---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Jumat 12 Juli 2002 13:40 UTC



** AUSTRALIA DUKUNG AMERIKA DI IRAK

** PAKISTAN TANGKAP PENASIHAT BIN LADEN

** KEKECEWAAN PARA MENTERI TURKI MELUAS

** TOPIK GEMA WARTA : TUDUHAN TERHADAP HDC MENUNJUKKAN BOBROK
MANAJEMEN SIPIL DAN MILITER



* AUSTRALIA DUKUNG AMERIKA DI IRAK

Menteri luar negeri Australia Alexander Downer memberikan dukungan
apabila Amerika sampai melancarkan aksi militer terhadap Irak. Downer
yang sedang berkunjung ke Washington, menyamakan pemimpin Irak Saddam
Hussein dengan Hitler. Menlu Australia itu mendesak dunia
internasional untuk mengambil sikap yang lebih tegas terhadap rejim
di Bagdad.
Belum lama ini, presiden Amerika George Bush masih menegaskan bahwa
ia akan menempuh segala cara untuk menjatuhkan Saddam Hussein.
Sejumlah negara Eropa barat, juga Rusia dan Cina dengan tegas
memperlihatkan sikap yang tidak menukung Bush.


* PAKISTAN TANGKAP PENASIHAT BIN LADEN

Menurut otoritas Pakistan mereka telah berhasil menangkap penasihat
keuangan Osama bin Laden. Bersama dua anggota jaringan Al Qaeda lain,
pria tersebut ditahan saat dilakukan penggrebekan di sebuah rumah di
luar kota Karachi. Penasihat keuangan berkebangsaan Sudan itu
diberitakan melarikan diri ke Pakistan pada saat mulai dilancarkan
operasi militer Amerika di Afghanistan. Operasi pencarian dilakukan
setelah insiden ledakan bom di gedung konsulat Amerika di Karachi
bulan lalu, yang menewaskan 12 orang Pakistan.


* KEKECEWAAN PARA MENTERI TURKI MELUAS

Mantan menteri luar negeri Turki Ismail Cem akan mendirikan sebuah
gerakan politik yang baru. Ia akan dibantu oleh wakil perdana menteri
yang mengundurkand diri Husamettin Ozkan dan menteri perekonomian
Kemal Dervis. Gerakan politik yang baru terutama akan mendesak
pemerintah untuk terus melanjutkan perombakan yang diperlukan agar
supaya Turki diterima menjadi anggota Uni Eropa. Cem termasuk salah
satu dari ke-tujuh menteri yang pekan ini mengundurkan diri karena
tidak puas dengan situasi politik Turki saat ini. Menteri-menteri
yang tidak puas menuntut pengunduran diri perdana menteri Bulent
Ecevit yang karena sakit tidak lagi mampu berfungsi dengan baik. Tapi
perdana menteri yang berumur 77 tahun itu, tidak peduli dan ia mau
tetap bertahan.


* MANTAN PRESIDEN LILIC TAMPIL DI TRIBUNAL YUGOSLAVIA

Mantan presiden Yugoslavia Zoran Lilic tiba di Den Haag dari Belgrado
untuk tampil sebagai saksi dalam proses peradilan Slobodan Milosevic.
Selama beberapa tahun Lilic memegang jabatan wakil perdana menteri
dibawah pemerintahan presiden Milosevic. Ia menjadi bekas anggota
kabinet Yugoslavia pertama yang tampil di tribunal Yugoslavia di Den
Haag. Sebelumnya mantan wakil perdana menteri Lilic masih menyatakan
tidak akan tampil di tribunal Yugoslavia secara sukarela. Zoran Lilic
menjadi presiden Yugoslavia sampai ia digantikan oleh Slobodan
Milosevic. Masih belum jelas, kapan Lilic akan tampil di tribunal
Yugoslavia di Den Haag.


* KONFLIK PULAU PEREJIL ANTARA MAROKO-SPANYOL

Pemerintah Spanyol memprotes keras kehadiran militer Maroko di pulau
Perejil di Laut Tengah. Maroko membangun basis militer disana sebagai
bagian dari operasi memberantas terorisme dan imigrasi gelap di selat
Gibraltar. Kehadiran militer Maroko disebut oleh pemerintah Spanyol
sebagai 'kenyataan yang parah dan mencemaskan' dan menuntut Maroko
untuk segera menarik mundur tentaranya dari Perejil.
Pulau Perejil terletak di lepas pantai Maroko. Menurut Spanyol, pulau
tersebut masuk wilayah kedaulatannya sejak tahun 1580. Maroko
sebaliknya menegaskan bahwa pulau tersebut masuk wilayahnya sejak
tahun 1956, setelah berakhirnya masa penjajahan Spanyol itu di Maroko
Utara. Insiden pulau Perejil langsung menyulut konflik diplomatik
bilateral, yang menegangkan hubungan Rabat dengan Madrid. Pekan lalu,
lima kapal angkatan perang Spanyol memasuki wilayah perairan Maroko.
Maroko kemudian memanggil duta besar Spanyol di Rabat.


* AMNESTI MASSAL RAJA MAROKO

Raja Maroko Mohammad ke-VI memberikan grasi kepada delapan ribuan
tahanan. 42 narapidana mendapat keringanan hukuman. Raja Maroko yang
berusia 38 tahun memberikan amnesti massal berkaitan dengan pesta
pernikahannya. Bulan Maret ia menikah dengan Salma Bennani 24 tahun.
Pesta pernikahan diundur berkaitan dengan konflik Israel-Palestina.
Tiga tahun lalu, Raja Mohammad telah memberikan amnesti kepada banyak
narapidana, ketika ia naik tahkta.


* PULUHAN TEWAS DALAM OPERASI MEMBERANTAS GERILYAWAN DI KOLOMBIA

Lebih dari 50 orang tewas dalam pertempuran antara tentara dan
gerilyawan di Kolombia. Kebanyakan korban berjatuhan di La Plata, di
Kolombia barat daya. Di sana 30-an gerilyawan tewas. Menurut jubir
tentara korban kebanyakan adalah anggota gerilyawan FARC dan
kelompok-kelompok gerilya kiri ELN. Kedua gerilyawan semakin bekerja
sama dalam menghadapi tentara. Dalam tembak-menembak di Kolombia
timur luat, gerilyawan menembak mati 14 tentara.


* Normal;heading 1;
TOPIK GEMA WARTA: SUTIYOSO, GUBERNUR ORDE BARU DI JAMAN REFORMASI

SUTIYOSO, GUBERNUR ORDE BARU DI JAMAN REFORMASI



Belakangan tingkah laku Sutiyoso selalu memancing kontroversi.
Berbagai kritik terus mengalir sejak ia menyatakan akan tetap
bertahan pada kursi gubernur Jakarta. Di tengah kritik itu, pensiunan
tentara ini pantang mundur. Ia terus maju ke bursa pemilihan calon
gubernur, sambil kasak-kusuk cari dukungan ke sana sini. Bukan cuma
kepada Presiden Megawati Seokarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz.
Minta dukungan juga dilakoni bang Yos, demikian ia biasa disapa,
kepada bekas almamaternya, yakni TNI.


Paling tidak demikianlah pengakuan Sutiyoso kepada wartawan. Dia
mengatakan sudah bertemu dengan panglima TNI Endriartono Sutarto,
serta Kepala Staf Angkatan Darat Ryamizard Ryacudu. Sutiyoso mengaku,
tak ada keberatan dari kedua pimpinan tertinggi militer itu, atas
pencalonannya kembali sebagai gubernur ibukota.


Sutiyoso: (Itu yang sinyalemen katanya anda ditolak oleh TNI?)
Nggak-nggak benar. Saya sudah ketemu sama Pangab sendiri sama KASAD
juga sudah ngobrol. Itu cuma karangan aja. Beliau ndak pernah ngomong
apa-apa gitu.


Tapi belakangan pernyataan itu dibantah Kepala Staf Angkatan Darat
Ryamizard Ryacudu. Ryamizard membantah bahwa TNI mendukung Sutiyoso.
Ia menegaskan, sebagai pensiunan, Sutiyoso tak punya kaitan lagi
dengan TNI. Bahkan, jangankan dukungan, kata Ryamizard, bertemu
dengan Sutiyosopun dia tak pernah.


Ryamizard Ryacudu: Nggak, saya tidak pernah dihadapkan. Panglima juga
tidak. Siapapun. Yang penting kita tidak akan memboikot. Awas kita
tidak suka memboikot. Kemudian yang kita suka kita dukung. Bukan
boikot boikot, dukung dukungan. Terserah. Kalau rakyat menghendaki
kita dukung-dukung nggak ada gunanya juga. Kan rakyat kan yang
menentukan? Apa siapa?


Benar atau tidaknya dukungan TNI kepada Sutiyoso memang masih harus
dibuktikan. Namun selama ini sempat muncul dugaan, bahwa dukungan
Megawati bagi pencalonan Sutiyoso, merupakan bagian kesepakatan
antara Mega dengan militer. Tujuannya jelas, yakni mengamankan
kedudukan Mega sampai pemilu 2004, serta sidang tahunan MPR yang akan
digelar bulan depan. Itulah alasan resmi yang disampaikan para
pimpinan PDI-P soal dukungan partainya kepada bang Yos.

Kesepakatan di belakang layar, serta meminta dukungan dan restu dari
atasan yang berkuasa, memang cara yang lazim di era orde baru. Dan
ternyata, kultur politik tak sehat itu masih diwarisi Mega. Begitu
pun Sutiyoso. Salah seorang kandidat gubernur Jakarta Arbi Sanit
mengkritik cara Sutiyoso ini.


Arbi Sanit: Ini apapun cara-cara, strategi, pikiran visi aspirasi
apapun yang berawal dari Soeharto itu, itulah yang menjadi inspirasi
dia. Yang jadi solusi bagi masalah-masalah yang dapat diambilnya.


Di masa orde baru, seorang gubernur memang harus mendapat dukungan
atau restu dari presiden dan pihak militer. Tanpa itu semua, seorang
kandidat gubernur tidak usah mimpi bisa terpilih. Dan, masih di jaman
orba dulu, wewenang DPRD untuk memilih gubernur jelas tidak lebih
dari stempel belaka. Sebuah cara yang layak kalau ditinggalkan saja.
Paling sedikit itulah pendapat ketua fraksi Partai Keadilan DPRD
Jakarta Achmad Heriawan.


Achmad Heriawan: Saya memang sebagaimana kalangan lain sangat
memprihatinkan masalah ini. Kita mengenal dan memahami bahwa Sutiyoso
ini juga produk Orde Baru. Jadi dipilih dari atas. DPRD sebagai alat
legitimasi saja. Nah kalau kita menginginkan perubahan maka harus ada
perubahan kepemimpinan di DKI Jakarta ini. Dari perubahan inilah kita
menitipkan harapan yang lebih baik.


Zaman memang sudah berubah. Tapi Sutiyoso, bekas panglima militer
Jakarta sekaligus tersangka kasus 27 Juli, jelas masih berpikir dan
bertindak seperti cara lama. Maklum saja karena pola politik seperti
ini masih mendominasi cara pemerintahan Megawati. Dalam sistem
politik yang tidak terbuka ini proses naik turunnya seorang pejabat
melulu terbatas pada loyalitasnya kepada atasan. Kalangan yang
berkuasa menembus praktek seperti ini adalah DPRD Jakarta. Beranikah
DPRD Jakarta, dengan PDIP sebagai partai terbesar, mengesampingkan
cara yang sudah ketinggalan jaman ini? Jang jelas warga Jakarta butuh
gubernur yang mengerti apa yang ia kerjakan untuk kotanya. Bukan
gubernur yang sibuk cari dukungan para petinggi, tapi tidak mendapat
dukungan warga.


Tim Liputan 68h, Jakarta melaporkan untuk Radio Nederland di
Hilversum.


* TUDUHAN TERHADAP HDC MENUNJUKKAN BOBROK MANAJEMEN SIPIL DAN MILITER


Intro: Belum lagi sehari, Jakarta nampak tergesa-gesa untuk
mengoreksi pernyataan Pangdam Iskandar Muda Mayjen M Djali Yusuf yang
menuduh Henry Dunant Center (HDC) sebagai mata-mata. Panglima TNI
Jend. Endriartono Sutarto mengatakan tidak benar pernyataan
pangdamnya itu, dan media salah mengutipnya.

Sementara itu, di Jenewa, HDC yang dihubungi Radio Nederland, menolak
memberi tanggapan karena menghormati kesepakatan untuk tidak
mengeluarkan pernyataan selama proses dialog berlangsung.

Bagi Indonesia, pernyataan panglima TNI Endriartono menunjukkan
kebobrokan manajemen militer dan sipil, demikian pengamat politik
Arbi Sanit.

Arbi Sanit [AS]: Pada pokoknya, menurut hemat saya, tidak ada
sinkronisasilah, di antara Pangdam dengan atasannya.

Radio Nederland [RN]: Dan ini bisa mengganggu proses dialog seluruh
proses dialog dengan GAM juga ya?

AS: Oh, tentu saja akibatnya lebih luas. Dunia internasional sekarang
sudah melihat pemerintah Indonesia yang serba curiga kepada
lembaga-lembaga internasional, itu akan  juga membikin opini
internasional kepada Indonesia menjadi buruk, lalu ya, tentu
berakibat pada proses perundingan di Jenewa. Bisa jadi juga,
petugas-petugas dari lembaga internasional itu sekarang menjadi
bertanya-tanya, setidak-tidaknya. Menjadi tidak normal situasi di
mana mereka harus bekerja, begitu ya.

RN: Kebetulan tadi kami menghubungi Henry Dunant Centre dan meminta
tanggapan mereka atas pernyataan bahwa itu mata-mata. Tetapi mereka
menolak berkomentar, karena ingin mematuhi kesepakatan untuk tidak
mengeluarkan pernyataan selama proses dialog berlangsung. Berarti
dengan menyebut HDC mata-mata, secara implisit pemerintah Indonesia,
dalam hal ini TNI, telah melanggar kesepakatan Jenewa.

AS: Ya! Ya, maklum sajalah, ini tentara Indonesia kan pendidikannya
lokal, nih. Masalah internasional kan nggak ngerti. Mereka juga tidak
punya penasehat ahli internasional. Dan harusnya statement seperti
itu tidak berhak dikeluarkan oleh Pangdam. Statement seperti itu
harus dikeluarkan oleh Deplu. Karena kalau Deplu yang mengeluarkan,
mereka tentu mempelajari persoalan internasionalnya, persoalan
hukumnya, persoalan diplomasinya, dan juga fakta-faktanya sekaligus.
Itulah sebabnya menurut hemat saya atasnya, Panglima, tidak setuju
dengan itu. Dia hendak melihat dulu persoalan ini secara lebih
komprehensif menurut hemat saya.

RN: Tetapi ya, pernyataan sudah dikeluarkan, ini tentu suatu
kecerobohan besar dari pihak TNI, ya?

AS: Ya, saya kira tampaknya TNI mulai frustrasi ini. Mulai merasa
kesal tidak bahagia melakukan tugasnya. Oleh karena pasukan ditambah,
pasukan ditambah, pasukan ditambah, tapi tak beres-beres juga. Dan
sekarang boleh dikata tanggung jawab penyelesaian masalah ini lebih
banyak pada TNI, pada gubernur, pada menteri dalam negeri atau pada
kabinet.


Nah, situasinya sekarang menjadi makin rumit. Tanggung jawab dipikul,
fasilitas mungkin kurang, tetapi pekerjaan nggak beres-beres, malah
semakin rumit. Nah, oleh karena itu cepat-cepat marah, cepat-cepat
tuduh ini tuduh itu.

RN: Konteksnya kan begini: Pangdam Iskandar Muda Djali Yusuf itu
mengutip teguran yang disampikan oleh deputy menko polkam terhadap
HDC di Aceh. Jadi pernyataan itu sebetulnya bukan pernyataan dia
sendiri, tetapi dia mengutip teguran deputy menko polkam. Mengapa
deputy menko polkam yang menelpon yang isinya teguran, sedangkan
menko polkam sendiri kan sekarang ini berada di Aceh, kenapa teguran
itu harus melalui Jakarta?

AS: O, iya, itu masalah koordinasi. Bukan hanya koordinasi informasi,
koordinasi tugas. Inilah gambaran bahwa keadaan manajerial militer
ini tampaknya juga semakin bobrok. Barangkali ini melengkapi
bobroknya pemerintah sipil, bobrok juga orang militer. Nah, oleh
karena itu menurut hemat saya penyelesaian ini memang semakin rumit,
tidak semakin terang jalannya.
Demikian pengamat politik Arbi Sanit.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke