--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Kamis 04 Juli 2002 13:30 UTC ** THAILAND CIDUK SENJATA UNTUK ACEH ** HASIL PENYIDIKAN PEMBOMAN AS DI AFGANISTAN MASIH KABUR ** ANAK TIRI SADDAM HUSSEIN DITANGKAP DI AS ** TOPIK GEMA WARTA: TIDAK BENAR GAM SEMAKIN LEMAH DAN TERPECAH-BELAH ** TOPIK GEMA WARTA: BELANDA KIRIM INSPEKTUR POLISI UNTUK PERCEPAT PENGADILAN KASUS PEMBUNUHAN WARTAWAN THOENES * THAILAND CIDUK SENJATA UNTUK ACEH Angkatan Laut Thailand menyita pasokan senjata dan munisi untuk pembangkang di Aceh. Demikian panglima angkatan bersenjata Thailand, melaporkan Kamis ini. Sejumlah senjata laras panjang, granat dan munisi tersebut ditemukan dalam sebuah kapal nelayan tidak jauh dari pulau wisata Phuket. Senjata-senjata itu diduga buatan Cina, dan polisi menangkap dua nelayan. Salah seorang tertuduh kepada polisi menuturkan bahwa ia mendapat upah 5000 dolar untuk mengangkut paket senjata itu ke seorang penerima di Indonesia. Sebelumnya ia sudah tiga kali melakukan hal yang sama. Di samping itu pemerintah Thailand sedang menyelidiki se jauh mana kapal perang Thailand yang hilang, diselundupkan ke wilayah Indonesia. * HASIL PENYIDIKAN PEMBOMAN AS DI AFGANISTAN MASIH KABUR Hasil sementara penyidikan insiden pemboman Amerika Serikat di Afganistan Selatan, belum memberi kejelasan. Tim penyidik AS dan Afganistan menyatakan tidak menemukan mayat di lokasi kejadian. Yang ditemukan adalah gedung rusak dan darah berceceran. Para penyidik ingin mengecek kebenaran adanya 40 korban tewas warga sipil dalam pemboman AS. Para korban konon adalah tamu undangan pesta perkawinan. Amerika Serikat menjatuhkan bom setelah ditembaki dari darat. Menurut pihak Afganistan, penembakan ke udara adalah ungkapan suka cita setiap perkawinan di Afganistan. Hari-hari mendatang ini para penyidik juga akan mengunjungi sejumlah lokasi di Afganistan Selatan. * ANAK TIRI SADDAM HUSSEIN DITANGKAP DI AS Polisi Miami AS menangkap putera tiri Presiden Irak, Saddan Hussein. Mohammad Saffi ditangkap ketika sedang mendaftarkan diri untuk kursus penerbang. Menurut polisi AS, Saffi ditangkap karena tidak memiliki dokumen lengkap. Ia ingin belajar mengemudikan pesawat di tempat yang sama dengan para pelaku serangan teror 11 September. Anak tiri Saddan Hussein itu tiba dari Selandia Baru dimana ia bekerja sebagai teknisi pesawat di salah satu maskapai penerbangan. * RAJA NEPAL AKHIRI MASA BERKABUNG Raja Nepal, Gyanendra dan permaisuri Komal kembali ke istana di ibukota Kathmandu. Dengan demikian keluarga kerajaan mengakhiri masa berkabung. Se tahun silam Raja Birendra dan tujuh anggota kerajaan dibunuh pangeran penerus tahta Dipendra. Pangeran berusia 29 tahun itu juga mengakiri nyawanya sendiri. * 67 MAYAT KORBAN TABRAKAN PESAWAT DI JERMAN, DITEMUKAN 67 dari 71 mayat penumpang pesawat yang bertabrakan di Jerman Selatan, Senin berhasil ditemukan. Mayat dua awak pesawat kargo sudah diindentifikasi. Sementara penyidikan jatidiri penumpang pesawat Tupolev masih menunggu tim Rusia. Sanak saudara korban baru saja tiba di Jerman. Mereka akan melawat ke lokasi kejadian. Rabu kemarin muncul penemuan bahwa kecelakaan disebabkan kesalahan di tower pemandu Swiss. Di samping itu otoritas penerbangan Rusia meyakini bahwa pilot Rusia-lah yang terlebih dahulu melaporkan ada ancaman bahaya. Tower pemandu baru memberi jawaban beberapa puluh detik kemudian. * DK PBB DUKUNG PERPANJANGAN MISI BOSNIA Dewan Keamanan PBB secara unanim mendukung perpanjangan misi PBB mendidik aparat polisi Bosnia. Mandat, yang sebelumnya di veto Amerika Serikat itu, akhirnya diperpanjang 12 hari. Perpanjangan ini masih bersifat sementara, karena konflik mengenai keberatan AS atas Mahkaman Pidana Internasional masih belum terpecahkan. AS mengkaitkan syarat perpanjangan misi PBB dengan status kekebalan hukum bagi pasukan Amerika Serikat. Pemecahan sementara ini, tercapai berkat campurtangan Sekjen PBB Kofi Annan. Dalam suratnya, Annan mengingatkan bahwa semua misi PBB bisa gagal kalau AS bersikeras untuk menghalangi Mahkamah Pidana Internasional. Annan menamai keberatan AS itu sikap berlebihan. * KASUS DEPORTASI KELUARGA FRANK 1944, DIPERIKSA KEMBALI Lembaga Dokumentasi Perang Belanda, NIOD kembali memeriksa kasus deportasi keluarga Frank, tahun 1944. Pemeriksaan ulang ini, berkaitan dengan terbitnya dua buku yang menyatakan bahwa Otto Frank, ayah Anne Frank ditangkap setelah dikhianati oleh seorang kenalan yang bekerja untuk NAZI. Theori ini bersilang dengan kesimpulan NIOD pada tahun 1986 yang menutup kemungkinan adanya pengkhianatan dalan penangkapan keluarga Frank. Institut dokumentasi perang Belanda diharapkan akan menerbitkan laporan terbaru sebelum akhir tahun ini. Otto Frank adalah ayah dari Anna Frank, gadis yang menulis buku harian terkenal, Het Achterhuis. Di jaman PD II, keluarga Yahudi ini bersembunyi di sebuah rumah di Prinsengracht Amsterdam. Agustus 1944 keluarga Frank dideportasi ke kamp Jerman. Anne meninggal dunia Maret 1945 di kamp Bergen-Belsen, karena penyakit dan kelelahan. Hanya Otto Frank saja yang selamat dan menerbitkan buku harian anak gadisnya itu, yang akhirnya menjadi salah satu buku harian tersohor di dunia. * TIDAK BENAR GAM SEMAKIN LEMAH DAN TERPECAH-BELAH TNI meninjau kembali tujuan akhir dialog damai RI dengan GAM. Kalau dimaksudkan untuk memisahkan diri dari NKRI - Negara Kesatuan Republik Indonesia- maka dialog itu tidak dapat dilakukan. Sementara itu TNI tengah mempertimbangkan penerapan darurat militer di Aceh. Apakah rencana itu disebabkan karena GAM semakin melemah? Berikut tanggapan juru bicara GAM di Swedia, Muzakir Abdulhamid. Muzakir Abdulhamid [MA]: Saya rasa mengenai darurat militer di Aceh, saya ingin memberi tanggapan bahwa apa yang sedang berlaku di Aceh sebenarnya sekarang, dari laporan-laporan resmi yang kita terima di media massa bahwa lebih kurang ada 30.000 tentara di Aceh. Jadi saudara boleh bayangkan bagaimana situasi sekarang. Mereka boleh saja mengatakan akan menerapkan situasi militer di Aceh. Tapi apa yang berlaku di sana sudah militer sebenarnya. Di samping itu, dari laporan yang kami terima dari Tapol dan dari The Guardian semalam bahwa TNI sudah menggunakan pesawat jet buatan Inggris untuk menghabiskan Gerakan Atjeh Merdeka. Jadi sebenarnya itu taktik-taktik yang selalu dibuat oleh TNI. Memang, ya lain di media massa, lain di lapangan. Sebaiknya kami minta supaya wartawan dan jurnalis internasional terjun langsung ke Aceh melihat bagaimana situasi Aceh sekarang ini. Jadi benar-benar masyarakat dalam keadaan trauma. Setiap hari tidak kurang tujuh orang rakyat yang tidak bersalah dibunuh semena-mena. Di samping itu pula, saudara harus tahu bahwa apabila TNI tidak mendapatkan GAM, maka mereka akan menangkap warga sipil. Akan menangkap istri, anak-anak dan saudara marah. Jadi sebaiknya grup-grup HAM internasional terjun langsung ke Aceh meninjau apa yang sedang berlaku di Aceh sekarang ini sebelum terlambat. Radio Nederland [RN]: Ada dugaan bahwa militer semakin kuat di Aceh dan makin banyak berkeliaran di kota-kota di Aceh. Itu justru karena GAM sendiri sudah mulai melemah. Ini sinyal yang sudah beberapa hari menjadi pendapat umum. Apakah itu benar? MA: Sebenarnya GAM masih satu di bawah komando Teungku Hasan di Tiro dari Swedia. Dan sebenarnya karena kita sedang mengimplementasikan hasil perundingan di Jenewa, Swiss, 9-10 Mei lalu, jadi kita mau supaya kondisi di Aceh ini benar-benar kondusif. Tetapi TNI melalui intelejen-intelejennya sudah beraksi di Aceh sekarang ini melalui bermacam-macam cara. Khususnya di bagian Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie dan di Banda Aceh sendiri. Jadi sebenarnya kekuatan pergerakan Atjeh Merdeka dari hari ke hari bukan berkurang, tetapi akan bertambah. Apa sebabnya? Karena tekanan dan taruma yang dihadapi oleh bangsa Aceh dari semenjak 1976 semakin bertambah. Di samping itu juga NGO-NGO mahasiswa semuanya mendukung supaya penyelesaian Aceh diselesaikan melalui dialog secara damai. RN: Tetapi kami mendapat berita terakhir bahwa Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan bahwa dialog damai itu baru bisa ditinjau kembali tujuannya sebab jika kesediaan itu hanya bertujuan untuk melepaskan Aceh dari NKRI, maka TNI tidak bersedia melakukan dialog. Bagaimana tanggapan Anda? MA: Saya rasa dalam hal ini sebenarnya pemerintah RI harus satu suara. Tidak boleh ada suara dari TNI begini, dari pemerintah sipil begini. Kalau begitu pemerintah RI tidak solid. Jadi dalam hal ini sebaiknya mereka harus satu suara. Apabila pemerintah sudah mengatakan dialog, maka TNI itu harus berada di bawah pemerintah sipil. Itu baru namanya demokrasi. RN: Apa yang Anda harapkan, apakah dialog itu harus sesegera mungkin dilakukan? MA: Ya, apa yang telah disepakati di Jenewa itu sebaiknya diteruskan. Karena baru-baru ini juga kita mendapat laporan bahwa wakil bekas panglima NATO sudah ke Banda Aceh dengan Henri Dunant. Dan satu sumber lagi yang saya terima bahwa mungkin juga bahwa Jenderal Zinni akan ke Jakarta. Tapi itu tidak pasti apakah dia akan diberi ijin oleh Jakarta untuk mengimplementasikan hasil dialog yang telah disepakati di Jenewa supaya all inclusive dialog yang benar-benar aman, yang benar-benar mencukupi syarat dapat dilaksanakan di Aceh supaya bangsa Aceh bisa menentukan masa depannya sendiri. Demikian juru bicara GAM di Swedia, Muzakir Abdulhamid. * BELANDA KIRIM INSPEKTUR POLISI UNTUK PERCEPAT PENGADILAN KASUS PEMBUNUHAN WARTAWAN THOENES Rabu kemarin Majelis Rendah Belanda bertanya kepada Menteri Luar Negeri Jozias van Aartsen mengenai kelanjutan kasus pembunuhan wartawan Sander Thoenes, di Timor Timur pasca jajak pendapat September 1999. Tanya jawab ini penting karena beberapa minggu lalu terbetik berita, bahwa pihak Indonesia tidak akan melanjutkan penyelidikan karena sudah melebihi batas waktu. Berita ini sendiri sementara itu sudah dibantah oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia yang menyatakan bahwa penyilidkan itu terus berlangsung. Menlu van Aartsen meyakinkan para anggota majelis bahwa berita itu tidak benar dan ia percaya jakarta akan memenuhi janji untuk menyerahkan berkas perkara ke pihak pengadilan dalam waktu dekat. Lebih lanjut, laporan redaksi di Hilversum: Di Belanda wacana publik mengenai pembunuhan wartawan Sander Thoenes dimulai ketika di tahun 2000 Menteri Luar Negeri Jozias van Aartsen membicarakannya dengan mantan Menlu Alwi Shihab dan Menlu Australia Alexander Downer. Menyusul pembicaraan ini dimulai penyidikan PBB sekitar pembunuhan Sander Thoenes. Atas permintaan Menlu Belnada pihak kejaksaan agung Belanda memulai penyelidikan sendiri. Awal 2000 dikeluarkan laporan hasil penyidikan PBB dan Belanda, yang kemudian diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Keduanya menekankan pentingnya dimulai proses pengadilan. Laporan ini juga menyatakan, bahwa terbunuhnya Sander Thoenes diawali dengan rangkaian insiden yang juga menewaskan 11 warga sipil Timor Timur lainnya. Komnasham menyatakan, ketika itu berkas yang diserahkan PBB dan Belanda memuat detil yang paling lengkap. Pihak Kejagung dibantu sejumlah pakar kepolisian Belanda dan pakar Komnasham akhirnya memulai penyidikan resmi di Jakarta. Pada bulan Agustus 2001 menjadi jelas, Belanda belum mendengar hasil penyidikan dari pihak Kejagung. Menlu Van Aartsen kemudian menanyakannya dengan tegas kepada Jaksa Agung Abdul Rahman. Anggota majelis rendah Belanda berpendapat, bahwa Sejak September 2001 tidak ada perkembangan satu pun. Tetapi Van Aartsen menyatakan, ketika itu ia mengirim sebuah tim ke Jakarta yang menyerahkan dan menjelaskan berkas yang berisi bahan-bahan bukti yang dikumpulkan kejagung Belanda. Setelah itu tim ini melanjutkan perjalanan ke Timor Timur dan mengumpulkan bukti-bukti tambahan yang juga diserahkan kepada pihak Kejagung. Seorang inspektur Belanda juga dimasukkan ke dalam Komisi Penyidikan HAM Indonesia. Bulan Maret lalu Menlu Van Aartsen berbicara dengan Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra, yang membantah bahwa penyelidikan berlangsung terlalu lambat. Pihak PBB dan Belanda beranggapan hingga saat ini telah terkumpul cukup bukti untuk mengajukan kasus pembunuhan Thoenes ke pengadilan. Ini yang menimbulkan frustrasi di Den Haag, menurut mereka sekarang giliran Jakarta untuk membuktikan keseriusannya. Uni Eropa dan Belanda khususnya beragggapan kasus Thoenes adalah ujian untuk membuktikan kepercayaan pemerintah Indonesia terutama di bidang HAM dan penegakkan hukum. Belanda memuji Jakarta yang memperbanyak jumlah kasus yang harus diselesaikan Peradilan HAM Ad Hoc Timor Timur, tetapi dalam waktu dekat sidang itu harus segera dimulai. Menlu Van Aartsen sadar bahwa kasus pelanggaran HAM Timor Timur sangat peka di Indonesia. Tetapi sewaktu pembicaraan terakhir dengan Menlu Hassan Wirayuda, Van Aartsen menyatakan, pemerintah Belanda tidak terima apabila dengan trik-trik administrasi dikatakan, bahwa kasus ini tidak dapat dilanjutkan atau dipeti-eskan. Mendengar ini, Menlu Indonesia Hassan Wirayuda segera menjamin bahwa kekhawatiran ini tidak akan terjadi. Setelah itu diberitakan bahwa penyelidikan kasus ini tidak akan dilanjutkan lagi karena sudah melewati batas waktu. Tetapi Menlu Van Aartsen membantahnya. Sekarang apa yang menjadi masalah? Mengapa tertuduhnya tidak segera diadili? Hingga sekarang masih ada perbedaan pendapat antara Kejaksaan Agung Jakarta, yang mengatakan bahwa barang buktinya tidak lengkap. Sementara itu, baik pihak Belanda maupun PBB menyatakan bahwa bukti-bukti tersebut cukup kuat sehingga kasus Thoenes bisa diajukan ke pengadilan. Sebagai jalan terbaik untuk menjembatani perbedaan pendapat itu maka pemerintah Belanda kembali mengirim inspektur polisi Thiry ke Indonesia. Atas undangan pihak Jakarta Thiry akan berbicara langsung dengan Jaksa Agung Abdul Rahman mengenai berkas-berkas yang telah dikumpulkan tanggal 17 Juli mendatang. Yang menjadi pertanyaan parlemen Belanda adalah bagaimana Menlu Van Aartsen tahu, bahwa kasus Thoenes tidak dengan sengaja di peti-eskan saja? Undangan langsung Jaksa Agung Abdul Rahman untuk berbicara dengan Inspektur Thiry, membuktikan bahwa kasus Thoenes masih dalam proses, dan ini sesuai dengan janji yang dibuat 11 Juni lalu. Demikian Menteri Luar Negeri Belanda Jozias van Aartsen. Para anggota parlemen cukup puas akan penjelasan Menteri van Aartsen, dan cukup puas akan usaha-usaha yang dilakukan Kementrian Dalam Negeri dan pihak kejaksaan agung Belanda. Dari pembicaraan dengan Menlu hasan Wirayuda, van Aartsen yakin dalam waktu dekat akan dimulai proses pengadilan dengan bukti-bukti dan saksi-saksi yang telah disetujui kedua belah pihak sebelumnya. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
