--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Sabtu 26 Maret 2005 13:20 UTC ** KIRGHIZIA GELAR PEMILU PRESIDEN 26 JUNI ** DEMO MASSAL DI TAIPEI MENENTANG UU PEMISAHAN ** WARTAWATI DITEMBAK MATI DI FILIPINA ** TOPIK TINJAUAN INTERNASIONAL: KASUS SCHIAVO PERNAH TERJADI DI BELANDA: BAGAIMANA AKHIRNYA? ** TOPIK TINJAUAN INTERNASIONAL: OBAT MURAH BAGI PASIEN KANKER DAN AIDS SEMAKIN SULIT DIDADAT * KIRGHIZIA GELAR PEMILU PRESIDEN 26 JUNI Pemilihan presiden baru Kirghizia akan digelar tiga bulan lagi, yaitu 26 Juni. Demikian pengumuman parlemen. Presiden Askar Akayev jatuh sesudah aksi protes berhari-hari. Mahkamah Agung Kirghiza hari ini melucuti wewenang Akayev karena ia kabarnya meninggalkan negri itu dengan cara yang 'memalukan'. Kantor berita Rusia Interfax melaporkan bahwa Akayev, 60 tahun, berada di Rusia. Dilaporkan pada awalnya, Akayev bersama dengan keluarga melarikan diri ke negara tetangga Kazakhstan. Sementara di kota Osh, Kirghizia Selatan, sekitar 20 ribu orang dan 500 tentara berdemonstrasi mendukung penguasa baru. Di ibukota Bishkek, ketenangan telah pulih menyusul kerusuhan semalam. Tentara dan polisi dikerahkan ke ibukota tersebut terutama untuk mencegah penjarahan. Kementrian dalam negeri mengatakan bahwa penjagaan dilakukan terhadap gedung-gedung bank dan kedutaan. Kemarin malam, ribuan orang memenuhi pusat kota. Mereka menjarah toko, bank, dan gedung-gedung pemerintah. * DEMO MASSAL DI TAIPEI MENENTANG UU PEMISAHAN Di ibukota Taiwan, Taipei, ratusan ribu warga berdemonstrasi menentang undang-undang pemisahan yang diadopsi Cina baru-baru ini. Aksi tersebut diprakarsai oleh Presiden Taiwan Chen Shui-Bian. Turut serta dalam aski adalah Perdana Menteri Frank Hsieh. Demonstrasi dibagi ke dalam pawai protes di sepuluh jalan besar di Taipei. Ini berkaitan dengan undang-undang pemisahan Cina yang terdiri dari sepuluh butir. Para demonstran berkumpul di lapangan di dekat kantor presiden. Undang-undang pemisahan yang disahkan dua pekan lalu itu menyebutkan bahwa Cina bisa menggunakan kekuatan militernya apabila Taiwan secara resmi mengumumkan kemerdekaan. Presiden Taiwan menyebut undang-undang itu sebagai 'pernyataan perang'. * WARTAWATI DITEMBAK MATI DI FILIPINA Seorang wartawati Marlyne Esperat ditembak mati di Filipina. Kolumnis berusia 45 tahun itu ditembak mati di rumahnya sendiri oleh seorang tak dikenal. Ini adalah kasus pembunuhan wartawan yang kedua kalinya di Filipina sejak awal tahun. Masih tidak jelas latar belakang pembunuhan Esperat itu. Wartawati tersebut terkenal karena tulisan-tuliasannya yang tajam mengenai para politisi korup. Tahun lalu, ia juga menjadi sasaran pembunuhan. * PAUS IKUTI PROSESI JUMAT AGUNG Paus Yohanes Paulus Kedua mengikuti prosesi Jumat Agung di Roma melalui video. Gambar Paus terpampang di sebuah layar lebar di Coloseum di Roma. Seorang kardinal membacakan pesan Paus yang berbunyi ia bersama umat dalam prosesi itu. Ini untuk pertamakalinya sejak Paskah 1979, Paus Yohanes Kedua tidak hadir secara fisik dalam prosesi memperingati kesengsaraan Yesus sebelum disalibkan di Golgota. Saat ini Paus sedang memulihkan diri dari operasi tenggorakan dan kondisi kesehatannya juga buruk. Ia telah memilih enam kardinal yang akan memimpin perayaan paskah di Roma atas nama Paus. Menurut para teolog Vatikan, dengan keputusannya itu Paus berupaya mencegah kesan bahwa ia memiliki satu penggantinya. * AMSTERDAM TUAN RUMAH FESTIVAL FILM BOLLYWOOD Penganugerahan hadiah perfilman India akan dilakukan di Amsterdam. Demikian dinyatakan Akademi Film Internasional India. Pemberian hadiah yang disebut Oscarnya industri film India Bollywood akan berlangsung 10 Juni dan dibungkus dengan berbagai kegiatan seperti pesta gala dan pertandingan cricket. Setiap tahun, jutaan orang menyaksikan festival Bollywood yang ditayangkan ke seluruh dunia. Di samping Amsterdam, sejumlah kota lain turut serta memperebutkan tempat penyelenggaran seperti Rotterdam, Dubai, dan Casablanca. * VENEZUELA DAN KOLOMBIA BERTIKAI PELANGGARAN PERBATASAN Venezuela membantah bahwa pasukannya memasuki perbatasan Kolombia. Kolombia menuduh negara tetangganya itu bahwa pasukan mereka memasuki Kolombia pekan lalu ketika mengejar kelompok penyelundup minyak. Bahkan kabarnya pasukan Venezuela sempat menduduki sebuah desa di dekat kota Cucuta. Menurut Venezuela, tentaranya memang berupaya mengejar para penyelundup tapi pengejaran dihentikan ketika penyelundup menyebrang ke perbatasan Kolombia. Kelompok penyelundup itu menggunakan pipa untuk memompa minyak dari Venezuela ke Kolombia. Harga minyak di Venezuela sangatlah murah. Kedua negara memiliki perbatasan bersama sepanjang dua ribu kilometer. Berbagai insiden kecil seringkali terjadi. Januari lalu, bahkan terjadi krisis diplomatik sehubungan dengan penahanan seorang pemimpin pemberontak Kolombia di Venezuela. * Penyelidikan terhadap Swastanisasi Perusahaan Rusia Dibatasi Para oligarki Rusia bisa bernapas lega setelah Presiden Vladimir Putin berjanji akan membatasi penyelidikan terhadap swastanisasi perusahaan yang dilakukan awal tahun 90-an. Pesan ini disampaikan dalam pertemuan Putin dengan sekelompok usahawan terkaya di Moskow. Lebih jauh laporan redaktur Margreet Strijbosch. Ketidakpastian yang menghantui kalangan penanam modal di Rusia, cenderung kian membesar saja sejak pemerintahan Putin II, setahun lalu. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dunia investasi: Apakah Rusia akan meninggalkan ekonomi kapitalisme yang selama ini sudah dijalani? Seberapa besar kemungkinan terjadi lagi nasionalisasi perusahaan yang sudah diswastakan era tahun 1990, pasca pecahnya Uni Sovyet. Penangkapan Michail Chodorkovski direktur perusahaan minyak Yukos, presis satu setengah tahun lalu, telah merusak kepercayaan dunia usaha baik dalam maupun luar Rusia. Arestasi Chodorkovski disusul kemudian dengan menasionalisasikan kembali separoh aset Yukos. Ini jelas menimbulkan iklim ketidakpastian di dunia usaha dan hengkangnya sepertiga investasi tahun 2004, sekalipun tahun itu ekonomi Rusia tumbuh pesat. Tetapi sejak Kamis silam, mendung berubah terang. Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam sebuah pertemuan dengan 24 konglomerat terkaya Rusia, mengatakan sedang menyiapkan undang-undang baru yang melindungi hak milik pribadi dari jerat hukum. Tidak akan ada pemeriksaan yuridis terhadap kekayaan yang sudah dimiliki lebih tiga tahun. Dengan kata lain maka transaksi-tranksaksi meragukan di tahun 19990 an, setelah undang-undang baru berlaku, akan bebas pemeriksaan. Berarti mantan-mantan pejabat Uni Sovyet yang mendapatkan apartemen dengan harga rendah pun tidak perlu cemas lagi. Setelah Uni Sovyet pecah, Rusia bukan hanya menswastakan perusahaan-perusahaan tetapi juga perumahan pejabat. Dengan harga yang sangat murah, pegawai bisa menjadi pemilik rumah dinas. Menurut Nikolai Petrov dari Carnegie Endowment di Moskow, janji Presiden Putin itu bukan hanya menunjukan sikap lebih positif dari pemerintah Kremlin, daripada setahun lalu. Tetapi juga demi kepentingan politik. Awal tahun ini protes massal menentang reformasi kebijakan politik ekonomi menandakan lemahnya dukungan bagi Kremlin dan pemerintahan Putin. Jadi analis Petrov menilai, bahwa Kremlin melihat kemungkinan sekarang ini untuk merangkul dunia usaha. Petrov menduga langkah Putin ini adalah dampak dari pertarungan kekuasaan di Kremlin antara kalangan nasionalis, yang ingin mengembalikan pengaruh negara, sekalipun dengan cara nasionalisasi, dan di pihak lain kalangan ekonomi liberal yang mengkhawatirkan ekonomi pasar terbuka Rusia akan hancur. Jadi janji Presiden Putin kepada para oligarki bisa diartikan bahwa kalangan liberal yang sekarang memenangkan persaingan. Contohnya adalah, pembatalan rancangan kebijakan kenaikan pajak nilai tambah. Di samping undang-undang baru, faktor lain yang berpengaruh bagi investasi adalah iklim tenang dan aman. Baru-baru ini saja Anatoli Chubais, direktur perusahaan listrik negara UES, PLN nya Rusia, lolos dari aksi pemboman. * KASUS SCHIAVO PERNAH TERJADI DI BELANDA: BAGAIMANA AKHIRNYA? Belanda juga memiliki kasus serupa Terri Schiavo 15 tahun yang lalu. Ineke Stinissen telah tergeletak selama 16 tahun lamanya dalam keadaan koma ketika infus makanan ke tubuhnya dihentikan 8 Januari 1990. Ia meninggal dunia sebelas hari kemudian. Suaminya, Gerard Stinissen telah bertahun-tahun lamanya mendesak agar infus itu dicopot. Para penentang menyebutnya sebagai 'pembunuhan' dan mengkhawatirkan akan hak hidup orang yang dalam keadaan seperti itu. Tetapi hakim tidak melihat masalah dalam hal ini. Berikut lapaoran redaktur Carin Tiggeloven. Ineke Stinissen mengalami koma pada Maret 1974. Ketika melahirkan melalui operasi, terjadi kesalahan dalam pemberian obat bius. Empat bulan kemudian, para dokter memindahkan Stinnissen dari rumah sakit di Enschede menuju ke tempat perawatan Wiedenbroek di Haaksbergen. Sesudah satu tahun, suaminya Gerard Stinissen menyadari bahwa ini adalah situasi yang sudah tidak bisa dipulihkan kembali. Ia juga yakin bahwa kematian adalah jalan terbaik bagi istrinya. Namun dibutuhkan waktu 16 tahun sebelum rumah perawatan menghentikan infus makanan ke dalam tubuh Ineke pada 8 Januari 1990. Hakim di pengadilan Arhmen memutuskan bahwa pemberian makanan dan cairan ke dalam tubuh perempuan tersebut bisa dipandang sebagai cara pengobatan, dokter boleh menghentikan pengobatan itu apabila tidak ada peluang utnuk menjadi baik. Dengan dukungan yuridis ini maka rumah perawatan itu berani menghentikan infus Ineke. Ineke Stinnissen meninggal pada 19 Januari 1990. Diskusi luas timbul di media mengenai boleh tidaknya menghentikan pemberian infus itu. Yang dipertaruhkan adalah apakah anda boleh mengakhiri hidup seseorang yang tidak bisa memberikan persetujuannya. Persatuan Pasien Belanda NPV, mengkhawatirkan akan 'pembunuhan serta penggembosan hak orang yang cacat'. Seperti halnya Terri Schiavo, Ineke Stinissen masih bernapas, memiliki refleks, serta berekasi terhadap cahaya dan gelap. NVP membawa kasus ini ke pengadilan, tapi ditolak. Suaminya Gerard Stinissen berpendapat bahwa istrinya sangatlah menderita. Dalam sebuah wawancara pada akhir tahun 1989, ia mengatakan 'andaikan saja ia bisa mendengar dan melihat semua serta mampu memberikan pendapat. Ini merupakan penderitaan terberat yang dapat anda bayangkan'. Menurut NPV, tidak bisa dibuktikan bahwa pasien tersebut menderita. Hakim mengakhiri diskusi itu dan berpendapat adalah keputusan medis untuk menghentikan infus tersebut. Ini masih dipraktekkan di Belanda sampai sekarang. Tahun 1995 bahkan muncul peraturan khusus mengenai hal itu. Berikut pakar etika kedokteran Heleen Dupuis. Heleen Dupuis: 'Apabila seseorang tidak bersedia meneruskan pengobatan medis atau makanan buatan, maka dokter harus menghormati keputusan itu. Hal yang sama berlaku utnuk wakil dari orang tersebut apabila orang yang bersangkutan berada dalam koma misalnya. Dokter harus mengajukan alasan yang sangat tepat apabila bersikukuh melanjutkan pengobatan itu, melawan kehendak yang bersangkutan. Bahwa orang tua memiliki pendapat yang berbeda, bukanlah hal yang relevan di Belanda'. Dupuis gembira bahwa diskusi mengenai hal ini sudah terlaksana di Belanda. 'Masih banyak negara yang tampaknya tidak bersedia atau tidak mampu menjalankan diskusi seperti ini secara terhormat dan masuk akal'. Campur tangan politik Amerika dan kasus Schiavo, menurut Dupuis benar-benar 'keterlaluan'. Heleen Dupuis: 'Menurut saya, hal ini anti demokrasi. Demokrasi berarti bahwa anda sebagai warga harus diberi ruang untuk menentukan ranah hidupnya sendiri. Ini juga berlaku dalam keadaan di mana mereka memilih untuk meninggal karena tidak bisa lain' Di Belanda, menurut etika, kasus sebaliknya juga pernah terjadi bahwa keluarga menghendaki agar pengobatan dihentikan sedangkan suami menghendaki sebaliknya. 'Tetapi hakim tetap menuruti para dokter dan wakil terdekat sang pasien'. * OBAT MURAH BAGI PASIEN KANKER DAN AIDS SEMAKIN SULIT DIDADAT Pekan ini jutaan pasien kanker dan aids di negara-negara berkembang mendapatkan kabar sangat mencemaskan. Obat-obatan yang murah, nantinya tidak dapat dibayar lagi. Ini adalah hasil keputusan yang diambil di India untuk melarang produksi obat-obatan yang murah. Pelbagai organisasi bantuan cemas bahwa dengan demikian, New Delhi menjatuhkan vonis mati kepada jutaan warga. Lebih jauh laporan redaktur Nicolien Den Boer. India adalah produsen terbesar obat-obatan generik. Obat ini mengandung zat kimia yang identik dengan obat-obatan bermerek, yang juga disebut obat paten. Khasiat dan mutu obat generik sama dengan obat paten, tapi jauh lebih murah. Dan karena itu adalah penyelamat bagi banyak pasien di negara-negara berkembang. Di sini hampir separuh pasien menggunakan versi murah obat pencegah aids, buatan India. Pekan ini parlemen India menerima undang undang yang perlahan-lahan menghentikan obat jenis murah ini. Produsen-produsen lokal dilarang membuat versi generik yang murah dari obat-obatan paten yang baru. Dengan demikian pemerintah India menuruti peraturan Organisasi Perdagangan Dunia WTO. Peraturan WTO yang berasal dari 1995 disepakati atas tekanan industri farmasi. Akibat keputusan parlemEn India, maka produsen-produsen obat-obatan paten tidak perlu merasa terancam lagi terhadap produsen obat generik. Di masa lalu, persaingan antara industri farmasi dengan cabang barunya, yaitu industri generik menyebabkan harga obat paten turun. Kini, dengan hilangnya persaingan itu, perusahaan-perusahaan tradisional berharap bisa meningkatkan kembali harga obat. Paten atas obat baru berlaku sedikitnya 20 tahun. Ini tentu saja berdampak terhadap negara-negara miskin. Demikian Wilbert Bannenberg, penasehat obat-obatan bagi pelbagai pemerintah Afrika. Bannenberg: 'Keadaan tampak kelam bagi negara-negara sedang berkembang. Hampir seluruh hak paten, sekitar 97 persen berada di tangan perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa. Negara-negara miskin sendiri hanya memiliki sedikit paten. Jadi nasib para pasien di sana ibaratnya diserahkan ke mulut singa'. Pada saat ini, para pasien Aids di Afrika membayar sekitar 100 sampai 150 euro setiap tahun untuk mendapatkan obat dari India itu. Dikhawatirkan, jumlah ini akan bisa membengkak menjadi 8 ribu euro. Namun New Delhi menyatakan tidak akan seperti itu. Pertama, peraturan yang ada akan mendorong penelitian-penelitian bagi obat baru. Menurut pemerintah, para penemu obat baru haruslah mendapat imbalan keuangan melalui hak paten dari produk itu. Di samping itu, demikian pemerintah India, negara-negara sedang berkembang masih memiliki peluang untuk membeli obat-obat murah yaitu obat-obat yang diproduksi sebelum tahun 1995 yang boleh ditiru secara bebas. Tetapi menurut Banneberg, itu hanyalah penundaan ekskekusi saja. Bannenberg: 'Jadi negara-negara sedang berkembang tetap saja hanya bisa memiliki obat-obat lama yang lambat laun menjadi semakin kurang bermanfaat karena virus sudah semakin resisten terhadap obat-obat lama itu'. Bagi obat-obatan yang dipasarkan antara 1995 dan 2005, ada peraturan peralihannya. Produsen obat generik boleh saja meniru obat tersebut dengan membayar apa yang dinamakan royalti kepada pemegang hak paten. Tetapi tidak ada jumlah maksimum yang ditetapkan sehingga para pemegang hak paten bisa seenaknya menetapkan harga yang dikehendakinya. Di Afrika Selatan, pabrik farmasi GlaxoSmithKline mendapatkan 40 persen royalti melalui cara demikian. Namun hakim turun tangan menghentikannya. Ini merupakan kemenangan bagi para aktivis Aids dan pabrik-pabrik obat generik. Tetapi organisasi-organisasi bantuan meragukan bahwa undang-undang India memiliki ruang untuk skenario seperti itu. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
