Ngenger
 
Orang Jawa mengenal suatu tradisi yang disebut
“ngenger”. Mungkin kalau Anda bukan orang jawa, akan
jarang mendengar kata ini. Padahal sesungguhnya
ngenger adalah suatu tradisi yang menurut saya luar
biasa. Saya akan bercerita sedikit tentang ngenger.

Menurut filosofi orang Jawa, kesuksesan hanya dapat
diperoleh jika kita mendekati orang yang telah
memperoleh derajat kesuksesan. Makanya, pada jaman
dulu, orang-orang di kampung di Jawa tengah sana jika
ingin sukses, dia akan datang ke rumah orang yang
sukses untuk menjalani ngenger. Dengan harapan, kelak
akan bisa mengikuti kesuksesan “Bendoro“ atau orang
yang diikutinya.

Orang yang menjalani laku ngenger, betul-betul
menyerahkan hidupnya kepada Bendoro. Hubungan nya
sekilas mirip-mirip antara majikan dan pembantu.
Bahkan antara majikan dan budak. Pengenger pasrah dan
ikhlas kepada Bendoro, sementara sebagai imbalan atas
kesetiaannya, Bendoro memberikan kesempatan bagi
Pengenger untuk merubah nasibnya.

Kalau ditelusuri kembali dalam cerita-cerita Jawa.
Laku ngenger banyak dijalani oleh para penguasa tanah
jawa, sebelum mereka memperoleh kesuksesan. Misalnya,
tokoh Damarwulan, yang menjalani laku ngenger kepada
Patih Majapahit. Atau Jaka Tingkir yang ngenger kepada
Sultan Trenggana. Belakangan Jaka Tingkir berhasil
bertahta di kesultanan Pajang sebagai Sultan
Hadiwijaya. Kisah-kisah seperti ini memberi insprasi
kepada orang-orang jawa di kampung, yang ingin meraih
sukses, untuk melakukan ngenger.

Memang banyak kontroversi seputar ngenger. Orang jawa
modern bahkan cenderung memandang negatif kepada
ngenger. Karena berkesan sangat feodal dan tidak
menghormati hak Pengenger. Namun lepas dari itu,
sesungguhnya banyak nilai-nilai yang dapat kita
pelajari dari ngenger, misalnya:

1. Kesetiaan. Kalau Anda menjalani laku ngenger, Anda
harus total setia kepada Bendoro Anda. Dalam
pengertian yang seluas-luasnya. Seluruh tenaga dan
pikiran diberikan kepada Bendoro, sesuai dengan
perintah yang diberikan Bendoro. Anda tidak mungkin
mendua, atau mentiga, kesetiaan Anda hanya untuk
Bendoro. Ini untuk menunjukkan kalau Anda percaya
penuh bahwa Bendoro akan menunjukkan jalan kepada
Anda. Bahkan kesetiaan Anda tidak bisa dibeli dengan
uang. Karena para pelaku ngenger bahkan tidak boleh
mengharapkan imbalan. Diterima untuk ngenger saja
sudah suatu peluang buat mereka untuk sukses. Makanya
dalam ngenger, aib menanyakan imbalan kepada Bendoro.
Imbalan nanti akan dipetik ketika pelaku ngenger sudah
berhasil naik tingkat menjadi Bendoro baru.

2. Kesabaran. Ngenger sesungguhnya adalah sarana bagi
Bendoro untuk menggembleng dan menguji apprentice nya.
Maka kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci bagi
keberhasilan sang pe-ngenger. Salah satu pantangan
dalam tradisi ngenger adalah, “nggersula“ atau
mengomel. Apapun perintah yang diberikan Bendoro,
pengenger harus memegang prinsip: dengarkan dan ikuti.
Bahkan kadang proses ngenger berjalan cukup lama,
karena Bendoro melihat pelaku ngenger belum pantas
naik tingkat, maka pengenger harus sangat berlatih
menjaga kesabarannya.

3. Disiplin. Ngenger adalah peluang belajar langsung
dari orang yang sudah berhasil. Maka disini dibutuhkan
disiplin yang sangat kuat dari pe-ngenger untuk
mematuhi apa yang diperintahkan Bendoro. Pola belajar
pada laku ngenger adalah langsung praktek, bukan
teori-teori. Pe-ngenger bisa langsung mengamati
kebiasaan-kebiasaan Bendoro nya, bagaimana Bendoro nya
membuat keputusan dan bertindak. Dengan demikian
pe-ngenger akan memiliki bekal pengalaman yang cukup
jika kelak Bendoro nya memandang ia sudah cukup
pengetahuan untuk memegang tanggung-jawab yang lebih
besar. Tanpa disiplin, akan sulit pengenger untuk
menjadi Bendoro.

Anda pasti langsung bertanya-tanya? Lho kalau di jaman
modern, ngenger ini kan jadinya mirip dengan
“apprentice“? Ya ngenger mirip sekali dengan
apprentice. Namun, jauh lebih dari itu. Menjalani laku
ngenger memiliki protokol tertentu yang tidak boleh di
langgar. Protokol kesetiaan, kesabaran dan disiplin
tadi di antara nya. Ini yang sudah sulit dijalankan di
jaman modern yang semua serba ingin “instant result“
ini. Ngenger tidak demikian.

Di kalangan pengusaha Jawa yang sukses, sebetulnya
juga banyak ditemui fenomena ngenger.
Pengusaha-pengusaha tadi setiap tahunnya menerima
pengenger2 baru dari kampung. Mereka lambat laun akan
terseleksi menjadi segelintir orang yang memiliki
kesetiaan, kesabaran dan disiplin lebih dari yang
lain. Jika waktu nya tiba, maka pengenger terpilih
tadi akan diberi kesempatan menjalankan bisnisnya
sendiri.

Jangan anggap ngenger itu mudah. Belum tentu Anda
tahan menjadi pengenger. Boro2 ngomongin bayaran.
Diperintah-perintah seenaknya, dimarah2in, sudah
menjadi makanan sehari-hari pengenger. Ada almarhum
paman saya yang sukses menjadi pebisnis, beliau
dikenal tegas dan keras kepada kerabat yang ngenger di
rumahnya. Menurut beliau, jika dengan ketegasan beliau
saja sudah tidak tahan, bagaimana mau berhasil dalam
berbisnis?

Namun jika Anda lulus ujian dalam ngenger, imbalan
yang diberikan Bendoro adalah akses terhadap semua
yang Bendoro miliki. Mulai dari bisnis, kekuasaan,
jaringan pertemanan, kekerabatan, bahkan jika Anda
beruntung, pernikahan. Ya, banyak kasus dimana
pengenger akhirnya menikah dengan anak Bendoro.

Jadi, seandainya Anda diberi kesempatan memilih
ngenger kepada orang2 paling sukses di dunia, Anda mau
ngenger kepada siapa? Tapi ... siapkah Anda membayar
harga nya? (FR)

http://fauzirachmanto.blogspot.com



 
____________________________________________________________________________________
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
http://autos.yahoo.com/new_cars.html 

Kirim email ke