VONIS...... dalam bidang apapun seringkali merupakan sesuatu yang sangat 
tidak menyenangkan, apakah itu menderita suatu penyakit yang mematikan, dipecat 
atau diputus kontrak, dituduh melakukan kejahatan yang membuat seseorang harus 
mendekam di penjara, ditolak, dicerai..... atau vonis dibidang apapun termasuk 
kegagalan dalam bidang pendidikan, semuanya sangat tidak menyenangkan dan 
terkadang bisa mempengaruhi kestabilan fisik maupun mental.
   
  Aku ingat sembilan tahun lalu aku divonis menderita kanker mulut rahim 
stadium 3 B dimana waktu itu dokter memberikan bayangan bahwa aku tidak perlu 
dioperasi yang membuat aku berpikir penyakit ku ternyata tidak parah dan hatiku 
terasa besar karena dibebaskan dari penyakit yang menakutkan itu. Tapi apa yang 
sebenarnya terjadi? ternyata aku tidak jadi dioperasi justru karena sel 
kankerku sudah menyebar kemana mana sehingga tidak ada gunanya dioperasi. Yang 
membuat aku merasa semakin down justru karena aku merasa penyakitku tidak 
berbahaya.... seandainya aku tidak merasa diberi harapan kemungkinan aku tidak 
se-shock saat itu. Ada kemarahan, ketakutan dan nyaris putus asa yang 
menyelimuti akal sehatku yang membuat aku merasa kematian sudah sangat dekat.
  Tapi dengan serta merta aku melawan pikiran yang mengharu biru yang nyaris 
membuatku benar benar putus asa dan apatis karena merasa sudah tidak mungkin 
ada harapan. aku memang marah kepada suami dan adikku yang menerima message 
dari sang dokter yang tidak mau menyampaikan langsung pada pasien karena alasan 
keluarga lebih mengenal watak pasien sehingga diharapkan lebih mampu 
menyampaikan berita yang kurang menggembirakan tsb. ternyata penanganan seperti 
itu justru membuatku marah, tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih 
berhak tahu tentang nasib seseorang selain orang itu sendiri apalagi kalau 
menyangkut hidup dan mati.
  Dengan segera kulawan semua pikiran dan perasaan negatip yang melemahkan itu, 
aku segera bangkit dan berkata pada diriku sendiri bahwa umur di tangan Tuhan, 
tidak ada seorang pun yang bisa menentukan kapan kita mati ... walau seorang 
dokter ahli sekalipun. Aku yakin sakit tidak berbanding lurus dengan kematian, 
sakit berbanding lurus dengan sehat sebagai bentuk hukum alam tentang 
keseimbangan karena itu sampai ajal menjemput kita tidak boleh menyerah separah 
apapun penyakit yang kita derita. Dan pada saat itu aku menanamkan pada diriku 
sendiri bahwa kalaupun sel sel kanker itu akan merenggut nyawaku maka dia harus 
bekerja keras untuk menaklukkan tubuhku karena aku tidak akan membiarkannya 
menaklukkan aku dengan mudah. Yang aku lakukan selanjutnya adalah bertanya 
langsung pada dokter tentang kondisi penyakitku serta kansku untuk sembuh 
sekecil apapun itu layak diperjuangkan dan waktu itu aku memperjuangkan peluang 
hidup yang 25%. Yang mengherankan saat aku mengembalikan
 segalanya kepada realita tiba tiba semua rasa takut hilang yang ada justru 
semangat untuk melawan, semangat untuk menjalani proses kehidupan baru yang 
belum pernah kubayangkan sebelumnya, bahkan walau sering mendengar tentang 
kanker aku sendiri tidak punya bayangan seperti apakah bentuknya.
   
  Aku mencari bahan referensi tentang kanker dan membaca banyak tulisan tentang 
mereka yang sukses melawan kanker salah satunya adalah CHICKEN SOUP buat 
penderita kanker, aku terus menerus berkomunikasi dengan semua dokter yang 
menangani aku, aku membuat catatan dari semua peristiwa yang kujalani obat yang 
kumakan, kemoterapi, radiasi, sinar dalam, penderitaan yang harus kujalani 
selama 4 bulan di rumah sakit, doa dan sholat yang menjadi sangat nikmat karena 
jelas yang diminta, aku menjalani semuanya dengan santai, tanpa rasa takut, dan 
rasa sakit yang luar biasa pun tidak membuatku mau menelan morfin karena aku 
yakini ini adalah proses mengurangi dosa dosaku yang menggunung. Aku ikhlaskan 
semuanya hanya kepada Allah. Aku melakukan meditasi, visualisasi untuk bisa 
membunuh dan melawan sel sel kanker yang bersarang ditubuhku, setiap hari aku 
olah raga dan olah napas  di rumah sakit dan yang pasti aku tidak mau merasa 
seperti pasien yang sedang menunggu kematian, aku makan
 apa saja seperti orang sehat. Dan aku akan marah sekali kalau ada pengunjung 
yang menangis karena buatku justru itu membuat aku menjadi lemah, aku juga 
menolak mereka yang sakit karena kondisiku sangat rentan akibat kemoterapi 
sehingga anti bodiku tidak akan sanggup melawan penyakit seringan flu 
sekalipun. Dengan segala daya akhirnya aku terbebas dari penyakit itu, walau 
dokter wanti wanti agar aku tetap kontrol karena katanya tidak ada istilah 
sembuh buat pasien kanker yang ada sel kankernya sudah tidak aktif tapi bisa 
saja kambuh lagi jika ada pemicunya yang salah satunya adalah STRESS selain 
hidup yang tidak teratur, kita harus kembali ke alam seperti yang memang sudah 
dirancang oleh Tuhan agar layak untuk menjadi tempat hidup makhluk ciptaanNya, 
sayangnya tangan tangan jail dan ambisi manusia yang seringkali justru 
merusaknya.Kini sembilan tahun sudah berlalu tapi aku tetap tidak berani 
takabur karena banyak orang yang kukenal pernah menderita kanker sekarang ini
 terjangkit lagi dengan stadium yang lebih parah. Aku hanya ingin menekankan di 
sini bahwa VONIS apapun yang kita terima jangan langsung membuat kita terpuruk, 
percayalah segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan karena tidak ada yang sia 
sia di alam semesta ini.
   
  Hari ini aku baru saja mendapat VONIS ke dua yang aku anggap cukup berat 
yaitu KONTRAK KERJA ku di NISSAN akan berakhir bulan depan, aku sempat shock, 
gamang, sedih, merasa dicampakkan setelah pengabdianku selama ini, belum lagi 
membayangkan ke 3 anakku yang masih sekolah yang membutuhkan banyak biaya tapi 
kemudian aku sadar semua perasaan negatip itu justru akan membuat aku semakin 
lemah dan tidak berdaya karena itu langsung aku switch off. Aku tanamkan pada 
diriku bahwa WE ARE THE MASTER OF OURSELVES..... SO NEVER LET ANYTHING TAKE THE 
CONTROL.
   
   Aku percaya Tuhan tidak akan mencoba umatNya di luar kemampuannya, pasti ini 
hanya merupakan proses tertutupnya sebuah pintu untuk memberi kesempatan 
terbukanya  pintu pintu lain yang lebih menjanjikan.
   
  Beruntung aku kini punya PROFEC yang memberi sebuah arti buatku semoga aku 
bisa punya lebih banyak waktu untuknya. Akupun yakin keberadaan milis ini pasti 
bukan tanpa alasan, karena tak ada satupun kejadian di alam semesta ini tanpa 
ijin Tuhan bahkan sebuah daun kering pun berjatuhan karena ijin Nya.
   
  Salam EPOS,
   
  Lies Sudianti
  Founder & Moderator the Profec
  0816995258
  [EMAIL PROTECTED]
   
   

Kirim email ke