---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Senin 27 Januari 2003 14:30 UTC



** PEKAN INI DEWAN KEMANAN PBB BICARAKAN LAPORAN INSPEKSI SENJATA PBB
DI IRAK

** PERWAKILAN KHUSUS KORSEL BUJUK KORUT HENTIKAN PROGRAM NUKLIR

** PETANI KOKA DAN PRESIDEN BOLIVIA TANDA TANGANI PERJANJIAN

** TOPIK GEMA WARTA: KEJAHATAN KEMANUSIAAN SUHARTO DIBUKA KEMBALI

** TOPIK GEMA WARTA: RAKYAT PANTAI GADING MENENTANG PERJANJIAN DAMAI

** TOPIK GEMA WARTA: AMERIKA SERIKAT TIDAK SABAR DENGAN PENGAWASAN
SENJATA

** TOPIK GEMA WARTA: SIKAP WARGA KUWAIT TENTANG PERANG DENGAN IRAK

** TOPIK GEMA WARTA: UNI EROPA AKAN GULIRKAN PEMBARUAN KEBIJAKAN
PERTANIAN



* PEKAN INI DEWAN KEMANAN PBB BICARAKAN LAPORAN INSPEKSI SENJATA PBB
DI IRAK

Hari ini di New York, inspektur senjata PBB akan memberikan laporan
awalnya dalam pencarian senjata pemusnah massal di Irak. Kesimpulan
mereka akan menentukan apakah akan ada perang terhadap Irak atau
tidak. Hans Blix, kepala inspektur senjata, diperkirakan akan
mengatakan bahwa Baghdad tidak bekerja sama secara penuh dan tidak
memberikan informasi lengkap tentang program persenjataannya. Blix
juga diduga akan mengumumkan tidak menemukan bukti yang kuat tentang
kepemilikan Irak atas senjata pemusnah massal. Perdana Menteri
Inggris Tony Blair mengatakan perang terhadap Irak dibenarkan apabila
laporan itu kritis terhadap Irak. AS sebelumnya mengatakan Irak telah
gagal bekerja sama dan pihaknya mulai kehabisan kesabaran. Washington
mengatakan adalah haknya unyuk bersiap menyerang Irak kendati tidak
ada mandat PBB. Anggota lain Dewan Keamanan PBB hendak memberikan
inspektur senjata waktu lebih untuk menuntaskan tugasnya. Laporan
yang diberikan hari ini akan didiksusikan dalam pekan ini.


* PERWAKILAN KHUSUS KORSEL BUJUK KORUT HENTIKAN PROGRAM NUKLIR

Korea Selatan mengirim perwakilan khusus Lim Dong-Won ke Korea Utara
untuk membujuk negara itu menghentikan program nuklirnya. Sebelumnya
Korea Utara mengakui mengembangkan senjata nuklir akhir tahun lalu.
Segera sesudahnya, Pyongyang mengusir dua inspektur senjata PBB dan
menghidupkan kembali reaktor nuklir. Awal bulan ini Korea Utara juga
membatalkan traktat pengembangan nuklir. Prioritas utama kunjungan
diplomatik ini adalah Korea Selatan meminta Badan Atom Internasional
menunda pembicaraan darurat tentang Korea Utara. Organisasi itu
dijadwalkan bertemu tanggal 3 Februari mendatang untuk membicarakan
kemungkinan pemberian sangsi.


* PETANI KOKA DAN PRESIDEN BOLIVIA TANDA TANGANI PERJANJIAN

Di Bolivia perjanjian tercapai untuk mengakhiri aksi para petani
Koka. Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada dan  lawannya Evo Morales,
yang memimpin para petani tersebut menandatangani perjanjian. Isi
sesungguhnya dari perjanjian itu belum diketahui. Para petani Koka
memblokade jalan utama negara selama dua minggu sebagai protes atas
pelarangan pengembangan Koka. 13 orang tewas dalam bentrokan antara
pengunjuk rasa dengan polisi. Daun Koka dapat dikunyah dan digunakan
sebagai campuran dalam teh berabad-abad. Tetapu daun itu juga
merupakan bahan penting untuk membuat kokain. Oleh karena itulah
belakangan pengembangan daun Koka dilarang.


* DI BELANDA MEMBOCORKAN INFORMASI DITUNTUT SATU TAHUN PENJARA

Pihak Kejaksaan Belanda akan menuntut bekas anggota dewan kotapraja
Wageningen, Jack Bogers, karena membocorkan nama tersangka pembunuh
politisi Pim Fortuyn. Pada tanggal Enam Mei tahun lalu, Bogers
mengatakan kepada organisasi lingkungan setempat bahwa salah satu
pekerjanya ditangkap karena melakukan pembunuhan itu. Polisi
mengatakan hal tersebut memberikan waktu bagi organisasi untuk
menghilangkan bukti dari kantor mereka. Bogers akan dituntut dengan
pelanggaran terhadap pasal kerahasiaan kantor dengan tuntutan
maksimal satu tahun penjara. Walikota Wageningen yang memberikan
informasi itu tidak dituntut.


* 11 WARGA BENGALI TEWAS DIBERONDONG DI  INDIA

Sebelas warga Bengali tewas dibunuh kaum militan di negara bagian
Tripura, India Timur Laut. Saksi mata mengatakan para penyerang
memberondong ke dalam rumah di mana pertemuan partai Komunis
dilangsungkan. Polisi yakin gerakan separatis NLFT bertanggung jawab
atas serangan itu. Beberapa gerakan suku separatis aktif di India
Timu Luat. Imigran Bangladesh mayoritas di negara bagian Tripura,
yang kini melebihi jumlah pribumi.


* TABRAKAN MUKA DENGAN MUKA, 17 ORANG TEWAS DI KAMERUN

Di Kamerun sedikitnya 17 orang tewas dalam sebuah tabrakan muka
dengan muka antar dua bis. Kecelakaan terjadi di jalan raya yang
menghubungi ibukota Yaonde dengan pelabuhan barat Douala. Puluhan
penumpang luka berat dari bis ketiga yang terlibat dalam kecelakaan
tersebut. Menteri pengangkutan John Ndeh mengatakan cara mengemudikan
sembrono sebagai penyebab kecelakaan itu.


* PEMBUNUH BERDARAH KEPALA POLISI ANTI TERORIS NEPAL DITANGKAP

Penguasa Nepal mengatakan pihaknya menangkap tersangka utama
penyerang Mohan Shrestna, kepala unit polisi anti teroris Nepal.
Lelaki yang ditangkap di pinggiran Kathmandu diduga kepala kelompok
bersenjata yang menembak mati kepala polisi itu, istri dan
pengawalnya. Tersangka terluka dalam serangan dan dilarikan ke rumah
sakit. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan
berdarah itu, tetapi yang berwenang yakin itu dilakukan oleh
pembangkang Mao yang telah melakukan perlawanan untuk menjatuhkan
kerajaan Nepal sejak tahun 1996.


* KEJAHATAN KEMANUSIAAN SUHARTO DIBUKA KEMBALI

Pekan ini Tim Kajian Soeharto dari Komnas-HAM merumuskan cara kerja
untuk menyusun kajian-awal tentang delapan kasus kejahatan HAM
Soeharto. Menurut ketua tim kasus 1965-6, Ita F. Nadia dari
Komnas-Perempuan, banyak sekali pembantaian tahun 60an yang
berserakan tanpa diketahui publik luas, seperti baru baru ini
ditemukannya di Flores. Hendardi dari PBHI, yang memimpin tim kasus
Aceh, Papua dan Timor Timur, juga mengharapkan bantuan publik.
Melakukan impunity (bebas dari hukum) adalah pelanggaran HAM juga,
sekalipun dilakukan oleh Presiden Megawati, tambahnya. Pertama-tama,
keterangan Ita Nadia tentang Tim Kasus
Soeharto dalam Peristiwa 1965

Ita Nadia [IN]: Sesungguhnya sejak 10 hari yang lalu secara resmi tim
ini dibentuk dan kemudian dibagi periodesasi dari kejahatan
kemanusiaan yang dilakukan oleh Suharto. Periodesasi itu dibagi ke
dalam tahun 65 sampai 75, kemudian tahun 75 sampai 80an, 80an hingga
95 dan 95 hingga 98. Nah untuk tahun 65, itu menyangkut kejahatan
kemanusiaan yang dilakukan Suharto pada kasus gerakan 30 September.
Dan untuk itu saya dan Aswiwarman, menambahkan pulau Buru. Karena
pulau Buru itu kami anggap sebagai tonggak monumen kejahatan
kemanusiaan yang bisa disamakan dengan Reuben Island di Afrika
Selatan.

Jadi kami akan berangkat dari narasumber primer. Yaitu mereka yang
dituduh atau disebutkan sebagai terlibat gerakan 30 september.
Kemudian sumber sekunder yaitu data-data/dokumen baik klipping maupun
tulisan yang ada baik disimpan amnesti internasional ataupun
lembaga-lembaga hak asasi, dan juga kami akan mendatangi, mewawancara
narasumber dan kalau ada dana kami juga akan ke pulau Buru.

Masalah '65 ini hampir di seluruh Indonesia. Saya baru pulang dari
Nusa Tenggara Timur, Flores, saya berjumpa dengan narasumber tentang
kasus '65 yang belum pernah diungkap oleh sejarah. Ternyata di sana
ribuan manusia yang dibunuh. Nah ini juga kesulitan kamu, karena
hampir di setiap pulau, wilyaha seluruhnya, kami temui pembunuhan
sekitar tahun '66, '69 bahkan '70 juga masih ada.

Radio Nederland [RN]: Tim ini kabaranya harus menyelesaikan sebuah
laporan pada bulan April. Apakah betul, apakah mungkin?

IN: Ini bukan laporan hasil akhir. Tapi ini adalah kajian awal untuk
melegitimasi bhawa kasus ini adalah sebuah kejahatan kemanusiaan.
Kerna selama ini, selama 32 tahun masyarakat menerima sebuah sumber
yang memutar balikan sejarah. Sehingga banyak orang berpikiran bahwa
'65 itu bukan sebuah kejahatan kemanusiaan.

RN: Namun dilain pihak masih ada sebuah trauma yang sangat
mengganjal. Kita tahu beberapa kasus penggalian kembali mendapat
halangan dari masyarakat maupun pihak yang berwajib. Jadi bagaimanan
cara menerobos masyarakat untuk berbicara mengenai tahun '65?

IN: Ini sebetulnya sebuah usah membuka kebisuan.

RN: Pak Hendardi, anda kebagian membuka kasus-kasus kejahatan
kemanusiaan di Aceh dan Papua. Termasuk Timor Timur. Bgaimana
mekanisme dan pendekatan yang anda lakukan?

Hendardi [H]: Kita kan lihat dari kebijakan politik yang ada pada
masa Suharto. Di mana kita percaya kasus-kasus di daerah tersebut
apalagi misalnya di Timor- Timur yang wilayah internasional, itu
bukan merupakan kebijakan daerah. Tapi merupakan kebijakan pusat yang
merupakan krangka strategi orde baru sendiri. Nah di dalam konteks
itu ita akn melihat pelanggaran kejahatan HAM berat yang dihasilkan
oleh kebijakan politik Suharto.

RN: Kalau kasus-kasus pasca Suharto ini saja sudah dijegal ditengah
jalan, kasus Timor-Timur yang menjadi tontonan dunia menjadi
sandiwara, pengadilan HAMnya. Bagaimana anda mengatasi ini?

H: Memang kesulitannya adalah kesulitan politik. Tetapi di dalam
kondisi parlemen yang merepotkan, bukannya mendukung semacam ini,
mungkin strateginya dengan membuka partisipasi publik di dalam proses
penyeledikan sejak awal. Sehingga publik merasa ini adalah bagian
dari hasil mereka juga.

Demikian Ita Nadia dan Hendardi.


* RAKYAT PANTAI GADING MENENTANG PERJANJIAN DAMAI

Puluhan ribu rakyat Pantai Gading turun ke jalan di ibukota Abijan
akhir pekan lalu. Mereka memprotes perjanjian damai yang disepakati
oleh delegasi pemerintah, oposisi dan pemberontak di Marcoussis dekat
Ibukota Prancis Paris pekan lalu. Para demonstran menuduh Prancis
memaksakan perjanjian damai. Massa yang marah membakar bendera
Prancis dan menyerang perwakilan Prancis di Pantai Gading. Bersamaan
waktu sejumlah kepala negara Afrika dan Sekjen PBB Kofi Annan
bertolak ke Paris untuk mensahkan kesepakatan damai. Laporan redaktur
Afrika Pieternel Gruppen dari Paris.

