kebanyakan lari ke luar negeri, dan 
yang tidak kalah pentingnya harga diri serta kedaulatan terus dilanggar oleh 
dinas rahasia Suriah di Libanon yang bekerjasama erat dengan dinas rahasia 
Libanon. 

Walau pun Suriah berjanji menarik mundur pasukannya, sampai sekarang warga 
Libanon belum melihat perubahan apa-apa. Selain itu janji-janji penarikan 
mundur itu bukan hal baru, sebelumnya Suriah sudah enam kali berjanji akan 
menarik pasukannya dari Libanon, tetapi tidak terjadi apa-apa. Pasukan Suriah 
memang dipindahkan dari satu tempat di Libanon ke tempat lain di negeri itu, 
tetapi jumlah pasukannya tidak pernah berkurang. 

Pemerintah menyatakan demonstrasi warga Libanon hari ini ilegal. Tetapi Nayala 
Moawad menyatakan keputusan pemerintah mempertahankan pasukan Suriah itulah 
yang ilegal. Warga Libanon sendiri bebas menyatakan kehendaknya dan bebas untuk 
berkumpul. Warga Libanon jelas tidak takut terhadap seruan pemerintah bahwa 
demonstrasi mereka ilegal. Kalau takut, demikian Nayala Moawad, pasti mereka 
tidak akan datang dalam jumlah ribuan. Mereka juga tidak menghiraukan blokade 
yang dipasang kalangan militer.


* MENANTI REVOLUSI DI KIRGIZIA DAN TAJIKISTAN

Apakah revolusi oranye di Ukraina bisa membuahkan revolusi kuning di Kirgizia, 
bekas negara bagian Uni Sovyet yang lain? Pelbagai partai oposisi di negara di 
Asia Tengah yang berpenduduk 5 juta jiwa ini yakin, mereka akan mengikuti jejak 
Ukraina. Apabila tidak sekarang, mungkin tahun depan, ketika warga Kirgizia 
kembali memberikan suara untuk memilih presiden baru. Laporan koresonden Geert 
Groot Koerkamp dari Moskow:

Pemilu parlemen Ahad lalu di Kirgizia berlangsung tanpa insiden berarti. Walau 
begitu gerakan oposisi "Ibu Pertiwi" pimpinan Roza Otunbayeva melaporkan 
kecurangan dalam jumlah besar. Calon-calon partai pemerintah seperti putri 
Presiden Askar Akayev yang bernama Bermet Akayeva, menekankan pemilu ini 
terbuka dan jujur. Menurut Akayeva tidak mungkin dilakukan penggelapan suara.

Tetapi para pengamat internasional meragukan kadar demokrasi pemilu Kirgizia. 
Misalnya hasil pemilu sebagian besar sudah ditentukan oleh skandal korupsi 
dalam jumlah besar. Sewaktu kampanye pemilu terbukti ada banyak calon membeli 
suara. Di negara yang separoh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan ini, 
orang dengan mudah menentukan pilihan. Bersamaan dengan itu berbagai pemimpin 
oposisi terkemuka dilarang mencalonkan diri, alasannya ada saja. Ini 
menyebabkan rangkaian protes massal di berbagai kota. Bagi pihak yang berkuasa, 
hantu revolusi di Ukraina perlahan sudah berubah menjadi kenyataan.

Tidak adanya kebebasan pers menutup kemungkinan pemilu yang jujur. Media 
oposisi yang independen hanya sedikit. Selain itu mereka ditindas oleh 
pemerintah. Siaran Radio Free Europe dalam bahasa Kirgizia ditutup pemerintah 
untuk waktu yang tidak ditentukan. Pers tidak bisa mencetak koran mereka di 
percetakan-percetakan yang ada, sehingga terpaksa pindah ke percetakan baru 
yang tidak dipengaruhi pemerintah dan didanai Amerika Serikat. Seminggu 
menjelang pemilu, pada saat puncak kampanye, aliran listrik ke percetakan 
tersebut dimatikan, sehingga proses percetakan terpaksa dihentikan. Atas 
pertolongan generator, akhirnya koran-koran tersebut masih bisa diterbitkan. 
Harian MSN yang berpengaruh juga ditindas secara pribadi oleh Presiden Akayev. 
Lewat televisi, Akayev menyatakan akan menyeret MSN yang merupakan lambang 
kebebasan pers di Kirgizia ke depan pengadilan dengan tuduhan memfitnah. Kepada 
warga Kirgizia Presiden Akayev berseru supaya mereka megikuti jejaknya. Ucapan 
sang presiden malah menyebabkan dukungan massal khalayak kepada MSN di ibukota 
Bishkek. Para demonstran secara demonstratif menutup mulut dengan pita perekat.

