*Power Workshop E.D.A.N. Mahal? Masak Sih?*

Sebuah posting di blognya Pak
Roni<http://roniyuzirman.blogspot.com/2008/01/sekolah-entrepreneurnya-jangan-mahal.html>,
mengungkapkan satu wacana berkaitan dengan pricing, sehubungan dengan
didirikannya TDA Entrepreneur University. Wacana itu adalah tentang
keterkaitan antara cost dan benefit. Soal cost-benefit ini memang selalu
jadi perdebatan, tapi ternyata itulah realita dalam dunia bisnis.

Kepada para EO E.D.A.N., saya mengatakan bahwa model pricing Power Workshop
E.D.A.N. adalah model pricing paling aneh sedunia. Saya menyebutnya "*skimming
pricing*". Nggak ada kali di buku-buku referensi marketing dan bisnis.

Rangkaian Power Workshop E.D.A.N. di mulai dengan harga yang murah, kemudian
setiap pelaksanaan event berikutnya harga terus dinaikkan sampai mencapai
sebuah standar harga yang fit untuk kepentingan cost-benefit di atas. Saya
juga mengatakan kepada para EO, bahwa hal ini perlu ditransparansikan kepada
calon customer.

Perlu Anda ketahui, model pricing ini mulai jadi trend lho, lihat saja di
layar televisi Anda, Anda mungkin sudah sering melihat misalnya "harga naik
mulai maret 2008".

Sebelum kami menggunakan jalur EO, Power Workshop E.D.A.N. telah dihargai Rp
1.250.000 per kepala per hari workshop. Tahukah Anda bahwa ini semua justru
dimulai dari gratis?

Sekarang, rata-rata EO sudah menjual Power Workshop E.D.A.N. seharga Rp
400.000 dan menurut perhitungan, pada akhir 2008 semua EO ini akan
menjualnya seharga Rp 1.250.000 untuk kelas introduksi. Pertengahan bulan
Juli 2008 ini, diperkirakan akan mencapai harga Rp 750.000. Untuk
penyelenggaraan di Jakarta, 23 Februari mendatang, EO Jakarta malah sudah
menjualnya dengan harga itu.

Model skimming price ini, sebenarnya berkaitan dengan upaya mengakomodasi
kebutuhan konsumen. Apa yang dilakukan adalah "menyisir pasar". Ini cukup
bagus untuk sebuah bisnis yang masih di posisi start-up, sampai bisnis itu
menemui target pasar yang paling cocok. Sehubungan dengan model pricing
seperti ini, apa yang penting bagi bisnis itu adalah take action dulu, baru
sambil jalan melakukan targeting dan positioning.

Konsumen sendiri, memang selalu berhadapan dengan pertandingan antara cost
dan benefit. Saat akan membeli sebuah produk, barang atau jasa, maka apa
yang menjadi tolok ukur baginya adalah value. What's In It For Me?

Apa yang sering dilupakan konsumen, adalah "the cost of time". Alias biaya
peluang. Biaya ini seringkali malah tidak terlihat oleh mereka. Akibatnya,
mereka akan cenderung menunda peluang pembelian yang lebih murah, sampai
benar-benar kepepet butuh.

Lebih dari itu, apa yang sebenarnya mereka tunda adalah *peluang* untuk *
segera* mendapatkan value dari produk atau jasa yang ditawarkan kepadanya.

Kembali ke skimming price. Dengan model ini, pasar akan bergerak sesuai
kebutuhan pasar itu sendiri. Jika customer benar-benar merasa butuh, maka ia
akan mengambil kesempatan selagi murah. Jika belum terlalu membutuhkan, maka
ia akan menunda pembelian dengan harga yang lebih tinggi di kemudian hari.

Di Batam kemarin, harian Tribun Batam mewawancarai saya di sela-sela lunch
break Power Workshop E.D.A.N.

Sebuah pertanyaan yang dilontarkannya berhubungan dengan kontroversi cost
dan benefit ini. Kebetulan, wawancara itu dilakukan secara terbuka, alias
para peserta workshop juga mengelilingi saya dan wartawan itu.

Menjawab pertanyaannya, saya meminta kepada wartawan itu untuk bertanya
secara langsung kepada para peserta.

Workshop itu dijual Rp 400.000, dan saat wartawan menanyakan kaitan antara
cost dan benefit kepada peserta, salah seorang peserta menjawab, "*Sejuta
pun saya bayar untuk workshop ini!*". Betapa beruntungnya ia sebagai
konsumen yang segera take action, dan menghemat "the cost of time".

Persis seperti yang diungkapkan Pak Roni. Jika dua, tiga, atau sepuluh tahun
lagi, Anda bisa mendapatkan profit 2 atau 3 milyar, atau apapun value yang
bahkan tidak bisa dinilai dengan uang, Anda akan tertawa saat mengingat
betapa murahnya Anda membayar apa yang menjadi sebab dari semua profit dan
value itu.

Prinsip dasarnya begini, untuk mendorong orang segera take action membeli,
penjual biasanya memanfaatkan setidaknya dua hal ini berikut ini.

Pertama, "need". Makin tinggi need akan makin cepat mendorong konsumen untuk
take action dengan harga murah, ketimbang action belakangan tapi dengan
harga yang lebih mahal. Seberapa besar need Anda untuk kemajuan dalam self
confidence yang notabene tidak statis, di dunia yang makin hari makin berat
dan penuh persaingan ini?

Kedua, "scarcity". Hukum kelangkaan ini masih berlaku kok.

Maka sebagai konsumen, counter optionnya akan menjadi begini. Untuk profit
milyaran 2, 3, 10, tahun ke depan, atau value apapun yang diharapkan dari
sebuah transaksi bisnis, termasuk mengikuti sebuah training atau tidak,
konsumen itu akan punya dua pilihan.

Pertama, *segera* take action membeli dengan harga murah, dan
*segera*menemui profit serta value yang ditawarkan produk.

Kedua, *menunda* transaksi dengan harga yang lebih mahal, dan sekaligus *
menunda* diterimanya profit serta value yang ditawarkan produk.

Skimming price, bisa jadi pilihan untuk win-win solution. Manfaatkan.

Jika Anda memang membutuhkan, segeralah take action. Jika tidak, silahkan
menunda tapi jangan lupa bahwa Anda tetap membiayai waktu.

Saya Ingin Anda *Segera* Sukses,
Saya Harus Membuat Anda *Segera* Sukses.

*(Universe like speed...)*

*Ikhwan Sopa*
Trainer E.D.A.N.
+62 21 70096855
QA Communication
*School of Motivational Communication*
http://milis-bicara.blogspot.com

Kirim email ke