---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 17 Desember 2002 17:00 UTC



** INDONESIA DINYATAKAN TIDAK BERDAULAT ATAS SIPADAN DAN LIGITAN

** PENGAWAS PERDAMAIAN INGIN DEMILITERISASI ACEH

** KESEPAKATAN DAMAI DI KONGO

** TOPIK GEMA WARTA: ICJ PUTUSKAN MALAYSIA BERDAULAT ATAS SIPADAN DAN
LIGITAN

** TOPIK GEMA WARTA: KUNJUNGAN PRESIDEN MEGAWATI KE ACEH BATU UJIAN
BAGI SUASANA DAMAI

** TOPIK GEMA WARTA: SOAL JAMAAH ISLAMIYAH DAN DARUL ISLAM: MEGA DAN
GOH BISA SALAH TUDING



* INDONESIA DINYATAKAN TIDAK BERDAULAT ATAS SIPADAN DAN LIGITAN

Hari ini Mahkamah Internasional ICJ di Den Haag, Negeri Belanda,
memenangkan Malaysia dalam sebuah sengketa wilayah dengan Indonesia.
Mahkamah Internasional menyatakan bahwa Indonesia tidak melakukan
kegiatan apa pun juga di kedua pulau itu. Selain itu, hakim juga
menyatakan bahwa dalam UU No. 4 tahun 1960 tentang perairan wawasan
Nusantara, Indonesia tidak memasukkan pulau Sipadan dan Ligitan
sebagai wilayahnya.

Kedua negara mengklaim berdaulat atas dua pulau kecil yang terletak
di pesisir timur laut  Kalimantan. Sengketa tentang pulau-pulau
Sipadan dan Ligitan mulai pada tahun enampuluhan, saat Indonesia dan
Malaysia menetapkan batas negara secara lebih tepat. Kedua negara
ingin menguasai sumber daya minyak yang saat itu diduga terdapat di
wilayah perbatasan. Sekalipun hingga kini tidak pernah ditemukan
sumber minyak, perselisihan masalah batas negara masih terjadi.
Secara de facto Malaysia sudah menyatakan kedaulatannya atas kedua
pulau yang dikenal para pencinta olah raga selam itu. Saat ini
Indonesia menyatakan akan menerima keputusan Mahkamah Internasional.


* PENGAWAS PERDAMAIAN INGIN DEMILITERISASI ACEH

Para pengamat internasional yang memonitor proses damai di Aceh akan
upayakan demiliterisasi Aceh. Genjatan senjata di Aceh perlu untuk
menciptakan suasana kondusif di mana rakyat Aceh bisa menjalani hidup
secara normal. Ini dikatakan oleh David Gorman dari Henry Dunant
Center (HDC), lembaga yang berkedudukan di Swiss dan berperan sebagai
penengah dalam penyelesaian konflik Aceh.

Sekitar 150 pengawas genjatan senjata akan ditugaskan di Aceh. Mereka
mewakili pihak Indonesia, GAM dan HDC secara berimbang. Di lapangan,
para pengawas akan bekerja dalam sebuah tim kecil beranggotakan enam
orang.

Selain itu, dibentuk juga Komite Keamanan Gabungan yang bertugas
untuk mengawasi genjatan senjata, mengusut pelanggaran dan menerapkan
sanksi. Jum'at mendatang komite tersebut mulai menyelidiki
pelanggaran terhadap genjatan senjata. Sesuai dengan perjanjian, para
pihak yang bertikai akan mengambil posisi bertahan dan menghindari
aksi provokatif. Namun, pihak GAM melaporkan bahwa sedikitnya 10
orang terbunuh setelah penandatanganan perjanjian damai. Hingga kini
tidak ada konfirmasi tentang laporan tersebut.


* KESEPAKATAN DAMAI DI KONGO

Para pihak yang bertikai di Republik Demokrasi Kongo telah sepakat
untuk berdamai. Kesepakatan yang ditandatangani kemarin malam itu
tercapai setelah Afrika Utara menjadi penegah. Dalam waktu dua tahun
mendatang, Kongo akan membentuk pemerintah negara kesatuan. Setelah
itu diadakan pemilihan umum. Presiden Joseph Kabila tetap berkuasa
namun ia akan didampingi oleh empat wakil presiden. Kesepakatan damai
ini harus menghentikan perang saudara selama empat tahun di negara
yang terletak di Afrika Tengah itu.


* POLISI KAMBOJA TANGKAP PERENCANA PEMBOMAN KONFERENSI MENTERI ASEAN

Polisi Kamboja menangkap empat orang yang dituduh akan meledakan bom
untuk mengganggu pertemuan para menteri ASEAN yang berlangsung di
dekat kompleks kuil Angkor. Bom diletakkan sekitar satu kilometer
dari hotel di mana para menteri ASEAN melakukan konferensi tentang
kemiskinan. Menurut polisi, para tersangka adalah bekas prajurit
Kamboja yang melakukan desersi bertahun-tahun silam.


* MILITER VENEZUELA DUKUNG PRESIDEN CHAVEZ

Militer Venezuela akan mendukung penuh Presiden Hugo Chavez.
Pernyataan kesetiaan ini muncul saat negara itu tengah diguncang oleh
aksi mogok nasional untuk menentang kepemimpinan Chavez. Jenderal
Julio Garcia Montoya, pemegang komando tentara Venezuela, mengatakan
bahwa aksi mogok di industri minyak adalah serangan terhadap
kemakmuran negara. Montoya memberikan dukungan sepenuhnya terhadap
pemerintah yang awal bulan ini menyerukan penghentian mogok nasional.


Protes terhadap Presiden Chavez semakin menegangkan. Senin kemarin,
polisi membubarkan sebuah demonstrasi di ibukota Caracas secara keras
dengan menggunakan peluru karet dan gas airmata.

Organisasi Negara Bagian Amerika, OAS, berusaha mengalihkan konflik
ke meja perundingan. Dalam resolusinya, OAS menyerukan pencarian
upaya damai dan demokratis tanpa secara terbuka menuntut diadakannya
pemilihan umum dipercepat.


* INFLASI DI BELANDA AKAN TURUN SECARA STABIL

Bank Nasional Belanda menyatakan bahwa inflasi di negara kincir angin
itu akan turun secara stabil dalam tahun-tahun mendatang. Menurut
bank tersebut, angka inflasi tahun 2003 akan sebesar 2,5%  dan turun
menjadi sekitar 2% pada tahun berikutnya. Ini jauh lebih rendah dari
angka inflasi tahun ini yang diperkirakan sebesar 3,5%.


Selanjutnya Bank Nasional Belanda juga menyebutkan bahwa tingginya
inflasi tahun ini diakibatkan oleh kenaikan upah yang terlalu tinggi.
Upah di Belanda rata-rata 2% lebih tinggi dari patokan umum di Eropa.
Tingginya upah menyebabkan industri Belanda kurang mampu bersaing.
Pemerintah, majikan dan buruh di Belanda telah setuju untuk membatasi
kenaikan upah tahun depan demi pemulihan situasi ekonomi.


* DUA PERTIGA BATU KARANG DUNIA TERANCAM POLUSI DAN PERUBAHAN IKLIM

Dua pertiga dari batu karang di dunia terancam oleh polusi dan
perubahan iklim. Akibatnya karang-karang tersebut akan kehilangan
warna dan akhirnya pecah-pecah. Memanasnya bumi dan naiknya suhu air
membuat ekosistem batu karang berubah. Ini  diperingatkan oleh
jaringan global yang memonitor kualitas batu karang. Selain itu para
ilmuwan juga meresahkan kerusakan batu karang akibat penangkapan
ikan. Namun mereka menilai positif perlindungan atas gugusan karang
terkenal di Australia, The Great Barrier Reef. Perlindungan ini mampu
mencegah pemudaran warna karang tersebut.


* ICJ PUTUSKAN MALAYSIA BERDAULAT ATAS SIPADAN DAN LIGITAN

Intro: Inilah sebuah hasil yang ditunggu-tunggu baik Indonesia mau
pun Malaysia, setelah adu urat dan silat lidah selama kurang lebih 33
tahun demi menentukan siapa yang berdaulat atas dua pulau kecil yang
terletak di sebelah timur laut Kalimantan, berbatasan dengan Sabah,
Malaysia dan Filipina. Sipadan dan Ligitan, begitulah nama kedua
pulau tersebut, sempat mencuat ke pentas internasional ketika Amerika
Serikat menudingnya sebagai sarang teroris gerombolan Abu Sayyaf yang
kerap melakukan penculikan berdarah di seputar wilayah itu. Kini
setelah sabar menanti, Mahkamah Internasional ICJ di Den Haag, Negeri
Belanda mengambil keputusan siapa yang berhak atas kedua pulau rawan
teroris tersebut. Dari markas besar ICJ berikut laporan rekan Junito
Drias:

ICJ: The court concludes that Malaysia has title to Ligitan and
Sipadan on the bases of the activity referred to above. For these
reasons, the court by 16 votes to one decides on the pulau Ligitan
and pulau Sipadan belongs to Malaysia.

Dengan hasil suara 16 berbanding satu, akhirnya majelis hakim
Mahkamah Internasional menetapkan bahwa pulau Sipadan dan Ligitan
berada di bawah kedaulatan Malaysia. Keputusan Hakim Ketua Gilbert
Guillaume yang dibantu oleh 14 hakim internasional dan satu panitera
di Mahkamah Internasional, Den Haag, Belanda, jelas menorehkan
sejarah penting bagi Indonesia dan Malaysia.  Sengketa pulau Sipadan
dan Ligitan sudah berlangsung sejak tahun 1969, saat kedua negara
tetangga serumpun itu mulai membahas batas landas kontinen. Karena
saat itu gagal mencapai kata sepakat, dibuatlah nota pemahaman yang
menetapkan status kedua pulau itu sebagai status quo alias tak
bertuan sembari melakukan perundingan bilateral.

Bersamaan dengan itu Malaysia mulai melakukan tindakan aktif
pendudukan dengan memasukan kedua pulau tersebut dalam peta nasional
yang kemudian disusul pembangunan resor wisata dan penangkaran penyu
di tahun 1988. Tindakan ini memperuncing ketegangan dua negara sesama
anggota ASEAN itu sekaligus membuntukan upaya bilateral mencapai
kesepakatan. Sehingga di tahun 1997 Indonesia dan Malaysia setuju
membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional.

Proses di Mahkamah Internasional sendiri juga tidaklah mudah. Ibarat
berbalas pantun, kedua pihak saling melempar dan menyanggah argumen
masing-masing. Malaysia mendasari argumennya dengan teori Chain of
Title atau rantai kepemilikan secara turun temurun dari Sultan Sulu,
yang memberikan pulau Sipadan dan Ligitan kepada Inggris, yang
kemudian ditegaskan kembali melalui protokol Madrid 1885, di mana
Spanyol mengakui kewenangan Inggris. Malaysia sebagai daerah bekas
koloni Inggris karenanya merasa lebih berhak atas kedua pulau
tersebut.

Selain itu Malaysia juga mendasarinya dengan teori pendudukan
efektif, sebuah argumen yang berdasar pada bukti kedaulatan, seperti
pembangunan resor dan penangkaran penyu. Jurus terakhir Malaysia
adalah azas Proximity atau azas kedekatan. Menurut negara jiran itu
Sipadan Ligitan condong lebih dekat ke Malaysia ketimbang Indonesia.

Majelis Hakim melihat argumen Malaysia tentang rantai kepemilikan
sama sekali tidak berdasar. Menurut mereka tidak ada bukti bahwa
Kerajaan Sulu pernah menguasai Sipadan Ligitan. Demikian juga ketika
dikuasai oleh Spanyol. Sekalipun memang ada pengaturan Spanyol,
tidaklah berarti bahwa kedua pulau kecil itu menjadi bagian wilayah
kekuasaan Spanyol. Sehingga runtutan lain yang diajukan sebagai dasar
argumen ini dimentahkan oleh majelis hakim internasional yang
ditunjuk majelis umum PBB.