Menurut pihak oposisi Kirgizia, pemilu parlemen ini adalah gladi resik untuk 
pemilu presiden, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan klan 
Presiden Akayev. Dalam beberapa bulan mendatang, pihak oposisi akan sekuat 
tenaga menentang legitimasi pemilu parlemen Ahad lalu.

Situasi yang sama bisa dijumpai di negara tetangga Tajikistan. Presiden Emomali 
Rakhmonov sudah berkuasa selama lebih dari 10 tahun dan tidak berencana 
melepaskan kekuasaan begitu saja. Pihak oposisi Tajikistan juga ditindas 
pemerintah. Para pemimpin mereka ditahan atau tidak boleh ikut pemilu parlemen 
Ahad lalu. Calon-calon yang mampu menyaingi Presiden Rakhmonov sendiri sudah 
buru-buru disingkirkan. Klan Rakhmonov memerintah dengan tangan besi dan terus 
menindas oposisi, sehingga mereka tidak mampu lagi melakukan perubahan. Kecil 
kemungkinan akan pecah revolusi oranye atau kuning di Tajikistan.


* KONGRES AS MASIH BISA TOLAK PROGRAM LATIHAN MILITER UNTUK INDONESIA

Departemen Luar Negeri Amerika menyatakan akan membuka kembali program IMET, 
yaitu pelatihan para perwira TNI di Amerika. Rencana ini masih harus disetujui 
Kongres di Washington. Pada tahun 1992 Kongres Amerika membekukan program IMET, 
setelah ABRI menembaki para demonstran di makam Santa Cruz, Dili, Timor Timur, 
November 1991. Menurut Alfian Muthalib, dosen Kajian Wilayah Amerika 
Universitas Indonesia, masih ada kemungkinan rencana Menteri Luar Negeri 
Condoleezza Rice ini ditolak, apalagi karena Jakarta tidak punya tim pelobby di 
Kongres. Selain itu program pelatihan militer ini tidak banyak membantu, 
misalnya untuk pemberantasan terorisme. Menurutnya ini hanyalah metoda 
pendekatan baru Washington terhadap negara-negara yang tadinya terisolasi dari 
Amerika. Lebih lanjut berikut Alfian Muthalib kepada Radio Nederland.


Alfian Muthalib (AM): Saya melihat begini, karena Amerika itu segala sesuatunya 
ditentukan oleh Kongres. Kalau pun Departemen Luar Negeri memberikan 
kelonggaran itu, tapi kemungkinan kecil bisa ditolak di Kongres. Masalahnya 
adalah pemerintah Indonesia tidak mempunyai kelompok-kelompok lobby untuk 
melobby di Kongres. Jadi kalau pendekatan hanya sepihak saja, kelihatannya 
sulit begitu yah untuk mendapatkan persetujuan Kongres.

Radio Nederland (RN): Kendalanya ini selain kita tidak punya pelobby di 
Kongres, itu apalagi pak?

AM: Saya kira itu yang paling penting. Karena kalau kita lihat negara-negara 
lain seperti Thailand, mereka mempunyai lobby-lobby tertentu yang bisa 
memperjuangkan itu. Apa pun yang dilakukan oleh Indonesia di dalam negeri ini, 
reformasi atau perlindungan hak-hak azasi manusia, tidak banyak menyentuh 
orang-orang di Kongres. Bukan soal tidak pernah diberitahu, saya kira cara 
penyampaiannya itu yang harus kita perbaiki. Jadi bagaimana public opini itu 
yang ada di Indonesia ini menjadi political opinion di Amerika sana. Itu harus 
melalui lawyer-lawyer yang ada di Kongres. Tapi biaya untuk memelihara 
lobby-lobby di Kongres kelihatannya sangat mahal begitu.

RN: Tetapi pak, dorongan menteri Rice saja melihat kebijakan luar negeri Bush 
yang sekarang, apakah itu tidak menentukan juga?

