--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Senin 02 Desember 2002 15:30 UTC ** NEGARA NEGARA JIRAN AUSTRALIA MENENTANG GAGASAN HOWARD TENTANG SERANGAN TERHADAP NEGARA PELINDUNG TERORIS ** PUTIN CAPAI KESEPAKATAN DENGAN JIANG ZEMIN ** PESAWAT TEMPUR AMERIKA DAN INGGRIS MEMBOM SASARAN DI IRAK SELATAN ** TOPIK GEMA WARTA: KEBIJAKAN PERDAMAIAN PAPUA MEMBUAT JAKARTA SALAH TINGKAH ** TOPIK GEMA WARTA: PM AUSTRALIA HARUS JELASKAN MAKSUDNYA DENGAN SERANGAN TERHADAP TERORIS * NEGARA NEGARA JIRAN AUSTRALIA MENENTANG GAGASAN HOWARD TENTANG SERANGAN TERHADAP NEGARA PELINDUNG TERORIS Negara-negara jiran Australia menentang keras gagasan Perdana Menteri Australia John Howard untuk menyerang negara yang diduga jadi pelindung atau sarang teroris. Howard menyatakan siap menyerang suatu negara jika ada kemungkinan bahwa aksi teror terhadap Australia direncanakan di negara itu. Pemerintah Indonesia menganggap pernyataan Howard tidak bisa diterima. Jika Howard mendapat petunjuk tentang rencana aksi teror, ia lebih baik menginformasikan hal itu kepada kepala negara yang bersangkutan. Pemerintah Filipina menyebut pernyataan Howard sebagai mengada-ada dan congkak. Penasehat Keamanan Nasional Filipina, Roilo Golez mengusulkan untuk mengurangi kerjasama anti teror dengan Australia. Sementara itu, Malaysia dan Thailand juga bereaksi negatif. Pihak oposisi Australia minta Howard menarik pernyataannya tapi sang Perdana Menteri menolak. * PUTIN CAPAI KESEPAKATAN DENGAN JIANG ZEMIN Presiden Rusia Vladimir Putin mencapai kesepakatan dengan pemimpin Cina Jiang Zemin tentang beberapa masalah luar negeri. Kesepakatan ini dicapai dalam kunjungan Putin ke Cina. Rusia dan Cina menyerukan dengan keras agar Korea Utara memperbaiki hubungan diplomatiknya dengan Amerika Serikat. Putin dan Jiang sepakat bahwa Pyongyang harus menghentikan proyek nuklirnya dan mendukung upaya rujuk antara Korea Utara dan Selatan. Moskow dan Peking juga sepakat bahwa masalah Irak hanya dapat diselesaikan lewat upaya politis dan diplomatik. Rusia dan Cina punya hubungan diplomatik yang baik dengan Korea Utara dan Irak. Sejak serangan 11 September tahun lalu, Moskow dan Peking juga memperbaiki hubungannya dengan Washington. Putin akan berkunjung ke India Selasa besok. * PESAWAT TEMPUR AMERIKA DAN INGGRIS MEMBOM SASARAN DI IRAK SELATAN Pesawat tempur Amerika dan Inggris membom sasaran di Irak Selatan. Menurut Amerika, sasaran pemboman adalah pertahanan udara Irak di sekitar kota pelabuhan Basra. Namun Irak menyatakan bahwa pesawat tempur AS dan Inggris menyerang sasaran sipil. Beberapa pekan terakhir, tampaknya Amerika dan Inggris semakin meningkatkan pemboman. Aksi ini dilakukan ketika tim inspeksi senjata PBB sedang bertugas melacak senjata pemusnah massal di Irak. Sementara itu inspeksi senjata di Irak memasuki hari ke lima. Hari ini para inspektur senjata memeriksa sebuah kompleks militer dan sebuah pabrik alkohol dekat Bagdad. Hingga kini, penyelidikan oleh para inspektur tidak dihambat olah Irak. Bagdad memprotes pemboman yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Inggris. * SIDANG EMPAT TERSANGKA KASUS RENCANA AKSI TEROR DIMULAI DI ROTTERDAM Hari ini, sidang empat orang yang didakwa merencanakan aksi teror terhadap sasaran Amerika Serikat dimulai di kota Rotterdam Belanda. Polisi Belanda menangkap tiga tersangka di Rotterdam tak lama setelah serangan 11 September tahun lalu.Tersangka keempat ditangkap di Kanada beberapa bulan yang lalu. Para tersangka terdiri dari dua warga Aljazair, seorang warga Prancis dan seorang warga Belanda keturunan Etiopia. Mereka didakwa merencanakan serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Paris dan pangkalan militer AS di Belgia. Mereka juga didakwa meyalahgunakan kartu kredit dan memalsukan berbagai dokumen resmi lainnya. * KONFERENSI SEHARI TENTANG AFGANISTAN DI JERMAN Hari ini, sebuah konferensi sehari tentang Afganistan diadakan di Jerman. Di Bonn, delegasi dari 32 negara dan berbagai organisasi internasional berdiskusi tentang pembangunan dan masa depan Afganistan. Konferensi tersebut dibuka oleh Kanselir Jerman Gerhard Schroder. Delegasi Afganistan dipimpin oleh Presiden Hamid Karzai. Isu-isu penting yang akan dibahas adalah konstitusi baru, posisi perempuan dan masalah keamanan di Afganistan. Tahun lalu, ditempat yang sama diadakan konferensi tentang pemerintahan peralihan di Afganistan tak lama setelah jatuhnya rejim Taliban. * PRESIDEN VENEZUELA DESAK WARGANYA UNTUK TIDAK IKUT MOGOK Hari ini, Presiden Venezuela Hugo Chavez mendesak warganya untuk tidak mengindahkan seruan mogok. Dalam pernyataannya di televisi, Chavez mengatakan bahwa aksi mogok akan gagal total. Ia juga mengumumkan akan menghukum para pemilik toko yang menutup tokonya. Aksi mogok tersebut diserukan oleh pihak oposisi dan berbagai serikat buruh. Mereka mendesak Chavez untuk mundur atau menuntut segera diadakan jajak pendapat tentang kepemimpinan Chavez. Serikat-serikat buruh memperkirakan 80% dari penduduk akan mogok kerja. Namun belum jelas berapa lama aksi mogok akan berlangsung. Beberapa hari terakhir, warga Venezuela mulai menimbun bahan makanan untuk menjaga persediaan. * PEMIMPIN BARU GEREJA ANGLIKAN DI INGGRIS TIDAK CELA HUBUNGAN HOMOSEKSUAL Pemimpin baru gereja Anglikan di Inggris, Rowan Williamson, tidak mencela hubungan homoseksual. Menurut Williamson, hubungan monogami antara dua orang homoseks tidak bertentangan dengan ajaran kitab suci. Williamson terkenal sebagai tokoh kontroversial karena toleransinya terhadap isu pastor homoseks dan uskup perempuan. Gereja Anglikan memiliki 70 juta umat yang tersebar diseluruh dunia. * KEBIJAKAN PERDAMAIAN PAPUA MEMBUAT JAKARTA SALAH TINGKAH Intro: Pada peringatan kemerdekaan ke 41 Papua Barat 1 Desember lalu, diumumkan tujuh butir kebijakan dasar untuk tahun depan. Tujuh butir itu tampaknya bertumpu pada satu butir penting yaitu perdamaian. Berikut penjelasan Sekretaris Jenderal Dewan Presidium Papua Thaha Al Hamid yang tidak hadir pada peringatan kemerdekaan 1 Desember lalu karena aparat keamanan menginterogasinya tanpa perlu menyertakan surat penahanan: Thaha Al Hamid [TH]: Sejak kongres itu memang mandat yang presidium terima adalah pengembalian hak dan kedaulatan politik secara damai. Dan Ini relevan dengan Sekretaris Jendral PBB bahwa meskipun PBB mendukung upaya pelaksanaan reformasi di Indonesia tapi PBB juga ingin mengupayakan jalan damai bagai pemecahan yang tuntas dan menyeluruh terhadap masalah-masalah termasuk di Papua. Jadi kami melihat bahwa kebijakan dasar bagi presidium tahun depan akan berpusat pada dua agenda pokok yaitu rekonsiliasi dan rekonsolidasi serta diplomasi. Ini jelas akan memerlukan suatu kondisi yang damai. Dan itu sudah menjadi kesepakatan masalah melalui peaceful dialog (pembicaraan damai - red.). Bukan melalui kekerasan. Sudah cukup operasi militer dilakukan 40 tahun di Papua dan tidak ada hasil apa-apa kecuali menambah luka baru diatas luka lama, begitu seterusnya. Jadi itu sebetulnya yang menjadi jiwa kebijakan yang dikeluarkan oleh presidium. Radio Nederland [RN]: Dengan kata lain, dengan kebijakan yang berjiwa damai ini nampaknya Dewan Presidium Papua ingin menjauhkan tanah Papua ini dari pendekatan keamanan yang selama ini ditempuh oleh TNI begitu? TH: Iya, kepala staf umum TNI dan Panglima TNI pada waktu pertemuan dengan Komisi I DPR RI itu sudah jelas menyatakan bahwa masalah Papua itu berbeda dengan Aceh. Di Papua peran TNI mestinya lebih kecil dan pemerintah harus mengambil inisiatif yang kuat untuk mendorong proses penyelesaian secara damai. Sebetulnya hanya itu kok tuntutan rakyat Papua. Kita mau berdialog secara damai dan de facto kita sudah menyampaikan kerangka dialog, pandangan dasar dari Dewan Papua kepada Jakarta. Sudah tiga kali dan Jakarta belum pernah menjawab sekalipun. RN: Dengan kata lain cara damai ini membuat Jakarta baik sipil dan terutama militer itu salah tingkah tidak mengerti harus berbuat apa, tapi di pihak lain nampaknya banyak juga kalangan di Papua yang tidak puas dengan pendekatan ini. Benarkan pengamatan saya? TH: Anda benar, de facto rakyat Papua mau merdeka memang bukan besok tapi kemarin. Sehingga rakyat tidak sabar. Sebenarnya mendorong pendekatan peaceful dialog itu baru dimulai tiga tahun ini. Itu baru dimulai secara formal berdasarkan mandat kongres, tetapi kenyataannya rakyat melihat selama ini kita berjuang selama 40 tahun. Sudah begitu banyak generasi, sudah beberapa pendekatan. Ada kenyataan bahwa rakyat Papua sangat terkait dengan ingatan mereka. Kita tidak harus mengulangi kesalahan-kesalahan itu. Sekarang kita sudah sampai ke kedewasaan politik, dimana kita mendorong perjuangan aspirasi ini melalui jalan yang bermartabat dan damai. Dan ini memang memerlukan kesabaran juga agenda-agenda yang rasional kita tidak lagi bisa mendorong terus menerus agenda-agenda yang hanya untuk memenuhi kepuasan psikologis tanpa bisa melahirkan sesuatu secara de facto. Terbukti bahwa pendekatan damai, ini disatu sisi memberi ruang kepada rakyat untuk konsolidasi untuk melakukan sosialisasi, untuk memahami secara baik. Kita tidak hanya dituntut untuk bicara tentang merdeka dari Indonesia. Tapi merdeka untuk apa. Dan ini ruang untuk kita untuk terus mengembangkan itu. RN: Memang disatu pihak ketika terjadi pembunuhan terhadap ketua DPD Theys Eluay itu rakyat Papua tenang dari provokasi. Provokasi yang lain terjadi di Timika rakyat Papua juga tenang, tidak terpancing oleh provokasi. Tapi pertanyaannya kan sampai kapan ini, merekabisa tenang terus? TH: Saya kira hal yang paling pokok adalah ada satu kebijakan Jakarta yang sungguh-sungguh diskriminatif. Ketika Aceh mengangkat senjata, Jakarta selalu berseru mari berdialog, tetapi dari tahun 2000 rakyat Papua berseru mari berdialog dalam rangka meluruskan sejarah Papua, Jakarta tidak pernah merespon. Dan sebenarnya ini suatu petunjuk bahwa tidak ada suatu konsensus nasional tentang penyelesaian konflik secara damai. Semua pendekatan hanya dilakukan dengan pendekatan militeristik dan kekerasan. Orang Papua sudah cukup banyak menjadi korban. Kalau pendekatan seperti yang terus menerus dlakukan maka akhirnya kita menemukan tanah Papua yang kaya ini tidak ada lagi rakyat Papua. Tinggal satu juta lebih. Nah, kalau kita terus mengedepankan pendekatan ini kita harus ingat bahwa orang Jakarta sebetulnya tidak perlu rakyat Papua. Hanya memerlukan tanah Papua karena sumber daya alamnya. Jadi kalau pendekatan militer kita dorong ke depan maka yang akan terjadi adalah peristiwa-peristiwa kekeraan dan rakyat yang jadi korban. kalau begitu untuk apa kita merdeka. Siapa yang mau menikmati itu nanti, siapa yan mau membangun Papua yang bermartabat, Papua masa depan. Demikianlah Thaha Al Hamid. * PM AUSTRALIA HARUS JELASKAN MAKSUDNYA DENGAN SERANGAN TERHADAP TERORIS Intro: Hubungan Australia dengan negara-negara tetangganya termasuk Indonesia kembali diuji setelah ucapan perdana menteri John Howard. Pemimpin partai liberal Australia ini mengimbau agar hukum internasional diubah untuk memungkinkan serangan 'pre-emptive'. Dengan demikian negara-negara yang diduga menyimpan teroris bisa diserang lebih dahulu. Menurut Greg Barton, seorang pakar Indonesia asal Australia, negara yang dimaksud John Howard itu mungkin Irak. Namun demikian penulis biografi Gus Dur ini menilai ucapan tokoh partai konservatif itu sangat kurang bijaksana dan dia harus menjelaskan maksudnya. Greg Barton [GB]: Kami rasa tidak terlalu serius, memang ucapan yang agak aneh dan saya kira memang salah. Mungkin yang dipikirkan John Howard itu cuma kasus Irak dan tentang serangan pre-emptive itu tidak tertuju pada Asia Tenggara. Tapi saya kira itu pernyataan sangat aneh dan sangat kurang bijaksana. Di Australia sendiri ada banyak yang mengkritik perdana menteri. Radio Nederland [RN]: Tapi apakah ini tidak ada kaitannya dengan politik dalam negeri Australia. Menurut anda apa kepentingan John Howard berbicara begini? GB: Tidak kelihatan juga karena ini merupakan tindakan politik yang salah. John Howard dalam kasus ini kan tidak mendapat keuntungan apa-apa. Kredibilitasnya mengalami kemerosotan, jadi memang tidak ada gunanya. Ini mungkin merupakan kelemahan John Howard bahwa dalam hal-hal kebijakan luar negeri dia sangat lemah. RN: Apakah anda melihat ini sebagai kelemahan John Howard pribadi atau kelemahan kelompok konservatif? GB: Memang merupakan kelemahan kelompok konservatif, tapi lebih-lebih lagi itu merupakan kelemahan pribadi. Misalnya Peter Costello yang mungkin akan mengganti John Howard tahun depan atau tahun yang berikut. Kalau Peter Costello itu orang yang umurnya baru 40 tahunan, dan kalau dia jadi perdana menteri walaupun cukup konservatif tapi gayanya sangat berbeda. Costello yang berasal dari angkatan yang lebih muda lebih memahami dan mengenal daerah. Saya kira dia akan lebih peka. John Howard merupakan gaya lama di Australia yang merasa sangat dekat dengan Inggris dan sangat rindu pada Inggris. Tapi kurang melihat tetangganya di Asia Tenggara. Tapi tidak banyak yang lain, baik politikus maupun orang biasa. Sayang sekali dalam hal ini John Howard banyak merusakkan citra Australia di Asia Tenggara. RN: Apakah mungkin itu bisa diperbaiki? secepat mungkin? GB: Pasti bisa kalau ada pernyataan dari Howard yang menjelaskan segalanya dan menolak kesan yang negatif. Sebaiknya John Howard mengatakan sejelas-jelasnya bahwa Australia tidak akan menyerang tetangganya. Itu memang sangat tidak mungkin. RN: Anda menyebut memang sangat tidak mungkin, bagaimana maksud anda? GB: Iya, karena memang ada masalah terorisme di daerah, baik di Australia maupun di negara-negara tetangganya, tetapi karena ada proses kerja sama dengan semua negara di daerah kan semua negara kan punya kemandirian yang harus dihormati. Memang Australia bisa membantu tapi kalau tidak diajak dan tidak diundang pasti tidak boleh mengirimkan pasukan. Jadi itu memang sangat tidak masuk akal. RN: Ini apakah tidak akan menyulut kelompok-kelompok radikal di Indonesia untuk kembali memanas-manaskan konflik antara Indonesia dengan Australia. Apakah anda juga melihat demikian? GB: Memang benar, saya tidak setuju dengan tafsiran mereka. Mungkin dengan sengaja atau mungkin karena tidak tahu mereka membesar-besarkan masalah ini. Tapi memang John Howard harus tahu itu. Memang ada unsur-unsur konservatif dan kalau ada pernyataan yang begini yang kurang bijaksana pasti akan disalah tafsirkan. Demikianlah Greg Barton di Australia. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