Demikian juga halnya argumen Indonesia lewat Konvensi 1891 yang
berisi perjanjian batas kekuasaan Belanda-Inggris. Tim gabungan yang
menghabiskan biaya Rp. 16 milyar itu gagal membuktikan di hadapan
Majelis Hakim bahwa baik Sipadan mau pun Ligitan termasuk dalam
perjanjian 1891 itu.

Namun Majelis Hakim mengakui efektifitas Malaysia dalam menjalankan
kedaulatannya di dua pulau itu, seperti yang diungkap dalam argumen
lisan di Grande de Hall. Pembangunan mercu suar, penangkaran burung,
penyu hingga resor menunjukan Malaysia aktif mengerjakan
kedaulatannya.

Yang lebih mengecewakan pihak Indonesia adalah ketika Hakim Gilbert
berulang kali menegaskan bahwa Indonesia sendiri dalam peraturan
perundangannya tentang wilayah perairan Indonesia No. 4 tahun 1960
sama sekali tidak mencamtumkan keberadaan pulau ini. Sehingga sulit
bagi Indonesia yang hanya mendasarkan efektifitas kedaulatan pada
keberadaan nelayan Indonesia di pulau itu.

Hal yang lebih tajam lagi adalah ketika Hakim hanya melihat exercise
of sovereignty atau aktif mengerjakan kedaulatan itu sebelum 1969,
tahun di mana Indonesia dan Malaysia mulai bersengketa atas dua pulau
itu. Dan sebelum itu Jakarta sama sekali juga tidak memprotes segala
tindakan aktif Kuala Lumpur atas kedua pulau. Artinya jelas sudah
Majelis Hakim melihat Indonesia sama sekali tidak berinisiatif untuk
mengerjakan kedaulatan di pulau itu apalagi dengan bukti perundangan
Indonesia tidak memasukkan dua pulau yang kerap didatangi Abu Sayyaf
tersebut.

Usai pembacaan keputusan yang berlangsung hampir dua jam mendengar
ulasan hakim, kelompok kerja Indonesia yang diCo-agenkan oleh mantan
Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Abdul Irsan, terlihat tertunduk
lesu, sembari melempar senyum dan menyalami kubu Malaysia. Seperti
yang diutarakan Abdul Irsan, sikap kecewa ini nampaknya tidak hanya
melanda kubu Indonesia yang menghadiri persidangan tetapi juga
melanda Jakarta melalui menteri luar negeri Hassan Wirajuda.

Abdul Irsan: Yah, sebagai insan Indonesia tentunya saya sangat
prihatin, sangat kecewa hasilnya. Bukan kecewa terhadap International
Court of Justice tapi kecewa pada apa yang dihasilkan sebagai orang
Indonesia. Di situ juga sudah dikemukakan oleh pak Menlu.

Tapi terlepas dari itu semua, seperti yang diungkap oleh Menteri Luar
Negeri Malaysia Syed Hamid Albar, hasil tersebut merupakan sebuah
pertunjukan diplomasi sehat. Menyelesaikan konflik dengan sebuah
dialog, kendati memakan waktu lama dan biaya. Ia menggarisbawahi
diwaktu mendatang Malaysia akan mengajak Indonesia untuk bersama-sama
mengelola pulau ini.

Syed Hamid Albar: Ini bukan di atas soal rampasan atau pengambil
alih. Ini dibuat melalui suatu suasana yang sound stable using legal
arguments, historical arguments. So I think everyone has to accept
it. Persoalannya itu kita mau teruskan itu pentakbiran pengurusan
kedua-dua pulau. Kalau ada gangguan oleh karena soal kedaulatan
menjadi isu konflik, maka kita sudah selesaikan. Jadi isunya
seterusnya mesti kita memandang ke hadapan. Untuk seterusnya
menentukan perhubungan Malaysia dengan Indonesia terus akrab, terus
baik, dan kita kedua-duanya boleh berkongsi dari segi faedah ekonomi
yang akan kita dapat dari kedamaian yang dicapai

Memang menarik mencermati perjuangan baik Malaysia maupun Indonesia
dalam memperjuangkan kedua pulau ini. Karena keduanya berusaha
konsisten untuk tetap berada di jalur perundingan dan menolak
penggunaan cara lain di luar itu semua. Ketika Amerika Serikat
bersama sekutunya berusaha menegakkan apa yang mereka sebut keadilan
dengan kampanye perangnya terhadap Irak, ASEAN yang disebut-sebut
sebagai sarang teroris justru menunjukan kepada dunia barat bahwa
mereka sanggup duduk berunding melalui mekanisme PBB untuk menemukan
jawaban tanpa lewat senjata. Junito Drias melaporkan dari Mahkamah
Internasional Den Haag.


* KUNJUNGAN PRESIDEN MEGAWATI KE ACEH BATU UJIAN BAGI SUASANA DAMAI

Kunjungan Presiden RI Megawati Soekarnoputri ke Banda Aceh kali ini
merupakan satu batu ujian bagi suasana damai seminggu setelah
Persetujuan Penghentian Permusuhan antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka
GAM ditandatangani di Jenewa. Lebih dari dari dua ribuan aparat
keamanan dikerahkan, dan Masjid Baitur-rahman dipadati masyarakat.
Masyarakat menaruh perhatian, namun tampaknya kurang bergairah untuk
berdialog dengan Kepala Negara.

Berikut ini dua keterangan. Pertama, dari Kadispendam, Kepala Dinas
Penerangan Kodam Iskandar Muda, Firdaus Gani, dan kedua, komentar
Hamzah dari organisasi pro-referendum SIRA.

Firdaus Gani [FG]:Ya, Alhamdullilah dari mulai persiapan kita
melakukan pengamanan kunjungan presiden sampai dengan sekarang, tidak
ada hal-hal yang menonjol yang berkaitan dengan kegiatan keamanan.
Kemudian aktivitas masyarakat juga sampai hari ini baik begitu.

Radio Nederland [RN]: Artinya baik bagaimana? Lancar semua?

FG: Artinya lancar bahwa aktivitas masyarakat tidak ada yang
terpengaruh ya, begitu aja!

RN: Kalau dalam kunjungan terakhir ada bom ya, dan ibu Mega hanya di
bandara. Sekarang berbeda ya, acara lebih luas, sambutan rakyat
bagaimana?

FG: Ya sambutan masyarakat kelihatannya memang berbeda dengan yang
lalu. Ini saya lihat sepanjang jalan, dari mulai dengan bandara
sampai kota Banda Aceh terlihat pemasangan bendera umbul-umbul,
berbeda dengan waktu kunjungan beliau hanya di bandara.

Dan saya memonitor tadi di mesjid Raya begitu penuhnya masyarakat
yang menunggu kedatangan presiden. Termasuk kesempatan ibu Mega
memberikan hikmat kepada masyarakat untuk menginap semalam di Banda
Aceh.

RN:Tapi kali ini pasukan keamanan bukan main banyaknya ya, ada
2000-an lebih dikerahkan. Ini berarti kekurang-percayaan terhadap
situasi setelah perjanjian damai?

FG: Ah ndak, sebetulnya dulu juga sekitar ini ya, jadi di setiap
pelosok kita melakukan pengamanan. Sebetulnya sama saja, hanya
masalahnya kenapa berbeda kekuatan karena dulu kan konsentrasinya
hanya satu, kita berada di bandara.

Sekarang ibu Mega harus melewati rute panjang sekitar 17 km, sampai
dengan sasaran pertama di mesjid Raya dan kemudian harus menginap.
Tentunya pengamanan wilayah seputaran 17 km ini membutuhkan lebih
banyak penggunaan personil keamanan. Bukan karena adanya
ketidakpercayaan.

Malah sebenarnya dengan adanya kesepakatan damai, itu semakin
memudahkan kita karena situasi semakin kondusif dari segi keamanan.


Demikianlah Kadispendam, Kepala Dinas Penerangan Kodam Iskandar Muda,
Firdaus Gani

RN: Saudara Hamzah dari SIRA bagaimana suasana Banda Aceh saat ini
berkenaan dengan kunjungan presiden Megawati?

Hamzah: Saya pikir begini, masyarakat khususnya di Banda Aceh hari
ini datang untuk melihat kedatangan Megawati, saya pikir tidak begitu
reponsif terhadap kedatangan Mega begitu. Kenapa? Ya, karena ya
seperti kedatangan-kedatangan sebelumnya bahwa Megawati datang ke
Aceh itu hanya untuk yah, jalan-jalan begitu, untuk melihat sebentar,
janji-janji lalu pulang lagi ke Jakarta.

RN: Apa tanda-tandanya, apa indikasinya bahwa masyarakat tidak
responsif?

Hamzah: Misalnya begini, ketika kita melihat bahwa warga di
Darussalam misalnya ya, ketika mendengar kedatangan Megawati hari
ini, tidak begitu respon untuk besoknya datang. Hari ini begitu! Saya
melihat begitu.  Jadi tidak serta merta masyarakat datang ke mesjid
Raya. Kebetulan saja ada sebagian masyarakat yang memang karena ini
suasanan lebaran, masyarakat ya kumpul-kumpul di mesjid Raya begitu.

RN: Tapi katanya masyarakat banyak berkumpul di sana, rakyat di luar
mesjid dan di dalamnya.

Hamzah: Itu betul, betul ada masyarakat di sana. Bukan tidak ada
begitu ya. Tapi ini tadi, mereka itu bukan khususnya datang karena
ada Megawatinya. Tapi karena itu adalah mesjid Raya Baitur-rahman.

RN: Ibu Megawati menangis lagi apa tidak?

Hamzah: Soal menangis saya tidak tahu, mungkin dia menangis dalam
hati ngga tahu. Tapi mereka di sini adalah puji syukur dan doa.
Kemudian juga perlu saya sampaikan bahwa, ini mungkin keanehan bagi
orang Aceh melihat. Misalnya begini, ketika datang ke Aceh ini kan
pakai jilbab, pakai busana muslimah ya. Tetapi ketika meninggalkan
Banda Aceh itu sudah seperti biasa. Nah ini adalah hal yang sangat
janggal di Aceh.

RN: Apa yang janggal dan mengapa janggal?

Hamzah: Janggalnya begini, Aceh itu kan Islam identitasnya dan budaya
Aceh itu budaya Islam. Jadi kalau wanitanya itu harus pakai jilbab
dan sebagainya dan Megawati juga ikut-ikutan. Ketika ia datang ke
Banda Aceh, dia ikut pakai jilbab. Bagus begitu, tapi ketika ia
meninggalkan Aceh, itu tidak ada lagi. Jilbabnya tidak ada lagi,
roknya sudah rok mini. Nah ini bagi orang Aceh itu sangat-sangat
janggal.

Hal-hal semacam ini adalah dianggap sebagai hal-hal yang munafik.
Artinya Megawati dianggap masih pura-pura dalam melaksanakan
kerja-kerjanya di sini.  Ini yang mungkin dilihat oleh masyarakat
Aceh begitu ya. Kenapa? Seperti saya katakan tadi, kalau memang di
Jakarta itu tidak pakai jilbab misalkan, datang ke Aceh ya juga
seperti itu. Itu kan artinya itulah Megawati, itulah Presiden
Republik Indonesia. Jangan sampai di sini ada macam-macam begitu. Ya
ini yang lucu kan?

RN: Jadi ada yang menganggap itu sekedar pura-pura saja begitu?

Hamzah: Ya, betul, betul.

RN: Tapi ini lain dengan waktu-waktu yang lalu ya, sekarang Presiden
Indonesia ini menginap di Banda aceh. Pertama kali ini berani
menginap. Istimewa kan?

Hamzah: Betul-betul, saya dengar juga begitu.Tapi kita kan tidak
tahu, meskipun dibilang menginap tapi nanti sudah pulang. Karena
memang dalam beberapa hari ini, paska penandatanganan peace agreement
(perjanjian damai - red.) suasana di Aceh agak sedikit aman begitu.

RN: Suasana aman ya, bagaimana dengan penjagaan keamanan presiden RI,
apakah ketat, apakah berlebihan, apakah berkurang?

Hamzah: Yah, saya mendengar itu tadi dari kodam ya bahwa jumlah
pasukan itu tiga batalyon. Memang tidak seketat yang dulu ya. Ini
agak sedikit kurang, keketatannya itu memang agak sedikit longgar
begitu.

RN: Tapi tidak ada kerusuhan juga ya?

Hamzah: Tidak, tidak ada.

RN: Bagaimana dengan posisi SIRA, apakah SIRA juga berusaha bertemu
dengan Presiden Megawati dan berdialog tentang referendum? Kan SIRA
membela referendum bukan?

Hamzah: Kita bukan membela referendum, tapi bagaimana referendum itu
terlaksana di Aceh begitu ya.

RN: Tapi apakah SIRA berusaha berdialog dengan ibu Presiden Megawati
tentang referendum?

Hamzah: Ngga, ngga kita ngga ada itu.

RN: Kenapa tidak?

Hamzah: Kan secara resmi ya. Artinya kita menyampaikan ini kan
sebagai basa-basi saja. Karena begini ya, referendum ini bukan hanya
SIRA yang memperjuangkan.

Demikianlah Hamzah dari organisasi pro-referendum SIRA, dan
sebelumnya anda juga mendengar Firdaus Gani, Kepala Dinas Penerangan
Kodam Iskandar Muda.


* SOAL JAMAAH ISLAMIYAH DAN DARUL ISLAM: MEGA DAN GOH BISA SALAH
TUDING

Negara-negara barat maupun negara-negara tetangga Indonesia yang
sangat khawatir terhadap terorisme internasional terus menuding
Indonesia sebagai sarang teroris. Salah satu negara yang paling getol
menuduh Abu Bakar Ba'asyir sebagai teroris, kini menuding juga Darul
Islam, suatu organisasi yang didirikan pada 1948 sebagai teroris.
Benarkah itu? Koresponden Syahrir mengirim laporan berikut dari
Jakarta:

Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong ketika berbicara mata mata
dengan  Presiden Megawati di istana Bogor mengatakan bahwa jaringan
teroris Jamaah islamiyah mempunyai kaitan dengan Darul Islam tahun
1950an, yang juga merupakan bagian dari gerakan terorisme Al Qaidah.
Karena itu Singapura dan Indonesia sepakat membasmi jaringan
tersebut.

Perdana Menteri Singapura itu juga sempat berharap bahwa penyelidikan
atas Jemaah Islamiyah itu bisa dimulai dari kasus Darul Islam
tersebut. Sehubungan dengan pernyataan itu sejumlah mantan tahanan
politik Darul Islam mengatakan, Darul Islam tidak ada hubungannya
dengan Jamaah Islamiyah. "Baik organisatoris maupun historis, tidak
ada kaitannya antara DI dan JI," kata mereka. Tetapi mereka mengakui
bahwa baik Abdullah Sungkar maupun Abubakar Ba'asyir merupakan mantan
anggota DI atau pun NII, atau Negara Islam Indonesia, yang dahulu
lari ke Malaysia.

Namun pada tahun 1990an, kedua tokoh ini menyatakan diri keluar dari
DI dan NII. Mereka berdua sudah merasa tidak sepaham lagi dengan gaya
perjuangan DI. Tokoh-tokoh Darul Islam dan NII dianggap sebagai
orang-orang penghayal yang tidak realistis. Sebaliknya kelompok DI
ketika itu berpendapat dalam perjuangannya menegakkan syariah Islam
kelompok DI akan menari sesuai dengan gendang yang ditabuh. Kalau
irama genderang perang yang ditabuh sebagaimana dimainkan oleh rejim
Soeharto, maka dengan berat hati orang-orang DI melayaninya. Sehingga
terjadilah bentrokan antara orang-orang DI dengan  TNI pada waktu
itu.

Tidaklah mengherankan jika saat itu muncul kasus Teror Warman. Warman
adalah seorang mantan anggota tentara Islam Indonesia yang ikut
bertransmigrasi dari Jawa Barat ke Lampung. Sebagai reaksi terhadap
tindakan kekerasan Soeharto, Warman dan kawan-kawannya melakukan
perlawanan terhadap TNI sejak tahun 1977 sampai tahun 1982. Tetapi
ketika gendang perdamaian yang ditabuh setelah Soeharto jatuh, di
tahun 1998, maka kewajiban Darul Islam sebagai suatu gerakan Islam
untuk cenderung pada perdamaian. Walaupun pihak yang mengajak
berdamai itu sesungguhnya hanya berpura-pura saja tetapi masalah
hatinya bagi kalangan Darul islam hanya menyerahkannya kepada Allah,
kata Ridwan. Ini sikap Darul islam

Ridwan: Contoh konkritnya begini kalau Islam mempunyai musuh,
sementara musuh itu umpamanya mengajak berdamai, nah kewajiban Islam
menurut Al Qur'an itu bahwa umat Islam wajib untuk cenderung kepada
perdamaian. Walaupun yang mengajak berdamai itu sesungguhnya hanya
berpura-pura. Yah, itu kan masalah hati mereka. Kita hanya melihat
fisiknya saja, masalah hatinya  kita serahkan saja kepada Allah.
Walaupun mereka berpura-pura.

Tentang masalah pemboman Bali, jadi sikap kami jelas. Setelah
pernyataan Ba'asyir dengan almarhum Abdullah Sungkar pada waktu
keluar dari NII, dari Darul Islam maka kami tidak mengetahui lagi
gerakan-gerakan mereka atau aktivitas-aktivitas mereka nah sehingga
masalah pemboman Bali, masalah pemboman gereja, apapun kayaknya Darul
Islam itu tidak tahu menahu masalah itu.

Kalau toh ada mungkin ada oknum-oknum yang mengaku atau pernah
mengaku menjadi anggota Darul Islam umpamanya, itu karena terus
terang saja kepemimpinan di Darul Islam sekarang ini tidak solid
sehingga mereka kerena tanpa ada organisasi yang solid sehingga
mereka bergerak secara individu-individu. Kita tidak bisa mengontrol
tentang individu-individu mereka. Tetapi secara, ya kami atas nama
mantan tahanan politik Darul Islam, kami sama sekali tidak tahu
menahu.

Karena itu orang-orang Darul Islam tidak mengetahui perkembangan
Abdullah Sungkar dan Abubakar Ba'asyir setelah kedua orang itu
berpisah dari Darul islam. Perkembangan selanjutnya, pihak darul
Islam hanya mengetahui bahwa Abubabakar Ba'asyir pernah aktif dalam
Majelis Mujahidin Indonesia, yang dibentuk oleh Irfan Awwas Cs
setelah Soeharto jatuh. Pada pembentukan MMI itu yang diselenggarakan
mulai dari tanggal 7 sampai 10 Agustus 2000 sudah ada anggota-anggota
senior ex-DI yang mempertanyakannnya. Kenapa momentum tersebut
memakai momentum 7 Agustus, sehingga seolah-olah antara MMI dengan DI
ada hubungannya? Padahal Irfan Awwas sebagai Ketua MMI, pernah
mengatakan antara MMI dan DI tidak ada hubungan baik secara historis
mau pun organisatoris. Bahkan sementara anggota DI menganggapnya
sebagai memanfaatkan  nama Darul islam yang diproklamirkan secara
resmi menjadi NII pada 7 Agustus 1949 setahun setelah DI berdiri,
oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Irfan Awwas sendiri adalah seorang tokoh muda Islam murid Ba'asyir
yang pernah ditahan Soeharto dan dibuang pulau Nusakambangan. Kala
itu ia dituduh telah menerbitkan tabloid Ar Risalah yang mengkritik
pemerintahan Soeharto. Kebetulan Jenderal Benny Moerdani saat itu
menjabat sebagai Pangab dan sangat menentang penerbitan  tabloid Ar
Risalah. Namun yang pasti Irfan selaku pemimpin redaksi Ar Risalah,
ditahan karena berita-berita tabloidnya dan bukan karena
keterlibatannya dengan DI/TII.

Maka agaknya Goh Chok Tong dan Megawati harus benar-benar mampu
mencermati konstelasi gerakan Islam yang ada di Indonesia. Utamanya
yang punya hubungan dengan militer Soeharto yang patut ditelusuri
dengan saksama.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke