--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Rabu 11 Desember 2002 15:00 UTC ** POLISI TANGKAP TERSANGKA UTAMA SERANGAN BOM DI MAKASSAR ** MILITER AMERIKA DAN SPANYOL CEGAT SEBUAH KAPAL YANG ANGKUT 12 PELURU KENDALI SCUD ** TOPIK GEMA WARTA: AKSI TEROR BUNUH DIRI BUKAN LAHIR DARI ISLAM INDONESIA ** TOPIK GEMA WARTA: PERJANJIAN JENEWA DAN PEMULIHAN HAM DI ACEH, ADAKAH KAITANNYA? * POLISI TANGKAP TERSANGKA UTAMA SERANGAN BOM DI MAKASSAR Polisi menangkap tersangka utama kasus dua serangan bom di Makassar. Serangan bom ini menghancurkan sebuah restoran McDonald dan sebuah show room mobil. Akibatnya jatuh tiga korban tewas termasuk pelaku peledakan dan 11 korban cedera.Sebelumnya polisi sudah menahan lima orang. Tersangka keenam yang baru tertangkap, Agung Abdul Hamid, diduga memimpin persiapan peledakan. Kini ia dibawa ke Bali untuk menjalani pemeriksaan. Polisi menyatakan bahwa hingga sekarang tidak ditemukan kaitan antara kasus serangan bom di Bali dan di Makassar. Pemboman di Kuta Bali dua bulan silam menewaskan sekitar 190 korban. * MILITER AMERIKA DAN SPANYOL CEGAT SEBUAH KAPAL YANG ANGKUT 12 PELURU KENDALI SCUD Pihak militer Amerika Serikat dan Spanyol mencegat sebuah kapal yang mengangkut 12 peluru kendali Scud. Kapal komersial itu dihentikan saat berada beberapa ratus kilometer dari pesisir Yaman. Kapal perang Spanyol harus melepaskan beberapa tembakan sebelum bisa menghentikannya. Menurut pejabat Amerika Serikat, kapal tersebut bertolak dari Korea Utara dan mungkin juga berbendera Korea Utara. Diduga kapal itu akan menuju Yaman atau sebuah negara di Afrika. Dalam perang Teluk tahun 1991 silam, Irak menembakkan peluru kendali Scud ke Israel dan Saudi Arabia. Namun tidak ada bukti bahwa kapal komersial itu sedang menuju wilayah Teluk. * INSPEKSI SENJATA DI IRAK MASUKI MINGGU KETIGA Inspeksi senjata di Irak memasuki minggu ketiga. Hari ini, para inspektur senjata akan memeriksa sebuah kompleks industri di ibukota Bagdad. Ada dugaan bahwa di kompleks ini dilakukan pengembangan dan produksi senjata biologis. Jumlah inspektur senjata ditambah hingga 60 orang. Selasa kemarin, para inspektur melakukan pemeriksaan di 10 tempat. Pemeriksaan senjata pemusnah massal di Irak tetap berada di bawah tekanan kuat dari Amerika Serikat. Washington mengancam akan membalas dengan senjata nuklir terhadap Irak dan beberapa negara lainnya jika negara-negara ini melakukan serangan dengan senjata pemusnah massal. Namun pemerintah Amerika menandaskan juga bahwa serangan balas dendam dengan senjata nuklir hanya untuk menakut-nakuti. * MENURUT KOMISI ANGKET PARLEMEN, PEMERINTAH BELANDA JUGA BERSALAH DALAM KASUS PENGGELAPAN OLEH PERUSAHAAN BANGUNAN Menurut Komisi Angket Parlemen, pemerintah Belanda juga ikut bertanggungjawab atas terjadinya penggelapan oleh sejumlah perusahaan bangunan. Menurut koran Belanda De Volkskrant, ini adalah salah satu kesimpulan terpenting yang ditarik oleh komisi tersebut. Komisi Angket Parlemen akan menggelar laporan akhirnya Kamis besok. Bulan September silam, komisi itu melakukan pemeriksaan terbuka terhadap sejumlah pejabat pemerintah dan pengusaha. Berdasar pemeriksaan tersebut, anggota komisi berkesimpulan bahwa penggelapan besar-besaran oleh sejumlah perusahaan bangunan Belanda terjadi karena kurangnya pengaturan dan kontrol dari pemerintah. * 770 REMAJA TERBUNUH DI IBUKOTA GUATEMALA SEJAK AWAL TAHUN LALU Sekitar 770 remaja terbunuh di ibukota Guatemala sejak awal tahun lalu. Hal ini dilaporkan oleh sebuah LSM Amerika Latin Casa Alianza. LSM ini aktif dalam masalah anak-anak jalanan di Amerika Latin. Sebuah laporan penelitian menyebutkan bahwa angka pembunuhan terhadap para remaja meningkat hingga 30% tahun ini. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh kelompok preman remaja yang bermusuhan, sekelompok aparat keamanan dan anggota-anggota paramiliter sayap kanan. Tidak jarang para remaja jalanan ditembaki dari jendela mobil yang berjalan. Informasi terakhir menunjukkan bahwa jumlah anak-anak dan remaja yang tewas akibat tindak kekerasan saat ini, lebih tinggi dari pada jumlah yang tewas dalam perang saudara di Guatemala tahun 1960 hingga 1996 silam. * PRESIDEN BUSH NYATAKAN DUKUNGANNYA TERHADAP MASUKNYA TURKI KE UNI EROPA Presiden Amerika Serikat George Bush memberi dukungan kuat terhadap masuknya Turki ke Uni Eropa. Bush melakukan pembicaraan khusus dengan pemimpin partai pemerintah Turki Recep Tayyip Erdogan di Gedung Putih. Erdogan yang tidak duduk di pemerintahan itu juga bertemu dengan beberapa pejabat tinggi AS termasuk Menteri Dalam Negeri Colin Powell. Amerika Serikat menekan keras Uni Eropa agar memberi kejelasan kapan Turki akan masuk. Bagi Amerika Serikat, Turki merupakan negara yang perlu digandeng untuk menghadapi kemungkinan perang dengan Irak. Pembicaraan di Gedung Putih itu dilakukan tak lama sebelum berlangsungnya KTT Uni Eropa di Kopenhagen. Dalam KTT ini diperkirakan Turki akan diberitahu bahwa perundingan masuknya negara itu dalam Uni Eropa baru akan dilakukan pertengahan tahun 2005. * BELANDA AKAN PUNGUT PAJAK DAGING 10 SEN EURO PERKILO Parlemen Belanda memberlakukan pajak baru yang akan memungut 10 Sen Euro atau sekitar 900 Rupiah perkilo daging yang dibeli. Pajak ini dimaksudkan untuk membiayai pemeriksaan dan penanggulangan penyakit sapi gila pada hewan ternak. Di masa mendatang, biaya untuk memusnahkan bangkai ternak yang terjangkit penyakit itu juga harus dipikul oleh para konsumen. Mayoritas anggota Majelis Rendah Belanda berpendapat bahwa konsumen juga harus bertanggung jawab atas masalah keamanan bahan pangan. * AKSI TEROR BUNUH DIRI BUKAN LAHIR DARI ISLAM INDONESIA Polisi Indonesia memastikan baik ledakan di Bali maupun di Makassar merupakan aksi bom bunuh diri. Hasil penyelidikan ini menimbulkan kecemasan baru di Indonesia maupun Australia, apalagi dalam penggrebekan juga ditemukan dokumen rencana aksi bom bunuh diri lanjutan. Selain itu intelejen Australia juga menduga kemungkinan serangan teror lain yang akan dilakukan pada masa Natal maupun liburan akhir tahun ini. Radio Nederland menghubungi Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dan juga anggota Majelis Hikmah Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam besar di Indonesia. Kami menanyakan dasar aksi ini dan kemungkinannya berkembang. Muhadjir Effendy [ME]: Kalau di dalam Al Quran itu ada salah satu ayat yang menyatakan orang Mukmin itu adalah orang yang iman kepada Allah dan Rasulnya, dan kemudian tidak ragu-ragu lagi dengan imannya itu, dan kemudian berjihad. Berjihad dengan harta dan dirinya. Nah, konsep jihad dengan dirinya inilah yang kemudian ada yang mengartikan sebagai mengorbankan diri untuk kepentingan agama. Dan salah satu formula yang sekarang dirumuskan adalah termasuk bunuh diri yang dilakukan atas nama jihad itu. Itu termasuk dianggap sahid. Dan itu saya kira adalah masalah interpretasi dari masing-masing penganut Islam. Ada yang memahami sampai pada titik yang seradikal itu. Tapi tidak seluruh orang Muslim mengakui dalam arti mengorbankan diri itu termasuk dalam bentuk bunuh diri itu. Bahkan untuk bunuh diri itu dalam Islam adalah, dalam konteks di luar pengertian jihad ya, itu termasuk dosa besar. Dosa yang tidak terampuni. Radio Nederland [RN]: Tetapi apakah sejarah Islam mencatat bom bunuh diri atau katakan aksi bunuh diri dalam konteks jihad itu pernah terjadi sebelumnya? ME: Tidak ada ya pengertian bunuh diri, tapi dalam suatu kalkulasi pertempuran bahwa akan ada korban itu pernah. Yaitu ketika Khalid Bin Walid itu memimpin pertempuran untuk menjebol benteng Khaibar. Benteng Khaibar itu adalah benteng yang dibangun oleh koalisi Yahudi yang sangat kuat, yang tidak pernah bisa ditembus oleh pasukan Muslim dan kemudian Khalid membuat taktik menjebol dengan cara membanjiri pasukan yang diperkirakan akan ada sekian orang akan jadi korban akibat harus menjebol pintu itu. Tetapi dengan korban itu diharapkan benteng Khaibar akan bisa ditaklukkan. Itu kontroversi juga, karena setelah taktik itu diketahui oleh Umar Bin Khatab yang waktu itu Khalifah, kemudian oleh Umar Bin Khatab Khalid diberhentikan sebagai panglima. Dan waktu itu apa kata Khalid, dia bilang saya perang ini bukan karena Umar tapi saya perang ini karena Allah. Saya rasa kalau sebagian besar penganut Islam ya tidak menganggap itu sebagai bagian dari syuhada, sebagai bagian dari sahid. Tapi ada elemen-elemen kekuatan Islam atau doktrin-doktrin yang bersumber dari ajaran Islam yang yakin bahwa siapa yang melakukan itu adalah sahid. Inilah resiko berkeyakinan. Saya kira untuk doktrin-doktrin main stream (aliran utama -red.), dalam Islam saya kira kurang bisa menerima adanya pandangan bahwa bunuh diri itu bagian dari sahid. Apalagi kalau itu sasarannya adalah orang-orang yang tidak berdosa. RN: Dan di satu sisi sebetulnya anda tadi menyebut keyakinan ya pak Muhadjir, saya merasa bahwa aksi bunuh diri itu tidak dimonopoli Islam. Kita kenal Jepang dulu dengan Kamikaze-nya. Aksi bunuh diri yang didasarkan oleh keyakinan atau ideologi. Itu memang sulit sekali dicegah. Di Kristen saya belum tahu dimana, tapi mungkin ada ya seperti yang terjadi di Irlandia? ME: Ya, pertempuran di Irlandia Utara, aksi-aksi bunuh diri juga sering terjadi. RN: Tapi bagaimana caranya supaya pemerintah Indonesia tidak terbawa gaya-gaya barat untu meredam aksi-aksi seperti ini? ME: Saya kok tidak yakin ya bahwa keyakinan aksi bunuh diri itu akan bisa berkembang di Indonesia, menjadi sebuah keyakinan umum begitu ya. Karena pertama, saya kira atmosfer yang ada di Indonesia tidak mendorong adanya keyakinan seperti itu. Ini beda misalnya dengan di Timur Tengah, khususnya di Palestina. Kemudian yang kedua, saya rasa tradisi ajaran Islam di Indonesia itu sangat tidak diwarnai dengan tindakan-tindakan seperti itu sebagai manifes dari bentuk langkah sahid. Ini repotnya itu kan yang bunuh diri sendiri itu kan belum pernah bikin pernyataan bahwa ia melakukan itu dalam rangka sahid. Saya kira dalam dua kasus itu masih perlu dipertanyakan apa betul sebagai berangkat dari keyakinan mereka. Pelaku-pelaku ini kan sebetulnya orang yang sudah tidak lagi berfikir perspektif Indonesia. Dia itu kan perspektif internasional. Mereka kan rata-rata sudah punya pengalaman perang di beberapa tempat, pernah dilatih untuk bertempur di beberapa tempat dan sebagainya. Sehingga perspektif mereka itu sebetulnya perspektif kalau saya boleh menyebut, mirip dengan Pan Islamisme. Jadi sudah tidak lagi melihat dalam konteks persoalan di Indonesia. Saya melihat itu sebetulnya lebih banyak faktor psikis. Jadi bukan faktor-faktor kondisi Indonesia dan sebagainya begitu. Demikianlah Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dan anggota Majelis Hikmah Muhammadiyah * PERJANJIAN JENEWA DAN PEMULIHAN HAM DI ACEH, ADAKAH KAITANNYA? Perjanjian Jenewa dan Pemulihan HAM di Aceh, Adakah Kaitannya? Hari HAM 10 Desember, bagi dunia, telah berlalu, tetapi, bagi daerah konflik seperti Aceh, penghormatan HAM itu masih harus kita nantikan. Jimmy Carter, mantan petani kacang dan mantan presiden Amerika Serikat, telah meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2002, meski pun dia pernah mempersenjatai tentara Indonesia dengan pesawat-anti gerilya Broncos di Timor Timur. Bahkan, Adolf Hitler yang jahat dan Mahatma Gandhi yang luhur, pernah dinominasikan bersama untuk Nobel Perdamaian tahun 1938, meski akhirnya keduanya tidak memperolehnya. Betapa relatif, memang, nilai nilai HAM dan perdamaian dalam perjalanan sejarah. Jadi, apa makna Perjanjian Jenewa bagi Aceh? Catatan rekan Aboeprijadi santoso dari Jenewa: Pada akhirnya kesadaran untuk menyelamatkan HAM memang harus selalu bersaing, dan biasanya kalah bersaing, dengan kepentingan-kepentingan geo-politik negara-negara besar. Kasus Timor Timur telah membuktikannya ketika dunia internasional baru tanggap terhadap isu TimTim, ketika Perang Dingin telah redup. Begitu juga Aceh. Satu dasawarsa berlalu sejak perang brutal tentara Indonesia di Aceh selama tahun 1989 sampai 1998 yang dikenal sebagai "Masa DOM (Daerah Operasi Militer)", dan baru belakangan ini saja, dunia tanggap terhadap Aceh. Namun, sekarang pun masalah HAM di Aceh masih harus mengalah pada kenyataan dan kepentingan-kepentingan yang bermain di bumi rencong. Kondisi Aceh harus aman lebih dahulu sebelum dialog di dalam Aceh dimulai dan bantuan kemanusiaan dan bantuan pembangunan bisa diberikan. Maka tidak mengherankan dalam Persetujuan Penghentian Permusuhan yang ditandatangani 9 Desember lalu, soal HAM sama sekali tidak menonjol di Aceh - daerah yang pernah menjadi korban berat pelanggaran HAM setelah Peristiwa 1965 dan Timor Timur. Kecuali LSM HAM Kontras, tak ada organ masyarakat, apalagi pejabat pemerintah, yang menjerit soal HAM di Aceh, sedangkan kalangan Gerakan Aceh Merdeka GAM mengaku menyadari terabaikannya isu HAM dan menunjuk pada prioritas keamanan. Padahal GAM sendiri barangkali tak akan menjadi kuat seperti awal 1990an apabila tak ada isu HAM. Realitas kepentingan-kepentingan di lapangan dan geo-politik memang, pahitnya, selalu unggul. Kesepakatan untuk menghentikan permusuhan di Aceh sebenarnya merupakan suatu pengakuan bahwa setelah 26 tahun tentara Indonesia toh tidak mampu mengalahkan suatu pemberontakan yang didukung sebagian rakyat, sekaligus juga pengakuan bahwa, betapa pun, tentara GAM tidak akan mungkin mengusir TNI dari Aceh. Persis seperti di TimTim tahun 1990an atau di Yogya tahun 1948. Dua hari sebelum Timor Leste merdeka, 18 Mei lalu, Xanana Gusmao mengaku dirinya tidak pernah berilusi bahwa TimTim akan merdeka melalui jalan perang - sama halnya dengan pejuang sipil Indonesia seperti Sjahrir memilih menganut jalan diplomasi terhadap Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Dan seterusnya. Menimba pengalaman masa silam, Indonesia akhirnya memilih jalan "three tracks" atau tiga jalur untuk menghadapi soal Aceh, kata Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono di muka masyarakat Indonesia di Jenewa Senin malam lalu. Dalam malam syukuran untuk menyambut perdamaian Aceh itu, bos politik Indonesia tadi mengungkap, penyelesaian masalah Aceh sebenarnya dimulai sejak Inpres Nomor 4 di bawah Presiden Gus Dur awal 2001. Yudhoyono, dengan gaya sinkretisnya mengaku, dirinya belajar dari semua presiden RI, mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur sampai Megawati. Dari Gus Dur, dipetiknya unsur dialog, tetapi itu tidak cukup, katanya, karena perlu juga stabilitas. Yudhoyono yang seorang jenderal mantan Kassospol itu mengatakan, stabilitas warisan Pak Harto bukanlah hal yang haram asalkan dikelola dengan baik. Walhasil, lahirlah pendekatan menyeluruh dari Inpres No. 4 yang dijabarkannya sebagai "Kebijakan Tiga Jalur". Yaitu, pertama, diplomasi internasional, kedua dialog di dalam Aceh sendiri dan ketiga dialog dengan GAM. Dengan ekspose panjang lebar mengenai masalah Aceh dan kondisi politik di Indonesia, Yudhoyono menunjukkan betapa dirinya bersama sejumlah timnya (di bawah pimpinan "empat jenderal dan empat dubes," katanya) bergulat di berbagai bidang untuk menyelamatkan Aceh. Semua itu, tambahnya, merupakan bagian dari kerangka menjaga negara kesatuan dan membawa Indonesia keluar dari jurang krisis. Tahun 2004 adalah tahun di mana Indonesia harus pulih dari krisis dan melanjutkan reformasi, demikian Menko Polkam Yudhoyono. Tahun 2004 juga tahun pemilu presiden dan, bukan mustahil, penyelesaian masalah Aceh akan menjadi satu bekal penting bagi seorang calon presiden yang bernama Yudhoyono. Siapapun yang kelak akan menjadi kandidat resmi presiden, dia harus mensukseskan Perjanjian Penghentian Permusuhan di Aceh yang diteken 9 Desember lalu. Ada tiga soal besar yang diduga dapat menjadi kendala di lapangan. Pertama, bagaimana perilaku kelompok-kelompok baik dari kalangan aparat mau pun pemberontak GAM yang selama ini mengambil keuntungan besar dalam bisnis gelap yang dimungkinkan oleh konflik dan perang ini? Kedua, akan mampukah sebanyak 150 pemantau dari Tim Monitoring Keamanan itu melakukan tugas di wilayah sebesar Belanda dan berpenduduk empat juta itu? Dan, ketiga, bagaimana mediator Yayasan Henry Dunant Centre bersama kedua pihak yang berkonflik akan merumuskan mekanisme forum all-inclusive-dialogue dan rencana pemilu Aceh 2004? Soal ketiga itu akan mendekati masalah substansi yang paling peka, sebab tahap dialog menyeluruh dan pemilu Aceh itulah yang secara strategis bakal menentukan status final Aceh. Dengan operasi militer sejak 2001 dan akhirnya pengepungan-ganda, yaitu di medan perang, di Paya Cot Trieng, Aceh Utara, dan pengepungan diplomatik lewat konperensi donor di Tokyo, Jakarta telah berhasil menggolkan Perjanjian 9 Desember. Tetapi mensukseskan perjanjian ini berarti tentara dan polisi Indonesia harus mampu mengendalikan unsur-unsur aparatnya atau semua yang mengatasnamakan diri mereka, idem dito GAM pun harus mengontrol sayap-sayapnya, terutama di Aceh Timur, yang cenderung kriminal. Ini berarti kedua pihak harus melepas kontrol atas pelbagai sumberdaya seperti pengawalan kompleks perusahaan gas dan minyak bumi Exxon Mobil, bisnis ganja, dan sumber sumber pemerasan lainnya. Tentara akan ditarik secara bertahap, polisi akan berpatroli dengan sepengetahuan Komite Keamanan Bersama JSC (Joint Security Committee), tak ada lagi sweeping oleh tentara dan polisi mau pun pungli di jalanan oleh aparat ataupun unsur GAM, dan seterusnya. Bukan kebetulan bahwa unsur TNI yang berperang melawan polisi untuk memperebutklan ganja di Binjai beberapa bulan lalu, berasal dari satuan-satuan yang sebelumnya bertugas di Aceh. Jadi HDC, TNI dan GAM harus mampu menghindari potensi-potensi sejenis kasus Binjai. Ini berarti penarikan TNI non organik dan kantonisasi tentara GAM dan penggudangan senjata GAM akan menuntut disiplin baja semua pihak. Hanya kalau semua itu sukses, maka akan dapat terbentuk "zona-zona damai" yang memungkinkan pelayanan bantuan kemanusiaan, dan bantuan pembangunan. Dan barulah di sisa ruang yang ada, masyarakat sipil dapat berperan dan mendesak HDC dan pihak-pihak yang berkonflik untuk menegakkan martabat kehidupan HAM di Aceh. Soal kapan para penjahat perang dari masa silam, yang menyeret Aceh ke dalam kemelut konflik itu, akan diseret ke pengadilan, kalau itu akan terjadi, itu adalah agenda yang masih amat jauh di depan. Sekian catatan Aboeprijadi Santoso dari Jenewa --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
