--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Kamis 09 Desember 2010 17:00 UTC ** CINA KEMBALI GERTAK KOMITE NOBEL ** DUNIA SEMAKIN KORUP ** SHELL DI PEMERINTAHAN NIGERIA ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: YANG ADA CUMA VAKSINASI BUKAN INFORMASI ** GEMA WARTA TOPIK TINJAUAN PERS: JADIKAN NORWEGIA TELADAN DUNIA DAN INDIA SEBAGAI APOTIK MURAH DUNIA ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: MAJALAH TIME: WAKTUNYA MINTA MAAF ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: CHESAL DAN DOHMEN, JURNALIS TAHUN INI ** TOPIK GEMA: INDONESIA RUGI TANPA TKW * CINA KEMBALI GERTAK KOMITE NOBEL Cina menyatakan bahwa sebagian besar penduduk dunia menentang penganugrahan hadiah nobel perdamaian kepada disidennya. Jurubicara kembali mengulang visi yang dikemukakan oleh pemerintah Beijing bahwa memberikan hadiah nobel kepada tahanan merupakan penghinaan. Cina telah menekan sekutunya untuk tidak menghadiri upacara penyerahan hadiah nobel tersebut. Ada delapan belas negara yang mengikuti saran Cina. Beijing juga menyatakan bahwa Dewan Perwakilan Amerika sebagai dewan yang arogan dan keterlaluan. Dewan Perwakilan Amerika secara unanim mengeluarkan resoulusi menghormati Liu. Secara bersamaan mereka juga menyerukan agar pemerintah Cina membebaskan tahanan. Menurut kementrian Cina, seharusnya anggota parlemen Amerika menghormati rakyat dan kedaulatan Cina. Disiden Cina sekaligus aktivis hak-hak asasi manusia Liu Xiaobo menerima hadiah nobel namun tidak bisa menghadiri upacara penyerahan anugrah itu. Ia meringkuk dipenjara karena melakukan tindakan subversi. Liu merupakan penggagas Charta 08. Upacara tetap berlangsung, kendati Liu absen. Hadiah tersebut untuk pertama kalinya tidak akan diserahkan karena komite nobel hanya akan menyerahkan kepada pemenang atau kerabat dekat. Cina tak memberikan izin kepada keluarga Liu untuk menerima hadiah tersebut. * DUNIA SEMAKIN KORUP Dalam tiga tahun terakhir dunia menjadi semakin korup. Demikian dinyatakan enam dari sepuluh responden dalam penelitian Transparansi Internasional seluruh dunia yang dipublikasikan Kamis. Satu di antara empat responden mengakui telah melakukan praktek penyuapan. Dunia semakin korup dirasakan oleh responden dari Eropa (73 persen) dan Amerika Utara (67 persen). Mereka menyatakan tindak korupsi meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Orang-orang Afrika yang tinggal di Sahara selatan, paling banyak terlibat korupsi. Tahun lalu saja lebih dari setengah penduduk di wilayah itu menyuap. Sementara itu hanya ada lima persen orang Eropa yang menyuap, 19 persen di Balkan dan Turki serta 23 persen di Amerika Latin. * SHELL DI PEMERINTAHAN NIGERIA Perusahaan minyak Inggris-Belanda, Shell menyusupkan orang-orangnya ke berbagai kementerian di Nigeria. "Shell memiliki akses dan mengetahui segala rencana kegiatan di kementrian-kementrian tersebut. Hal itu dilontarkan oleh Ann Pickard, mantan kepala Shell di Nigeria, Oktober lalu kepada diplomat Amerika. Demikian bocoran yang dipublikasikan di situs WikiLeaks seperti yang diberitakan harian Inggris, The Guardian. Menurut para akivis hak-hak asasi manusia informasi bocor itu menunjukan bahwa perusahaan minyak raksaksa itu dan para politisi saling menjalin kerjasama di Nigeria. Milyaran dolar dihasilkan di Nigeria atas pengeboran minyak per tahun, namun 70 persen rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah Nigeria menyangkal berita itu, "Shell tidak menguasai pemerintah Nigeria. Berita itu hanya merupakan interpretasi dari seseorang, " ujar jurubicara perusahaan minyak nasional. * DK PBB DUKUNG OUTTARA Dewan Keamanan PBB mengakui Alassane Ouattara sebagai presiden baru Pantai Gading. Dalam pernyataannya, ke-15 anggota Dewan Keamanan PBB mengecam segala upaya yang menentang keinginan rakyat. Pernyataan itu ditujukan buat mantan presiden Laurent Gbagbo yang secara resmi menolak hasil pemilihan presiden pada 28 November dan melantik dirinya sendiri. Pernyataan bersama soal Pantai Gading mendapat tentangan dari Rusia, kendati Uni Afrika, Ecowas, persatuan negara-negara kerjasama ekonomi Afrika barat, Amerika Serikat, Uni Eropa serta ketua PBB Ban Ki-moon, mendukung Outtara. * DUBES BELANDA TINGGALKAN BANGKOK Dutabesar Belanda di Thailand, Tjaco van den Hout meninggalkan posnya lebih awal. Demikian dinyatakan kementerian luar negeri Belanda setelah menggelar penyelidikan atas berita yang muncul di harian De Telegraaf. Penyelidikan itu dilakukan setelah laporan praktek kecurangan seputar permintaan paspor dan naturalisasi. Penyelidikan juga menyimpulkan bahwa kemungkinan sebagian laporan itu tidak benar. Namun hal yang terjadi tidak dapat diterima dan kementerian luar negeri telah mengambil langkah, kata jurubicaranya. Menurut kementerian luar negeri, duta besar bertanggungjawab atas kejadian dan ia memutuskan sendiri untuk meninggalkan posnya. Awal tahun ini, harian De Telegraaf membongkar praktek kecurangan akuntan Thailand yang menyelundupkan tiga juta uang pajak Belanda. Menurut laporan Kementerian luar negeri dubes Van Hout seharusnya segera mengambil tindakan, namuh ia membiarkan masalah tersebut. Selanjutnya seorang konsul memberikan data ke lingkaran kriminal. Van den Hout dituduh tidak menegur bawahannya. * KANDIDAT MARTELLY SERUKAN KETENANGAN Kandidat presiden Haiti Michel Martelly menyerukan agar pendukungnya tetap tenang. Menurut para demonstran, kecurangan terjadi saat berlangsungnya pilpres putaran pertama, satu setengah pekan lalu. Setelah hasil perhitungan suara diumumkan, ribuan demonstran rusuh. Mereka membakar ban-ban mobil di ibukkota Port-au-Prince dan menggelar barikade. Selain itu sebuah gedung pemerintah juga dibakar. Para demonstran itu adalah pendukung kandidat sekaligus penyanyi populer Michel Martelly. Ia kalah tipis dari Jude Celestin, calon yang diajukan oleh presiden Preval. Akibatnya Martelly tidak dapat turut serta dalam putaran kedua. Pemenang putaran pertama Mirlande Manigat menolak hasil perhitungan suara. Ia mengatakan seharusnya dirinya mendapat suara lebih banyak dari 31 persen. Kandidat Manigat menuntut perhitungan ulang independen. Ia juga menyerukan agar kandidat lainnya menuntut hal serupa. Sementara itu Amerika dan Uni Eropa juga meragukan hasil perhitungan suara. Putaran kedua akan berlangsung 16 Januari, dan bertarung dua kandidat yaitu Manigat dan Celestin. * PEREMPUAN AFGHANISTAN MASIH TERTINDAS Jutaan perempuan Afghanistan dan anak-anak masih menjadi korban penindasan, kendati sudah hampir sepuluh tahun regim Taliban terusir. Demikian kesimpulan PBB dalam laporan yang dipublikasikan Kamis. Menurut PBB, pemerintah Afghanistan tak mematuhi UU yang melindungi perempuan dan anak-anak terhadap tindakan seperti penjualan perempuan, pernikahan anak-anak dan pembunuhan demi harga diri. Misi PBB, Unama menyimpulkan, hak-hak perempuan dan anak-anak dilanggar di seluruh Afghanistan. Pada tahun 2009 diberlakukan UU yang menghapus kekerasan terhadap perempuan. Namun menurut misi PBB, banyak pemimpin Afghanistan yang tidak mematuhi UU tersebut. * TERLAMPAU PANAS, PD 2022 DIGESER SAJA Mengikuti pendapat Franz Beckenbauer, maka Sekjen Federasi Sepakbola Asia Peter Velappen, juga menyarankan agar penyelenggaraan Piala Dunia 2022 digelar di musim hujan. Menurut Velappen, penyelenggaraan Piala Dunia 2002 di Qatar pada musim kemarau sangat panas dan pendingin di stadion tidak mampu untuk melindungi pemain dan penonton dari panasnya udara, demikian dinyatakan Velappen. Sebelumnya Beckenbauer menyatakan agar penyelenggaraan Piala Dunia dipindahkan ke bulan Januari. Di bulan itu suhu udara di Qatar berkisar 25 derajat celcius. Di musim kemarau, suhu udara di Qatar bisa mencapai di atas 40 derajat. Sekjen FIFA, Jerome Valcke, menyatakan kendati suhu udara tinggi akan tetap berlangsung bulan Juni. * CHESAL DAN DOHMEN, WARTAWAN TAHUN 2010 Jurnalis Radio Nederland, Robert Chesal dan jurnalis koran sore NRC Handelsblad, Joep Dohmen terpilih sebagai Wartawan Tahun 2010 di Belanda. Kedua wartawan itu terpilih atas upaya mereka memberitakan penyalahgunaan seksual di lingkungan gereja katolik Roma. Menurut juri, pemberitaan Dohmen dan Chesal merupakan contoh yang sangat baik dengan menampilkan kedalaman dan ketepatan. Chesal dan Dhomen tidak saja membuat berita soal penyalahgunaan itu, namun juga memberikan perhatian terhadap aspek pendukung lainnya. Sampai saat ini penyelidikan itu terus berlangsung. Selain itu menunjukkan pula bahwa kedua media, Radio Nederland dan koran NRC Handelsblad dapat bekerja sama dengan baik. Bulan lalu Chesal dan Dohmen juga dianugrahi penghargaan De Loep, hadiah penting untuk jurnalistik penyelidikan. Jurnalis Tahun Ini, dipilih oleh Villamedia, majalah sdan situs dari dewan jurnalis NVJ. Hadiah tersebut akan diserahkan Januari mendatang. * SITUS BERITA INTERNASIONAL DI CINA DITUTUP Beberapa situs media internasional tak dapat lagi diakses di Cina sejak Kamis. Tampaknya situs tersebut sengaja dihilangkan oleh pemerintah, sehari sebelum upacara penyerahan hadiah nobel berlangsung di Norwegia. Menurut kantor berita AFP, situs-situs yang tak dapat dilihat di Cina antara lain CNN, BBC, dan lembaga penyiaran Norwegia, NRK. Sebelumnya di Cina, hanya ada sedikit pemberitaan soal penyerahan anugrah nobel tersebut. Disiden Cina Liu Xiabao, mendapat hadiah nobel perdamaian, namun ia tak dapat hadir dalam penyerahan itu karena masih meringkuk di penjara. Pemerintah ingin agar rakyat Cina tidak mendapat informasi tertentu soal penyerahan hadiah nobel. Terkadang pemerintah juga memblokir situs pemberitaan yang mengacu soal nobel tersebut * BERITA BURSA Lantai bursa Amsterdam untung sesaat setelah pembukaan. Indeks AEX mencatat untung 0,7 persen atau berada pada titik 349,18 poin. Para pialang masih menanti angka-angka pasar kerja di Amerika yang bakal dikeluarkan tengah malam nanti. Nilai tukar euro tercatat $ 1,3295 Satu euro sama dengan Rp 11.902 Satu dolar setara dengan Rp 9.006 * YANG ADA CUMA VAKSINASI BUKAN INFORMASI Kampanye vaksinasi flu Meksiko pada 2009 meluncur begitu saja tanpa arah yang jelas. Dan organisasi kesehatan dunia WHO memimpin kampanye tanpa alasan jelas. Itulah pesan terpenting buku Dosir Flu Meksiko yang ditulis jurnalis investigasi Belanda Daan de Wit dan dipresentasikan Kamis (09/12). Willemien Groot Orang-orang Meksiko harus memakai masker, semua tempat umum di Meksiko ditutup. Itulah gambaran pertama yang didapat dunia ketika flu Meksiko, yang waktu itu masih disebut flu babi, muncul. Wabah ini kemudian menyebar ke seluruh dunia pada Februari 2009. Tiga bulan kemudian, organisasi kesehatan dunia WHO menyebutnya pandemi. Epidemi menular yang menyebar ke seluruh dunia dan berpotensi menewaskan ratusan ribu orang. WHO memutuskan melakukan kampanye vaksinasi massal melawan virus H1N1. Industri Jurnalis investigasi Daan de Wit menyelidiki mengapa WHO malah memberi vaksinasi dan bukan informasi. Dan kepentingan apa saja yang berperan. Dengan detail De Wit menerangkan bahwa sebelum virus ini menyebar, negara-negara selatan - Australia dan Selandia Baru - sudah bisa memprediksi akibat epidemi flu ini. Kementrian Kesehatan mereka melaporkan bahwa ada gejala virus ringan. Dan waktu itu sebenarnya penyebaran virus masih bisa dicegah, katanya. Namun pencegahan itu digagalkan oleh hubungan antara industri farmasi dan WHO. "Selanjutnya kita bisa lihat, pengaruh industri dalam komite darurat flu Meksiko sangat besar. Setahun setengah kemudian baru diketahui bahwa sepertiga dari anggota komite darurat itu punya hubungan dengan industri farmasi. Lebih dari setengah anggota Kelompok Penasihat Ahli (Sage)- sekelompok ilmuwan yang menasehati WHO soal vaksinasi dan pengaruh besar - juga punya hubungan dengan industri farmasi. Banyak sekali ilmuwan yang menangani flu Meksiko punya hubungan dengan industri ." Transparansi Virolog Ab Osterhaus dari Pusat Kesehatan Erasmus berperan penting selama epidemi flu Meksiko di Belanda dan termasuk anggota Sage. Ia menyebut kritik De Wit berbahaya, namun tak menampik adanya hubungan ilmuwan dengan industri. Hubungan itu tak bisa dihindari, katanya. "WHO harus punya penasihat-penasihat handal. Dan kami sebagai ilmuwan tentu harus terlibat jauh. Sekarang, pemerintah tidak lagi memproduksi obat atau vaksinasi. Industrilah yang mengambil alih. Jadi industri harus bekerja sama erat - secara publik atau privat - dengan para ilmuwan." Apakah kerja sama tersebut cukup transparan? Osterhaus tak berani menjawab. Biarkan evaluasi yang membuktikan. Virolog Belanda ini mengatakan, ia sendiri berusaha bekerja sama seterbuka mungkin. Osterhaus menentang bahwa tadinya ada gejala virus ringan. Wabah langsung menyerang wilayah selatan Amerika Serikat dan Amerika Latin. "Dan saya mendukung tindakan WHO waktu itu." Pengaruh besar Toh, konflik kepentingan amat menentukan, kata De Wit. Di bawah tekanan perusahaan-perusahaan penghasil vaksin, pengumuman pecahnya pandemi jadi mudah sekali dikeluarkan. Dengan cara itu, jalan menuju vaksinasi besar-besaran terbuka lebar. Sama sekali tak ada peninjauan kembali untuk melihat apakah vaksinasi benar-benar diperlukan, katanya. Apalagi dengan vaksin eksperimen. "Ada banyak orang yang menginginkan lebih banyak informasi soal vaksin dan bahan-bahannya. Namun mereka ditentang secara struktural oleh pemerintah Belanda. Padahal tugas pemerintah sebenarnya memberi informasi kepada rakyat, agar rakyat bisa menentukan sendiri apakah mereka mau divaksinasi. Di sini yang terjadi malah vaksinasi besar-besaran, dan bukan pemberian informasi." Pernyataan Daan de Wit - mengenai mudahnya pengumuman epidemi dikeluarkan - disebut absurd oleh Osterhaus. "Kita bicara soal penyakit menular yang menyebar ke seluruh dunia. Kita, kan, tak bisa menunggu untuk melihat apakah virus ini benar-benar berbahaya. Kita harus langsung mencegahnya dengan vaksinasi." Menurut virolog tersebut, lima cabang ilmu sudah membuktikan bahwa vaksinasi ini aman. Perjanjian lebih baik Pelajaran yang diambil Osterhaus dari epidemi ini adalah bahwa pembagian vaksin harus diubah. "Kita harus memastikan bahwa bukan cuma enam atau tujuh negara di Eropa Barat yang punya persediaan cukup, namun di semua bagian Eropa. Dan saya belum bicara soal bagian dunia lain. Pembagian vaksin yang seimbang tidak terjadi, padahal pandemi pecah di seluruh dunia." Jurnalis investigasi Daan de Wit melangkah lebih jauh lagi. Ia berharap bukunya memancing penyelidikan lebih lanjut di parlemen Belanda, agar rahasia terdalam seputar flu Meksiko bisa terbongkar. * JADIKAN NORWEGIA TELADAN DUNIA DAN INDIA SEBAGAI APOTIK MURAH DUNIA Dalam Tinjauan pers kali ini: 'Jadikan Norwegia Teladan Dunia!' dan India sebagai apotik murah dunia Harian de Volkskrant menurunkan berita mengenai pembelot Wuer Kaxi. Dia mengecam habis Cina sehubungan dengan sikap Beijing terhadap Liu Xiaobo, yang dianugerahi Hadiah Nobel untuk perdamaian 2010. Liu sendiri tidak bisa hadir pada penyerahan hadiah bergengsi itu. Dia meringkuk di penjara. Bukan saja dia dilarang meninggalkan tanah airnya, Beijing memboikot upacara penyerahan hadiah Nobel di Oslo dengan menyelenggarakan upacara tandingan: Penyerahan hadiah perdamaian Confusius pada mantan wakil presiden Taiwan Lien Chan. Lien Chan ini dalam beberapa tahun belakangan berkali-kali bertemu dengan presiden Cina Hu Jintao. 'Apa Beijing ngga bisa lebih cerdik?', begitu Wuer Kaixi sambil tertawa geli, seperti ditulis oleh de Volkskrant. Hadiah Perdamaian tandingan yang diumumkan Beijing ini mengingatkan Wuer, 42 tahun, pada protes mahasiswa di lapangan Tiananmen pada 1989. Sandiwara Menggelikan Sebagai tandingan demo massal mahasiwa itu, pemerintah mengorganisir demo tandingan yang mendukung pemerintah di pinggir kota Beijing. Petugas-petugas kepolisian berulah seperti aktivis yang sedang demo. Sandiwara yang menggelikan, sama menggelikannya dengan hadiah Perdamaian Confusius. Wuer sendiri tinggal di Taiwan dan akan hadir pada upacara penyerahan hadiah Nobel untuk perdamaian di Oslo. Beijing menghalangi kerabat dan saudara Liu Xiaobo hadir di Oslo. 'Itu sekali lagi bukti Cina belum siap sebagai negara yang bertanggungjawab di kancah internasional', jelas Wuer. Anugerah hadiah Nobel untuk perdamaian pada Liu Xiaobo, sangat menyentuh hati Wuer. 'Liu Xiobo adalah pembimbing saya. Dulu kami bersama-sama demo di Tiananmen. Hadiah Perdamaian ini adalah pengakuan perjuangan kami. Saya harap dunia mencontoh teladan Norwegia'. Demikian Wuer seperti diturunkan oleh de Volkskrant. Apotik Negara Miskin Kita beralih ke India, apotik murah untuk negara-negara miskin. Demikian tulis harian Trouw dalam edisi Kamis 9 Desember. Hingga saat ini, India adalah pemasok obat-obatan murah, termasuk obat pengerem Aids yang digunakan jutaan penderita di berbagai negara. Banyak negara donor dan organisasi pemberi bantuan membeli obat-obatan di India karena harganya yang murah. Lebih murah daripada harga resmi. Diantara negara-negara donor terdapat juga negara-negara anggota Uni Eropa. India bisa memproduksi obat-obatan Aids dengan murah karena undang-undang di sana lebih mengutamakan kesehatan rakyat katimbang hak paten yang dimiliki oleh industri farmasi. Dengan demikian India bisa memproduksi obat-obatan murah tanpa merek. Sudah sering perusahaan farmasi internasional ingin melarang produksi itu melalui jalur hukum. Namun gagal. Sekarang Uni Eropa mengambil alih keinginan dunia farmasi. Uni Eropa hendak membuat perjanjian dagang baru dan di dalam perjanjian itu akan ditentukan batasan-batasan yang mengikat India sehingga tidak bisa lagi memproduksi obat-obatan murah. Pembicaraan mengenai perjanjian perdagangan baru itu akan dimulai minggu ini. Kalau sampai perjanjian itu ditandatangani, dan India diikat berbaga batasan memproduksi obat-obatan murah, maka berakhirlah India sebagai apotik negara-negara miskin. Maka yang diuntungkan adalah industri farmasi Eropa. Demikian Trouw. * MAJALAH TIME: WAKTUNYA MINTA MAAF Aisha, gadis Afghanistan dari Uruzgan, jadi terkenal karena berada di sampul majalah Time. Wajahnya cacat. Di mana harusnya hidung berada, terdapat lubang. Hidung dan telinga Aisha dipotong. Ini pekerjaan Taliban, tulis Time. Dan hal macam itu akan makin sering terjadi, lanjut Time, jika tentara internasional meninggalkan Afghanistan. Bette Dam berbicara dengan dokter Aisha di rumah sakit. Dan membongkar bagaimana media Amerika, PR, dan pertengkaran keluarga diputarbalikan. Oleh Bette Dam. Suster Afghanistan itu jadi stress. Harusnya ia tak bilang apa-apa, mungkin begitu pikirnya. Perempuan itu, berusia sekitar 50-an, berkerudung erat, memandang salah tingkah ke ujung sandalnya. Bau disinfektan yang tercium membuat mata perih. Suster itu bercerita, sudah hampir seumur hidup ia bekerja rumah sakit, di Tarin Kowt, ibukota Uruzgan. Ia juga ada di sana ketika Aisha yang dimutilasi datang dengan ibunya dari lembah Chora pada tengah malam Agustus 2009. Hidungnya dipotong. Telinganya juga. Terlihat mengerikan sekali, namun bukan hal yang tak biasa, kata suster. Ia sering sekali menemui pasien perempuan dalam keadaan mengenaskan. Penyebabnya? Pertengkaran keluarga, pembalasan dendam. Sudah sejak dulu hal macam ini terjadi. Selama pemerintahan Taliban, juga pada masa invasi Amerika. Siapa yang berbuat? tanya saya. Suster itu membisu. Direktur rumah sakit berpendapat, sang suster terlalu banyak omong. Ia memandang suster dengan tatapan tajam. Suster pun tak berani lagi mengatakan apa pun soal Aisha. Aisha jadi terkenal di seluruh dunia. Tanpa penyelidikan apa pun jurnalis majalah TIME membuatnya jadi ikon yang melegitimasi kehadiran Amerika di Afghanistan. Mereka yakin: Aisha disiksa Taliban. "What happens if we leave Afghanistan - Inilah yang terjadi jika kita meninggalkan Afghanistan." Pesan ini dicetak di samping wajah Aisha yang tak lagi sempurna. Dunia terkejut. Taliban kurang ajar! Hajar mereka! Kirim lebih banyak pasukan! Suster tadi tahu, bukan Taliban yang memotong hidung dan telinga Aisha. Begitu pula komandan Special Forces Amerika yang membawa gadis itu ke rumah sakit tentara untuk perawatan lebih lanjut. Namun setelah publikasi "simbol perang" - suster tak lagi berani buka mulut. Di Kabul saya berbicara dengan kolega mengenai bagaimana hal ini bisa terjadi. Banyak kritik mengenai hal ini. Namun tidak sampai ke publik luas. Sama seperti artikel yang saya tulis sekarang. Potret Aisha lebih berpengaruh. Satu-satunya yang dibisikkan suster tadi adalah bahwa ia berharap media Amerika juga memuat gadis-gadis Afghanistan lainnya. "Masih banyak yang bernasib sama." Tentu saja, kelompok oposisi di Afghanistan penuh kekerasan. Apalagi kalau tentara bersembunyi di lembah. Namun sulit untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk di sana. Kita bisa saja memberantas Taliban, namun pertikaian di Afghanistan sangat kompleks, politiknya juga. Siapa sebenarnya mereka? Siapa mendukung siapa? Haruskah kita mengirim tentara ekstra untuk melerai perseteruan lokal? Dan apakah Taliban benar-benar besar, atau itu cuma karangan TIME saja? Minggu ini mitos TIME benar-benar dibongkar. Tersangka penyiksaan Aisha ditangkap. Dan ayahnya menyangkal terlibat dengan Taliban, pernyataannya didukung Komisi HAM Afghanistan. Sudah waktunya jurnalis TIME minta maaf atas artikel dan kesimpulan tak berdasarnya. Dan permintaan maaf itu juga harus dicetak di koran-koran Afghanistan. Disiarkan lewat radio-radio Afghanistan. Karena pemberitaan seimbang mengenai Afghanistan sangat diperlukan. Jangan sampai orang-orang seperti suster di Tarin Kowt tak berani bicara. Dan mengacuhkan jurnalis setelah 'penipuan' TIME ini. * CHESAL DAN DOHMEN, JURNALIS TAHUN INI Ia mengaku bukan pemalu, namun banjir perhatian mau tak mau membuatnya kalang-kabut. Jurnalis Radio Nederland Robert Chesal jadi pusat perhatian ketika bulan lalu ia - bersama rekan jurnalis dari NRC Handelsblad Joep Dohmen - memenangkan De Loep, penghargaan untuk jurnalisme investigasi. Kamis (09/12) ia dianugerahi penghargaan Jurnalis Tahun Ini - lagi-lagi bersama Dohmen. Perhatian yang diterimanya makin besar. Oleh Erik Klooster. Robert (1965) menerima penghargaan Jurnalis Tahun Ini dengan perasaan yang agak aneh. Ia sama sekali tak menduga. Namun penghargaan ini sangat membanggakan, karena merupakan pengakuan dari rekan-rekan seprofesi. Itu tak ternilai, kata Robert. Penghargaan ini tidak jatuh dari langit begitu saja. Chesal menyebut dirinya ambisius dan sejak dulu, ia memang sudah begitu. Sepak bola Penghargaan ini merupakan mimpi bocah kecil yang jadi kenyataan. Sejak kecil, Robert - yang berasal dari Amerika Serikat - sudah bermimpi untuk menjadi reporter American Football. Di sekolah, ia berhasil membawahi rubrik Sport - olahraga - di koran sekolah. Makin dewasa, ia makin tertarik kepada isu-isu kemasyarakatan. Pertengahan tahun 80-an, Chesal pindah ke Belanda untuk kuliah. Di negara inilah ia bertemu istrinya. Pada 1991 ia mulai bekerja di Radio Nederland sebagai jurnalis freelance. Waktu itu, ia juga bekerja untuk BBC, Voice of America (VOA) dan Deutsche Welle. Ia lalu memutuskan hanya bekerja di Radio Nederland. Pada periode ini ia juga sudah mendapat sejumlah penghargaan. Pada 1993 ia memenangkan penghargaan dari New York Festival dengan dokumenter radio Yours Anne, Love Zlata dan pada 2000 ia kembali meraih predikat yang sama dengan dokumenter The War on Terror, the Struggle for Oil. Gereja Selama berbulan-bulan lalu, Robert Chesal, bersama jurnalis NRC Handelsblad Joep Dohmen, membongkar rahasia gereja Katolik-Roma di Belanda. Mereka menemukan bahwa gereja ini dipenuhi skandal pelecehan seksual. Banyak korban menghubungi Chesal dan Dohmen untuk mengisahkan trauma mereka. Korban yang mengakui pelecehan makin banyak. "Kami menjaga agar topik ini terus ada di media, jadi tidak terlupakan," kata Chesal. Dalam penyelidikannya, Chesal berbicara dengan banyak korban. Dan ia mengakui, amat berat untuk terus-menerus mendengarkan pengalaman traumatis orang lain. Penting untuk memisahkan pengalaman korban dengan diri sendiri, atau membicarakannya dengan orang ketiga. Robert mengatakan, ia terus-menerus mengingatkan diri bahwa pengalaman para korban lebih buruk lagi. Negatif Banyak penghargaan diterima atas pembongkaran pelecehan ini, namun banyak juga yang bereaksi negatif. Chesal dan Dohmen dijuluki 'pembenci katolik' dan dituduh membuka perang dengan gereja. Artikel mereka disebut tidak seimbang, tendensius dan mencari sensasi. "Tapi," kata Robert. "Komentar itu datang dari orang-orang yang membaca cerita secara selektif dan tidak menyeluruh." Chesal sekarang berada di Curacao, juga untuk menyelidiki pelecehan seksual dalam gereja. Di sana, kabarnya terjadi pelecehan dalam skala besar. Di Curacao Chesal berkontak dengan banyak korban. Diharapkan Januari mendatang, kisahnya bisa diterbitkan. Robert menyatakan, ia mendapat ruang yang dibutuhkan di Radio Nederland untuk menjalankan tugasnya sebagai jurnalis investigasi. "Tapi kita harus lebih ambisius lagi. Jangan menganggap remeh berita, dan tetaplah waspada, karena kadang kita punya emas di tangan tanpa menyadarinya." Penyerahan penghargaan Jurnalis Tahun Ini akan digelar Januari mendatang. * INDONESIA RUGI TANPA TKW Imbauan PBNU agar TKW jangan bekerja ke luar negeri tanpa suami bisa berdampak penghentian pengiriman TKW. Menurut Yasmine Soraya itu bukan pemecahan yang baik. Menurut pengamat Hukum Perburuhan Internasional, penghentian pengiriman TKW memberi imbas yang sangat besar. "Karena pendapatan negara bisa menurun karena hilangnya kiriman uang TKI ke Tanah Air." Yasmine juga mencemaskan perekonomian memburuk di pedesaan tempat asal para TKI. "Secara ekonomi itu akan berdampak besar, dan peningkatan pengangguran." Seleksi di Indonesia Untuk menekan angka penganiyaan TKW di Arab Saudi, Yasmine lebih mendukung pelatihan dan persiapan lebih baik kepada pekerja yang akan berangkat ke luar negeri. Pembatasan bisa dilakukan pada tahap penyaringan. "Bisa menentukan batas usia dan kemampuan komunikasi, supaya pekerja bisa tahu hukum dan mengantisipasi kalau terjadi masalah." Ungkap Yasmine. Pelatihan Masalah utama yang dialami Sumiati menurut peneliti Hukum Perburuhan Internasional, karena masalah pelatihan yang kurang memadai. Selain itu menurut Soraya lagi penanganan kasus Sumiati ini berkaitan dengan hukum internasional. Ratifikasi ILO Ia menyayangkan Indonesia maupun Arab Saudi yang tidak meretifikasi, Konfensi perlindungan buruh migran (ILO, organisasi Buruh Internasional.) Akibatnya tidak ada perlindungan hukum bagi buruh migran Indonesia di Arab Saudi. "Bagi TKI berlaku hukum di negara tempat ia bekerja. Sedangkan hukum Arab Saudi kurang melindungi buruh migran." Pemacahan terbaik untuk saat ini adalah langkah diplomasi. "Pemerintah Indonesia atau perwakilan Indonesia meminta agar Arab Saudi memiliki hukum perlindungan. Tapi itu akan sangat susah sekali." --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia Anda bisa berhenti berlangganan dengan mengirim email ke: [email protected] Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [email protected] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
