---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 23 Desember 2002 15:20 UTC



** REAKSI KERAS TERHADAP PERINGATAN AKSI TEROR DI INDONESIA

** MANTAN PEMIMPIN KHMER MERAH DIHUKUM SEUMUR HIDUP

** KHOTBAH PARA IMAM DI BELANDA LAGI-LAGI PICU KERESAHAN

** TOPIK GEMA WARTA : GAM : 8 TEWAS DI ACEH KARENA TNI MELANGGAR
KESEPAKATAN DAMAI

** TOPIK GEMA WARTA: KOMITE KERJA TRAGEDI MEI, TANDINGAN ATAU MITRA
KOMNAS HAM?



* REAKSI KERAS TERHADAP PERINGATAN AKSI TEROR DI INDONESIA

Juru bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa mengatakan bahwa
peringatan tentang kemungkinan aksi teror saat Natal dan tahun baru
bisa mengucilkan Indonesia. Dilaporkan bahwa Presiden Megawati juga
menyerukan agar warga manca negara tidak dilarang berkunjung ke
Indonesia karena Indonesia tidak lebih aman atau lebih berbahaya dari
negara manapun.

Pekan lalu, Amerika Serikat, Australia dan Inggris memberi peringatan
tentang kemungkinan serangan teror di Indonesia saat Natal dan tahun
baru. Hari ini, peringatan tiga negara itu mendapat reaksi yang kian
keras dari pihak Indonesia. Pemerintah Australia menyatakan bahwa
peringatan tersebut berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.
Polisi menyiapkan puluhan ribu aparat untuk menjaga keamanan perayaan
Natal dan gereja-gereja.

Sementara itu, hari ini polisi mengumumkan enam tersangka baru
pemboman Bali. Ke enam tersangka itu terdiri dari empat warga
Indonesia dan dua warga Malaysia. Para tersangka warga Malaysia
diduga mengajar cara membuat bom dan memberi bantuan keuangan.


* MANTAN PEMIMPIN KHMER MERAH DIHUKUM SEUMUR HIDUP

Di Kamboja, seorang mantan pemimpin Khmer Merah, Sam Bith, dihukum
seumur hidup karena terlibat pembunuhan tiga warga asing. Para korban
yang warga Australia, Prancis dan Inggris diculik bulan Juni 1994
silam. Dua bulan kemudian mereka dibunuh.

Sam Bith yang berusia 70 tahun itu dihukum karena ia dinyatakan
bertanggung jawab. Sam Bith adalah komandan wilayah dimana penculikan
terjadi. Sebelumnya, seorang jenderal dan kolonel Khmer Merah juga
telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Rejim maois Khmer Merah menjalankan pemerintahan yang penuh
pertumpahan darah di Kamboja pada akhir tahun 70-an. Saat itu,
sekitar 1,7 juta rakyat Kamboja tewas karena dibunuh atau kelaparan.
Setelah rejim itu jatuh, pasukan gerilya Khmer Merah masih tetap
aktif selama bertahun-tahun.


* KHOTBAH PARA IMAM DI BELANDA LAGI-LAGI PICU KERESAHAN

Beberapa imam masjid di Amsterdam dan Den Haag lagi-lagi berkhotbah
tentang anti barat, anti demokrasi dan anti emansipasi perempuan.
Khotbah para imam tersebut diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan
disiarkan di sebuah program televisi Nova.  Sebelumnya, tema khotbah
seperti ini telah menyebabkan keresahan besar dalam masyarakat
Belanda.

Bulan Juni silam, program televisi Nova mengangkat masalah khotbah
para imam yang menyerukan jemaahnya untuk memusnahkan musuh Islam.
Sekalipun memicu keresahan masyarakat, Kejaksaan Belanda tidak
mengajukan ke pengadilan karena kemungkinan untuk dihukum sangat
kecil. Walikota Den Haag, Wim Deetman mengatakan bahwa para imam
tersebut dapat juga dituntut karena menyebarkan kebencian. Ia ingin
kejaksaan membuka lagi penyelidikan terhadap kasus itu.


* DUA PEMIMPIN KOREA SELATAN BICARAKAN MASALAH KOREA UTARA

Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung dan penggantinya yang baru
terpilih Roh Moo-Hyun, membicarakan masalah Korea Utara dalam rapat
kerja pertama mereka. Ketegangan antara kedua negara meningkat
setelah Korea Utara menghentikan pengawasan internasional terhadap
sebuah reaktor nuklirnya kemarin. Selain Korea Selatan dan Jepang,
Australia juga ikut mendesak Korea Utara untuk tidak membuka lagi
reaktor nuklirnya.

Presiden baru Korea Selatan Roh Moo-Hyun yang akan menjabat akhir
Februari mendatang ingin menjalin hubungan damai dengan wilayah utara
yang komunis itu. Ia tidak setuju dengan kebijakan Washington untuk
mengucilkan Pyongyang.


* JERMAN TIDAK MAU BERI KONTRIBUSI KEUANGAN UNTUK PERANG DENGAN IRAK

Jerman tidak akan memberi kontribusi keuangan untuk perang dengan
Irak. Menteri Keuangan Jerman, Hans Eichel mengatakan pada harian
Jerman Bild bahwa perang akan memakan banyak biaya keamanan.
Selanjutnya ia juga prihatin bahwa serangan Amerika dan Inggris
terhadap Irak akan berpengaruh negatif terhadap ekonomi dan
melambungnya harga minyak.

Dalam perang teluk tahun 1991, Jerman memberi kontribusi sebesar 5,5
milyar dolar untuk memaksa Irak keluar dari Kuwait. Saat itu
konstitusi Jerman masih melarang pengiriman tentara Jerman keluar
negeri. Sejak konstitusi tersebut diubah, Jerman mengirim hampir 10
ribu pasukannya untuk berbagai misi perdamaian. Hubungan antara
Jerman dan Amerika Serikat menjadi tegang akibat penolakan Jerman
untuk memerangi Irak.


* PEMILU MONTENEGRO TIDAK HASILKAN PRESIDEN BARU

Pemilihan umum di Montenegro tidak menghasilkan presiden baru. Jumlah
suara yang masuk terlalu rendah sehingga hasilnya tidak sah. Menurut
undang-undang, sedikitnya 50% elektorat harus memberikan suaranya.
Kemarin hanya 47% elektorat yang datang ke TPS. Akibatnya, bulan
depan harus diadakan pemilu baru dengan calon-calon yang sama. Hasil
awal pemilu kemarin menunjukkan kemenangan besar partai mantan
perdana menteri Filip Vujanovic yang mendukung kemerdekaan
Montenegro. Sebelumnya ia menyerukan agar 450 ribu elektorat
menggunakan hak pilihnya.


* BURUH MOGOK TIDAK INDAHKAN PERINTAH PRESIDEN VENEZUELA

Para buruh industri minyak Venezuela yang mogok tidak mengindahkan
perintah Presiden hugo Chavez untuk bekerja kembali. Para pemimpin
aksi mogok bersikeras untuk meneruskan aksinya walaupun akan
dipenjara. Aksi mogok nasional di Venezuela telah masuk minggu
keempat. Chavez memerintahkan polisi untuk menangkap siapa saja yang
melawan pemulihan produksi minyak. Ancaman juga ditujukan pada mereka
yang mengganggu distribusi pangan.

Namun hingga kini Presiden Chavez tidak berhasil membubarkan aksi
mogok sekalipun sudah mengerahkan tentara. Chavez juga berjanji bahwa
sebelum Natal semua warga akan mendapat bensin dan bahan pangan.
Akibat kekurangan bahan bakar dan pangan, aksi mogok di Venezuela
kian mencekam. Dengan aksi mogok tersebut pihak oposisi berusaha
memaksa presiden Chavez mundur dan diadakan pemilu baru.


* GAM : 8 TEWAS DI ACEH KARENA TNI MELANGGAR KESEPAKATAN DAMAI

Intro: Dua anggota Komando Pasukan Khusus TNI-AD (Kopassus) tertembak
mati di Aceh Selatan Ahad kemarin. Demikian tegas Danjen Kopassus
Mayjen TNI Sriyanto kepada pelbagai media massa. Ini berarti pihak
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melanggar kesepakatan damai yang tercapai
di Jenewa 9 Desember lalu. Namun menurut Tengku Isnandar Al Paseh,
wakil juru bicara militer GAM,  pihaknya tidak melanggar kesepakatan.
TNI lah yang lebih dahulu menyerang.

Tengku Isnandar Al Paseh [TIAP]: Mereka melakukan penyerangan ke
markas kita, dan pecah kontak senjata dan lalu mereka mendatangkan
bantuan dengan truk. Dan truk itu yang dihadang oleh pasukan kita
yang menunggu di suatu tempat. Ekses dari matinya dua pasukan komando
Indonesia mereka melakukan pembalasan ke masyarakat. Lima orang
masyarakat kena tembak.

Mengenai satu orang yang polisi, bukan polisi itu brimob namanya, itu
di daerah Peudada Bireuen, dulunya Aceh Utara sekarang kabupaten
Bireuen. Itu kemarin juga, mereka boncengan dua dengan sepeda motor
juga naik ke atas. Arah ke tempat lokasi kita. Sekitar 5 km dari pos
mereka. Pos mereka ada di jalan raya, jalan utama Banda Aceh - Medan.
Tapi mereka hari itu berboncengan naik ke lokasi sudah 50 meter
dengan markas kita. Kita suruh anak buah kita stop dengan senjata
ternyata anak buah itu tidak dalam posisi tembak. Sengaja itu kena,
kita menghormati peace deal (kesepakatan damai - red.) tapi senjata
disandang di bahu. Nah, bukannya berhenti, malah mereka mengokang
senjata terpaksa anak buah kita yang ada di situ melangkah ke parit
dan memberi tembakan ke atas agar berhenti.

Karena kita juga tidak tahu siapa sebab mereka itu tidak mau
mengenakan seragam yang komplit gitu ya. Yang terlihat cuma baju kaos
hitam. Posisinya dengan melihat dari senapan yang dipakai SS1 ya
kalau bukan polisi pasti TNI atau orang lain yang diberi senjata oleh
mereka, pihak milisi kemungkinan. Nah kita kan memberi tembakan ke
atas, mereka menjatuhkan diri dari kendaraan lalu mencari posisi
tembak dan mulai menembaki kita. Akhirnya kita berikan tembakan
pelumpuhan. Kena satu di punggung dan meninggal satunya lagi lari.
Nah itu yang terjadi di Peudada.

Kejadian penembakan yang matinya dua orang pasukan komando di kampung
Melaka itu di Manggamat tidak jauh dari situ juga. Jadi waktu mereka
melakukan operasi ofensif kita harus lari terus menerus. Nah kalau
kita harus menghindar terus, nanti kita akhirnya ke puncak gunung
sana. Jadi akhirnya kita memberikan perlawanan, mereka mendatangkan
bantuan. Nah yang korban itu, yang ada dalam truk. Pasukan bantuan.


Radio Nederland [RN]:Pasukan bantuan ini, yang dikatakan disini untuk
membantu orang kebanjiran begitu katanya. Bagaimana?

TIAP: Banjir sudah lama berlalu disitu. Sudah habis itu dua bulan
yang lalu. Jelas-jelas itu operasi ofensif. Kita terbirit-birit
menghindar, masih juga tetap dikejar.

RN: Jadi kalau begitu kesepakatan damai itu ya tidak tersosialisasi
katanya? Berarti ini yang tidak tersosialisasi tidak di pihak anda?
Berarti di pihak RI ya?

TIAP: Yang jelas sejauh ini belum ada dari pihak kita yang melakukan
pelanggaran. TNI kan punya alat komunikasi yang lebih baik dari kita,
mustinya ya mereka lebih cepatlah mensosialisasikan kesepakatan damai
ini.

Tapi, kelihatannya yang jadi persoalan di sini bukan masalah
sosialisasi. Tetapi masalah ketidak kompakan antara pimpinan TNI.
Nah, kita tahu paling tidak ada dua fraksi TNI menyangkut masalah
Aceh ini. Ada fraksi yang menginginkan jalan damai, satunya lagi yang
dipelopori TNI garis keras seperti Ryamirzad Ryacudu dan Endriartono
Soetarto memilih jalan perang, ya reaksinya selalu mengompori pasukan
di lapangan agar kalau bisa mungkin ya menggagalkan peace deal, yang
ini sangat kita sayangkan dan sudah kelihatan itu efeknya di
lapangan. Ada pasukan-pasukan TNI yang seolah tidak mau tahu dengan
kesepakatan damai.

RN: Pihak yang lain yang mana itu?

TIAP: Itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono. Dia juga kan punya pengaruh
ke kalangan TNI jadi mungkin komandan-komandan TNI tertentu berada di
bawah loyal kepada dia. Saya lihat TNI -TNI yang bisa dikontrol oleh
Pangdam Satu Iskandar Muda Djali Yusuf itu kelihatannya cool
(tenang,dingin - red) sekarang, ya bersahabat. Nampak mereka tidak
melakukan operasi lagi. Tapi TNI-TNI yang kiriman dari Jakarta, ini
yang kelihatannya susah diatur.

Demikianlah Tengku Isnandar Al Paseh, wakil juru bicara militer GAM.


* KOMITE KERJA TRAGEDI MEI, TANDINGAN ATAU MITRA KOMNAS HAM?

Intro: Komnas HAM mendapat tandingan dengan berdirinya Komite Kerja
Tragedi Mei 1998. Walau pun mengaku tidak akan menyaingi bahkan
bersedia bekerjasama dengan KPP HAM Tragedi Mei 1998 yang didirikan
Komnas HAM, Komite Kerja ini dibentuk karena ketidakpuasan terhadap
prestasi Komnas HAM. Mengapa ketidakpuasan itu muncul? Koresponden
Syahrir mengirim laporan berikut dari Jakarta:

Meskipun Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pada masa
pemerintahan Gus Dur telah menemukan fakta-fakta yang berkait dengan
Tragedi Mei 1998, tapi hingga kini, setelah Gus Dur dilengserkan dan
TGPF dibubarkan, kasus tersebut dibiarkan terkatung-katung. Temuan
TGPF itu sudah diserahkan ke polisi. Tapi tampaknya polisi dan aparat
penegak hukum lain tidak serius menindak-lanjutinya. Dengan alasan
itu, maka pada pertengahan Desember lalu sejumlah aktivis HAM
Indonesia berkumpul dan membentuk Komite Kerja Tragedi Mei 1998.

Terkatung-katungnya kasus Mei, menurut Marlin Dinamikanto, salah
seorang penggagas pembentukan Komite tersebut, tidak terlepas dari
tajamnya friksi-friksi dalam tubuh Komnas Ham yang kini dipimpin oleh
Abdul Hakim Garuda Nusantara, sehingga bekerja lamban dalam mengawal
kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Lambannya Komnas sebenarnya
membuat masyarakat gerah. Berkali-kali mereka, terutama dari korban
pelanggaran HAM di masa lalu menggelar demonstrasi ke Jl Latuharhary,
kantor Komnas HAM. Mereka menuntut agar kasus pelanggaran HAM di masa
lalu segera dapat diproses ke pengadilan.

Apa jawaban mereka? Ternyata alasan yang mereka kemukakan selalu
klise, bahwa kasusnya telah diajukan ke polisi atau jaksa. Maka
sebagian masyarakat yang gemas dengan lambannya kinerja Komnas HAM,
segera membentuk Komite-Komite Kerja yang diharapkan mampu
mempercepat proses penegakan hukum untuk pelaku kejahatan HAM.

Salah satunya adalah Komite Kerja Tragedi Mei 1998 yang kemarin pagi
menyelenggarakan work-shop di Jakarta. Menurut siaran pers yang
mereka edarkan, Komite ini bersifat independen, dapat melakukan kerja
sama dengan KPP HAM Tragedi Mei 1998 yang dibentuk Komnas HAM, dan
untuk menggapai tujuannya, Komite akan tetap merujuk pada temuan TGPF
yang telah disiarkan secara luas kepada publik. Selain itu Komite
juga berseru kepada masyarakat yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998
supaya memberi masukan kepada Komite, agar Komite dapat bekerja
sebagaimana diharapkan.

Komite ini diharapkan oleh Mochtar Pakpahan yang juga mendukung
pendiriannya, tidak bisa seperti yang lalu-lalu, datang sebentar lalu
menghilang.

Mochtar Pakpahan: Karena kalau hit and run, yang kita lawan ini
raksasa. Tidak raksasa yang dihutan ya, yang ngga punya otak. Ini
raksasa, semua dia miliki. Komputer dia miliki, kan uang dia miliki,
senjata dia miliki.  Karena itu tanpa juga dihadapi dengan sistematis
jangan-jangan kita juga yangmenjadi korban.

Pembentukan Komite ini belakangan hari dicurigai sebagai embrio
terbentuknya Komnas HAM tandingan. Pendapat ini ternyata ditepis oleh
para aktivis yang terlibat di dalamnya. Karena untuk membentuk Komnas
HAM tandingan perlu dukungan luas masyarakat, termasuk pendanaannya.
Jadi tidak bisa asal membentuk lembaga tandingan tanpa dipikirkan
akibat-akibatnya. Memang, masyarakat boleh geram terhadap isu-isu di
Komnas HAM yang menjadi sorotan hangat, misal tentang dugaan adanya
korupsi. Belakangan juga muncul tudingan bahwa Komnas HAM main mata
dengan polisi. Dalam suatu kesempatan, Zumrotin Susilo, anggota
Komnas HAM yang telah lama berkecimpung di dunia LSM membantah
desas-desus yang berkembang itu.

Tapi persoalannya kenapa kasus-kasus pelanggaran HAM yang sudah
diserahkan polisi tidak segera ditindak-lanjuti? Inilah hal yang
perlu dicermati, sehingga dalam waktu dekat Komite Kerja Tragedi Mei
1998 akan mendesak polisi agar segera menuntaskan Kasus Tragedi Mei
1998. Namun yang menjadi persoalan sesungguhnya ialah bahwa Komnas
HAM diam-diam telah dikebiri oleh pemerintah dan parlemen. DPR RI
selain menumpulkan para pengurus Komnas dengan tidak meloloskan
orang-orang semacam Mulya Lubis dan Hendardi, juga membuat perangkat
undang-undang yang melarang Komnas menerima bantuan luar negeri.
Padahal sejak pembentukannya, dana-dana lembaga yang didirikan lewat
Kepres Soeharto itu diperoleh dari luar negeri. Kini dengan
ditunda-tundanya dana dari Setneg, pemerintah pun sesungguhnya sudah
mereduksi militansi Komnas HAM baru itu.

Mengapa pemerintah mengikuti kehendak partai-partai yang tidak mau
mengambil sikap keras terhadap kekuatan-kekuatan lama? Dan mengapa
Mega setengah hati dalam menuntaskan kasus-kasus yang kental dengan
pelanggaran HAM? "Menurut saya," kata Shanty Parhusip, seorang
aktivis HAM, "inilah kesepakatan Megawati dengan kekuatan-kekuatan
lama." Megawati dahulu didukung kekuatan-kekuatan lama menghadapi Gus
Dur tetapi syaratnya ia tidak boleh membongkar kasus-kasus lama. Baik
yang berhubungan langsung dengan Cendana atau yang bersinggungan
langsung dengan militer. Itu sebabnya Megawati mencoba menampilkan
pemerintahan yang membela HAM namun pada sisi hukum dia menciptakan
perangkat-perangkat yang justru membebaskan sang pelaku dari jerat
hukum. Dengan latarbelakang ini kita bisa mengerti mengapa pula KPKPN
dibubarkan dan mengapa konglomerat hitam mendapat pengampunan lewat
Release and Discharge.

Sehubungan dengan pelbagai kritik masyarakat ini, Sholahudin Wahid,
adiknya Gus Dur yang menjabat Wakil Ketua Komnas HAM menyatakan bahwa
ia akan mengundurkan diri jika dalam waktu tiga bulan mendatang ini
KPP HAM Soeharto, KPP HAM Kasus Mei 1998 dan beberapa KPP HAM lainnya
tidak dibentuk. Berbicara pada acara pembentukan Komite Kerja Tragedi
 Mei 1998 pekan lalu, Sholahudin Wahid yang juga anggota Pengurus
Besar NU itu, mengemukakan pesimisme bahwa Soeharto pada akhirnya
bisa  dipenjarakan. "Menghadapi Try Sutrisno saja kita sudah kalah,"
katanya. Tapi soal KPP HAM Tragedi Mei 1998 ia sangat optimis kasus
tersebut dapat dibawa ke pengadilan mengingat bahan-bahan dan
saksi-saksi sudah lengkap. "Sebelum bulan Maret," katanya yakin.

Kalangan keturunan Cina pun nampak sangat optimis dapat mengungkap
kembali kejahatan para pendukung Soeharto di tahun 1998 itu. Pada
umumnya orang-orang Cina itu pelit, kata seorang pengusaha besar
keturunan Cina. Tetapi kalau soal KPP HAM Soeharto dan KPP Trisakti
serta Semanggi mereka tidak tertarik, maka menyangkut KPP HAM Tragedi
Mei 1998, umumnya orang-orang peranakan Cina mendukung pembentukan
KPP HAM tersebut.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke