---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 16 Desember 2002 15:40 UTC



** TENTARA VENEZUELA TANGKAP AWAK KAPAL TANGKER MINYAK

** TRIBUNAL YUGOSLAVIA TENTUKAN HUKUMAN BAGI BILJANA PLAVSIC

** AL GORE TIDAK CALONKAN DIRI SEBAGAI PRESIDEN AS

** TOPIK GEMA WARTA: DEWAN PRESIDIUM PAPUA AKUI ADANYA FAKSI-FAKSI DI
DALAM GERAKAN INI

** TOPIK GEMA WARTA: KUNJUNGAN MEGAWATI KE ACEH HANYALAH SEREMONIAL



* TENTARA VENEZUELA TANGKAP AWAK KAPAL TANGKER MINYAK

Presiden Venezuela Hugo Chavez mengerahkan tentara untuk menangkap
awak kapal tangker minyak Pilin Leon yang mengadakan aksi mogok. Para
prajurit menduduki kapal dan awak lain mengambil alih pekerjaan para
pemogok. Di kapal-kapal lain di sekitar kapal tangker, para penentang
Chavez berdemonstrasi menentang aksi tentara. Awal bulan ini sang
Presiden juga mengerahkan tentara untuk menangkap kapten kapal
tangker tersebut. Namun menurut hakim ini melanggar hukum. Masyarakat
Venezuela telah melangsungkan aksi mogok massal menentang Chavez
selama dua minggu. Sabtu lalu setengah juta orang turun ke jalan di
ibukota Karakas, menuntut pengunduran diri sang Presiden. Ahad
kemarin, dalam pidato radio mingguan, Chavez mengumumkan ingin
menghentikan aksi mogok di sektor perminyakan bagaimana pun juga.


* TRIBUNAL YUGOSLAVIA TENTUKAN HUKUMAN BAGI BILJANA PLAVSIC

Tribunal Yugoslavia di Den Haag, negeri Belanda hari ini
melangsungkan sidang tiga hari di mana ditentukan hukuman bagi
Biljana Plavsic. Mantan Presiden Republika Srpska ini adalah
pengganti Presiden Serbia Bosnia Radovan Karadzic semasa perang
melawan Bosnia, awal tahun 1990-an. Plavsic yang berusia 72 tahun
menyerahkan diri pada tribunal PBB awal tahun lalu. Dua bulan lalu
Plavsic mengaku bersalah atas pengejaran etnik kaum Muslim Bosnia dan
Kroatia atas alasan politik, radikal dan religius. Ini adalah
kejahatan terhadap kemanusiaan. Jaksa penuntut umum Carla Del Ponte
menegaskan kesaksian Plavsic sangat penting. Saksi pertama adalah
Mirsad Tokaca, ketua komisi kejahatan perang Bosnia. Saksi-saksi lain
adalah antara lain pemenang hadiah Nobel Elie Wiesel, mantan Menteri
Luar Negeri Amerika Madeleine Albright serta mantan penengah Balkan
Carl Bildt.


* AL GORE TIDAK CALONKAN DIRI SEBAGAI PRESIDEN AS

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore tidak mencalonkan diri
sebagai Presiden pada pemilihan presiden tahun 2004. Dalam wawancara
televisi Gore menyatakan tidaklah baik apabila ia mencalonkan diri
sebagai presiden, walau mempunyai ambisi serta energi untuk jabatan
Presiden. Pernyataaan Al Gore mengakhiri spekulasi berbulan-bulan
tentang persaingan baru dengan Presiden yang sekarang George W. Bush.
Dalam kalangan kaum Demokrat Gore dianggap favorit besar calon
presiden. Dalam pemilu 2000 yang berjalan sangat kacau, mantan Wakil
Presiden kalah tipis dari Bush.


* SERATUS ORANG TEWAS DALAM KECELAKAAN KAPAL FERI LIBERIA

Diperkirakan sedikitnya seratus orang tewas akibat kecelakaan sebuah
kapal feri di Liberia. Kecelakaan terjadi di sungai Mofa, Liberia
Baratlaut. Feri dari kayu yang menuju ke upacara pemakaman mengangkut
lebih dari 120 penumpang. Belum jelas apa penyebab kecelakaan ini.
Hanya 15 orang dapat diselamatkan. Sejauh ini ditemukan sekitar 50
jenazah.


* KEMENANGAN BESAR PARTAI PRESIDEN MADAGASKAR

Hasil-hasil pertama pemilihan parlemen Madagaskar menunjukkan
kemenangan bagi partai Presiden Marc Ravalomanan. Diperkirakan
partainya bisa mendapatkan mayoritas suara dalam parlemen. Sekitar 50
sampai 60% pemilih memberi suara dalam pemilu yang pada umumnya
berjalan lancar. Pemilu dianggap uji penting bagi popularitas sang
Presiden. Madagaskar dilanda perebutan kekuasaan tahun belakangan
antara Ravalomanana dengan pendahulunya Didier Ratsiraka.


* ENAM WARGA ITALIA DITUNTUT KARENA TEWASNYA 28 ORANG DALAM GEMPA
BUMI

Enam warga Italia terancam dituntut akibat tewasnya 28 orang dalam
gempa bumi enam pekan lalu. Mayoritas para korban adalah anak muda
yang terkubur di bawah puing-puing sekolah mereka yang runtuh. Pihak
kehakiman menyelidiki apakah enam orang tersebut bertanggungjawab
melakukan kesalahan dalam renovasi sekolah. Semua gedung di sekitar
sekolah tersebut tidak runtuh dalam gempa bumi 31 Oktober yang
berkekuatan 5,3 pada skala Richter.


* DEWAN PRESIDIUM PAPUA AKUI ADANYA FAKSI-FAKSI DI DALAM GERAKAN INI


Intro: Tiga tokoh kemerdekaan Melanesia Barat masing-masing Edison
Waromi, Herman Wanggai dan Yordan Ich ditahan aparat kepolisian
Jayapura Sabtu lalu. Mereka ditangkap karena memperingati hari
kemerdekaan Negara Melanesia Barat yang diproklamrikan oleh Dr Thomas
Wanggai SH pada 14 Desember 1988. Dengan adanya gerakan Negara
Melanesia Barat,  di samping gerakan Organisasi Papua Merdeka, seolah
rakyat Papua Barat pecah belah. Thaha Al Hamid Sekjen Dewan Presidium
Papua mengakui adanya faksi-faksi, namun tujuannya sama yaitu
MERDEKA. Berikut keterangannya kepada Radio Nederland. Terlebih
dahulu Thaha Al Hamid menjelaskan bagaimana sejarah perjuangan untuk
mendirikan negara Melanesia Barat itu.

Thaha Al Hamid [TAH]: Catatan sejarah beberapa tahun yang lalu
tanggal 14 Desember 1988 itu Dr Wanggai memproklamasikan Melanesia
Raya Merdeka. Ini dari salah satu faksi yang biasanya menyebut
bintang 14, karena bendera yang digunakan itu bendera yang berbeda
dengan bintang kejora. Tapi aktivis-aktivis dari bintang 14 ini
sesungguhnya pada tanggal 1 Desember juga telah menghadiri acara yang
digelar di Sentani pada tanggal 1 Desember yang lalu.

Radio Nederland [RN]: Tapi ini kelihatan seperti ada perbedaan dan
perpecahan di dalam masyarakat Papua. Ada yang mau Papua Barat
merdeka, ada yang mau menggabung menjadi Melanesia Barat. Bagaimana
ini?

TAH: Realita menunjukkan bahwa jauh sebelum Mubes itu memang ada
kelompok-kelompok Papua yang memiliki kesadaran kritis kelompok.
Bukan sebuah kesadaran kritis kolektif. Nah kesadaran kritis
kelompok-kelompok inilah yang menandai itu dekade perjuangan sejak 61
sampai dengan sebelum kongres. Nah tahun 99 kita sepakat untuk
memulai suatu pendekatan baru. Satu paradigma baru melalui dialog
nasional yang diikuti dengan mubes dan juga kongres.

Betapa pun begitu adalah fakta bahwa di dalam tubuh masyarakat Papua
sendiri ada kelompok-kelompok yang terus-menerus menyuarakan
aspirasi, intinya merdeka. Tetapi itu timbulnya dan seterusnya itu
masih merupakan faksi-faksi. Kami presidium Dewan Papua memaknai ini
semua sebagai adanya faksi-faksi dan karena itu tahun 2003 merupakan
tahun konsolidasi, tahun rekonsiliasi.

RN: Jadi memang intinya itu mau merdeka lepas dari NKRI begitu. Tapi
tujuan akhirnya ini berbeda sekali. Nanti juga bisa ribut sendiri.
Ada yang mau Papua Barat merdeka. Terus ada lagi yang mau lebih luas
lagi, Melanesia barat.

TAH: Ya, de fakto ini kelompok, saya katakan bahwa ini kelompok. Dan
kelompok-kelompok ini sesungguhnya selama ini itu diundang, diajak,
ikut bersama-sama. Akan tetapi mereka masih memperingati peristiwa
yang dilakukan oleh almarhum Thomas Wanggai. Saya sendiri sebagai
presidium Dewan Papua, sebagai Sekretaris Jenderal Presidium Dewan
Papua, optimis dan tidak melihat ini sebagai sesuatu ganjalan luar
biasa. Karena de fakto selama ini kita memang melakukan upaya-upaya
konsolidasi. Dan ini semakin kita tingkatkan lagi pada tahun 2003
ini.

RN: Memang presidium menyadari ada perbedaan pendapat dan itu adalah
suatu hal yang wajar, begitu ya?

TAH: Dan ini berkait dengan sejarah dan perjalanan perjuangan di masa
lalu.


Demikian Thaha Al Hamid Sekjen Dewan Presidium Papua.





* KUNJUNGAN MEGAWATI KE ACEH HANYALAH SEREMONIAL

Intro: Hari ini, sepekan pasca penandatangan kesepakatan damai Aceh,
Presiden Megawati Soekarnoputri akan mengunjungi Serambi Mekah. Ini
adalah kunjungan Megawati yang ketiga kalinya ke tanah Rencong
tersebut. Dalam dua kunjungan sebelumnya, Megawati tidak banyak
berdialog dengan masyarakat, yang menyebabkan kekecewaan mereka.
Dalam agenda kunjungan kali inipun, Megawati tampaknya tidak akan
menemui masyarakat Aceh. Lalu apa relevansi kunjungan Megawati itu?
Pertanyaan tersebut kami ajukan kepada Direktur LBH Banda Aceh, Bapak
Rufriadi. Namun sebelum itu, ia menjelaskan situasi di Aceh.

Rufriadi [R]: Yang kita lihat ada kesibukan di kalangan birokrasi
mempersiapkan acara kunjungan Megawati besok ke Aceh. Saya coba tanya
informasi ke mana-mana apa agenda Ibu Megawati datang ke Aceh.
Katanya hanya sekedar untuk syukur atas ditandatanganinya proses
perdamaian atau penghentian permusuhan antara RI dan GAM. Itu saja.

Radio Nederland [RN]: Lalu apa relevansi kedatangan Ibu Megawati di
Aceh menurut Pak Ruf?

R: Saya melihat begini. Ini kunjungan yang ketiga kali oleh Megawati
ke Aceh. Dan dua kali kunjungan saya pikir bahwa tidak ada yang bisa
diharapkan dari kunjungan Megawati. Artinya bahwa barangkali kita
minta bahwa Megawati mau membuka diri untuk sekedar berdialog dengan
masyarakat. Kemudian mendengar aspirasi masyarakat sipil di Aceh
terhadap situasi konflik berkepanjangan hari ini.

Tapi ternyata dalam dua kali kunjungan itu Presiden yang mulia tidak
pernah mau membuka diri. Artinya tidak pernah mau mengadakan
pertemuan secara langsung dengan masyarakat. Dan kali ini pun saya
mendengar tidak ada agenda pertemuan dengan masyarakat. Tapi lebih
pada datang acara seremonial syukur. Dan kemudian kembali ke Jakarta.


RN: Jadi nampaknya tidak ada relevansinya kedatangan Ibu Megawati ke
sana Pak Rufriadi?

R: Iya, dan saya dengar bahwa lebih kepada acara-acara seremonial.
Syukur-syukuran. Kemudian ingin memperjelas bahwa tidak ada pemilu
lokal di Aceh, yang ada pemilu nasional.

RN: Pak Rufriadi, kalau kita sekarang berbicara tentang pasca
penandatangan kesepakatan damai, ini bagaimana ke depannya tentang
isu seperti penegakan HAM dan keadilan bagi para korban perang itu?

Ini yang jadi pertanyaan yang cukup besar bagi kita aktivis hak asasi
manusia di Aceh, bahwa pada perundingan antara RI dan GAM itu tidak
sedikit pun membicarakan tentang bagaimana proses mengungkap kembali
atau melakukan penyelidikan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM.
Yang terjadi di Aceh selama ini, itu tidak mendapat perhatian sama
sekali. Terus terang ini mengecewakan citra-citra dan mengecewakan
mungkin masyarakat. Masyarakat bertanya-tanya bahwa tidak selesai
dengan menghentikan permusuhan antara kedua belah pihak. Atau
kemudian melakukan all-inclusive dialogue seperti yang direncanakan.

Tapi harus terlebih dahulu menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM
di Aceh yang begitu besar, yang begitu berat. Dan sampai hari ini
satu pun dari kasus-kasus pelanggaran HAM tersebut tidak diproses
secara hukum. Memang kita menyadari ada proses-proses politik yang
membuat mungkin kasus ini tidak sampai ke pengadilan. Tapi iktikad
kita harapkan pengakuan terhadap adanya praktek-praktek pelanggaran
hak asasi manusia di Aceh, itu yang diharapkan oleh masyarakat.

Namun ternyata dalam proses penghentian permusuhan kedua belah pihak
penandatangan kesapakatan perdamaian itu tidak dibicarakan tentang
kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Aceh. Dan ini cukup
mengecewakan bagi kita semua.

Demikian Bapak Rufriadi dari Direktur LBH Banda Aceh.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke