Artikel ini mungkin bisa menjawab.... FEEDBACK Menuding... Sebuah gerakan tubuh yang sangat kurang sopan. Jika harus menunjuk, maka jauh lebih sopan membuka tangan kita seakan mempersilahkan. Itupun untuk kasus yang sangat biasa atau menunjuk untuk memberi tahu kalau sekarang giliran anda. Bagaimana bila menuding itu untuk menyudutkan? Maka menuding itu menjadi sangat arogan. Semua perhatian terfokus pada arah jari telunjuk. Dan wajah yang tepat dari sasaran tudingan itu akan merasa matanya tercolok sinar laser yang bisa melubangi kelopak mata. Sahabat sukses, Hindari menuding. Menuding baik dalam tindakan gerak tubuh maupun hanya sekedar wacana. Menuding itu sungguh tidak empowering bagi pertumbuhan jiwa kita, pertumbuhan pikiran kita, pertumbuhan kecerdasan kita dalam mencari solusi. Ketika orang berbicara kesalahan ada pada diri orang lain, maka pemikiran itu sendiri justru yang membahayakan. Jika orang berfikir masalahnya ada di diri orang lain, maka cara berfikir itusendiri sebuah masalah. (Peter F Drucker pernah bilang ini) Sebuah cara yang efektif dalam menyelesaikan sebuah problematika adalah dengan focus on SOLUTION. Ketika orang sedang mengkorek masalah yang terjadi dengan berkutat pada masalah, maka hampir pasti masalah itu akan tidak selesai bahkan memiliki kecenderungan untuk membesar. (termasuk masalah bangsa ini) Menuding adalah salah satu contoh aktifitas problem soving yang rendah. Kurang cerdas dan boros energy. Apalagi dalam sebuah teamwork. hal ini bisa merusak komitmen kebersamaan. Termasuk kemitment membangun bangsa dari suku manapun. Contoh sederhana: Berapa 5 X 5? Orang yang tidak cerdas akan bicara: * Gara-gara kamu sih aku ditanya 5X5 * Kenapa sih lima kali lima? Bukan lima kali 1 * Kamu sih jawa suka MOLIMO? * Kenapasih nggak dikali 10 saja? * Kenapa aku yang ditanya? Betapa masalah sederhana menjadi panjang dan rumit, menyikut kanan dan kiri, melukai sahabat dan juga musuh-musuh. Sungguh orang yang cerdas akan segera mengambil kalkulator dan menjawab 25. SELESAI Sahabat sukses di TCI, Jangan kita terpancing dengan pesimisme. Ini sangat berbahaya bagi karir anda. Karir anda sebagai. Mengapa? Pesimisme TERBUKTI tidak pernah bisa laku dijual. Yang laku adalah konsep-konsep dan statement yang optimis. Anda ingin Bukti? Saya tidak akan menyebut nama, namun coba anda ingat baik-baik, siapa politikus, atau pakar ekonomi yang menebarkan pesimisme? Apakah dia laku? Apakah dia bisa meraup suara? Apakah dia mendapat tempat? JAWABNYA: TIDAK Kalau anda sudah menemukan maka anda bisa menganggukan kepala. Jika orang pesimis tidak akan pernah bisa menjual. Anda akan kehilangan daya tarik. Ohh mau yang lebih dekat? Coba lihat orang-orang dilingkungan anda yang pesimis? mengeluh, komplain, menyalahkan sana sini. Apakah karir BELIU cemerlang? Saya garansi hanya ada satu "setengah" dari 1000 karyawan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi renungan sahabat sukses, Bagaimana bila hanya untuk scoope pribadi? Apapun feedback yang kita terima bisa menjadi sangat bernilai. Apakah pujian, apakah makian. Salah satu luck factor manusia adalah kepandaian merubah hal-hal buruk menjadi baik. Kita membutuhkan kemampuan untuk merubah setiap feedback menjadi hal positif. Ada sebuah percobaan kecil anda bisa lakukan. Ketika anda menonton bola di televisi, cobalah untuk mengecilkan suara hingga tidak terdengar. Seheboh apapun pertandingan itu akan terasa hambar. Tidak menarik. Bagaimana bila pertandingan bola tanpa penonton. Sungguh pertandingan yang tidak menarik dan membosankan. Mengapa? karena bagi para pemain, mereka merasa tidak di feedback. Pada dasarnya manusia memang membutuhkan feedback. Apakah buruk apakah baik. Jika anda cukup piawai maka anda bisa menemukan bahwa semua feedback itu sangat baik buat kita. Yang tidak baik HANYALAH bila kita salah menyikapinya. Saya akan berikan contoh: Maaf hidung anda kotor! (Ya saya menulis dan mengatakan ini untuk hidung anda.) Ini adalah feedback. Bisa ya, bisa juga cuma bohong. Bisa hanya olok-olok, bisa juga karena sayang pada anda, untuk bisa segera mengkoreksi hidung anda. Jika anda cerdas, maka tidak ada ruginya anda melongok sebentar kecermin, atau langsung mengusap dengan tisu. Jika YA maka anda bersukur telah mengkoreksi diri, bila tidak maka anda sudah lebih yakin kalau hidung anda sudah bersih. Baik sahabat sukses , ucapakan salam pada FEEDBACK Salam Perubahan! Hari Subagya www.bisnispartner.com Please help us and help your friends! Caranya Anjurkan teman/saudara anda untuk mengirim email kosong ke :[EMAIL PROTECTED] Ebook Bagus GRATIS bisa di www.ebookbagusgratis.com
----- Original Message ---- From: said sungkar <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, 27 May 2007 12:07:24 Subject: [Bicara] Mentalitas Jawa dan Sunda Oleh : Zaim Uchrowi ''Indonesia sulit maju,'' kata seorang teman. ''Kenapa?'' tanya saya. ''Sebab, lebih dari 70 persen penduduknya adalah Jawa dan Sunda,'' jawabnya. Saya ternganga, sampai ia menjelaskan lebih lanjut. Menurutnya, mentalitas orang Jawa dan orang Sunda bukan mentalitas orang yang siap maju. Hal itu terlihat dari ungkapan yang banyak dipakai orang-orang dari kedua suku ini. Orang-orang Jawa disebutnya sering menyebut kata ''nek'' atau ''gek'', yang berarti ''kalau'' sebagai sebuah pengandaian tentang sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Orang Jawa sering mengucap ''nek ngono mengko piye ...'', ''nek ngene mengko piye ...'' yang berarti ''kalau begitu nanti bagaimana... '', ''kalau begini nanti bagaimana... .'' Orang-orang Jawa berpikir begitu panjang. Seluruh kemungkinan di masa depan telah dipikirkan dari sekarang. Pada satu sisi, hal tersebut baik. Banyak persoalan telah diantisipasi jauh hari menyangkut akibat yang mungkin terjadi. Dengan demikian, jika akibat itu benar terjadi, mereka telah siap untuk menghadapinya. Namun, di sisi lain, banyaknya kemungkinan yang dipikirkan di masa depan sering membuat takut melangkah. Ibarat seorang tak punya rumah yang tak kunjung punya rumah karena takut memikirkan kemungkinannya di masa depan. Bagaimana kalau gentingnya bocor, bagaimana kalau ada pencuri, apalagi kalau rumah itu habis terbakar. Begitu banyak kemungkinan yang dipikirkan hingga orang itu tak berani melangkah untuk punya rumah. Sikap itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar orang Jawa pasrah pada keadaan yang dimilikinya. Mereka tidak akan berusaha keras mengejar sesuatu karena kalau gagal akan terasa sangat menyakitkan. Mereka tidak siap gagal. Akibatnya, pencapaian rata-rata orang Jawa kalah bila dibanding etnis lainnya. Misalnya dengan rata-rata pencapaian orang Batak, apalagi dengan keturunan Tionghoa. Orang Jawa tak mau berbuat keliru, dan sangat khawatir keliru. Itu membuat komunikasi orang Jawa tidak baik. Orang Jawa tidak pandai mengekspresikan perasaan sendiri, apalagi kalau harus mengatakan tidak. ''Bagaimana nanti kalau orangnya tersinggung. '' Kalimat demikian banyak diucapkan. Orang Jawa menuntut orang lain paham bahasa isyarat. Kalau terpaksa harus mengomentari orang lain, paling dengan cara menyindir. ''Jadi, bagaimana orang Jawa bisa maju?'' Sebaliknya, orang Sunda cenderung malas berpikir panjang. Istilah yang banyak dikatakan adalah, ''kumaha engke ...'' yang berarti ''bagaimana nanti ....'' Jalani dan nikmati hidup seadanya seperti air mengalir yang akan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu diatur-atur. Ingin sekolah ya sekolah, ingin main ya main, ingin kerja ya cari kerja kalau dapat. Kalau tidak dapat ya sudah, ''can nasib'' atau ''belum nasibnya''. Nanti cari lagi. Ada uang, nikmati saja sepuasnya. Uang habis tidak apa-apa. Usaha lagi seperlunya, atau minta bantuan saudara. Tidak berhasil tidak apa-apa. ''Can nasib.'' Ingin kawin, ya kawin saja biar pun pekerjaan belum mapan, penghasilan juga pas-pasan. Ingin kawin lagi, ya kawin lagi saja. Kan boleh dalam agama. Anak banyak, bermunculan saban dua tahun, tidak apa-apa. Tak perlu ada kesiapan buat merencanakan masa depannya. ''Kumaha Gusti wae ....'' Terserah Tuhan sajalah. ''Jadi, bagaimana orang Sunda bisa maju?'' Dengan mentalitas begitu, kemiskinan Jawa yang sangat besar tak kunjung berkurang. Sedangkan kemiskinan Sunda (serta Banten dan Betawi sebagai kerabatnya) terus membesar dengan kecepatan luar biasa. Anehnya, kita menganggap fenomena itu fenomena biasa, dan kadang malah menganggapnya sebagai sikap pasrah pada Allah SWT sesuai tuntunan agama. Padahal, ''pasrah pada nasib'' sangat berbeda dengan ''pasrah pada Allah''. Pasrah pada Allah SWT adalah membuat perencanaan hidup sebaik-baiknya, bekerja keras untuk mewujudkan perencanaan itu, serta selalu optimistis terhadap hasil yang akan diberikan Tuhan pada kita. Reshuffle kabinet boleh-boleh saja. Tapi, bila sungguh-sungguh ingin membuat bangsa ini dan bangkit sesuai semangat Hari Kebangkitan Nasional, rombak dulu mentalitas bangsa ini secara revolusioner. Untuk itu perlu revolusi mentalitas orang Jawa dan Sunda sebagai mayoritas penduduk bangsa ini. ____________________________________________________ Yahoo! Singapore Answers Real people. Real questions. Real answers. Share what you know at http://answers.yahoo.com.sg