AM: Ini adalah suatu indikasi yang menunjukkan diktumnya menteri pertahanan 
(Donald) Rumsfeld: "we take friends, where we meets" (kita berteman, kalau kita 
bertemu, Red.) Jadi Amerika sudah mulai memperhatikan Indonesia. Kalau misalnya 
Amerika ingin membersihkan kawasan-kawasan ini dari sarang-sarang teroris 
internasional. Karena Indonesia ini termasuk daerah abu-abu. Artinya sikap 
terhadap terorisme masih mendua, masih ambigu. 

Nah kalau anda masih berada di daerah abu-abu, semua sanksi ekonomi, sanksi 
keamanan akan berlaku di daerah ini. Kalau misalnya Amerika tetap 
mempertahankan itu dan tidak memberikan bantuan apa-apa, bagaimana negara ini 
bisa mampu emmerangi terorisme internasional di daerahnya sendiri. Ini dilema 
security, quote unquote bagi pemerintah Amerika. 

RN: Berapa pentingnya sekarang pemberantasan terorisme di Indonesia di mata 
Amerika?

AM: Oh saya kira masih mempunyai prioritas utama. Terorisme tidak dilihat dalam 
konteks mereka menyerang secara konvensional. Tapi kalau anda melihat bahwa ada 
negara-negara nuklir seperti Pakistan yang melontarkan pembuatan bom secara 
primitif, dan ada negara-negara lemah yang berusaha memiliki bom-bom tersebut. 
Dalam mana negara-negara lemah merupakan patron dari terorisme internasional, 
saya kira masalahnya makin bertambah ruwet sekarang.

RN: Apakah training militer ini akan membantu?

AM: Saya kira tidak sama sekali. Training tidak membantu military preparednes 
orang Indonesia. Jadi harus menyeluruh. Anggaran belanja pertahanan harus 
ditingkatkan, tingkat intelektual para serdadunya, latihan perang-perangan dan 
lain-lain. Jadi kalau hanya sedikit seperti ini saja, saya kira lebih baik 
ditolak saja.

RN: Kerugiannya lebih banyak untuk Indonesia?

AM: Saya kira tidak. Sebab mengembangkan medan perang itu bisa dilakukan secara 
lokal saja.

RN: Tetapi mengapa menteri Rice mendesakkan hal ini?

AM: Its a diplomacy! Rice sekarang mencoba untuk semua negara dirangkul, untuk 
masuk ke dalam scope-nya Amerika. Sehingga kordon saniter yang dibuatnya itu 
semuanya meluas dari Timur Tengah sampai ke Asia ini. Bahkan mungkin sampai ke 
Eropa, kalau kunjungan Bush kemarin ke Eropa saya kira. Ini adalah suatu 
pendekatan baru terhadap negara-negara yang tadinya mengalami isolasi, separasi 
dari Amerika. Sementara itu terorisme sudah merupakan suatu diktum umum. 
Apabila anda tidak membasminya, anda akan kena sanksi internasional.

Demikian Alfian Muthalib, dosen Kajian Wilayah Amerika, Universitas Indonesia 
di Jakarta.


* LOBBY TIMOR TIMUR DI AMERIKA TETAP AKTIF MEMPROTES PEMULIHAN PROGRAM IMET

Intro: The State Department yaitu deplunya Amerika Serikat telah mengeluarkan 
rekomendasi untuk menghidupkan kembali program latihan militer perwira 
Indonesia di Amerika Serikat yang disebut sebagai IMET. Menteri Luar Negeri 
Amerika Serikat Condoleezza Rice menilai Indonesia terus bekerjasama dengan 
biro intelijen FBI dalam penyelidikan pembunuhan dua orang warga Amerika di 
Timika, Papua. Pada tahun 1992 Amerika menghentikan program IMET ini menyusul 
pembantaian para demonstran di makam Santa Cruz, Dili, Timor Timur, yang 
dilakukan ABRI pada bulan November 1991. Bagaimana komentar kalangan di Timor 
Timur sendiri terhadap keputusan pemerintah Amerika ini? Kami menghubungi Jose 
Luis de Oliviera dari Perhimpunan HAK di Dili, Timor Leste:

Jose Luis de Oliviera [JLO]:Saya pikir ini sebuah tanda buruk bagi gerakan 
penegakan hak-hak azasi manusia dan juga gerakan untuk memutus rantai 
impunitas. Karena dengan dipulihkan lagi program IMET, saya pikir semacam 
memberi angin segar kepada militer Indonesia yang sebenarnya sampai dengan saat 
ini belum benar-benar akuntabel, belum benar-benar reformasilah. Sehingga bagi 
saya, saya pikir ini sebuah tanda buruk. 

Dan juga seperti sekarang di Timor Leste bahwa proses untuk meminta 
pertanggungjawaban pelaku kejahatan 1999 itu aja, sekarang bisa dibilang 
menemui tantangan berat karena kelihatannya angin politik masih tetap berpihak 
pada pelaku atau masih tetap meniup ke arah untuk melestarikan impunity. Dan 
ini sebuah tanda buruk, tidak saja bagi Timor Leste, tapi juga bagi demokrasi 
di Indonesia. Dan juga di dunia internasional, bahwa ini kelihatannya lingkaran 
impunitynya masih berputar begitu kuat. 

Radio Nederland [RN]: Bung Jose Luis, keputusan Menteri Luar Negeri Condoleezza 
Rice ini masih harus disetujui oleh Kongres Amerika, karena Kongres waktu itu 
mengeluarkan apa yang disebut sebagai amandemen Leahy yang melarang IMET itu. 
Menurut Anda, bagaimana, apakah ada kesempatannya Kongres bisa setuju?

JLO: Ya, mungkin agak berat. Karena saya pikir persoalan IMET ini tidak 
semata-mata, juga menyangkut kasus Tim Tim. Tapi juga punya kaitan dengan 
beberapa kasus di Indonesia, terutama soal kejadian di Papua di mana kemudian 
beberapa anggota Kongres juga menyikapi sangat keras soal kasus ini.

Sehingga saya pikir soal kans, saya kira tidak saja berada di pihak pemerintah, 
tapi juga ini yang menentukan itu juga kalangan anggota Kongres atau anggota 
parlemen bahwa ini masih ada beberapa peristiwa yang sebenarnya juga membuat 
kans pihak militer Indonesia, atau pihak pemerintah Amerika Serikat untuk 
memulihkan itu, menjadi berat. Karena ini menyangkut juga kasus di Papua. 

RN: Tapi bagaimana dengan lobi kalangan Timor Timur di Amerika? Apakah menurut 
Anda, mereka akan menerima usulan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice ini?

JLO: Saya pikir memang kalau bicara soal lobi dari kalangan Timor Leste, saya 
kira ini memang kenyataannya sekarang kita sedang dalam posisi agak sedikit 
lemah, karena tidak banyak orang Timor yang sedang bekerja untuk isu-isu 
seperti ini. Orang-orang yang dulu pelobi orang Timor, itu sekarang sudah 
menjadi pejabat semua, di mana kemudian mereka juga sedang berpihak pada 
politik elit-elit. Sedangkan untuk kepentingan ini di Amerika, itu kan masih 
tetap diperjuangkan oleh teman-teman solidaritas di Amerika sendiri, itu ETAN 
yang dikoordinir oleh John Miller. 

Dan itu yang selama ini masih punya hubungan baik dengan kami di sini, terutama 
untuk gerakan untuk memutuskan rantai impunitas. Itu sebuah gerakan, tidak saja 
antara Amerika dan Timor Leste, tapi juga ini lintas negara, karena 
kelihatannya musuh-musuh hak-hak azasi manusia itu tidak saja di Indonesia, 
tetapi rezim-rezim yang dulu didukung oleh pemerintah Amerika. Sehingga saya 
kira ini Amerika sendiri gerakannya masih kuat walaupun masalah finansial sudah 
sangat lemah. Tapi komitmennya masih kuat. 

RN: Anda menyebut ETAN, lalu Anda menyebut masalah Papua yang juga memberatkan 
bagi Indonesia. Jadi tampaknya lobi kalangan yang memberatkan ini masih cukup 
lumayan dibandingkan dengan lobi pemerintah sendiri. Konon kabarnya pemerintah 
Indonesia tidak punya lobi sama sekali di Washington. 

JLO: Saya tidak tahu persis apa yang dilakukan oleh Kedutaan Indonesia di 
Washington, tapi saya pernah punya pengalaman bersama teman-teman ETAN, menemui 
beberapa staf Kongres untuk membahas isu ini. Jadi saya kira teman-teman di 
ETAN di Amerika masih tetap gigih melakukan pekerjaan lobi ini ke parlemen. 
Tapi saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Kedutaan Indonesia di Washington.

Demikian Jose Luis de Oliviera dari Perhimpunan HAK di Dili, Timor Leste.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep. 
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke