Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Tentu kita sudah pernah mendengar kalimat ini; jadilah dirimu 
sendiri! Sungguh, jika seseorang mengatakan hal itu kepada anda, 
dengarkanlah kata-katanya. Dan turutilah. Sehinga menjadilah anda; 
diri anda sendiri. Beda jika kepada anda dikatakan 'perkayalah 
dirimu sendiri!'. Atau, 'dahulukan kepentinganmu sendiri!'. Tidak 
selalu perlu untuk anda turuti. Sebab, nasihat-nasihat seperti itu 
sering membuat anda tersesat. Tetapi, jadilah dirimu sendiri!, 
merupakan sebuah nasihat yang akan sangat membantu anda untuk 
menjadikan hidup anda memiliki makna. Jika kepada anda belum pernah 
ada yang mengatakannya selama ini; maka anggaplah ini merupakan saat 
bagi anda untuk memulainya. Memulai apa? Memulai untuk 'bersungguh-
sungguh' menjadi diri anda sendiri. Dan, jadilah dirimu sendiri!

Bukan hal aneh jika berkali-kali saya mendapatkan email dari teman. 
Baik teman lama, maupun teman baru. Mengabarkan bahwa mereka membaca 
artikel-artikel serupa dengan yang saya tulis, dan seseorang 
mengklaim bahwa artikel itu ditulis olehnya. Dari mulai sekedar 
menyingkirkan nama saya dari artikel itu. Atau membubuhkan namanya 
sendiri diakhir atau awal artikel dengan menambahkan kata 'by'."Gue 
bingung deh, Dang. Elo yang niru, apa dia yang ngaku-ngaku....?" 
katanya. Soalnya mirip banget, teman saya itu menambahkan. Paling 
hanya diedit sedikit-sedikit, lanjutnya. Namun, boleh jadi memang 
Tuhan mengajarkan hal yang sama kepada banyak orang dengan cara yang 
sangat persis, bukan? Jadi, segalanya bisa sama. Lalu teman saya 
menghardik; elu itu yach, naif banget!

Mungkin benar saya ini naif. Tetapi, kalaupun memang hal itu 
terjadi, bagaimana jika saya relakan saja semuanya itu? Lagi pula, 
hal itu tidak hanya menimpa saya. Tetapi juga orang lain. Kasus saya 
itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain 
dalam kehidupan nyata kita. Didunia musik, sudah sejak lama para 
musisi mengkritisi pencipta lagu yang hasil karyanya begitu mirip 
dengan lagu-lagu lain. Entah itu dengan lagu-lagu jaman dahulu kala 
sehingga tidak banyak lagi orang yang mengenalnya. Atau juga dengan 
lagu-lagu dinegara lain. Didunia seni lukis juga demikian. Sehingga 
para kurator harus bekerja keras untuk menilai apakah lukisan itu 
benar-benar asli atau tidak. Apapun itu, bagi saya; sebuah karya 
bisa mirip. Sangat mirip. Mungkin juga identik. Dan boleh jadi, 
keduanya merupakan karya yang asli. Siapa tahu? Yang penting, kita 
menghindarkan diri dari perilaku yang tidak terpuji. Selesai. 

Sekarang, bagaimana jika kita mencoba menarik pelajaran penting yang 
dikandungnya saja? Sesuatu yang bermanfaat bagi setiap individu; 
anda dan saya. Yaitu pelajaraan untuk 'menjadi dirimu sendiri'. 
Belajar tentang sesuatu yang kita sebut sebagai identitas diri. 
Betapa banyak manusia yang mengalami krisis identitas diri. Oleh 
karenanya, tidak terlalu mengherankan jika para ahli dan pemikir 
positif terus menerus mengatakan jadilah dirimu sendiri! 

Oh ya, menurut pendapat anda; mengapa kalimat usang itu masih tetap 
laku dijaman ini? Anda benar, karena sampai sekarang pun kita masih 
mempunyai kecenderungan itu. Nyaris dalam segala aspek kehidupan 
kita. Sudah sejak lama kita terpenjara dalam sejenis penyakit 
kejiwaan ini. Mengapa dikategorikan sebagai penyakit kejiwaan? 
Karena, ini mengindikasikan ketidakpercayaan kita kepada diri kita 
sendiri. Tepatnya, kita tidak memberikan cukup kepercayaan kepada 
diri kita sendiri. Kita, tidak percaya bahwa kita bisa berbuat 
sebaik, bahkan lebih baik dari orang lain. Sikap ini kemudian 
menuntun kita kepada rendahnya penerimaan kita terhadap diri kita 
sendiri. Dengan kata lain, kita 'tidak menginginkan diri kita 
seperti apa adanya'. Dan akhirnya, kita terjebak dalam krisis 
identitas diri yang kronis.

Hey, ingatlah; saya tidak sedang membahas para peniru itu. Saya 
sedang membahas diri kita sendiri. Jadi, hendaknya tidak terlalu 
yakin dulu dengan mengatakan bahwa kita tidak mengalami krisis 
semacam itu. Benarkah? Jika anda masih suka merasa 'kurang pede'; 
berhati-hatilah. Itu bisa menjadi salah satu indikasinya. 

Memang, proses abrasi identitas diri ini terjadi sedikit demi 
sedikit dan perlahan-lahan sehingga kita sering tidak menyadarinya 
sama sekali. Kita harus menghentikan abrasi identitas diri itu. 
Mengapa? Karena, jika kita membiarkannya terus menerus menggerus; 
maka lama kelamaan kita akan benar-benar kehilangan identitas diri 
kita. Kita hidup, tapi hidup dalam bayang-bayang orang lain. Kita 
berkarya, tetapi terkontaminasi  karya orang lain. Lalu, siapakah 
diri kita ini sesungguhnya? 

Baiklah, tapi..., bisakah kita menghentikan abrasi identitas diri 
itu? Bisa. Selama kita bersedia melakukannya. Sesulit apakah itu? 
Tidak terlalu sulit. Seperti apakah itu? Ada tiga hal yang bisa kita 
tempuh untuk melakukannya.

Pertama, percayalah bahwa setiap individu itu diciptakan secara 
unik. Tidak ada satu orang pun dimuka bumi ini yang benar-benar 
identik. Orang kembar sekalipun. Saya tahu bahwa anda sudah tahu hal 
itu. Saya juga percaya bahwa anda percaya hal itu. Tetapi, sudahkah 
anda 'benar-benar' mempercayai hal itu; dan hidup dalam keyakinan 
bahwa diri anda itu adalah seseorang yang unik? Anda adalah orang 
yang unik. Sehingga tak seorangpun didunia ini yang dapat menyamai 
diri anda. Baiklah, sekarang mari kita renungkan, menurut pendapat 
anda; mengapa Tuhan menjadikan kita ini unik dan berbeda satu sama 
lain? Tepat sekali; Tuhan ingin agar kita saling melengkapi. 
Sehingga dengan keunikan yang kita miliki, kita bisa memberikan 
kontribusi. Maka, jadilah kehidupan umat manusia seluruhnya 
mendekati kesempurnaan.

Kedua. Belajarlah untuk menerima diri kita apa adanya. Seseorang 
pernah bilang; 'kalau kita menerima apa adanya diri kita berarti 
kita berkompromi dengan kekurangan-kekurangan diri kita'. Sekilas 
kalimat ini ada benarnya. Tetapi, saya selalu ingin mengatakan; 
marilah kita berfokus kepada kelebihan diri kita. Dan mencari jalan 
bagaimana mengoptimalkan kelebihan itu. Mengapa harus begitu? Sebab, 
tidak ada manusia yang sempurna. Pastilah kita memiliki kekurangan, 
bukan? Jika kita menyibukan diri dengan kekurangan-kekurangan itu; 
kapan kita punya waktu untuk memanfaatkan segala kelebihan yang 
telah Tuhan anugerahkan kepada kita? Mungkin hidung kita agak pesek. 
Tetapi, haruskah kita mengabaikan keistimewaan kita dalam bidang 
musik gesek hanya gara-gara kepesekan itu, misalnya. Kan tidak. 
Mungkin matematika kita begitu buruknya sehingga kita tidak mampu 
menghitung dengan cepat 32561 dikali 987 pangkat tiga dibagi 11 log 
sepuluh dikurang sejuta pangkat duabelas koma tujuh lima. 
Meneketehe?! Anda itu bukan orang yang sempurna. Tapi bukan hanya 
anda yang tidak sempurna. Orang lain juga sama. Tetapi mengapa orang 
lain yang sama tidak sempurnanya itu bisa lebih berhasil hidupnya 
daripada kita?  Terimalah diri kita apa adanya. Dan mulailah untuk 
mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang Tuhan anugerahkan kepada 
kita. 

Ketiga, berfokuslah kepada kontribusi. Mari kita mengingat-ingat 
kembali; mengapa kita dapat menerima kehadiran orang lain dalam 
hidup kita? Karena mereka memberi makna bagi hidup kita, bukan? Kita 
semua, mempunyai prinsip hidup yang sama yaitu; bersedia menerima 
kehadiran orang-orang yang memberi makna bagi hidup kita. Dan itu 
berarti...... orang lain pasti berkenan menerima diri kita dalam 
kehidupannya; jika kita bisa memberi makna bagi kehidupan mereka. 
Dan ingatkah anda, bahwa makna hidup seseorang itu ditentukan oleh 
kontribusinya kepada orang lain? Betul. Sehingga, jika kita bisa 
berkontribusi kepada orang lain, pastilah mereka bersedia menerima 
kahadiran kita apa adanya. Mereka tidak lagi peduli jika tubuh anda 
pendek. Hidung anda pesek. Dan suara anda ketika menyanyi agak 
jelek. Mereka akan menerima anda. Jadi, berfokuslah kepada 
kontribusi.

Hey, rupanya tidak terlalu sulit untuk menjadikan hidup kita 
bermakna. Kita tidak perlu mengganti identitas diri kita dengan 
identitas orang lain. Karena cepat atau lambat, orang akan tahu 
bahwa semuanya itu bukan diri anda yang sesungguhnya. Cepat atau 
lambat, anda akan merasa capek dengan semuanya itu. Anda akan 
kelelahan sendiri. Sebab, memang diri anda tidak didisain untuk 
hidup dalam kerangka orang lain. Diri anda, khusus didisain sang 
pencipta untuk hidup sesuai dengan jiwa anda. Dengan wujud badani 
anda. Dengan segenap isi dan kelengkapan yang ada pada diri anda.  

Cobalah sekarang untuk hidup seperti diri anda yang sesungguhnya. 
Menerima kekurang-kekurangan diri anda. Dan berfokus untuk 
mengoptimalkan kelebihan-kelebihan diri. Dengan begitu, anda akan 
semakin hari semakin mencintai diri anda dalam sebuah penerimaan 
yang tulus. Anda akan hidup dengan identitas diri anda yang 
sesungguhnya. Dan anda; pasti berhasil untuk menjadi diri anda 
sendiri. Ya, jadilah dirimu sendiri!

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan kaki: 
Bayangkan, jika semua manusia bisa berkreasi dengan segala keunikan 
dirinya. Sehingga setiap orang menghasilkan satu keunikan bagi 
dunia. Betapa semakin berwarnanya peradaban kita. Itukah alasan 
Tuhan menjadikan kita pribadi-pribadi yang unik?

Buku "Belajar Sukses Kepada Alam" klik disini:
http://www.dadangkadarusman.com/books/belajar-sukses-kepada-alam/  

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email, 
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/ 


Kirim email ke