Penduduk wilayah Pantai Gading Selatan yang dikuasai oleh pemerintah
merasa dikhianati oleh Presiden Laurent Gbagbo. Mereka menilai
presiden Gbagbo bertekuk lutut terhadap tuntutan pemerintah Prancis.
Berdasarkan Perjanjian Damai Paris Presiden Gbagbo harus berbagi
kekuasaan dengan partai partai oposisi, dan dengan faksi gerilyawan
dalam pemerintahan rekonsiliasi nasional di bawah pimpinan Perdana
Menteri baru, Seydou Diarra. Pihak gerilyawan pada gilirannya
berjanji untuk melucuti senjata. Dalam sebuah konperensi pers di
Paris, Presiden Pantai Gading Laurent Gbagbo yang nampak terpukul,
mengatakan bahwa ia harus berkompromi.

Bila Anda tidak bisa menang dalam perang maka Anda harus melakukan
negosiasi, tandas Gbagbo. Para gerilyawan juga merasakan hal yang
sama. Para gerilyawan mencabut dua tuntutan terpenting yakni
pengunduran diri presiden Gbagbo dan penyelenggaraan pemilihan
diperpagi. Meski akan tetap berkuasa namun posisi Gbagbo goyah. Pihak
gerilyawan berhasil menggolkan tuntutan untuk menduduki pos
departemen dalam negeri dan dalam negeri. Namun apakah pihak
gerilyawan memiliki cukup kemampuan untuk mengelola sebuah
pemerintahan? Menurut Dakuorey Tabley, pemimpin sayap politik faksi
gerilya terbesar, MPCI pihak gerilyawan akan menimba pengalaman
politik melalui praktek.

Berbagai kalangan khawatir memberikan hadiah kepada gerilyawan untuk
duduk dalam sebuah pemerintahan akan menjadi preseden buruk bagi
negara negara lain di Afrika Barat yang menghadapi pemberontakan.
Namun tidak ada cukup waktu untuk membahas butir ini secara mendalam.
Baik delegasi yang mewakili pihak pihak yang berseteru di Pantai
Gading maupun masyarakat internasional bertujuan mengakhiri konflik
sedini mungkin. Kesepakatan damai berhasil tercapai dengan cepat,
mengingat pihak pihak yang bermusuhan di Pantai Gading saling tidak
berbicara ketika datang ke Paris. Para juru runding di Paris tidak
sempat untuk mempelajari dengan seksama situasi di Pantai Gading.
Pada akhirnya rakyat Pantai Gading-lah yang akan menentukan nasib
kesepakatan damai. Bila gagal diterapkan maka kesepakatan damai
dikhawatirkan akan menimbulkan sinisme dan sikap skeptis. Namun
menurut Stephen Ellis dari Pusat Kajian Afrika, ada bahaya lain yang
mengintai.

Bila mengambil contoh perang di Sierra Leone dan Liberia maka pihak
pihak yang secara formal menandatangani kesepakatan damai dalam
prakteknya tidak mempunyai itikad untuk mematuhinya. Situasi ini
membuka peluang bagi  terbentuknya faksi faksi militer baru. Walhasil
keadaan akan menjadi lebih kabur.
Dalam sebuah acara konperensi pers Sekjen PBB Kofi Annan mengakui
kendala tersebut.

Koffi Anan mengakui bahwa meski tidak mudah namun rakyat Pantai
Gading meminta perdamaian dapat terwujud. Mereka sudah mengalami
banyak penderitaan dalam beberapa bulan belakangan. Para pemimpin
Pantai Gading mempunyai kewajiban untuk menciptakan perdamaian.
Sekjen PBB berharap rakyat Pantai Gading akan menjalin kerjasama
dengan pemimpin mereka dan menerima kesepakatan damai.

Dalam beberapa hari ke depan akan menjadi jelas apakah rakyat Pantai
Gading akan mendengarkan pemimpin mereka. Namun untuk sementara ini
jurang antara optimisme di Paris dan kenyataan di lapangan di Pantai
Gading masih menganga lebar.


* AMERIKA SERIKAT TIDAK SABAR DENGAN PENGAWASAN SENJATA

Para pengawas senjata PBB akan menyampaikan laporan hasil pengawasan
senjata di Irak kepada Dewan Keamanan siang ini. Para inspektur
menghendaki lebih banyak waktu lagi untuk melaksanakan tugas mereka.
Sedangkan negara anggota Dewan seperti Prancis, Jerman, Rusia, dan
Cina juga berpendapat bahwa proses pengawasan harus dilanjutkan.
Namun Amerika Serikat tampak kurang bersabar. Penasehat tertinggi
Presiden George Bush, kepala satf Gedung Putih Andrew Card, kemarin
mengatakan tidak menutup kemungkinan bahwa Amerika Serikat akan
menggunakan senjata nuklir apabila terjadi perang. Lebih lanjut
laporan koresponden Reinout van Wagtendonk.

Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat George Bush mengancam para
jendral dan tentara Irak dengan tribunal kejahatan perang apabila
mereka memilih mengikuti perintah Presiden Saddam Hussein dalam
menggunakan senjata kimia dan biologis. Kemarin, Amerika menyatakan
lebih jauh lagi.

Kalau Saddam Hussein sampai berpikir untuk menggunakan senjata
pemusnah massa, maka ia harus juga mengantisipasi bahwa Amerika
Serikat akan menggunakan segala cara yang dibutuhkan untuk melindungi
diri dan dunia dari bencana.

Demikian tadi Kepala Staf Gedung Putih Andrew Card, mengacu pada
persenjataan nuklir yang dimiliki negerinya. Amerika Serikat terus
meningkatkan tekanan. Bahkan mungkin semakin  gencar sesudah sekutu
Prancis dan Jerman menolak perang. Presiden Bush tidak menghendaki
seorangpun meragukan keputusannya untuk membebaskan Irak dari Saddam
beserta senjata pemusnah massanya. Menlu Collin Powell selama ini
dipandang sebagai oarang yang lebih moderat, serta diplomatis  dalam
pemerintahan Amerika. Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di
Davos, Swiss, kemarin, Powell menekankan bahwa waktu sudah hampir
habis.

Kita tidak akan akan mundur dari perang kalau itu adalah satu-satunya
cara untuk melucuti Irak dari senjata pemusnah massa. Kita tetap
memiliki kedaulatan untuk melakukan aksi militer baik secara sendiri
atau dalam koalisi. Presiden mengatakan kita tidak bisa
mempertahankan diri serta sahabat-sahabat hanya dengan berharap yang
terbaik.

Beberapa bulan lalu,  Powell meyakinkan Presiden Bush untuk mencari
dukungan Dewan Keamanan PBB bagi perangnya dengan Irak.  Citra baik
Powell di mata  internasional mampu membantunya dalam debat internal
menghadapi para pendukung garis keras seperti Menteri Pertahanan
Donald Rumsfeld dan Wapres Dick Cheney yang tidak menghendaki campur
tangan Dewan dalam kebijakan luar negerinya. Pekan lalu, Prancis
mempermalukan Colin Powell dengan sikap tegasnya yang menentang aksi
militer. Mungkin karena inilah, Powell kehilangan pengaruhnya
terhadap para pendukung garis keras dalam kabinet Bush. Senator
Demokrat Barbara Boxer, yang mewakili negara bagian California serta
menentang perang, mencemaskan posisi Powell.

Colin Powell mewakili suara akal sehat. Saya tidak tahu apakah ia
masih tetap mengambil jalan pemecahan diplomatik sekarang. Dan saya
sangat prihatin

Ketua pengawas senjata PBB di Irak, Hans Blix dari Unmovic dan
Mohamed El Baradei dari Badan Enerji Atom Internasional akan
menyampaikan laporannya kepada Dewan Keamanan siang ini. Mereka tidak
menemukan senjata pemusnah massa.  Mereka menyebut kerjasama yang
ditujunkkan Irak sangat memusakan meskipun secara khusus Blix juga
akan melaporkan masih ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan
Irak tidak cukup
pro-aktif dalam memberikan jawaban.

Sebagian besar negara dalam Dewan Keamanan merasa adanya kemajuan
sehingga para inspektur itu perlu mendapatkan waktu untuk menunaikan
tugas mereka, bahkan jika perlu sampai beberapa bulan lagi. Namun
Amerika Serikat yakin bahwa pengawasan ini semakin membuktikan
ketidak tundukan Irak terhadap tuntutan perlucutan. Amerika
menghendaki Dewan Keamanan agar menyatakan dalam beberapa minggu,
bukan bulan,  bahwa Irak telah gagal memenuhi kesempatan terakhir
yang diberikan dalam resolusi bulan Nopember lalu. Apabila Dewan
Keamanan gagal melakukannya, maka semua tanda telah menunjukkan
Amerika akan mengambil alih pimpinan koalisi untuk melaksanakan
perang.


* SIKAP WARGA KUWAIT TENTANG PERANG DENGAN IRAK

Intro: Sejak Perang Teluk tahun 1990/1991, Kuwait telah menjadi
semacam rumah terbuka untuk Amerika dan pasukan sekutu lainnya.
Menurut kesepakatan keamanan, mereka bisa pergi dan tinggal di mana
saja mereka mau di negeri kaya minyak itu. Penambahan pasukan yang
saat ini berlangsung juga diterima tanpa banyak perdebatan dalam
parlemen Kuwait. Namun warga biasa Kuwait berdiskusi dengan para
anggota parlemen di rumah mereka sekali seminggu dalam apa yang
disebut diwanya atau open house. Lebih lanjut laporan koresponden
Hans Jaap Melissen.

Rumah anggota parlemen Ahamad Abdul Aziz Al Sadoon, bak sebuah
istana. Emas, perak, dan marmer. Dua kamar tamu besar yang ada mampu
menerima puluhan tamu. "Kami berbicara tentang semuanya, problem di
jalan, di kota, di negeri ini, dan tentu saja tentang Irak". Tidak
ada seorangpun yang hadir menghendaki perang dengan Irak. Namun
tidak ada seorangpun yang menghendaki Saddam Hussein sebagai tetangga
pemberang yang setiap saat bisa berdiri di muka pintu mereka. Jadi
kalau keadaan tidak bisa lain, maka mereka setuju apabila Amerika
menggunakan kekuatan untuk mengenyahkan Saddam. "Kami tidak tahu
seberapa jauh Saddam siap bertindak.  Tetapi saya yakin  bahwa dia
memiliki sejumlah besar senjata kimia".

Al Saddon mengegaskan keyakinannanya itu dengan banyaknya resolusi
yang diambil Dewan Keamanan terhadap Irak dalam 12 tahun belakangan.
Menurutnya, resolusi terkahir, nomor 1441, membuka peluang untuk
melaksanakan perang dengan Irak. Warga Warga Kuwait secara bulat
memiliki pendapat yang sama tentang Saddam. Namun banyak dari mereka
yang khawatir tentang dampak perubahan rejim di Irak  terhadap
kawasan itu. Hal tesrebut telah mulai terasa di Kuwait. Baru-baru
ini,  dua warga Amerika ditembak, seorang diantaranya meninggal.
Dalam insiden yang terjadi akhir tahun lalu, sebanyak dua orang tewas
dan dua luku berat. "Itu merupakan karya kelompok-kelompok ekstrimis,
yang tidak memiliki dukungan dari rakyat tapi memiliki hubungan
dengan Bin Laden". Demikian dikatakan anggota parlemen Abdulla Al
Nebari.

Namun masih dipertanyakan apakah Al Nebari benar-benar tahu apa yang
diraskan rakyat. Warga Kuwait sebenarnya merupakan minoritas di
negaranya sendiri, yang berjumlah 2,2 juta jiwa. Namun sekelompok
terbatas pria Kuwait memiliki hak untuk memilih. Barang siapa yang
bisa menunjukkan bahwa keluarganya telah tinggal di Kuwait sebelum
1920, bisa memilih. Tetapi emir menunjuk putra mahkota sebagai
perdana menteri dan menempatkan anggota keluarga kerajaan lainnya
dalam posisi-posisi menetri. "Kami masih bergulat dengan demokrasi"
demikian dikatakan Al Nebari ."Karena semua perhatian internasional
sekarang tertuju pada kawasan ini, maka proses demokratisasi mungkin
bisa dipercepat".

Perang Teluk tahun 1990/1991 juga memiliki dampak seperti itu.
Parlemen Kuwait untuk sementara dulu dibubarkan sejak perang
Irak-Iran, dan baru dipasang kembali sesudah pembebasan Kuwait. Al
Nebari mengatakan bahwa pemerintah Kuwait tidak sepenuhnya mengekori
Amerika. "Apabila anda melihat sikap kami dalam isu Palestina, maka
itu bukanlah sikap yang pro Israel". Walaupun pengaruh parlemen
sanagt terbatas, tapi ada sejumlah anggota parlemen yang bersikap
berlawanan dari pemerintah khususnya dalam satu isu.

"Pemerintah harus mempersiapkan warga Kuwait dengan lebih baik untuk
menghadapi perang. Masker penutup muka dan latihan keamanan bagi
setiap orang, seperti halnya di Israel. Uang bukanlah masalah".
Demikian dikatakan Al Nebari. Namun salah satu peserta dalam open
house itu  bertanya-tanya apakah semua ini tidak terlalu mengada-ada.
Komentarnya menyebabkan semua orang tertawa "Kami orang Arab memiliki
keuntungan. Dalam halanya serangan senjata kimia,  kami masih bisa
menggunakan gitra, yaitu penutup kepala, untuk melindungi wajah".


* UNI EROPA AKAN GULIRKAN PEMBARUAN KEBIJAKAN PERTANIAN

Para menteri pertanian ke 15 negara anggota Uni Eropa membahas
rencana pembaruan total kebijakan pertanian di Brussel Senin kemarin.
Gagasan pembaruan itu datang dari Komisi Eropa, pengurus harian Uni
Eropa. Komisi Eropa bermaksud menghapus sistim subsidi pendaptan
kepada para petani, karena dinilai menimbulkan kelebihan produksi dan
pemalsuan persaingan. Namun tidak semua negara Uni Eropa sepakat
dengan gagasan tersebut. Laporan koresponden Uni Eropa Paul Hazebroek
dari Brussel.

Komisi Eropa menginginkan agar bantuan pendapatan yang digabungkan
dengan hasil produksi seorang petani dihapuskan saja. Sistim itu
dinilai menimbulkan kelebihan produksi. Kelebihan produksi itu di
Eropa dikenal dengan fenomena gunung mertega atau genangan susu. Di
waktu mendatang para petani harus menyesuaikan jumlah produksi dengan
permintaan pasar. Komisi Eropa juga menghendaki kebijakan pertanian
berkesinambungan yang mempedulikan kwalitas pangan dan kesejahteraan
ternak. Perkembangan lahan pertanian di daerah seperti pengelolaan
hutan yang baik juga akan menjadi penting. Garis besar gagasan
komisaris pertanian Franz Fischler itu sudah diumumkan tahun lalu.
Pekan lalu Fischler mengulangi keuntungan yang dapat dipetik para
petani dari kebijakan baru di bidang pertanian.

Menurut Fischler rencananya itu selain akan memberikan lebih banyak
kepastian juga akan memberikan keleluasaan kepada petani dalam
berusaha. Mutu produk hasil pertanian akan menjadi lebih tinggi dan
harganya akan turun. Hal ini pada gilirannya akan menguntungkan
konsumen dan pembayar pajak. Fischler juga mengulangi bahwa sistim
subsidi sekarang mengakibatkan harga rendah yang semu di pasar dunia.
Yang menjadi korbannya adalah para petani terutama dari negara negara
berkembang. Mereka akan mengalami kesulitan untuk mengekspor produk
hasil pertanian. Selain itu Uni Eropa akan mendapat 10 negara anggota
baru pada tahun 2004 mendatang, sehingga jumlah angkatan petanipun
juga akan bertambah. Sistim subsidi yang berlaku sekarang akan
menjadi terlalu mahal.

Kebijakan pertanian saat ini menyedot separuh dari seluruh anggaran
Uni Eropa. Para pemimpin pemerintahan Eropa tahun lalu mencapai
kesepakatan untuk membekukan bantuan kepada para petani setelah tahun
2006. Untuk dapat mengalokasikan dana bagi pengembangan daerah
pertanian maka Fischler mau tidak mau harus memangkas subsidi kepada
petani. Hal ini akan lebih dirasakan oleh petani besar ketimbang
petani kecil. Namun Fischler memastikan bahwa para petani tidak perlu
mengkhawatirkan nasib mereka. Menurut Fischler pendapatan mereka
tidak akan mengalami penurunan drastis.

Namun perundingan mengenai pembaruan kebijakan pertanian Uni Eropa
diperkirakan akan memakan waktu beberapa bulan. Negara negara Eropa
terlibat selisih pendapat mendalam mengenai subsidi pertanian.
Prancis dan Spanyol kurang sreg dengan rencana Fischler itu. Belanda
mendukung rencana Fischler. Menteri pertanian Belanda Cees Veerman
menyebutkan rencana komisaris asal Austria itu berisiko namun sangat
diperlukan. Namun sektor pertanian dan lobby lingkungan hidup Belanda
juga kurang puas dengan rencana Fischler. Menurut organisasi
pertanian dan perkebunan Belanda LTO, pendapatan para petani akan
sangat menciut. Sedangkan organisasi lingkungan hidup, berpendapat
rencana Fischler itu kurang drastis.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke