Kenapa ada istilah mudik? Apa sich yang dimaksud dengan mudik.......
Seingat aku saat aku kecil yang biasa bilang mau mudik adalah para pembantu
rumah tangga, tukang sayur langganan ibuku, tukang gudeg, tukang jamu gendong,
tukang rokok di tikungan jalan, warteg, pedagang di pasar, tukang beca
langganan, tukang bakso, pokoknya mereka yang hanya menjadi pemukim sementara
di Jakarta ataupun suatu tempat.Dan ini hanya diistilahkan saat lebaran saja
karena pada saat hari hari lain istilah mudik tidak digunakan. Entah kenapa.
Kata mudik sendiri sepertinya punya konotasi miring karena waktu aku kecil
kalau aku sedang berantem dengan tetanggaku yang orang betawi asli sering
mereka menyebut aku .... dasar orang udik oleh karena itu dulu kami jarang
bilang kalau mau pulang kampung dengan istilah mudik.Juga teman temanku
biasanya kami menghindar istilah mudik tersebut abis kesannya rada kampungan
sich, namun dengan berjalannya waktu saat kita terbiasa mencari kata kata yang
singkat tapi padat maka istilah mudik menjadi biasa digunakan untuk aktifitas
pulang kampung saat lebaran.
Dan kondisi negara kita yang berbentuk kepulauan membuat perjalanan pulang ke
kampung halaman menjadi semakin penting karena biasanya mereka yang lulus
sekolah mencari pekerjaan di kota kota besar yang berada di pulau yang sama
ataupun pulau lain dan biasanya mereka memilih untuk mencari pekerjaan di kota
besar seperti Jakarta yang diyakini lebih menjanjikan dan mereka yang berhasil
akhirnya menjadikan kota tsb. sebagai tempat domisilinya yang baru bahkan tanah
air keduanya.
Indonesia sendiri dikenal sebagai negara agraris atau pertanian sehingga
banyak penduduknya khususnya yang tinggal di daerah atau pedalaman mempunyai
mata pencarian sebagai petani namun dengan bertambahnya anggota keluarga maka
saat orang tuanya meninggal banyak tanah pertanian yang dipecah untuk warisan
akibatnya dengan lahan yang semakin sempit tidak memungkinkan untuk meneruskan
pekerjaan tradisional tadi. Maka banyak penduduk yang akhirnya memilih menjadi
transmigrasi dan membentuk komunitas baru di daerah transmigrasi maka tidak
heran jika di Sumatera banyak orang dari suku Jawa yang sudah merantau dari
jaman penjajahan dulu untuk mengadu nasib. Atau
melakukan urbanisasi ke kota lain dan membentuk kehidupan baru di sana.
Bahkan ada yang berimigrasi ke negara lain dan pindah warga negara.
Saat eyangku masih hidup merupakan kewajiban bagi semua anak cucunya untuk
mengunjunginya saat lebaran dan seingatku acara ini menjadi acara rutin tahunan
dalam kondisi apapun seolah momentum itu sangat sakral untuk dihindari. Buat
aku dan saudara saudaraku hanya mengingat bahwa kami memang merindukan saat
demikian karena kapan lagi bertemu saudara sepupu di hari hari biasa. Kami akan
berada di kampung cukup lama biasanya satu minggu penuh.... bermain ke sawah...
berlair di pematang sawah sambil memetik mentimun dan kacang panjang yang
ditanam petani di pematang sawah .....mandi di kali dan naik kerbau sambil
memandikannya.... nyolong tebu di perkebunan dan lari terbirit birit takut
tertangkap basah, nonton wayang kulit di malam hari. Dan klimaksnya sungkem
kepada Eyang dan mereka yang lebih tua sambil menerima wejangan yang selalu
kuingat sampai bertahun tahun kemudian. Sungguh pengalaman yang menyenangkan
dan membuat kami selalu ingin mengulangi kembali.
Namun dengan berjalannya waktu kami menyadari bahwa dorongan untuk pulang itu
semakin menipis apalagi saat Eyang sudah tiada kegiatan pulang kampung bukan
lagi tujuan kami hanya datang ke rumah eyang untuk ziarah dan sesudahnya kami
meneruskan perjalanan, tidak ada lagi pertemuan keluarga besar di kampung eyang
di Blitar. Dan aku baru menyadari bahwa semakin lama kampung eyang pun semakin
sepi hanya tinggal mereka yang sudah tua sementara anak anak mereka sudah
merantau saat melanjutkan pendidikan dan akhirnya bekerja. suasana kampung pun
bak kota mati istilah kami suwung.... sepi dan sama sekali tidak menyenangkan.
Mereka hanya pulang setahun sekali saat lebaran itupun saat orang tua mereka
masih hidup, setelah mereka tiada mereka pun jarang pulang kampung. Terlebih
lagi saat tanah dan rumah keluarga akhirnya terpaksa dijual untuk dibagi
sebagai warisan.
Aku selalu ingat lagu DESAKU yang begitu menyentuh entah kini sepertinya
sudah tidak punya makna karena desa desa yang asri itu sudah berubah bentuk
....sebagian berubah menjadi area industri yang gersang dan keras. Tidak ada
lagi sawah sawah yang hijau dan air sungai yang jernih, juga anak gembala yang
meniup suling mereka di atas punggung kerbau. Budaya ini nyaris punah sejalan
dengan arus informasi yang sudah menyusup ke seluruh pelosok kampung.
Setidaknya di pulau Jawa sudah sulit mencari suasana yang asri dan damai.
Sehubungan dengan itu aku yakin tiga generasi lagi budaya mudik ini akan
punah karena hampir semua orang udik sudah menjadi perantauan dan membentuk
komunitas baru di tempat yang baru. Seperti aku saat ini .........jujur masih
mau berlelah lelah ke Surabaya di saat lebaran dengan segala resiko di jalan
raya yang begitu tinggi hanya karena kedua orang tuaku masih hidup, jika nanti
mereka sudah tiada maka kami akan berkunjung ke keluarga lain yang dituakan
seperti keluarga paklik ataupun pakde yang mungkin bermukim di kota lain atau
malah satu kota denganku dan jika mereka sudah tiada maka generasi berikutnya
yang akan mengambil alih peranan tersebut seperti aku yang anak tertua bisa
jadi dua tiga tahun ke depan kalau masih panjang umur maka saudara saudaraku
lah yang akan berkunjung saat lebaran itupun belum tentu datang sekaligus
karena mereka juga harus berkunjung ke keluarga besannya.
Sebenarnya budaya mudik itu punya nilai spiritual yang tinggi sayangnya
kurang diteruskan kepada generasi generasi mudanya, yang hanya menganggap ini
semua cuma ritual yang tidak logis dan buang buang energi belaka.Saya sendiri
berusaha keras untuk mendidik anak anak saya untuk meneruskan budaya
silaturahmi ini namun entah apakah mereka nantinya mau menjalankannya seperti
yang selama ini dijalankan generasi aku maupun sebelum aku wallahualam......
Jika sampai ke tahap itu maka akan lenyaplah budaya mudik itu......mungkin
akan timbul istilah baru entah apa namanya.
Salam epos,
Lies Sudianti
Founder & Moderator the Profec
0816995258
98095248
"harry.uncommon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Intermezooo Jakarta selama mudik 2007: masih rame..?
Analisa Sujiwo Tejo Dalang EDAN: 'Jakarta masih rame
selama mudik, karena banyak sekali warga-warga baru di Jakarta.
apa benar begitu?
Pengalaman mudik mas Hari Subagya: 'Saya melihat kegembiraan..'
Pengalaman mudik mbak Lies: 'Saya bahagia bertemu kedua orang tua saya..'
Analisa kebanyakan orang: 'Jakarta masih rame selama mudik,
karena tahun ini jumlah warga yang mudik berkurang.
Beberapa tanda-tanda di jakarta dsk sampai puncak & sukabumi:
1. Jl Sudirman Thamrin, Kuningan, Gatot Subroto, Bintaro sampai BSD,
tangerang dan depok masih padat dengan kendaraan roda 4.
Anehnya roda 2 jarang sekali, diduga kelompok inilah
yang masih banyak pada mudik. Pasar, kelontong,
ojek, tukang bangunan, pembantu RT sepi di jakarta.
Beberapa ruas, macet merayap. Bisnis sudah mulai bergerak.
Meeting-meeting di Chitos, T-square, Setia budi building [seperti yang
tadi saya lakukan] juga sudah berjalan normal.
Suppier masih ada yang pontang-panting cari barang
dikerjar target minggu-minggu ini harus finished.
Proyek pengecoran, fabrikasi tetap ON.
Termasuk meeting di partai juga sudah bergerak.
2. Mall seperti MTA, Puri Indah, PI, Plaza Senayan, Margo City depok
sampai BSD plaza masih padat dengan pengunjung. Program discount
sampai 75% di Centro tetap dipadati ibu2 dan gadis.
3. Area parking: sulit didapat ditempat-tempat keramaian
4. Malam takbiran 12 oct, jumat, hampir semua jalanan sampai
kota, monas padat dengan arak-arakan warga, malahan di sudirman
thamrin jakarta hanya satu arah karena kepadatan yg luar biasa.
Polisi berada dimana-mana mengadakan pengamanan extra.
5. Hari pertama lebaran 13 oct sabtu: lebih dahsyat, dari jl margonda,
lenteng agung, tanah kusir, bintaro, sampai BSD semua jalan
padat dengan kendaraan roda 4. Berbeda dengan tahun lalu,
jalan-jalan ini terasa lengang, terasa lebarannya. Tahun ini
kurang terasa lebarannya.
6. Taman safari cisarua: hari rabu 17 oct, luar biasa mbludak
dengan keluarga yang cari hiburan dari jakarta sampai larut malam.
Cari parkir di blok A s/d E susah sekali...Parade gajah & burung elang
tetap ON. Hanya banyak binatang pada kurus2 kering, kayak
habis puasa..!
7. Sepanjang jalan cibogo, cipayung, cisarua sampai puncak
terus padat dan macet, pagi sampai malam.
8. Sukabumi ciawi: selasa 16 oct luar biasa macet total
sampai dengan hari ini jumat 19 oct
9. Banyak teman saya kelas ekonomi menengah tidak mudik,
dengan berbagai alasan, dibandingkan tahun lalu. Malah
ada 1 contoh agak ekstrem, Ardi dari Gorontalo dia bilang:
'..Yang terpenting bagi orang tua saya, kita sudah minta maaf
atas segala khilaf & salah, dan itu bisa via telepon. Kedua, mereka
menunggu kiriman, yang penting sebelum lebaran saya sudah
kirimi mereka dana dan mereka sdh terima, itu sudah cukup.
Jujur, itu yang mereka tunggu kok..
Saving biaya pesawat pp dengan keluarga 10 juta,
saya kirimkan bagi orang tua saya, jadi lebih banyak kiriman
saya tahun ini,lebih bermanfaat, lebih realistis..'
Nampaknya ada pergeseran nilai mudik:
'Minat mudik mulai berkurang tahun ini' Apa benar?
faktor penyebab bervariasi: 1. keterbatasan ekonomi [ekonomi
terasa sulit tahun ini, tabungan pas-pasan]
2. keterbatasan waktu 3. keterbatasan daya dukung jalan
4. keterbatasan desakan untuk pulang.
5. keterbatasan gelombang emosional pulang kampung
'Petualang sejati, tidak pernah mau pulang sebelum sukses..'
apakah nilai ini ada pada manusia ?
Seperti slogan pemadam kebakaran di kantor mereka di tebet:
'..pantang pulang sebelum padam..''
tapi sayang hari ini tadi saya lihat
papan slogan patah separuh..tinggal..'pantang pulang...'
Salam mulia, salam mulai
harry 'uncommon' purnama
MOTIVATION TO CHANGE: 'WASH YOUR HAND'
021.715.87887; 0813.8286.3949
http://uncommon-leadership.blogspot.com/
NEW MILIS 'Motivation to Change'
[EMAIL PROTECTED]