---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 24 September 2002 13:40 UTC



** BLAIR UMUMKAN LAPORAN RAHASIA TENTANG SENJATA BIOLOGIS DAN KIMIA
IRAK

** PBB SETUJUI RESOLUSI TENTANG PENGEPUNGAN RAMALLAH OLEH ISRAEL

** BENTROKAN KERAS POLISI DAN KELOMPOK EKSTRIM MUSLIM PADA HARI KEDUA
PEMILU DI KASHMIR

** TOPIK GEMA WARTA: BENARKAH PEMILU SATU-SATUNYA JALAN?

** TOPIK GEMA WARTA: 48 ORGANISASI BURUH MENGGELAR DEMO PROTES BESAR
DI DPR



* BLAIR UMUMKAN LAPORAN RAHASIA TENTANG SENJATA BIOLOGIS DAN KIMIA
IRAK

Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, mengumumkan sebuah laporan
rahasia yang menyebutkan bahwa Irak mampu melancarkan serangan dengan
senjata biologis atau kimia dalam waktu 45 menit. Menurut laporan
itu, pemimpin Irak, Saddam Hussein, terus membangun gudang
penyimpanan senjata pemusnah massal. Bagdad juga dituduh mencoba
membeli uranium di negara-negara Afrika untuk produksi senjata
nuklir. Blair berharap bahwa laporan setebal 55 halaman tersebut
dapat meyakinkan para skeptisi tentang pentingnya aksi militer
terhadap Irak. Parlemen Inggris mengadakan sidang darurat tentang
masalah ini. Dalam reaksinya, Bagdad mengatakan bahwa laporan itu
tidak punya landasan kebenaran sama sekali.


* PBB SETUJUI RESOLUSI TENTANG PENGEPUNGAN RAMALLAH OLEH ISRAEL

PBB menyetujui sebuah resolusi yang mengkritik keras pengepungan
markas besar Yasser Arafat oleh Israel. Amerika Serikat bersikap
mengambil jarak terhadap situasi ini. Perhatian internasional tertuju
pada Amerika, karena veto yang mungkin dijatuhkannya akan
membahayakan hubungan Amerika dengan negara-negara Arab. Dewan
Keamanan melakukan pertemuan sepanjang malam untuk membicarakan
berbagai resolusi tentang Israel. Dalam naskah akhir resolusi yang
lolos dengan 14 suara setuju dan nol suara tidak setuju itu,
disebutkan secara harfiah bahwa Dewan Keamanan 'sangat prihatin
terhadap pendudukan ulang' markas besar Arafat. Dalam resolusi,
diserukan juga agar Israel segera menghentikan aksi militernya di
Ramallah. Wakil Duta Besar Amerika Serikat di PBB, James Cunningham,
mengatakan bahwa ia tidak bisa mendukung resolusi itu karena tidak
ada sanksi terhadap serangan bunuh diri oleh Palestina.


* BENTROKAN KERAS POLISI DAN KELOMPOK EKSTRIM MUSLIM PADA HARI KEDUA
PEMILU DI KASHMIR

Di negara bagian India, Jammu dan Kashmir, bentrokan keras terjadi
antara polisi dan kelompok ekstrim muslim. Kekerasan itu terjadi pada
hari kedua - dari total empat hari - pemilihan umum parlemen di
negara bagian. Bentrokan paling parah terjadi di kota Srinagar. Para
pemberontak muslim berlindung di sebuah gedung dekat tempat
pemungutan suara. Polisi memutuskan untuk menyerbu karena pemberontak
berencana menyerang sebuah barak militer yang berdekatan. Akibat
serbuan polisi ini, seorang pemberontak tewas. Pengepungan berakhir
saat polisi meledakkan seluruh gedung.
Dalam pemilu bertahap yang akan berakhir 8 Oktober nanti, berbagai
distrik akan mendapat giliran pada setiap putaran. Pemberontak muslim
memboikot pemilu sebagai protes terhadap penindasan India. Dalam masa
persiapan pemilu dua bulan terakhir ini, korban tewas hampir mencapai
500 orang.


* 21 MURID TEWAS KARENA TERJATUH DARI TANGGA

Di wilayah utara Cina 21 murid sekolah tewas karena sebuah tangga di
sekolah mereka ambruk. Sekitar 50 murid lainnya cedera. Kecelakaan
itu terjadi di kota Fengzhen, Senin kemarin, ketika para murid keluar
gedung seusai jam sekolah. Sebagian besar korban yang berusia14
tahunan itu, tewas karena tidak bisa bernafas.


* RIBUAN WARGA UKRAINA BERDEMONSTRASI TUNTUT PRESIDEN KOETJSMA MUNDUR


Di ibukota Ukraina, Kiev, ribuan warga turun ke jalan menuntut
mundurnya Presiden Leonid Koetsjma. Sejauh ini, demonstrasi
berlangsung damai. Senin malam, tiga pemimpin oposisi - Pjotr
Simonenko, Julia Timoshenko dan Olexander Morozov, serta puluhan
pengikut mereka, menduduki stasiun televisi pemerintah selama dua
jam. Mereka menuntut 10 menit waktu siaran untuk mendesak turunnya
Presiden Leonid Koetjsma. Tetapi stasiun televisi pemerintah itu
menolak tuntutan dan pendudukan pun diakhiri. Pekan lalu, 10 ribu
orang turun ke jalan dalam demonstrasi anti Koetsjma. Rejim Presiden
Koetsjma semakin dianggap otoriter oleh warganya.


*
BENARKAN PEMILU SATU-SATUNYA JALAN?


Benarkah Pemilu merupakan satu-satunya jalan ke arah perubahan?
Pemimpin-pemimpin Indonesia pada awal pembentukan republik merebut
kekuasaan tidak melalui Pemilu dan Parlemen. Lebih lanjut laporan
koresponden Syahrir dari Jakarta.


Dr. Syahrir, mantan aktivis mahasiswa yang sempat ditahan beberapa
tahun oleh rejim Soeharto, hari Senin telah mendeklarasikan suatu
partai baru yang dinamakannya Partai Perhimpunan Indonesia Baru. Pada
saat yang sama Menkeh Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa bila RUU
Parpol disahkan maka hanya enam parpol yang pernah mengikuti pesta
pemilu tahun 1999 dapat mengikuti pesta pemilu pada tahun 2004 yang
akan datang.

Di luar enam parpol tersebut yakni antara lain, PDI-P, PKB, PBB, PAN,
dan Partai Golkar, harus bergabung dengan partai-partai lain dan
membentuk partai baru bila ingin menjadi kontestan pemilu yang akan
datang. Dan yang lebih sulit lagi bagi Dr. Syahrir sudah tentu
adalah usulan Fraksi Kebangkitan Bangsa di DPR RI yang mengusulkan
penambahan jumlah orang yang akan membentuk partai politik dinaikkan,
dari sekurang-kurangnya 50 menjadi 1000 orang. Usul FKB itu didukung
oleh Fraksi TNI Polri. Bahkan fraksi berbaju hijau ini menganggap
1000 orang sebenarnya sangat kurang. Mengingat jumlah penduduk yang
bisa menggunakan hak memilih berjumlah lebih dari 100 juta orang.

Yang juga menarik adalah pendapat orang-orang PDI Perjuangan utamanya
kelompok pendukung Taufik Kiemas yang mengatakan bahwa warga negara
Indonesia yang tidak masuk parpol adalah tak bertanggung jawab.
Bukankah Bung Karno mengajarkan bahwa perjuangan demokrasi itu
haruslah melalui partai-partai politik dan pemilu. Sebaliknya
orang-orang yang tidak mau masuk parpol saat ini menganggap justru
parpol-parpol itu sesungguhnya mengecewakan, immoral dan tak
bertanggung jawab. Seharusnya mereka segera membawa bangsa ini keluar
dari rawa keterpurukan dan bencana ekonomi. Mereka menganggap
permasalahan utama saat ini adalah soal kepemimpinan bangsa.
Sedangkan Habibie, Gus Dur dan Megawati ternyata tidak mampu menuntun
bangsa ini keluar dari kubangan tersebut.

Namun ini bukan berarti bahwa ide kalangan mantan perwira militer
seperti Wiranto dan Try Sutrisno harus didukung orang-orang
non-parpol. Yaitu bahwa militer harus kembali memimpin negara. Mereka
cenderung kepada suatu cara revolusioner sebagai jalan keluar tetapi
dipimpin oleh pihak sipil. Partai-partai politik dan Pemilu hanyalah
merupakan suatu teknik dalam demokrasi. Tetapi masih ada cara-cara
yang lain, seperti revolusi. Soekarno-Hatta misalnya merebut
kekuasaan tidak melalui parlemen. Hanya revolusi yang dilakukan oleh
Soekarno-Hatta itu yang
bisa membawa bangsa Indonesia keluar dari kemelut saat ini. Demokrasi
pada hakekatnya adalah kekuatan dan kekuasaan yang disetujui dan
direstui oleh rakyat.

Maka sekarang dibutuhkan suatu power yang didukung oleh rakyat
(people power). Indonesia terbukti telah melewati sembilan Pemilu.
Juga melalui tiga pemerintahan setelah Soekarno dan Soeharto jatuh.
Tetapi tetap saja Indonesia dapat membanggakan diri sebagai negara
yang mampu mengatasi permasalahan-permasalahannya. Oleh karena itu
sekarang timbul keyakinan dalam masyarakat khususnya generasi muda
bahwa perlu dicari jalan lain untuk keluar dari kemelut saat ini dan
bilamana perlu secara inkonstitusional.

Ternyata memilih pemimpin dengan berdasarkan konstitusi sampai
sekarang hanya menimbulkan pemimpin-pemimpin yang sangat
mengecewakan. Sedangkan kekuasaan di Indonesia tidak selalu timbul
dari
partai-partai seperti misalnya Soeharto. Selain itu para founding
father tidak muncul lewat parpol dan pemilu. Maka peralihan kekuasaan
lewat pemilu
tahun 1999 oleh kalangan generasi muda bisa dianggap sebagai
peralihan yang tidak demokratis. Hanya peralihan kekuasaan yang
disetujui dan didukung oleh masyarakat baru bisa dikatakan peralihan
kekuasaan yang demokratis.

Pemimpin-pemimpin yang tumbuh secara wajar dan alamiah adalah mereka
yang di dalam pertumbuhannya selalu direstui oleh rakyat.


* 48 ORGANISASI BURUH MENGGELAR DEMO PROTES BESAR DI DPR


Sekitar 48 organisasi serikat buruh dan LSM buruh yang tergabung
dalam Komite Anti Penindasan Buruh hari ini menggelar demo di gedung
DPR. Mereka hampir putus asa, mendesak agar DPR membatalkan dua
rancangan Undang Undang tentang pembinaan ketenagaakerjaan PPK dan
tentang Penyelesaian perselisihan Industrial PPHI. Kalau DPR tidak
mau mendengar protes mereka, aksi aksi semacam ini bisa berlanjut dan
mengancam ketenangan semua pihak. Demikian Martin Sirait dari SBMNI,
serikat yang mewakili15 ribuan buruh di sektor pelabuhan, transpor,
nelayan dan pelaut.


Martin Sirait [MS]: Kita sepenuhnya mendukung unjuk rasa di DPR untuk
membatalkan kedua undang-undang yang akan disahkan itu. Kedua
undang-undang itu sama sekali tidak berpihak kepada buruh,
undang-undang yang lalu no 12/1964 dan no. 22/1957 jauh lebih baik
dan sebaiknya itu saja yang diamandemen karena memang ada hal-hal
yang perlu diperbaiki di UU yang lama seperti dua yang dirancang ini
sama sekali juga tidak jelas, hanya UU mengenai PTUN memang
mengganggu karena seakan-akan UU PTUN hirarkinya lebih tinggi dari UU
ketenaga-kerjaan. Sekalipun sudah diputuskan oleh P4 itu masih harus
dikontes melalui PTUN itu kan jadi tidak fair, itu namanya ada
kekacauan UU. Kalau ada satu UU lebih tinggi dari UU yang lain.

Radio Nederland [RN]: Jadi pasal yang menyangkut ini, yang menurut
Anda merugikan pihak buruh?

MS: Iya, merugikan pihak buruh! Bayangkan saja peradilan buruh yang
hanya menuntut katakanlah upah satu juta rupiah, pesangon satu juta
rupiah harus menunggu satu tahun-dua tahun, dimana ada logikanya itu.
Itu kan tidak bisa diterima akal sehat.

RN: Seberapa jauh demo ini sudah melobby pihak-pihak di DPR?

MS: Kalau di DPR itu tadi yang menerima hanya satu orang, karena
memang saat ini di DPR sedang ada sidang paripurna dan beberapa
sidang, tapi sedang ada upaya pengesahan UU mengenai utang negara
jadi tersedot semua ke situ, oleh sebab itu kita sudah katakan bahwa
sebaiknya kita membuat satu kesepakatan untuk membatalkan dua RUU
tersebut. Kalau tidak ya buruh tidak ada satu kompromi untuk dua UU
yang sudah ada karena itu sudah diutarakan berkali-kali dalam hearing
dan dalam dengar pendapat umum dengan wakil-wakil buruh khususnya
dengan komite anti penindasan buruh yang terdiri dari 48 lebih
organisasi-organisasi buruh dan LSM-LSM pemerhati buruh.

RN: Jadi masalahnya tertumpu pada soal penghentian tenaga kerja yang
harus melewat PTUN?

MS: Ya itu salah satu, tetapi juga salah satu yang paling kunci di
situ adalah tidak ada hak mogok begitu, kedua belah pihak bisa
bersepakat untuk membawa ke sistem peradilan. Anda tahu sendiri
peradilan di Indonesia itu pembela yang bayar bukan pembela yang
benar. Oleh sebab itu tentu saja buruh itu tidak mungkin membayar
pengadilan, yang biasa itu pengusaha selama ini. Peradilan yang
selama ini pengusaha itu belum pernah dihukum tetapi buruh sudah
banyak yang dihukum. Nah, dengan unjuk rasa ini saja sudah ada yang
ditembak dua orang, sedangkan polisi yang menembak tidak
diapa-apakan. Ini kan satu ketidak adilan dalam kehidupan di
Indonesia saat ini.

RN: Pihak DPR tampaknya juga bersikeras?

MS: DPR ini kan kita tahu membela siapa yang bayar. Kalau buruh kan
nggak bisa bayar. Jadi DPR ini juga memiliki kepentingan-kepentingan
yang bukan kepada pemilih, tapi kepada kantong karena memang mereka
tidak memperhatikan aksi-aksi rakyat sama sekali.

RN: Jadi 48 organisasi buruh termasuk serikat maupun LSM ya sekarang
melakukan demo di depan DPR?

MS: Dalam komite anti penindasan buruh LBH juga ikut di situ.

RN: Apabila toh RUU ini disahkan, lalu apa alternatifnya? Apa yang
pihak serikat akan lakukan?

MS: Ya, buruh tentu akan melakukan perlawanan. Tetapi kan kita tidak
ingin hal-hal seperti itu, itu jalan terakhir. Kalau habis perlawanan
tidak mungkin ada peperangan. Kalau Anda dengar yel-yel buruh
'Bubarkan Pemerintah' sudah begitu, 'Turunkan Mega' sudah begitu
omongan-omongan itu. Itu kan karena memang kabinet ini tidak
memperhatikan wong cilik. Kabinet ini kan hanya memperhatikan
konglomerat. Dan sekarang sedang bermain dengan uang-uang di BPPN,
korupsinya besar-besaran dan tidak ada bedanya dengan rejim Soeharto.
Lebih jelek lagi korupsinya transparan sekali.


Demikian Martin Sirait dari SBMNI.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke