Wah Mang Ucup,
Saya jadi tersindir nich oleh tulisan anda, saya memang yakin apapun penyebab
penyakit seseorang itu tidak lagi penting namun kenapa Tuhan mengijinkan kita
menderita penyakit tentunya ada "pesan" dibaliknya yang layak kita renungi.
Saya pernah menderita penyakit yang dikategorikan berat karena banyak orang
yang tidak bisa survive, yaitu sakit kanker mulut rahim stadium 3B yang
dianggap cukup berat. 4 bulan di rumah sakit memang membuat saya berubah, saya
lebih bisa menghargai hidup dan kesehatan, saya juga bisa melihat sendiri siapa
yang teman dan yang bukan bisa dilihat dari intensitas mereka mengunjungi saya
di rumah sakit, saya juga lebih mendekatkan diri pada Tuhan karena merasa bahwa
dalam situasi seperti itu tidak ada dokter yang paling hebat yang bisa
menyembuhkan penyakit saya jika Tuhan sendiri tidak berkenan. Saya juga belajar
banyak hal yang telah memperkaya diri saya seperti bagaimana kita bisa survive,
bagaimana melawan rasa takut, bagaimana mengalihkan rasa sakit sehingga tidak
perlu minum obat penahan rasa sakit yang bisa merusak organ tubuh, saya bisa
menyadari makna keadilan Tuhan yang sebelumnya sering saya ragukan. Bagaimana
Tuhan tidak adil, setiap makhluknya diberikan sarana
untuk hidup seperti udara dan air dengan gratis. Tuhan si pemilik bumi dan
seluruh alam semesta tidak pernah menarik biaya penggantian untuk apa yang
diberikanNya contoh bumi tempat kita hidup, bercocok tanam, membangun rumah
semua milik Allah, manusia lah yang membuat aturan sehingga seolah kita harus
membayar tanah tempat kita berpijak. Tuhan tidak mengenakan biaya untuk oksigen
yang kita hirup padahal di rumah sakit satu tabung oksigen harganya bukan main,
demikian juga dengan air yang kita gunakan untuk minum, mencuci, menyiram
tanaman dan mandi semuanya gratis, belum lagi seluruh organ yang kita miliki
dalam tubuh kita semua gratis sayang kita seringkali lebih terfokus pada apa
yang kita tidak miliki sehingga lupa bersyukur atas segala yang ada pada diri
kita. Sekaya apapun seseorang dia cuma mampu membeli makanan yang paling mahal
yang mampu dijual restoran termahal namun dia tidak akan mampu menelan seluruh
makanan yang dia mampu beli sekaligus karena perut memiliki
keterbatasan menyerap makanan yang ditelannya. Kita mampu beli mobil yang
paling mahal yang kita simpan berpuluh puluh di gudang tapi pasti kalau kita
menggunakan mobil tentunya cuma bisa satu mobil sekali pakai kan tidak mungkin
naik dua mobil sekaligus pada saat yang sama. Juga rumah, pakaian, sepatu,
tanah, uang, perhiasan, investasi, saham, kekayaan yang kita miliki tidak
mungkin bisa digunakan setiap saat secara bersamaan.Yang ada malah jantungan
karena takut dirampok, takut ditipu, takut inflasi, takut dicuri walau tidak
semua seperti ini. Jika kekayaan yang kita miliki bisa juga bermanfaat buat
orang banyak dan menyadari sepenuhnya kalau semua ini hanya titipan maka
ketakutan itu nyaris tidak perlu ada.Setiap orang punya jumlah jam yang sama
yaitu 24 jam perhari apakah kita orang miskin ataupun kaya sama sama punya
jatah jam yang sama jadi bagaimana kita bisa bilang Tuhan tidak adil.
Banyak lagi keadilan Tuhan yang telah membuka mata saya saat sakit, di saat
mulut saya sama sekali tidak bisa menelan makanan walaupun semuanya enak dan
mahal terbayang seorang pengemis makan nasi bungkus cuma sama tempe dengan
lahap, juga saat aku mengerang kesakitan di tempat tidur rumah sakit terbayang
para gelandangan yang tidur pulas di bawah jembatan.
Terima kasih ya untuk tulisannya semoga bisa juga mengingatkan kita kepada
Tuhan.
Salam EPOS,
Lies Sudianti
Founder & Moderator Milis the Profec
0816995258
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
mangucup88 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Apabila kita jatuh sakit ataupun menderita? Pertanyaan yg hampir
selalu diajukan ialah: Siapa yg mengirim penderitaan ini? Apakah
sakit ini dari si setan atau dari Allah? Kalau dari Allah apa
dosaku? Kalho dari si setan, kok Allah tdk melindungi saya? Se-akan2
kita ingin mencari dalang maupun aktor intelektualnya dari penyakit
kita ini, bahkan tidak sedikit dari kita yg langsung mengadili dan
memvonis Sang Pencipta, sebagai Allah yg jahat dan tidak adil!
Tidak bisa dipungkiri, bahwa si setan pun bisa mengirimkan penyakit
maupun santet, tetapi perlu diketahui bahwa tidak ada penyakit atau
penderitaan apapun juga di dunia ini bisa terjadi dgn tanpa
sepengetahuan maupun se-ijin dari Sang Pencipta, karena Allah tidak
pernah kecolongan. Walaupun demikian satu pemikiran yg salah apabila
kita menilai bahwa sakit itu adalah takdir yg sudah ditentukan dari
sononya sambil berkata itu kan sudah kehendak-Nya, begitu juga satu
pemikiran yg salah lainnya dimana kita berfikir bahwa Allah akan
membebaskan manusia dari penyakit, entah ia itu orang soleh maupun
Nabi sekalipun mereka harus sakit! Karena dunia ini bukanlah Disney
World tempat untuk ber-senang2.
Pertama perlu diketahui bahwa manusia itu bukannya robot ato sesuatu
yg bisa di program, mulai dari cara makannya saja sdh beda dari
makhluk2 lainnya, mana ada makhluk lainnya yg memiliki puluhan ribu
macem resep makanan seperti manusia, sedangkan kuda dan sapi sudah
ditakdirkan untuk makan makanan yg itu2 saja, begitu juga dgn
prilaku seksual kita, kalau anjing dan kucing gayanya hanya gitu2
azah, tetapi kita manusia memiliki berbagai macam variasi lihat azah
tuh buku Joy of Sex ato Kamasutra. Oleh sebab itulah juga manusia
mendapat julukan sebagai binatang yg paling liar, karena manusia itu
tidak bisa diprogram maupun menghargai apa yg telah ditentukan
sebelumnya. Manusia selalu berkeinginan untuk memberontak dan
melawan aturan entah yg ditentukan oleh Sang Pencipta maupun oleh
manusianya sendiri, kita selalu mencari jalan pintas yg bisa
menyenangkan ego kita tanpa mau menghiraukan yg lainnya.
Manusia melawan hukum maupun undang2 itu sih udah biasa dan bisa
dimaklumi mulai melanggar aturan lalu-lintas s/d hukum pidana,
karena apa sih yg perlu ditakuti, bukankah hukum itu bisa dibeli. Yg
hukuman dan vonis nya udah jelas ada di depan mata sekalipun sdh
kita tidak mereka takuti lagi, kagak percaya tanya saja sama Dr
Anda, berapa persen dari pasiennya yg benar2 mo nurut nasehatnya,
padahal mereka sdh mengetahuinya dgn jelas, bahwa apabila nasehatnya
tidak diturut maka akibatnya bisa fatal, bahkan bisa menyeretnya ke
dlm maut.
Sebagai contoh udah tahu, bahwa merokok itu merusak kesehatan,
bahkan dgn Warning yg jelas dan gede ditulis diatas kotak rokoknya,
tetapi kenyataannya tetap saja mereka cuek, begitu juga dgn pola
makan kita, lihatlah menu makanan yg Anda makan se-hari2 apakah ini
bisa dinilai sehat?
Manusia jaman sekarang sudah budeg dan sudah buta, sehingga tidak
bisa atau lebih tepatnya tidak mau lagi melihat ataupun mendengar
nasehat yg baik, karena kebutaan dan kebudegan kita inilah maka
Allah terpaksa menggugah kesadaran manusia dgn suara yg keras!
C.S. Lewis mengatakan bahwa "kesakitan" itu adalah "megafon"
atau "pengeras suara" yg dipakai oleh Allah untuk membangunkan
kesadaran manusia. Bisikan maupun getaran hati nurani kita sdh tidak
digubris lagi, oleh sebab itulah Allah membentak kita dgn
teriakannya yg keras melalui kesakitan2 kita. Kesakitan adalah
megafon Allah untuk membangunkan dunia yg telah budeg ini.
Kesakitan merupakan erangan, jeritan, teriakan dari manusia, tetapi
perlu diketahui bahwa "kesakitan" itu juga merupakan "megafon"
atau "pengeras suara" yg dipakai oleh Sang Pencipta untuk menggugah
kesadaran manusia, sebab bisikan halus sdh tidak akan mempan lagi
pada manusia jaman sekarang ini, boro2 bujukan manis dari sang
istri, ancaman keras dari Dr sekalipun acap kali diabaikan.
Oleh sebab itulah hanya "kesakitan" yg berbunyi cukup lantang untuk
membuat manusia menjadi tersentak untuk mau mengintropeksi dan
memeriksa dirinya, siapa tahu dgn demikian mereka mau merobah cara
pola hidupnya, bahkan bisa berpaling kepada Allah kembali.
Tanya saja sama diri sendiri, orang bagaimana bandelnya sekalipun,
ia akan berhenti merokok apabila ia sudah kejangkitan penyakit
kanker paru2. Begitu juga orang akan merubah cara pola makan maupun
pola hidupnya apabila ia sudah kena stroke. Para pencandu alkohol
maupun narkoba sekalipun banyak yg menjadi sadar dan clean total
setelah mereka mengalami sakit berat.
Berapa puluh ribu orang baru mulai berlutut lagi untuk berdoa untuk
berpaling kembali kepada Sang Pencipta setelah mereka jatuh sakit,
oleh sebab itulah juga secara sadar atau tidak sadar pada saat kita
menderita sakit mereka sering menggerang dan memanggil nama Allah,
kagak percaya cobalah dengar erangan maupu keluhan orang sakit,
mereka sering menggerang sambil mengucapkan kata2 seperti "Duh
Gusti" atau "Ya Tuhan" atau "Masya´allah" sesuai dgn cara maupun
kepercayaannya masing2.
Mang Ucup The Drunken Priest
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net