---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Rabu 02 Desember 2009 15:50 UTC



** INDONESIA LARANG FILM "BALIBO"

** UNJUK RASA DI MUKA KBRI WASHINGTON DC

** PABRIK BAJA KORSEL DI CILEGON

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: SELALU DI LINGKUNGAN PRIA

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: STRATEGI OBAMA UNTUK AFGHANISTAN

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: PSK MENOLAK UU PERIZINAN

** GEMA WARTA TINJAUAN PERS: PERKEMBANGAN BISNIS TELEPON GENGGAM DI PEDESAAN 
INDIA, DAN PERDEBATAN DI BELANDA, MENGENAI KETERLIBATAN MENDIANG PANGERAN 
BERNHARD DALAM UPAYA PEREBUTAN KEKUASAAN DI INDONESIA

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: ANGKET BANK CENTURY BAKAL ALOT



* INDONESIA LARANG FILM "BALIBO"

Badan Sensor Film Indonesia melarang pemutaran film "Balibo", buatan Australia, 
tentang pembunuhan enam orang wartawan, pada saat serbuan tentara Indonesia ke 
Timor Timur pada tahun 1975. Badan Sensor Film tidak memberi penjelasan 
mengenai alasan dan dasar pelarangan.
Awal tahun ini, polisi Australia memulai penyidikan kasus kejahatan perang, 
sehubungan dengan tewasnya lima orang wartawan di Balibo, pada saat tentara 
Indonesia menyerbu masuk kota ini, dan korban ke enam, yang tewas satu pekan 
kemudian, dalam suatu kasus pembunuhan di Dili.
Sejauh ini, pemerintah Indonesia selalu menyatakan, lima korban tewas tersebut 
jatuh pada saat berlangsungnya baku tembak dengan pasukan pemberontak Timor 
Timur, Fretilin.
Namun, film "Balibo" menggambarkan lima orang wartawan jaringan televisi 
Australia tersebut, sengaja dibunuh dengan kejam, atas perintah komandan 
tentara Indonesia, untuk mencegah tersiarnya berita tentang penyerbuan ini ke 
dunia luar.
Dua tahun lalu, tim Australia yang melakukan penyidikan mengenai sebab 
kematian, menyimpulkan, lima korban tewas di Balibo, meninggal akibat tembakan 
dan tusukan.


* UNJUK RASA DI MUKA KBRI WASHINGTON DC

Selasa kemarin, sekitar 40 orang aktivis hak azasi manusia melakukan aksi unjuk 
rasa di muka gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia, di Washington DC, 
Amerika, menuntut pembebasan dua orang warga Papua. Demonstrasi ini 
diselenggarakan dalam rangka peringatan lima tahun penangkapan dua orang 
tersebut.
Filep Karma dan Yusak Pakage, ditangkap akhir tahun 2004, karena mengibarkan 
bendera Bintang kejora di Jayapura. Mereka mengibarkan bendera ini, untuk 
memperingati upacara proklamasi kemerdekaan Papua, pada tahun 1962. Pada tahun 
2005, Filep Karma dan Yusak Pakage mendapat vonis hukuman, 15 dan 10 tahun 
penjara.
"Tujuan aksi ini adalah menekan Pemerintah Indonesia, dan mengingatkan bahwa 
kami tidak melupakan dua orang tersebut," demikian pernyataan Folabi Olagbaju, 
direktur regional Amnesty International pada kantor Berita AFP.
Selanjutnya pemimpin aksi unjuk rasa ini menyatakan, sungguh memalukan bahwa 
pemerintah Indonesia memenjarakan orang, hanya karena mengibarkan bendera. Dua 
orang tersebut, sama sekali tidak melakukan tindak kekerasan.


* PABRIK BAJA KORSEL DI CILEGON

Pabrik baja Korea Selatan, POSCO, hari Rabu ini menanda-tangani kesepakatan 
kerja-sama dengan PT Krakatau Steel, untuk membangun pabrik baja baru di 
Cilegon, dengan kapasitas produksi enam juta ton, per tahun. Pembangunan pabrik 
tersebut akan dimulai paroh kedua tahun depan. Pada tahap pertama, sekitar 
akhir tahun 2013, pabrik ini sudah akan mampu memproduksi 3 juta ton baja per 
tahun. Untuk menghemat biaya penanaman modal awal, proyek ini akan 
memanfa'atkan berbagai sarana yang sudah tersedia, seperti misalnya pelabuhan, 
jaringan pasokan air dan pembangkit listrik milik PT Krakatau Steel. Direktur 
POSCO, Chung Joon-Yang menyatakan, dua perusahaan yang bekerja-sama ini punya 
pengalaman usaha selama empat dasawarsa, dan itu merupakan jaminan bagi 
keberhasilan. Selanjutnya Chung Joon-Yang menambahkan, POSCO akan terus 
berusaha aktif untuk mencari bentuk kerja-sama lain di Indonesia, khususnya di 
sektor pra-sarana dan energi.


* SENAT AUSTRALIA TOLAK RUU IKLIM

Senat Australia menolak rencana ambisius Perdana Mentri Kevin Rudd, dalam 
rangka menekan emisi gas asam arang. Pada mulanya, Rencana Undang-Undang ini 
didukung oleh Partai Liberal, yang saat ini menjadi kelompok oposisi. Namun, 
belakangan, partai ini mencabut dukungan mereka. RUU tersebut ingin menerapkan 
sistem baru, yaitu keharusan bagi perusahaan-perusahaan untuk membayar, agar 
mendapat hak untuk memproduksi gas asam arang. Menurut rencana semula, Perdana 
Mentri Kevin Rudd ingin segera memberlakukan Undang-Undang ini, agar bisa 
langsung mengumumkannya dalam KTT Iklim di Kopenhagen


* PENJARA LIBIA BAGI PENGUSAHA SWISS

Pengadilan Libia memvonis dua orang pengusaha Swiss, enambelas bulan hukuman 
penjara, atas tuduhan penggelapan pajak dan melanggar ketentuan imigrasi. 
Selain hukuman penjara, dua warga Swiss ini juga harus membayar denda 1.100 
euro. Dua warga Swiss ini ditangkap Juli tahun lalu. Beberapa saat setelah 
penangkapan putra pemimpin Libia, Muammar Kadhafi di Swiss. Ia ditangkap atas 
tuduhan menganiaya pegawai hotel. Beberapa waktu kemudian, tuduhan ini ditarik 
kembali. Namun, Libia sudah terlanjur marah, dan mengambil tindakan balasan. 
Presiden Swiss berusaha membujuk Libia dan mengajukan permohonan ma'af. Namun, 
upaya tersebut, tidak berhasil membebaskan dua pengusaha warga Swiss dari 
hukuman penjara.


* MILITAN MUSLIM PELAKU SERANGAN DI RUSIA

Kelompok militan muslim Kaukasus mengaku bertanggungjawab atas serangan 
terhadap kereta api di Rusia, akhir pekan lalu. Dalam serangan tersebut, 
dipastikan 39 orang tewas ketika kereta api yang tengah dalam perjalanan dari 
Moskow ke Sint-Petersburg tergelincir ke luar rel, menyusul terjadinya ledakan 
di jalur rel kereta api. Pelaku serangan adalah gerakan yang dipimpin oleh Emir 
Dokku Umarov. Gerakan ini berupaya menyatukan pelbagai kelompok di kawasan 
Kaukasus, dengan tujuan mendirikan negara Islam. 
Beberapa waktu lalu, jalur kereta api antara dua kota terbesar Rusia ini pernah 
dua kali menjadi sasaran serangan. Agustus 2007 bom meledak di rel, dan melukai 
30 penumpang. Sepuluh tahun sebelumnya bom meledak di toilet pria, menewaskan 
lima jiwa.


* IRAN BEBASKAN WARGA INGGRIS

Lima warga Inggris dibebaskan setelah ditahan selama satu pekan di Iran. Mereka 
memasuki perairan Iran di wilayah Teluk Persia. Pihak berwenang Iran 
menyatakan, mereka melakukan pelanggaran tersebut secara tidak sengaja dan 
karena itu dibebaskan. 
Selasa malam kemarin Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband masih membahas 
kasus ini dengan rekan sejawatnya dari Iran, Manouchehr Mottaki. 
Tahun 2007 terjadi insiden serupa di Teluk Persia, menyangkut marinir Inggris. 
Mereka baru dibebaskan setelah ditahan dua pekan. Menurut London, dua kasus 
tersebut tidak saling terkait, karena insiden kali ini menyangkut warga sipil.


* SELALU DI LINGKUNGAN PRIA

Seorang perempuan berseragam kamuflase. Setengah abad lalu ini masih terkesan 
aneh. Laki-laki wajib militer. Hanya sedikit perempuan berani secara sukarela 
masuk sarang pria itu. Emma Staf, 76 tahun - purnawirawan - salah satunya. 
Tahun 1954 ia masuk tentara dan baru keluar tahun 1989. Pertama ia menjadi 
prajurit biasa. Beberapa waktu kemudian ia diangkat menjadi perwira. "Saya 
selalu berada di lingkungan pria." Laporan Mitra Nazar.

Sejumlah kecil perempuan mendahului keputusan Emma Staf. Sepuluh tahun 
sebelumnya, yakni pada 25 April 1944, perempuan pertama masuk tentara. Semasa 
Perang Dunia I, perempuan Inggris ingin berjuang bagi kebebasan. Ketika itu 
korps perempuan pertama berstatus militer menjadi kenyataan: Korps Bantuan 
Perempuan. Korps ini kemudian hari menjadi Bagian Perempuan Militer MILVA. Kini 
tidak ada perbedaan lagi antara korps laki-laki dan perempuan. 

Kendati tahun 2009 masih tetap sedikit perempuan yang bekerja di angkatan 
bersenjata - hanya sembilan persen personel angkatan darat adalah perempuan - 
banyak yang berubah sejak tahun 1944. Sebagai militer perempuan masa kini , 
Kapten Steffie Groothedde, 26 tahun, tahu banyak soal itu. Groothedde adalah 
perwira di dinas logistik angkatan darat di pangkalan militer Belanda-Jerman di 
Munster. "Departemen Pertahanan telah berbuat banyak untuk mempertahankan 
perempuan dalam tentara," ceritanya. Makin mudah mengatur keluarga dan 
pekerjaan. "Kini bahkan diusahakan untuk menyediakan tempat penampungan anak di 
asrama," ujar Groothedde. 

Menikah
Di zaman Emma Staf, jika seorang perempuan menikah, ia harus keluar tentara. 
"Bagi banyak perempuan itu suatu hal pahit. Mereka harus keluar bukan karena 
harus mengurus anak. Mereka seringkali belum dikaruniakan anak," kata Staf 
dengan heran. Perempuan ini tidak pernah menikah. Tahun 1960an kebijakan 
berubah. Ketika itu Departemen Pertahanan memperbolehkan perempuan menikah, 
sambil tetap bekerja di tentara. 

Tahun 1950an, kelompok kecil perempuan di tentara terutama menimbulkan 
persoalan praktis. Tentara tidak siap menyediakan prasarana bagi militer 
perempuan. Sebagai contohnya, Staf berulangkali meminta kamar sendiri di hotel. 
Juga prasarana sanitasi di lapangan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan 
satu-satunya perempuan dalam peloton. Staf mempunyai jalan keluar sederhana 
untuk itu: "Saya meletakkan baret saya di suatu tempat, sehingga orang dapat 
melihat toilet sedang dipakai."

Diskriminasi positif
Perempuan masa kini menghadapi masalah lain, di antaranya diskriminasi positif, 
jelas Groothedde. "Kadangkala seorang perempuan mendapatkan posisi tertentu 
karena ia adalah perempuan." Itu bukan yang diinginkan perempuan. "Tentu kami 
bekerja untuk sebuah organisasi yang masih menghadapi proses emansipasi 
perempuan. Tapi kita seharusnya tidak bertindak berlebihan." Karena itu 
Groothedde tidak ingin selalu menjadi pusat perhatian karena dia adalah 
perempuan dalam sarang laki-laki. "Anda harus bekerja baik sehingga bisa 
mendapatkan apa yang anda inginkan."

Perempuan sangat dibutuhkan di angkatan bersenjata. Di kawasan misi seperti 
Afghanistan misalnya: "Kalau anda ingin berbicara dengan rakyat setempat, anda 
harus membawa perempuan," cerita Groothedde yang tahun 2008 berhubungan dengan 
warga di distrik Deh Rawod. "Saya berbicara dengan perempuan di dalam rumah 
mereka, sementara rekan laki-laki menunggu di luar."

Groothedde, 26 tahun, yang baru di ambang karir militer, sangat memuji 
kesuksesan purnawirawan Emma Staf: "Saya sangat bangga atas upaya semua 
perempuan di masa lampau, sehingga saya kini mendapatkan pekerjaan ini." Namun 
masih banyak yang perlu diperbaiki bagi posisi perempuan dalam tentara, 
tegasnya: "Jalan masih panjang. Perempuan belum bisa melamar fungsi-fungsi 
tertentu."

Hari ini, Rabu 2 Desember hari ulang tahun ke-65 perempuan dalam angkatan 
bersenjata. Semua perempuan yang pernah bekerja di angkatan bersenjata diundang 
menghadiri konser di teater Beatrix. Malam ini hanya untuk perempuan.


* STRATEGI OBAMA UNTUK AFGHANISTAN

Selasa kemarin Presiden Amerika Barack Obama memaparkan strategi Afghanistan. 
Dalam kurun waktu enam bulan, Obama ingin menambah pasukan Amerika di 
Afghanistan sebanyak 30 ribu orang. Pasukan ini harus membantu tentara dan 
pemerintah Afghanistan untuk secara mandiri memerangi Taliban dan Al-Qaeda. 
Menurut Obama, dalam waktu 18 bulan mendatang, Amerika bisa mengawali penarikan 
mundur pasukan dari Afghanistan. Laporan koresponden Reinout van Wagtendonk 
dari New York. 

Presiden Obama berpidato di akademi militer West Point. Di tempat yang sama, 
Juni 2002, pendahulunya, George W. Bush, juga berpidato tentang strategi 
perang. 

George W. Bush: "Perang melawan teror baru dimulai, tetapi di Afghanistan itu 
dimulai dengan baik." 

Ketika itu orang pada umumnya berpendapat, perang di Afghanistan mudah 
diselesaikan. Setelah serangan 11 September, pendapat itu membuat pemerintah 
Bush memutuskan menggeserkan fokus perang melawan terorisme ke Irak. Kesalahan 
besar, kata politikus lokal ketika itu, Barack Obama, di Chicago. Ungkapan 
tersebut diulangnya lagi Selasa kemarin selaku Presiden Amerika.

Barack Obama: "Orang pada umumnya sudah tahu debat tentang perang Irak dan 
karena itu tidak perlu diulang di sini. Sudah cukup untuk mengatakan bahwa 
selama enam tahun, perang Irak membutuhkan bagian besar pasukan kami, sumber 
daya, diplomasi dan perhatian nasional kami."

Ekstremisme
Obama berupaya meyakinkan rakyat Amerika akan pentingnya meningkatkan perang di 
Afghanistan. Sejak menjabat presiden, jumlah pasukan Amerika berlipat ganda 
dari 32 ribu menjadi 68 ribu militer. 30 ribu pasukan tambahan yang kini 
dijanjikan Obama harus memperbaiki situasi keamanan bagi rakyat sedemikian rupa 
sehingga tentara dan pemerintah Afghan bisa memerangi Taliban dan Al-Qaeda 
dengan kekuatan sendiri. Pasukan tambahan, ditambah bantuan ekonomi dan 
diplomatik juga harus mendorong pemerintah dan tentara negara tetangga Pakistan 
memerangi ekstremisme. 

Obama ingin melihat hasilnya dalam 18 bulan mendatang. Musim panas tahun 2011 
Amerika sudah harus mengawali penarikan mundur pasukan dari Afghanistan. 
Oposisi Republiken di Washington pada umumnya puas dengan rencana-rencana 
Presiden, namun tidak demikian dengan tanggal penarikan mundur pasukan, kata 
senator Republiken, Jon Kyl. 

Jon Kyl: "Berbicara tentang strategi untuk keluar Afghanistan, itu cara yang 
salah, karena itu justru mengirim pesan kepada musuh kami, dan juga kepada 
sekutu kami, orang-orang di Pakistan dan Afghanistan, bahwa kita tidak berada 
di sana sampai misi selesai." 

Selaku panglima, Obama bisa memerintahkan sendiri penambahan pasukan. Tapi 
dalam debat anggaran tahun depan, Kongres bisa saja menutup keran aliran dana. 
Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika sudah jenuh dengan perang 
Afghanistan. Kendati demikian, kami harus terus berjuang, kata sang Presiden. 
Di ruang West Point terdengar ungkapan ancaman mirip pidato George Bush tujuh 
tahun silam. 

Barack Obama: "Saya membuat keputusan ini karena yakin bahwa keamanan kita 
dipertaruhkan di Afghanistan dan Pakistan. Ini adalah pusat ekstremisme dan 
kekerasan yang dilakukan oleh Al-Qaeda. Dari sinilah kami diserang pada 9 / 11 
dan di sinilah serangan baru sedang direncanakan saat saya berbicara."

Tapi bagi banyak orang 11 September 2001 adalah suatu peristiwa masa lampau. 
Yang lebih penting bagi mereka adalah krisis ekonomi Amerika. Jadi masih 
dipertanyakan apakah presiden Amerika dapat meyakinkan saudara sebangsa.


* PSK MENOLAK UU PERIZINAN

Sudah 60 tahun PBB merancang perjanjian untuk mencegah perdagangan manusia atau 
trafficking dan 74 negara telah meratifikisasinya. Belanda adalah salah satu 
dari negara Eropa yang belum melakukan hal itu, tapi sekarang mengusulkan 
program sendiri untuk menangani masalah ini. Laporan Marijke Peters.
Konvensi PBB Mengenai Pembatasan Trafficking, Eksploitasi dan Pelacuran 
diputuskan untuk melindungi martabat perempuan. Konvensi ini menganggap 
trafficking sebagai "kejahatan". 
Rabu kemarin Brigitee Triems, Presiden Lobi Perempuan Eropa, mendesak semua 
anggota PBB untuk meratifikasi dokumen itu. 
"Bagi kami dari Lobi Perempuan Eropa, yang berkegiatan membela hak-hak 
perempuan berdasarkan kemanusiaan dan ideologi, pelacuran adalah suatu bentuk 
intoleransi pihak laki-laki."

Berpasangan 
Amsterdam dan prostitusi sudah lama berpasangan dan kawasan lampu merah di 
kota-kota besar menarik perhatian ribuan wisatawan yang memanfaatkan UU liberal 
di Belanda. Tapi tidak lama lagi para pelancong ini terpaksa mencari hiburan di 
tempat lain, karena pemerintah Belanda mau mengkriminalisasikan wisata seks.
Meski Belanda belum menaroh tandatangannya di perjanjian itu, negeri kecil ini 
mengusulkan Regulasi Prostitusi yang berlaku baik bagi para pembeli seks maupun 
para penjualnya. Menurut pihak pembuat hukum, UU ini adalah untuk 
mengidentifikasi perempuan-perempuan yang dipaksa memasuki industri ini.
Saat ini hanya para PSK yang bekerja di rumah bordil saja memerlukan izin. 
Banyak di antara mereka memilih bekerja sebagai "escort" atau memberikan 
layanan dari rumah mereka sendiri. Menurut UU baru ini, semua perempuan yang 
bekerja di industri ini harus mendaftarkan diri dan rincian data mereka bisa 
diakses polisi serta departemen kehakiman. 
Gagasan ini menyulut kekhawatiran berbagai pihak, termasuk Benang Merah, 
organisasi pembela PSK. Menurut ketuanya, Jan Fisher, ini akan berdampak 
sebaliknya.  
Jan Fisher: "Ini akan berdampak bumerang. Orang-orang yang mau bekerja, tahu 
betapa buruk stigmanya nanti. Mereka ingin mencoba bekerja ilegal. Dan mereka 
akan rentan kalau dideteksi polisi dan pegawai pajak. Dan orang yang korban 
traffickking mungkin akan dipaksa oleh mucikari mereka untuk mendaftarkan diri 
sehingga berstatus legal." 

Model Swedia 
Di konferensi yang membahas hak PSK yang digelar baru-baru ini di Amsterdam ada 
PSK yang bersedia mendaftar kalau program itu jadi dijalankan. Seorang 
perempuan yang tidak mau menyebut namanya, mengatakan kepada Radio Nederland 
bahwa ia mau mendaftarkan diri, tapi teman-temannya mungkin tidak mau melakukan 
itu.
PSK Belanda: "Saya kira banyak orang takut mendaftar, karena mereka kira akan 
kehilangan anonimitas dan konsekuensinya akan buruk." 
Kekhawatiran besar lainnya adalah kalau Belanda meniru Swedia yang menganggap 
mengunjungi pelacur itu kriminal. Pye Jakobsson, yang pernah bekerja di 
industri seks bertahun-tahun mengatakan, rencana Belanda itu "lebih bodoh" 
ketimbang rezim ketat tempat ia bekerja.  
Pye Jakobsson: "Mengabu-abukan industri seks, hanya akan menambah kegiatan 
kriminal. Kalau mereka (pemerintah Belanda) menempuh jalan ini, saya tahu apa 
yang akan terjadi. Kalau kelompoknya menjadi dua -tidak terdaftar dan 
terdaftar- berarti kita membentuk hirarki di kalangan PSK. Di Swedia ada 
pekerja indoor dan pekerja di jalanan. Dan pekerja di jalanan pasti lebih 
rentan bagi kekerasan." 

Pilihan sendiri 
Pye yakin, kekerasan terhadap PSK akan bertambah jika UU ini diberlakukan di 
Belanda. Ia mengimbau para pembuat hukum untuk meninjau kembali rencana itu. 
Kalau tujuannya untuk membasmi traffickking, katanya, maka pemerintah cukup 
menggunakan UU buruh saja. Pye berargumen, mayoritas perempuan yang bekerja di 
sektor ini karena pilihan sendiri.
Pye Jakobsson: "Ini konsep aneh. Dasarnya, tidak ada yang berhak membeli tubuh 
orang lain. Tapi kalau saya menjual seks, saya tidak beranggapan bahwa saya 
menjual badan saya. Saya menjual layanan seks. Saya kira, ini agak berbeda."


* PERKEMBANGAN BISNIS TELEPON GENGGAM DI PEDESAAN INDIA, DAN PERDEBATAN DI 
BELANDA, MENGENAI KETERLIBATAN MENDIANG PANGERAN BERNHARD DALAM UPAYA PEREBUTAN 
KEKUASAAN DI INDONESIA

Saat ini, penggunaan telepon genggam terus meluas ke seluruh pelosok dunia. 
Termasuk ke kalangan petani miskin di pedesaan India. Demikian tulis De 
Volkskrant, harian pagi yang terbit di Amsterdam. Di India, jumlah telepon 
genggam sekarang sudah sebanyak setengah milyar nomor. Dan, selama tiga tahun 
mendatang, jumlahnya akan meningkat menjadi 900 juta. Ini berarti, setiap bulan 
bertambah 14 juta nomor. Paling tidak, itulah perhitungan perusahaan telepon, 
Reliance. Perusahaan telepon peringkat tiga terbesar di India.

Sekitar 10 tahun lalu, pada saat liberalisasi ekonomi dimulai, masih kurang 
dari dua persen penduduk India memiliki telepon genggam. Hingga sekarang, 
telepon genggam terutama digunakan oleh penduduk kota. Padahal, 70 persen 
penduduk India tinggal di pedesaan. Karena itu pula, berbagai perusahaan 
telepon, mulai mengarahkan sasaran mereka pada peluang konsumen baru ini.

Untuk menarik konsumen, tarif telepon mobil di India sengaja dibuat murah. 
Hanya tujuh sen euro per menit, untuk pembicaraan di dalam negeri. Satu-satunya 
kendala bagi perusahaan telepon, adalah tingginya biaya untuk membuat sekian 
banyak menara pemancar, di daerah-daerah terpencil. Untuk itu, 
perusahaan-perusahaan telepon membangun menara bersama. Selanjutnya De 
Volksrant menyimpulkan, bagi India, bisnis telepon genggam merupakan sektor  
yang masih tumbuh pesat dan sangat menguntungkan.

Dari India kita beralih ke hubungan Indonesia - Belanda. Harian pagi Trouw, 
yang terbit di Amsterdam, menyorot perdebatan di Belanda, sehubungan dengan 
penerbitan buku tentang keterlibatan mendiang Pangeran Bernhard dalam berbagai 
upaya perebutan kekuasaan di Indonesia. Koran ini mengangkat buku lain, yang 
telah terbit lebih dulu, yang juga mengulas kehidupan Pangeran Bernhard. Dua 
buku ini mengandalkan sumber-sumber yang sama, tapi tiba pada kesimpulan yang 
bertolak-belakang. Yaitu buku harian Kepala Rumahtangga Istana, Gerrie van 
Maasdijk, dan arsip satuan marsose Belanda.

Menurut dua penulis buku teranyar, Jort Kelder dan Harry Veenendaal, arsip 
marsose, memuat laporan keterlibatan sang pangeran dengan aksi Kapten Raymond 
Westerling. Sementara menurut penulis buku terdahulu, Cees Fasseur, tidak ada 
tulisan Pangeran Bernhard  yang menunjukkan ia mendukung aksi tersebut.

Dengan demikian harian Trouw mempertanyakan, dalam hal ini siapa yang benar. 
Rupanya,  pembaca kedua buku tersebut harus menyimpulkan sendiri, peran 
Pangeran Bernhard dalam upaya kudeta di Indonesia. Menurut Trouw sendiri, dalam 
kasus Pangeran Bernhard ini, tampaknya Jort Kelder dan Harry Veenendaal 
menempatkan diri sebagai jaksa penuntut, sementara Cees Fasseur bertindak 
sebagai pembela.

Demikian harian Trouw, dan sekian pula Tinjauan Pers kali ini.


* ANGKET BANK CENTURY BAKAL ALOT

Para anggota DPR RI makin gencar untuk menggunakan hak angket dalam kasus Bank 
Century. Pemerintah mengeluarkan dana Rp. 6,7 triliun untuk menyelamatkan bank  
ini. 

Menurut pemerintah Bank Century perlu diselamatkan, karena kalau tidak, ini 
akan berdampak sistemik. Maksudnya akan berakibat buruk bagi ekonomi nasional. 

Menurut pakar politik Arbi Sanit, DPR ingin tahu kenapa jumlah talangan begitu 
banyak, untuk menyelamatkan bank kecil, yang sering melakukan kesalahan. 

Yang menjadi pertanyaan juga kenapa talangan yang semula berjumlah tidak sampai 
dua triliun rupiah membengkak menjadi 6,7 triliun rupiah. Nah ini menimbulkan 
kecurigaan, tandas ArbiSanit.

Arbi Sanit: "Rupanya itu ada kecurigaan bahwa uang itu dimanfaatkan juga untuk 
dana pemilu."

Jadi banyak orang mencurigai dana sebanyak itu digunakan untuk kepentingan 
kampanye Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilihan presiden yang lalu. 

Kecurigaan ini, kata Arbi Sanit,  terutama muncul dari kalangan yang mengkritik 
SBY dan para pendukungnya. Makanya  pihak pemerintah serta merta membantah 
tuduhan yang mengatakan bahwa uang talangan untuk Bank Century itu dimanfaatkan 
untuk kampanye SBY. 

Namun, pakar politik LIPI ini berpendapat, kemungkinannya kecil SBY sendiri 
ikut mengantongi aliran dana itu. Lalu siapa yang menerima uang itu secara 
langsung?

Arbi Sanit: "Tentu orang-orang yang bekerja di sekitarnya, yang disebut sebagai 
tim sukses. Karena tim sukses ini bukan satu manajemen. Ada juga yang liar. 
Jadi tidak ada kaitannya dengan tim sukses yang dipimpin oleh calon presiden, 
tetapi dia bikin tim sukses sendiri. Mereka juga cari dana ke mana-mana"

Jadi, simpul Arbi, SBY memperoleh dukungan tanpa perlu mengeluarkan dana 
sendiri.

Kalau memang demikian, apa dampaknya bagi mantan jenderal ini? 

Pakar politik Arbi Sanit, berpendapat yang bakal kena dampaknya terutama tiga 
orang. Pertama Sri Mulyani, Boediono dan Susilo Bambang Yudhoyono sendiri.

Sri Mulyani bertanggung jawab karena sebagai menteri keuangan saat itu dialah 
yang memutuskan untuk mengeluarkan talangan. Boediono bertanggung jawab sebagai 
Gubernur Bank Indonesia saat itu. Dan SBY sebagai presiden adalah orang  yang 
paling bertanggung jawab.

Namun ia mengakui, bahwa perjalanan angket DPR ini bisa panjang dan 
berliku-liku.

Ikuti wawancara Arbi Sanit selengkapnya, pada situs web kami www.ranesi.nl.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.radionetherlands.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[email protected]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep. 
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke