---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Rabu 15 Mei 2002 14:40 UTC



** ARAFAT DUKUNG REFORMASI PEMERINTAH PALESTINA

** DUA MANTAN PEMIMPIN SERBIA SERAHKAN DIRI KE TRIBUNAL YUGOSLAVIA
DEN HAAG

** HUBUNGAN INDIA-PAKISTAN SEMAKIN TEGANG

** TOPIK GEMA WARTA: KOPASSUS DIANJURKAN AGAR DITARIK DARI MALUKU

** TOPIK GEMA WARTA: RUU PENYIARAN MUNGKINKAN PEMERINTAH INDONESIA
KUASAI PERS



* ARAFAT DUKUNG REFORMASI PEMERINTAH PALESTINA

Di depan parlemen Palestina di kota Ramallah, Presiden Palestina,
Yasser Arafat menyatakan mendukung reformasi Pemerintah Palestina. Ia
antara lain mengusulkan supaya dilangsungkan pemilihan. Demikian
komentar Arafat terhadap tuduhan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon
yang menyebut Pemerintah Palestina sebagai diktatorial dan rezim
teroris. Sementara itu, di Tepi Barat Sungai Yordan dan Jalur Gaza,
warga Palestina memperingati bahwa tahun 1948 sekitar 700 ribu orang
diusir dari rumah mereka ketika pembentukan negara Israel. Pada
peringatan tersebut warga Palestina akan berdiam selama tiga menit.
Selain itu masyarakat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza diimbau
supaya secara massal turun ke jalan.


* DUA MANTAN PEMIMPIN SERBIA SERAHKAN DIRI KE TRIBUNAL YUGOSLAVIA DEN
HAAG

Dua mantan pemimpin Serbia, Milan Martic dan Jenderal Mile Mrksic,
secara sukarela melaporkan diri ke tribunal Yugoslavia, Den Haag,
negeri Belanda. Martic menjabat Presiden republik Serbia di Kroasi
semasa perang saudara. Ia dituduh bertanggung jawab atas pemboman
terhadap ibukota Kroasia, Zagreb tahun 1995 yang menewaskan tujuh
jiwa. Mrksic dituduh bertanggungjawab atas tewasnya 200 orang akibat
penembakan di sekitar kota Vukovar 1991.


* HUBUNGAN INDIA-PAKISTAN SEMAKIN TEGANG

Hubungan antara India dan Pakistan semakin tegang setelah serangan
berdarah di negara bagian Kashmir, Selasa kemarin. Di depan parlemen,
Perdana Menteri India, Atal Behari Vajpayee menyatakan akan melakukan
aksi balasan terhadap serangan yang menewaskan 34 jiwa. Namun ia
tidak menyatakan dengan cara apa India akan melakukan itu. Polisi
India yakin serangan dilakukan kaum Muslim militan dari Pakistan.
Para korban terutama anak-anak dan perempuan. Korban jatuh ketika
kelompok separatis mulai menembaki sebuah bis dan kemudian menyerang
kamp tentara di dekat kota Jammu. Sekitar 50 orang terluka akibat
serangan ini.


* JEPANG DAN CINA SEPAKATI PEMBEBASAN PENGUNGSI KOREA UTARA

Jepang dan Cina sepakat tentang pembebasan lima pengungsi Korea
Utara. Mereka melarikan diri ke kantor perwakilan Jepang di kota
Shenyang. Mereka dipaksa polisi Cina meninggalkan tempat tersebut,
dan kemudian ditahan. Salah satu pencari suaka adalah anak perempuan
berusia tiga tahun. Setiap tahun ratusan warga Korea Utara melarikan
diri melalui Cina. Beijing tidak mengijinkan para pencari suaka untuk
terbang langsung ke Korea Selatan agar tidak pecah konflik dengan
negara sekutu Korea Utara.


* PRESIDEN SIERRA LEONE NAMPAKNYA PEMENANG PEMILU

Hasil pertama pemilihan umum Sierra Leone menunjukkan Presiden yang
sekarang, Ahmad Tejan Kabbah meraih mayoritas suara. Ia disusul
Ernest Bai Koroma dari pemerintah lama, Kongres Rakyat APC. Mantan
pemberontak Front Persatuan Revolusioner nampaknya hanya memperoleh
jumlah kecil suara. Yang menarik adalah bahwa pemilu Sierra Leone
berlangsung sangat tenang. Dikatakan ini adalah pemilu paling tenang
Sierra Leone sejak merdeka dari Britania Raya tahun 1961. Sekitar 17
ribu tentara pasukan perdamaian PBB dan pengamat internasional
mengawasi pemilihan umum. Pemilu dianggap awal era baru bagi Sierra
Leone setelah perang saudara berdarah yang berlangsung selama sepuluh
tahun dan menewaskan sedikitnya 50 ribu orang.


* JIMMY CARTER INGIN HENTIKAN EMBARGO PERDAGANGAN TERHADAP KUBA

Mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter menuntut supaya embargo
perdagangan terhadap Kuba cepat dihentikan. Dalam sebuah pidato di
universitas Havana, yang disiarkan langsung lewat radio dan televisi
Kuba, Carter menyatakan Amerika Serikat harus mengambil langkah
pertama dalam pemulihan kembali hubungan antara dua negara. Selain
itu Carter juga berbicara tentang keadaan hak asasi manusia di Kuba.
Ia meminta Presiden Kuba, Fidel Castro mengijinkan Komisaris Hak
Asasi Manusia PBB, Mary Robinson berkunjung ke Kuba.


* MASYARAKAT INTERNASIONAL BERIKAN BANTUAN DANA 440 JUTA DOLAR UNTUK
TIMOR LORO SAE

Masyarakat internasional akan memberi bantuan dana sebesar 440 juta
dolar kepada Timor Loro Sae, untuk tiga tahun pertama sebagai negara
merdeka. Demikian disepakati pada konferensi negara-negara donor di
Dilli. Timor Loro Sae, yang akan resmi menyatakan kemerdekaannya 20
Mei mendatang, adalah negara termiskin di Asia. Negara ini
membutuhkan dana sekitar 90 juta dolar untuk memenuhi sepertiga
anggaran tahunan selama tiga tahun mendatang. Setelah itu Timor Loro
Sae akan mendapat penghasilan dari pengilangan minyak dan gas di
lepas pantai. Sejak tahun 1999, sejumlah negara donor termasuk
Jepang, Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat telah memberikan
bantuan lebih dari 1 milyard dolar, lewat pengawasan PBB.


* HUBUNGAN KOREA UTARA DAN KOREA SELATAN MEMBAIK

Hubungan antara Korea Utara dengan Korea Selatan nampaknya semakin
baik. Menteri Unifikasi Jeong Se-hyun menyatakan perundingan resmi
tentang kerja sama ekonomi belum dilanjutkan, namun dua negara masih
melangsungkan perundingan tidak resmi. Presiden Korea Utara, Kim
Jong-il menyatakan kepada Korea Selatan masih ingin berkunjung ke
Seoul. Selain itu Menteri Jeong Se-hyun menyatakan memiliki informasi
Korea Utara bersedia melakukan perundingan baru dengan Amerika
Serikat.


* KOPASSUS DIANJURKAN AGAR DITARIK DARI MALUKU

Pergantian Pangdam atau Kapolda tidak akan memecahkan masalah
Maluku.Yang penting pasukan siluman ditarik dari Ambon, karena
Masalah Maluku hanyalah merupakan imbas permainan politik
establishment di Jakarta. Koresponden mengirim laporan berikut dari
Jakarta.

Mahasiswa-mahasiswa Islam kemarin berdemonstrasi di kota Ambon dan
meminta agar Laskar Jihad tidak ditarik dari Maluku. Masalah Ambon
memang tak kunjung mereda. Setelah penahanan Panglima Laskar Jihad
dan rencana penarikan laskar tersebut oleh pemerintah, ini muncul
lagi insiden antara Kopassus dan Brimob.

Sehubungan dengan itu, kemarin, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
Amien Rais meminta agar kasus baku tembak antara aparat Polisi dengan
Kopassus di Ambon, Senin lalu diusut tuntas.  Di Ambon Pangdam
Pattimura Brigjen TNI Mustopo yang sering pura-pura bingung itu
mengatakan, bentrokan antara anggota Kopasus dan anggota Brimob
tersebut hanya karena miskomunikasi. Tetapi biarpun Pangdam ini
menyebut miskomunikasi, tetapi di ibukota Menko Polkam sempat berang
dan menganggapnya masalah teknis koordinasi yang buruk. Ia
mengisyaratkan bahwa perlu ada perwira-perwira yang diganti karena
insiden yang memalukan itu.  Panglima TNI dan Kapolri harus
menjelaskan kepada publik secara transparan terjadinya baku tembak
itu, kata Susilo Bambang kemarin. Harus jelas siapa yang bertanggung
jawab,tambahnya. Menko berulang kali.

Susilo Bambang Yudhoyono: Sebenarnya ini permasalahan tehnis,
koordinasi tehnis di lapangan antara satuan kecil kepolisian dengan
satuan kecil TNI. Justru dalam konteks ini, yang saya anggap menjadi
gangguan terhadap semua yang kita lakukan sejak sebelum Malino,
sampai Malino dan sampai sekarang, itu dipertanggungjawabkan. Saya
melalui Panglima TNI dan Kapolri minta organisasi menjelaskan kepada
publik tanpa ditutup-tutupi, transparan dan siapa yang bertanggung
jawab.

Susilo ingin adanya pergantian pimpinan TNI/Polri di Ambon. Di kota
itu kemarin beredar berita bahwa pada dinihari tanggal 14 Mei, Selasa
lalu,kantor pusat FKM di Kudamati diserbu satu regu Kopassus. Mereka
datang dengan menggunakan satu truk dan dua jeep. Sebelumnya mereka
mendatangi rumah sakit  Umum Dr Halussy. Pasukan itu sempat menabrak
pintu gerbang rumah sakit tersebut sambil berteriak "mana Brimob".
Karena para perawat menjelaskan bahwa disitu tidak ada Brimob, maka
mereka kembali ke arah Benteng. Di depan lorong PMI mereka berteriak
lagi meminta agar orang-orang RMS keluar. Sambil menembak-nembakan
senjata mereka. Tetapi karena tidak ada perlawanan tentara-tentara
itu meninggalkan tempat tersebut.

Situasi seperti ini jelas membuat hati masyarakat Ambon cemas. Maka
jika pemerintah pusat tidak secara tegas menertibkan para komandan di
Ambon, sudah tentu situasi di Ambon bisa lebih panas lagi. Padahal
penduduk Ambon sesungguhnya hanya sekitar 200.000 orang saja dan
tidak lebih besar dari kota Cianjur di Jawa Barat. Pengamat politik
Maluku Thamrin Tomagola dalam pada itu pesimis dengan rencana
pergantian Kapolda maupun Pangdam Patimura. Selama 3 tahun terakhir
ini sudah beberapa kali dilakukan pergantian tetapi permasalahan
Maluku tidak selesai. Maka kini pun belum tentu keamanan di Maluku
bisa tercapai meski ada komandan yang diganti. Mungkin jika Panglima
TNI sudah diganti oleh Jenderal Endriartono Sutarto baru Maluku bisa
tenang. "Baru akan ada kepastian jika  ia sudah dilantik," kata
Thamrin Tomagola.

Yang menjadi persoalan di sana  memang adalah eksistensi pasukan
siluman. Hingga kini pun tidak jelas apakah pasukan Kopasus di Ambon
benar-benar dibawah kendali Pangdam. Mungkin itulah sebabnya mengapa
Pangdam Mustopo sering ragu-ragu dalam bertindak. Ada pengamat yang
menduga Kopasus di Ambon perannya sama dengan Kopasus yang dahulu
membunuh Theys Eluay di Papua. Ketika itu pun KASAD menyatakan tidak
tahu menahu dengan operasi Kopasus itu. Demikian pula Pangdam di
Papua. Thamrin yakin bahwa pergolakan di Ambon hanyalah merupakan
dampak dari pusat. Karena itu ia menganjurkan agar Kopassus ditarik
dari Maluku.


* RUU PENYIARAN MUNGKINKAN PEMERINTAH INDONESIA KUASAI PERS

RUU Penyiaran terus dibahas di DPR, sekalipun aksi menentang
keberadaan RUU ini semakin meningkat. Mereka yang menentang antara
lain adalah 31 organisasi media penyiaran. RUU itu sendiri
memungkinkan kembalinya pemerintah mengontrol media, khususnya media
siaran. Menurut Hinca Panjaitan, Direktur Media Law and Policy
Centre, partai politik pun ikut juga memperkeruh RUU ini. Berikut
penuturannya:

Hinca Panjaitan [HC]: Ketika pertanyaannya bahaya apa? maka saya
ingin flashback sedikit saja, sesungguhnya media penyiaran di
Indonesia itu belum pernah merdeka. Setidaknya diukur dari
perundang-undangan. Undang-undang yang lama yaitu Undang-Undang nomor
24 tahun 1990 sampai sekarang masih ada produk Pak Harto, dan jika
itu dipakai sangat represif. Yang kedua sesungguhnya juga media
penyiaran misalnya radio, di Indonesia itu belum pernah merdeka
sampai tahun 98, karena kerjanya hanya me-relai RRI saja.

Tahun 98 lah mereka membuat news sendiri, mulai berkreasi sendiri.
tetapi dari jaminan UU itu tidak pernah ada. Nah ketika kita
menggagas menolak UU No. 24/90 yang baru, DPR menerimanya bulan Juni
tahun 2000. Dan kemudian dibahas, pada akhirnya ternyata, melenceng
jauh, karena memang pemerintah menginginkan lain. Dan ingin
mengontrol kembali media ini. Karena itulah penolakan banyak terjadi
dari kalangan masyarakat. Termasuk yang dilakukan oleh kelompok
komunitas penyiaran Indonesia, yang terdiri dari 31 organisasi media
penyiaran.

Ya jadi kalau rancangan itu lahir dari pemerintahan Megawati, nggak
benar juga. Karena rancangan itu lahir dari inisiatif DPR, tetapi
tugas pemerintah melakukan diskusi. Nah dalam kontek diskusi itulah
pemerintah kemudian membuat masukan-masukan menurut versi dia. Meski
Departemen Penerangan dibubarkan secara institusi, tetapi
personal-personalnya kan tetap ada ya.

Lalu dan itu kemudian masuk ke level eselon satu dan eselon dua di
kantor Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, yang cara
berpikirnya, cara memandang media penyiaran ini kayak yang dulu.
Karena itu ketika orang diberi peluru, sayang banget kalau nggak
ditembakkan. Kan gitu. Dari konsep pemerintahan yang berkembang saat
ini adalah ijin itu tetap kembali ke jaman dahulu, yaitu ada dua
pintu, satu ijin Politik yang disebut rekomendasi yang dikeluarkan
departemen penerangan dulu sekarang akan diperankan menteri negara
komunikasi, setelah itu baru keluar ijin penyelenggaraan yang
dikeluarkan oleh departemen perhubungan yang mengelola frekwensi itu.
Ini yang kita tentang.

Radio Nederland [RN]: Apa memang kenyataannya di Indonesia efektif
sekali ya mendemokratisasikan lewat televisi maupun radio?

HP: Oh ya saya kira itu. Dari segi perspektif masa lalu misalnya orde
baru bertahan karena sumbangan media. Pak Harto itu berhasil bertahan
32 tahun, karena memang media mampu ia kontrol dengan sangat baik dan
bijak. Ya saya kira siapapun yang mau berkuasa kan dia akan
memikirkan bagaimana kekuasaannya dapat bertahan lama.

RN: Artinya siapa sebenarnya lembaga yang harus menyaring ya kalau
memang RUU Penyiaran ini tidak jadi digoalkan. Lalu siapa yang harus
menyaring?

HP: Kalau dari kontennya itu harus dikembalikan kepada media itu
sendiri yang kita sebut dengan self regulasi, pengaturan diri
sendiri. Jadi media penyiaran harus paham juga media yang ia mainkan
masuk ke wilayah publik dan ia juga harus ekstra hati-hati, sebab
selain ketentuan yang diatur dalam UU Penyiaran, UU Pidana banyak
sekali pasal yang bisa menjerat mereka. Penyebar berita bohong,
penyebar fitnah, penyebar penghinaan, itu bisa dijerat dengan UU KUH
Pidana di Indonesia.

Kalau dilihat dari perspektif politik saya kira statement yang tadi
itu tidak mungkin ditolak gitu ya. karena memang semua tahu, untuk
memenangkan sebuah event pemilihan umum, media memberikan peran
penting. Karena ketika kita bicara di Indonesia, relevan bicara
tentang kepentingan partai politik pada 2004. Dan kita tahu di DPR
adalah partai politik. Karena itu memang pembahasan UU penyiaran ini
akan menjadi sangat alot ketika pertanyaannya saya dapat apa di
Pemilu 2004 yang akan datang.

RN: Lalu di mana posisi Megawati?

HP: Kalau mengamati posisi dia sebagai Ibu Presiden, ya, tanpa
melihat partai politik mana, maka kelihatannya dia selalu memberikan
kritik terhadap media di Indonesia, baiknya untuk segera berbenah
diri. Tapi kalau dilihat dari segi kepentingan politiknya, agak sulit
meramlnya oleh karena memang yang mewakili pemrintahan sekarang di
DPR membuat UU penyiaran adalah Pak Syamsul Muarif yang notabenenya
adalah GOLKAR! ya, sedangakan dia(Megawati) adalah PDIP. Nah ini kan
menjadi duri dalam daging.

Demikian Hinca Panjaitan, Direktur Media Law and Policy Centre.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke